Nezia, yang telah menjalin hubungan serius selama bertahun-tahun dengan Dito, bahkan hubungan keduanya akan segera diresmikan dalam sebuah ikatan pernikahan, tak menyangka bahwa semua ini harus dia alami.
Sebuah kenyataan pahit menampar wajah Nezia ketika di hari dirinya fitting baju pengantin, gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ternyata lelaki yang sangat dicintainya berselingkuh dengan seseorang yang sangat dia kenal.
"Tega kamu, Bang!" seru Nezia yang memergoki calon suaminya, seraya menampar keras pipi Dito.
"Nez, ini tidak seperti yang kamu lihat, Nez! Aku bisa jelasin semua!" Dito berlari mengejar Nezia.
Akankah pernikahan keduanya tetap berlanjut?
Simak kisah Nezia, dalam Novel ; HOPELESS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Bidadari Syurga
Dito mandi dengan sangat lambat, tak seperti biasanya. Pemuda itu bahkan menyempatkan diri untuk berendam di 𝘣𝘢𝘵𝘩 𝘶𝘱, sekadar untuk menenangkan diri.
Pemuda itu memejamkan mata, sambil menikmati kehangatan air dengan aroma terapi dari sabun cair yang dia tuang ke dalam bak mandi besar tersebut.
Aroma yang menenangkan dan membuat pikiran Dito sedikit lebih rileks. 'Aku sudah terlalu kasar pada Rasti tadi, bagaimana pun aku turut andil dengan apa yang dialaminya saat ini,' sesal Dito dalam hati.
Pemuda itu menghela napas panjang. "Aku akan minta maaf pada Rasti,setelah ini," lanjutnya, bergumam.
Dito masih betah berdiam diri di dalam 𝘣𝘢𝘵𝘩 𝘶𝘱, hingga air yang tadinya hangat kini telah menjadi dingin.
Bergegas pemuda itu beranjak, mengguyur tubuhnya di bawah hangatnya air 𝘴𝘩𝘰𝘸𝘦𝘳. Dia gosok kepala sambil menekannya perlahan, berharap rasa pusing di kepala menghilang bersamaan dengan guyuran air dari 𝘴𝘩𝘰𝘸𝘦𝘳 yang mengalir deras.
Terdengar samar pintu kamar mandi diketuk dari luar. Namun, Dito tak menggubris. Pemuda itu masih ingin berlama-lama berada di bawah guyuran air 𝘴𝘩𝘰𝘸𝘦𝘳.
'Mau apa, sih, dia? Dia 'kan belum boleh mandi. Karena lukanya belum kering,' monolog Dito dalam hati.
Suara ketukan pintu semakin lama semakin terdengar keras, sepertinya orang yang berada di luar sana, sudah sangat tidak sabar menanti untuk dibukakan.
"Dit! Cepat keluar!" teriak Rasti dari luar pintu.
Dito segera mematikan 𝘴𝘩𝘰𝘸𝘦𝘳, bergegas membalut tubuh berototnya dengan handuk sebatas pinggang dan kemudian membuka pintu kamar mandi.
Pintu yang tiba-tiba terbuka tanpa Dito menjawab permintaan Rasti tadi, membuat wanita yang tengah diliputi amarah dan sedang bersandar pada pintu, hampir saja terjatuh jika saja Dito tak segera menangkap tubuhnya.
Pisau yang tadi terhunus di tangan Rasti, terjatuh begitu saja di lantai, tepat di bawah kaki Dito.
"Pi-pisau?" tanya Dito dengan dahi berkerut dalam.
"Apa yang akan kamu lakukan, Ras?" tanya Dito pelan, tetapi penuh penekanan. Pemuda itu masih menopang bobot tubuh Rasti yang tadi hampir terjatuh.
"Aku enggak mau hidup jika hanya untuk kamu campakkan, Dit! Lebih baik aku mati dan kamu ... kamu juga harus mati bersamaku, Dito!" teriak Rasti sambil berusaha melepaskan diri dari jerat tangan sang suami.
Mendengar ucapan istrinya, Dito menendang pisau itu menjauh dari mereka dan dia cengkeram tubuh Rasti dengan kuat agar sang istri tak bisa lagi melepaskan diri.
"Jangan begini, Ras! Jangan bertindak bodoh!" hardik Dito, seraya menatap tajam netra Rasti yang diliputi amarah.
