Dong Fang, seorang anak muda yang penuh penyesalan, memulai perjalanannya dengan tujuan yang buruk: membalaskan dendam. Didalam perjalanannya membalaskan dendam, dirinya belajar mengenai banyak hal, termasuk kebijaksanaan. Tanpa dia sadari, perjalanannya untuk bertambah kuat, menuntunnya kejalan Keabadian.
Namun, di tengah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, Dong Fang menyadari bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang, melainkan juga tentang mengalahkan diri sendiri dan menemukan kedamaian dalam hati.
Dalam novel ini, Dong Fang belajar tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kesabaran, dan tentang pentingnya menghargai semua makhluk hidup, bahkan musuh-musuhnya sekalipun.
Melalui perjalanan Dong Fang, novel ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang panjang dan penuh warna, dengan tantangan dan kegagalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan tekad yang kuat, kesabaran, dan kerja keras, kita dapat menghadapi semua rintangan dan mencapai tujuan kita.
Perjalanan Pendekar Pedang Abadi juga mengajarkan kita tentang keindahan dan kekuatan alam semesta, dan betapa kita harus merenung dan belajar dari alam ini. Dong Fang menyadari bahwa setiap benda hidup di dunia ini memiliki perannya masing-masing, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Dalam keseluruhan novel, kita melihat bahwa keberanian, tekad, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk mencapai keabadian sejati. Perjalanan Pendekar Pedang Abadi mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang tak terbatas, dan meskipun kita mungkin tak pernah mencapai tujuan kita, prosesnya lah yang memberikan arti sejati dalam hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taufik Ichsan Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 20 - Kelelawar Malam
Dengan perasaan sedih, Pria paruh baya itu mengenalkan diri dengan namanya Lei. Dia menceritakan jika sudah tiga bulan ini, perkumpulan perampok bernama Kelelawar Malam selalu datang untuk meminta upeti, karena mereka mengklaim telah melindungi wilayah Desa Batu Giok selama perang antara aliran putih dan hitam pecah.
Desa Batu Giok yang sebagian penduduknya miskin, tak bisa memenuhi permintaan sekelompok perampok itu. Karena tak bisa memenuhi permintaan itu, para perampok mengambil para gadis dari desa ini untuk dijadikan budak. Putrinya bahkan menjadi korban.
Lei menggenggam erat tangannya, hingga kukunya menambus kulit dan membuat tangan Lei berdarah, matanya bergetar dengan tatapan sedih, marah sekaligus menyesal, "Aku... Aku ingin sekali menyelamatkan putriku, namun aku terlalu lemah. Aku tak bisa melakukan apapun." Lei mengeraskan rahangnya, dia menyesali kelemahannya.
Dong Fang yang mendengarnya menghela nafas panjang, dia bisa merasakan perasaan Lei saat ini, dia tahu betul bagaimana rasanya menjadi seseorang yang lemah dan tak berdaya.
Lei menambah, "Tuan muda, sebaiknya tuan muda pergi dari sini setelah makan. Organisasi Kelelawar Hitam lebih sering beraktivitas diwaktu malam. Seingatku, malam ini adalah waktu dimana mereka akan datang. Biasanya cukup banyak orang yang beraktivitas diluar rumah saat malam tiba, namun karena hari ini mereka akan datang, para penduduk memilih diam dirumah saat ini, karena ingin menghindari perompak-perompak bajingan itu." mata Lei terlihat berharap agar Dong Fang pergi.
"Terimakasih, tuan telah mendengarkan masalahku, aku merasa agak lega, meskipun ini tak akan mengubah apapun." Lei menghela nafas berat.
Dong Fang menggeleng, "Tidak, aku akan tetap disini. Juga, akan ada hal yang berubah malam ini." Dong Fang terlihat membuka pedangnya yang dibalut kain, "Kurasa aku bisa membuat mereka menghilang dari muka bumi."
Mendengar perkataan Dong Fang, tentu saja dia sedikit senang, namun ekspresi Dong Fang yang datar sejak awal mereka bertemu, membuat hatinya mempertanyakan keseriusan perkataan Dong Fang.
