Apa jadinya, jika seorang gadis kecil harus menyaksikan kematian kedua orang tua dan kedua saudaranya dengan cara mengenaskan.
Alaska Tania tumbuh menjadi gadis yang penuh dendam dan mengalami trauma yang mempengaruhi psikisnya.
Bisakah Alaska keluar dan lepas dari belenggu dendam masa lalu dan traumanya?
Dendam, air mata, masa lalu dan cinta menghiasai novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma ismawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan di Kampus
Bab 21
Alaska yang baru saja menyelesaikan kelas pagi, terlihat melangkah dengan anggun menuju ruang perpustakaan.
"Itu Nona Tania, kekasih almarhum Tuan Hansen" ucap salah satu petugas OB, sambil menunjuk ke arah Alaska.
Pria dengan kumis tebal, tubuh tegap dan berkulit gelap, menatap tak berkedip ke arah Alaska yang berjalan menuju ke perpustakaan.
Pria yang tak lain adalah Mark menatap lekat Alaska, terlihat jakunnya yang naik turun dengan senyum smirk di bibirnya.
"Oke, kamu boleh pergi sekarang!" perintah Mark, sambil memberikan lima lembar uang ratusan.
"Terimakasih Tuan" ucap OB itu dengan sopan, sambil tersenyum bahagia.
"Non Alaska benar-benar wanita yang luar biasa, hanya memberitahu di mana keberadaannya saja, aku sudah mendapatkan uang sebanyak ini" Gumam OB itu dengan senyum yang terpancar di bibirnya.
Mark pun langsung melangkah ke dalam perpustakaan. Tampak Alaska sedang duduk sambil membaca buku.
Mark kembali menatap lekat Alaska, senyum smirk kembali menghiasi bibir tebalnya.
"Benar-benar gadis yang sempurna! kenapa aku baru mengetahui jika Hansen mempunyai kekasih secantik ini, untung anak itu sudah mati!" sorak Mark dalam hati.
Hmm ..
Suara deheman Mark, membuat Alaska mengangkat wajah, dengan malas dan sedikit kesal dia menatap Mark.
Deg ..
"Pria ini..." ucap Alaska menatap Pria setengah baya dengan kumis tebal, yang membuat wajah sangarnya semakin terlihat.
"Hallo Nona, boleh saya duduk di sini" ucap Mark, yang langsung duduk di hadapan Alaska, dengan tatapan laparnya.
Alaska memicingkan mata, dia menatap Pria tua di hadapannya dengan perasaan aneh dan jijik.
"Dasar tua bangka mesum!" umpat Alaska di dalam hati. Sebuah senyum tampak di bibir tipisnya..
"Mangsa yang tak perlu jebakan" ucap Alaska di dalam hati.
"Silahkan Tuan" ucap Alaska tanpa ekspresi.
Sikap Alaska yang dingin, justru membuat Alaska lebih mempesona di mata Mark.
"Nama saya Mark, boleh saya tahu siapa nama Nona yang cantik ini?" tanya Mark, sambil mengulurkan tangannya.
"Tania" ucap Alaska dingin, tanpa membalas uluran tangan Mark.
Mark tertawa melihat sikap Alaska. Dia merasa tertantang untuk mendekati dan mendapatkan Alaska.
"Apa kamu tidak mengenalku Nona? atau kamu warga negara baru di sini?" Mark bertanya dengan wajah dan senyum yang sombong.
Alaska menarik napas pelan, mencoba menahan jantungnya yang berdegup kencang. Dia sangat mengetahui jabatan dan pengaruh Pria di hadapannya, pasti di luar perpustakaan dan sekitar kampus sudah ada penjagaan yang ketat untuk keamanan dan keselamatan Mark.
Mark terus tersenyum menatap Alaska.
"Kamu seperti kelinci liar yang sangat menggemaskan Nona, kamu cantik sekali" Mark berkata, sambil menyentuh punggung tangan Alaska yang berada di atas meja.
"Apa maumu?" tanya Alaska, langsung menarik kasar tangannya. Rasa muak sudah menyelimuti hatinya.
Mark mencondongkan tubuhnya ke arah Alaska, tubuh mereka hanya terhalang oleh meja.
"Kamu pasti sudah mengetahui, siapa aku dan bagaimana kekuasaan dan jabatanku? ikuti kemauanku cantik, jika kamu tidak ingin menyesal!" Mark berkata dengan penuh penekanan dan tatapan buas yang seperti ingin memakan Alaska.
Alaska sadar jika posisinya sedang terancam. Dia tidak boleh gegabah, musuhnya sudah bergerak lebih dahulu.