Sejenak, kedua netra mereka saling terpaut. Rasti dengan amarahnya pada Dito karena kecewa dengan ucapan suaminya tadi, sementara Dito marah dengan tindakan sang istri yang tanpa pikir panjang.
Pemuda itu kemudian memeluk sang istri dengan erat. "Maafkan aku, Ras. Maaf," sesal Dito kemudian, dengan sungguh-sungguh.
Bagaimanapun, wanita yang dipeluknya saat ini telah sah menjadi istri Dito. Mereka berdua pernah sangat dekat sebagai sahabat yang saling menyayangi dan men-𝘴𝘶𝘱𝘱𝘰𝘳𝘵, meski kemudian hubungan yang mereka jalin menjadi hubungan yang hanya didasarkan atas nafsu semata.
"Aku minta maaf, sudah kasar padamu tadi. Aku terbawa emosi, Ras, karena kamu mengungkit tentang bantuan yang telah orang tuamu berikan. Sebagai laki-laki, harga diriku terinjak, Ras," ucap Dito pelan, masih sambil memeluk istrinya yang kondisinya belum pulih sempurna.
Rasti terisak dalam pelukan suaminya. "Aku juga minta maaf, Dit. Aku takut, kamu pergi meninggalkan aku," tangis wanita itu seketika pecah.
Sebagai wanita, dia merasa 𝘪𝘯𝘴𝘦𝘤𝘶𝘳𝘦 dengan kondisinya saat ini. Apalagi nama baiknya di mata para teman kuliah dulu, pastilah sudah sangat buruk. Dia telah menikung adik dari salah satu temannya, Abraham, dengan berkedok sebagai sahabat Dito.
Rasti merasa tiada gunanya lagi dia hidup, apalagi ketika suaminya berkata demikian tadi. Hingga wanita itu berpikir 𝘪𝘮𝘱𝘶𝘭𝘴𝘪𝘧 dan nekat hendak mengakhiri hidupnya bersama-sama sang suami.
"Kita berdua sama-sama bersalah, Dit. Kamu mau 'kan memaafkan aku?" pinta Rasti seraya mendongak menatap sang suami, setelah tangisnya mereda.
Dito mengangguk. "Iya, Ras. Aku juga minta maaf." Pemuda itu kemudian membantu istrinya untuk berdiri dengan sempurna dan memapahnya menuju tempat tidur.
"Apakah jahitannya sakit, Ras?" tanya Dito setelah membaringkan Rasti di atas kasur yang empuk dan melihat istrinya itu meringis.
Ya, jahitan di bagian perut Rasti akibat operasi 𝘩𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘦𝘬𝘵𝘰𝘮𝘪 belumlah kering, sehingga masih menimbulkan rasa nyeri jika wanita itu melakukan banyak pergerakan.
Rasti hanya mengangguk.
Dito kemudian duduk di tepi pembaringan, menyingkap ke atas dress istrinya untuk dapat melihat bagian perut Rasti.
Pemuda yang masih berbalut handuk tersebut, mengamati bagian perut sang istri yang masih dibalut perban. Dito meraba tepinya dengan pelan dan kemudian meniupnya.
"Besok, kita kontrol ke dokter," ucap Dito, sambil membetulkan kembali dress istrinya.
Dito segera beranjak untuk mengenakan pakaian. "Setelah kamu sembuh, aku akan mengajakmu untuk pindah ke luar Jawa, Ras. Apa kamu mau ikut?" tanya Dito sambil memakai celana pendek.
Rasti tak menjawab, wanita itu hanya menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.
🌹🌹🌹
Di sebuah apartemen, nampak seorang pemuda tengah mematut diri di depan cermin besar di dalam kamarnya.
Pemuda itu nampak senyum-senyum sendiri, seraya meraba wajahnya yang mulai kasar karena bulu-bulu di sana sudah mulai tumbuh.
"Cukur besok sajalah, udah mepet banget waktunya," gumam Faris pada diri sendiri. Pemuda itu kemudian melihat jam di pergelangan tangan kanannya.
'Lebih baik, aku berangkat sekarang. Takutnya, nanti Neng Ganis kelamaan nungguin aku.' Faris menyambar kunci mobil dan dompet dari atas nakas dan kemudian segera keluar dari kamarnya.
Pemuda yang sore ini penampilannya sangat rapi, memacu langkah cepat menuju 𝘣𝘢𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵.