"Kudengar mereka memiliki lebih dari seribu anggota. Kupikir akan mustahil tuan mengalahkan mereka semua." Lei pesimis, dia sudah melihat kekuatan dari ketua perampok yang mengerikan menurutnya.
"Kita bisa lihat nanti." Dong Fang kemudian melanjutkan acara makannya.
**
Waktu berlalu dengan cepat. Karena Dong Fang kini diketahuinya sebagai pendekar, Lei menjadi sungkan berbicara dengan Dong Fang, dia sudah mendengar banyak tentang pendekar, meskipun hanya Dong Fang, pendekar yang dia ketahui. Dong Fang tak sendiri tak masalah dengan sikap Lei itu.
Suara langkah-langkah kuda terdengar hingga lokasi Dong Fang saat ini.
"Mereka sudah datang. Tuan, jika kau tak bisa mengalahkan orang-orang brengsek itu, aku berharap setidaknya tuan bisa menyelamatkan putriku." ucap Lei, kekhawatirannya dalam beberapa minggu ini membuat pria paruh baya itu benar-benar pesimis memandang sesuatu.
Dia bangkit dari duduknya, dan berkata, "Paman tunggu disini. Kau tak perlu khawatir padaku. Yang harus kau khawatirkan malahan para perampok-perampok itu." setelah berkata seperti itu, dia kemudian pergi keluar. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, dia pergi kedepan pintu gerbang desa dengan cepat.
Karena tempat Lei tak terlalu jauh dari gerbang kota, dalam waktu kurang dari tiga menit, Dong Fang sampai di depan pintu gerbang. Setelah Dong Fang berada di pintu gerbang desa, dirinya melihat ada sepuluh ekor kuda dengan sepuluh penumpang dan juga ada sekitar lima puluh orang lain yang juga mengikuti sepuluh kuda itu.
Jarak antara Dong Fang dan para perampok itu hanya seratus meter.
"Senior, kau lihat itu?" seorang yang berada diatas kuda berbicara pada seseorang disampingnya, yang badannya terlihat lebih besar darinya, dia menunjuk kearah Dong Fang.
Orang yang dipanggil senior itu tertawa sinis, "Kurasa desa miskin itu benar-benar putus asa dan menyewa seorang yang tak berguna." dia kemudian tertawa.
"Sudah tahu tak berguna, tetapi masih saja dilakukan." orang yang lain menimpali sambil tertawa, membuat orang-orang lain juga tertawa.
Dong Fang yang sudah pemanasan ringan, kemudian menunggu para perompak itu jauh lebih dekat dengannya. Setelah jarak mereka hanya dua puluh meter, Dong Fang berkata dengan lantang, "Kalian semua! Aku tahu, banyak diantara kalian yang menjadi perompak seperti ini karena masalah hidup kalian. Karena itu, aku akan membiarkan kalian pergi jika kalian pergi sekarang dan tak lagi datang kesini."
Omongan Dong Fang terdengar oleh seluruh perampok. Mereka diam beberapa detik, kemudian tertawa sekencang-kencangnya.
"HAHAHA... Apa-apaan anak bodoh itu? Sepertinya kepalanya kemasukan sesuatu, sehingga menjadi bodoh begini." ucap perampok dengan kapak ditangannya.
"Dia kira, dia bisa hidup setelah bertemu dengan kami? Ini benar-benar lelucon bagus." perampok lain menimpali.
"Dia benar-benar berbakat menjadi pelawak!" perampok lain lagi menimpali.
Seseorang perompak turun dari atas kuda, "Biar aku saja yang mengurusnya." dia menggenggam erat kapak nya, wajahnya terlihat tersenyum lebar.
"Jadi kalian menolak pergi?" Dong Fang menghela nafas, lagi pula apa ada orang yang akan takut jika tak diberi rasa takut terlebih dahulu? "Kalau begitu, sudah kuputuskan, tak akan ada satupun anggota kalian yang akan lolos dariku."
Orang yang membawa kapak kearah Dong Fang mengangkat alisnya, "Kau benar-benar orang bodoh." orang itu kemudian berlari kearah Dong Fang dengan kecepatan penuhnya.
Dong Fang kemudian berlari dengan cepat, beberapa puluh kali lebih cepat dari perampok dengan kapak itu. Setelah jaraknya terpaut dua meter, Dong Fang mengeluarkan bilah pedang berwarna hitam kemerahan itu dengan cepat, kemudian menebas batang leher perampok itu dengan mudahnya, seperti memotong tahu.