"Apa maumu?" tanya Alaska, menatap tajam Mark.
Mark tertawa melihat keberanian Alaska.
"Wanita cantik dengan nyali yang besar! kita pergi sekarang! jangan macam-macam dan ikuti aku!" ucap Mark bangkit dari duduknya, di ikuti Alaska.
"Anak manis"
Mark tersenyum dan meraih pergelangan tangan Alaska, dan melangkah keluar dari perpustakaan.
Benar dugaan Alaska, jika Mark di jaga dengan keamanan yang super ketat, mengingat dia adalah salah satu pejabat penting di pemerintahan.
Alaska mengikuti langkah Mark, dia tidak bersuara sama sekali, Mark merasa gemas dengan Alaska ingin segera dia menerkamnya.
Semua orang yang berada di sekitar kampus tidak ada yang berani menatap apalagi mendekati mereka. Kecuali seorang Pria culun dengan kacamata tebalnya.
"Tania!" panggil Pria itu yang tak lain adalah Andrew, dia langsung menarik kencang tangan Alaska yang berada di genggaman Mark, sehingga tangan itu pun terlepas. Andrew segera menempatkan tubuh Alaska tepat di belakang tubuhnya.
"Berani sekali anda menggenggam tangan wanita yang sudah bersuami!" tegas Andrew yang membuat orang-orang di sekitar itu terkejut, termasuk Alaska.
Rasa bahagia dan hangat tiba-tiba menyeruak di dalam hati Alaska, saat Andrew mengakuinya sebagai seorang istri. Aneh, dia tidak protes melainkan sebuah senyum kebahagiaannya tersungging di bibirnya.
Mark tertawa terbahak-bahak menatap Andrew. Kemudian tawanya hilang begitu saja, dan menatap geram ke arah Andrew.
"Apa kamu sedang bermimpi, hah!" Bentak Mark dengan suara menggelegar, membuat semua orang ketakutan mendengar suaranya.
"Bawa mereka!" perintah Mark kepada anak buahnya.
Mereka segera meringkus Alaska dan Andrew. Mereka berdua sengaja tidak memberikan perlawanan, dengan tujuan untuk menghindari kecurigaan Mark.
Alaska dan Andrew segera di masukkan ke dalam mobil Avanza hitam dengan tipe Veloz. Semua orang tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan jika ada yang berani merekam tidak segan-segan ponsel mereka di ambil dan di hancurkan.
Tiara berlari panik, mengejar mobil Mark dan anak buahnya, yang baru saja keluar dari area kampus. Saat kejadian Tiara masih sibuk mengajar, sampai ada satu guru yang masuk ke kelas memberitahu tentang keadaan Alaska.
"Aku harus segera menghubungi Mike" ucap Tiara, dengan wajah panik, dia segera meraih ponselnya.
"Hallo Mike, gawat Alaska dan Andrew di bawa oleh Mark" ucap Tiara saat panggilan sudah terhubung.
"Oke, apa yang bisa aku bantu Mike?" tanya Tiara setelah mendapatkan jawaban dari Mike.
"Baiklah!" Alaska menutup ponselnya, dia mengusap wajahnya yang gusar, dan berniat untuk ijin tidak mengajar dan segera pulang untuk menemui Bi Sumi.
Ketika dia membalikkan tubuhnya, tiba-tiba Pria setengah baya dengan wajah oriental sudah berada di belakang tubuhnya, dan tidak bisa di hindari lagi, tubuh mereka sangat dekat nyaris tanpa jarak.
Hampir saja Tiara berteriak karena kaget, akan tetapi tatapan Pria berwajah oriental yang tak lain adalah Mr Huong membuat Tiara mengurungkan niatnya.
Mr Huong nemiliki wajah yang tampan, meskipun sudah berumur, namun tatapannya bagaikan pembunuh berdarah dingin.
"Menurutlah, jika kamu tidak ingin menyesal!" perintah Mr Huong, dengan memperlihatkan banyaknya bom di dalam jas hitamnya.
Tiara terperanjat, dia mengerti maksud dari Mr Huong. jika dia menolak maka dengan mudah meluluh lantakkan kampusnya. Dengan terpaksa dia melangkah mengikuti langkah Mr Huong untuk masuk ke dalam mobilnya.
***************
Bagaimana Alaska dan Andrew menghadapi kekuatan Mark dan Mr Huong?
Mampukah mereka membalas dendam dan keluar dengan selamat dari jerat Mark dan Mr Huong?
Kenapa Tiara juga di bawa oleh mereka?
Ikuti perjalanan dendam Alaska di bab berikutnya 🤗
Visual Alaska Tania
Visual Andrew Wilson
.
semangat karya barunya kak