Faris segera menghidupkan mesin mobil, memanasi sebentar mesinnya dan perlahan mulai melajukan mobilnya keluar dari 𝘣𝘢𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵 apartemen.
Sepanjang perjalanan, pemuda itu bersenandung. Terlihat jelas aura kebahagiaan dari sorot matanya yang berbinar, senyumnya yang lebar serta wajah pemuda ganteng tersebut yang berseri-seri.
'Alhamdulillah jalanan lancar, tak seperti biasanya. Sebelum maghrib, aku pasti sudah tiba di sana,' monolog Faris dalam diam.
Ya, sore hari jalanan ibu kota yang biasanya padat merayap, kini terlihat lancar bebas hambatan. Alam seolah turut merestui niat baik Faris, yang ingin menjalin kedekatan dengan Nezia.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Faris memasuki pintu gerbang yang menjulang tinggi.
Kedatangan pemuda tersebut, disambut oleh Abraham yang sengaja langsung pulang ke rumah orang tuanya untuk memastikan bahwa acara kencan sang adik, malam ini berjalan dengan lancar.
"Enggak kena macet, kah?" tanya Abraham setelah Faris turun dari mobil dan berjalan mendekatinya.
"Alhamdulillah ... lancar jaya, Mas," balas Faris seraya terkekeh. Faris kemudian menyalami Abraham, yang langsung disambut pelukan sekilas oleh kakak kandung Nezia tersebut.
"Semoga acara kalian nanti, juga lancar jaya," do'a Abraham setelah melerai pelukannya. Pemuda tampan itu menepuk-nepuk punggung Faris seraya tersenyum hangat.
"Aamiin," balas Faris, mengaminkan
Abraham segera menuntun Faris untuk masuk ke dalam rumah megah milik kedua orang tuanya. "Sudah terdengar adzan maghrib, kita langsung ke musholla saja, ya," ajak Abraham.
Faris mengangguk, mengiyakan.
Mereka semua kemudian melaksanakan sholat maghrib dengan berjama'ah dan kali ini, Faris yang didaulat Ayah Alex untuk menjadi imam sholat karena ayahnya Nezia tersebut telah banyak mendengar cerita tentang pemuda yang hendak mendekati putrinya itu.
Usai sholat maghrib, Faris menunggu Nezia bersiap di ruang keluarga dengan ditemani oleh Abraham dan kedua orang tuanya.
"Nanti jangan malam-malam pulangnya ya, Nak Faris," pesan Bu Nisa yang sedikit khawatir. Wanita paruh baya tersebut, masih trauma dengan kejadian yang menimpa sang putri tercinta.
"Ibu niku pripun, tho? Lha wong mereka berdua saja belum berangkat, kok, sudah diwanti-wanti disuruh pulang," balas Abraham, protes pada sang ibu. Pemuda tampan itu tersenyum pada ibunya.
"Mpun, tho, Bu. Ibu ndak perlu khawatir, Dik Inez InsyaAllah aman sama Faris," lanjut Abraham yang mengerti kekhawatiran sang ibu.
Wanita paruh baya yang nampak awet muda itu mengangguk-angguk. "Iya, Ibu percaya, Mas. Tapi ndak ada salahnya, tho, kalau ibu berpesan," tuturnya kembali.
"Ibumu benar, Bram, dan dia yang selalu benar di rumah ini. Kamu ingat itu, kan?" timpal Ayah Alex seraya tersenyum menggoda sang istri.
"Ish, Ayah. Orang lagi ngomong serius, malah dibawa becanda," protes Bu Nisa sambil mencubit paha sang suami.
Ayah Alex terkekeh pelan, begitu pula dengan sang putra yang sudah paham maksud dari perkataan ayahnya.
Sementara Faris mengerutkan dahi, mencerna perkataan ayah dari gadis yang disukainya. Sedetik kemudian, pemuda itu ikut tersenyum lebar setelah paham maksud dari ucapan Ayah Alex.
'Ya, wanita selalu benar,' batin Faris.
"Tuh, Ineznya sudah siap," Bu Nisa menunjuk ke arah tangga.
Faris terpana melihat gadis yang berjalan dengan anggun menuruni anak tangga. Dia menatap ke arah Nezia, sampai lupa caranya berkedip.
"MasyaAllah, cantik sekali calon bidadari syurgaku," ucap Faris tanpa sadar, membuat semua mata tertuju padanya.
☕☕☕☕☕ bersambung ...