Sebelum kepala pengguna kapak itu terjatuh dari tempatnya, Dong Fang telah sampai diantara kuda-kuda para perampok itu. Dalam waktu kurang dari satu tarikan nafas, satu nyawa melayang.
"Apa yang-" seseorang diatas kuda pertama kali sadar, namun belum dirinya selesai berbicara, pedang milik Dong Fang sudah memisahkan kepalanya dari tempatnya.
Karena kecepatan Dong Fang yang terlampau cepat dan kegelapan yang mendominasi, belum ada yang menyadari pergerakan Dong Fang. Setelah tiga tarikan nafas, tubuh pengguna kapak yang sebelumnya mendekat pada Dong Fang mulai jatuh, diikuti sembilan tubuh perampok yang berada diatas kuda.
Barulah, setelah sembilan tubuh itu terjatuh, separuh dari kumpulan perampok yang tersisa sadar.
"Dia monster!! Selamatkan di-" sebelum dirinya selesai bicara, kepala lagi-lagi terpisah dari tempatnya.
Sadar akan seruan teman-teman mereka, para perampok kemudian melarikan diri kesegala arah. Mereka benar-benar mirip dengan kumpulan semut yang telah kehilangan arah.
Tetapi, pelarian mereka semua sia-sia. Dong Fang yang puluhan kali lebih cepat dari mereka, dengan cepatnya menebas batang leher orang-orang itu. Dalam waktu satu tarikan nafas saja, sebanyak tiga kepala dapat terpisah dari tempatnya.
Waktu berjalan lambat dimata para perampok, mereka semua kalang kabut melarikan diri dari Dong Fang. Dalam waktu kurang dari lima puluh tarikan nafas, semua perampok tadi telah berpulang dari dunia. Hanya tersisa satu orang dari mereka.
"Kulihat, kau sudah pasrah dari awal. Apa kau menyesal dengan dosa-dosamu?" tanya Dong Fang dengan dingin.
Perampok itu terlihat sangat ketakutan, dia belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya, sehingga menganggap Dong Fang sebagai malaikat maut yang turun dari langit. Dengan mulut bergetar, perampok itu berkata, "Tu- tuan malaikat, aku benar-benar akan menebus semua dosa-dosaku, jika kau mengampuniku, aku akan tinggal didesa, menanam dan berbuat baik. Mohon ampuni aku." perampok itu bersujud pada Dong Fang, tampaknya dia sangat percaya jika Dong Fang adalah malaikat maut.
"Kalau begitu, jawab semua pertanyaanku. Aku akan mengampunimu setelah ini." Dong Fang dengan nada dingin.
Perampok itu mengangguk dengan sekuat tenaganya.
Setelah mendapat jawaban itu, Dong Fang menggangguk puas. Dia kemudian membalikkan badannya dan membungkukan badannya untuk memberi hormat pada seluruh mayat yang berserakan itu dan menyatukan kedua tangannya untuk mendoakan mayat-mayat itu.
Setelah melakukan itu, Dong Fang membawa perampok itu pergi ketempat Lei sambil membawa sepuluh kuda yang masih berdiri diantara mayat-mayat, para kuda sepertinya tak menyadari jika tuan-tuan mereka sebelumnya telah menjadi jasad.
**
Note:
Yeyy... Setelah beberapa hari berlalu, author bisa menulis novel ini dengan konsisten, hingga novel ini mencapai jumlah 20 chapter!!
Author berterimakasih pada kalian semua, karena berkat dukungan kalian, author bisa sampai sejauh ini. Author juga berterima kasih pada pembaca pertama novel ini, @ismaeni yang telah mensupport author hingga saat ini!
Author harap, karya ini bisa selesai dengan baik dan bisa menghibur kehidupan kalian yang melelahkan. Sekali lagi, saya berharap kalian bisa terhibur dan bisa memberikan kritik yang dapat membuat novel ini menjadi lebih baik lagi!
**Jangan segan-segan juga ngasih tau, jika ada ada hal didalam novel yang ga sesuai dengan alurnya!
Makasih** :)