Terpaksa menyetujui sebuah tawaran yang membawanya pada kehidupan pernikahan yang sangat rumit untuk dijalani.
Begitu banyak masalah dan kerumitan dalam kehidupan rumah tangganya yang harus Viona lewati. Dia tetap bertahan dan mengikuti alur takdir yang entah akan ke mana membawanya untuk melangkah. Merelakan dan bahkan mengizinkan suaminya untuk berpacaran menjadi salah satu kerumitan yang dia alami. Selama orang-orang di sekelilingnya bahagia, dia sanggup melakukan apapun untuk mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Sinha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minggu depan?
"Halo, Tuan. Maaf, saya terlambat."
Viona dan Marshal menoleh pada orang yang memotong ucapan Marshal. Senyuman langsung terukir manis di bibir Marshal saat melihat orang tersebut.
Pria paruh baya mengenakan pakaian formalnya menghampiri. Dia adalah kliennya yang sedari tadi ditunggu oleh Marshal. Dengan penuh keramahan Marshal menjabat tangan pria itu setelah dia melepaskan tangan Viona tentunya.
Dua orang laki-laki pebisnis itu bertegur sapa. Viona hanya terdiam di samping Marshal. Bernapas lega dan mengucapkan terima kasih dalam hati. Karena kedatangan laki-laki itu, Viona bisa terbebas dari amukan calon suaminya.
"Mari kita masuk, Tuan! Tidak enak jika bicara di sini," ajak Marshal pada Suryo yang dibalas dengan anggukan.
Mereka melangkah memasuki restoran. Viona masih terdiam seperti orang linglung. Dengan cepat dia mendekat pada Marshal.
"Emm ... Tuan," ucap Viona ragu saat Marshal mulai melangkah.
Calon menantu Heru Pratama tersebut menghentikan langkahnya. Alisnya bertaut memandangi Viona. "Ada apa?"
"Saya-"
Marshal menggeram rendah. "Untuk yang tadi lupakan saja! Aku ada klien penting," ucapnya. Kemudian berlalu memasuki restoran.
Memandangi punggung Marshal yang berlalu, Viona membuang napas lega. Dia bisa terbebas dari keadaan yang begitu menyiksa. Untung saja laki-laki paruh baya itu datang tepat waktu. Karena jika tidak, maka Viona sudah pasti menjadi bahan amukan calon suaminya.
Viona kembali masuk ke dalam restoran untuk menemui Sendi. Betapa terkejutnya dia saat melihat Sendi duduk semeja dengan Marshal, Rio dan klienya. Mereka terlihat sedang berbincang bersama. Entah apa yang mereka bicarakan. Dari jarak yang lumayan agak jauh, Viona bisa melihat jika Sendi tidak nyaman bersama dengan mereka. Sesekali Sendi melihat ke arah sekitaran restoran. Tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan sosok Viona.
Viona yang sedang bingung harus bagaimana. Dia ingin pulang saja, tapi sudah terlanjur masuk dan dilihat oleh Sendi. Jadi, dia memberanikan diri untuk menghampiri Sendi dengan penuh keraguan.
"Sen ..." panggil Viona ragu yang langsung mendapat tatapan tajam dari Marshal.
akhirnya Viona menunduk. Takut dengan tatapan Marshal yang seperti sedang memperingatkannya. Viona hanya ingin mengajak Sendi, namun tidak bisa berkata apa pun sekarang. Keberadaan Marshal yang terus saja menyorot padanya, membuat Viona sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara.
Sendi berdiri dari duduknya, kemudian mendekat pada Viona yang masih menunduk. "Iya, kenapa, Viona?"
"Emm .... itu, Sen," Viona begitu ragu untuk berucap. "aku mau pulang."
Sendi mengangguk dan tersenyum penuh arti pada Viona. "Baiklah. Ayo kita pulang!" ucapnya, kemudian menggenggam tangan Viona.
Merasa geram melihat tangan Viona dipegang oleh Sendi, Marshal beranjak dari duduknya. Menarik Viona supaya menjauh dari anaknya Arga Mahendra tersebut, sehingga Viona tersentak kaget melihat Marshal dengan takut. Marshal tidak menghiraukan reaksi Viona dan langsung membawanya pergi dari sana.
"Maaf, Tuan. Sepertinya kita harus atur ulang pertemuan ini. Saya ada urusan yang penting," ucap Marshal pada kliennya yang mendapat respon anggukan bingung.
Dibawanya Viona keluar restoran, berjalan menuju mobil milik Marshal di parkiran. Rio mengkuti dari belakang dan segera membukakan pintu setelah Marshal mengisyaratkan.
Dengan terpaksa Viona masuk ke dalam. Dia tidak mau membuat keributan. Menurut adalah satu-satunya cara supaya Marshal tidak semakin mencercarnya.
"Diamlah!" tegas Marshal membuat Viona langsung diam pasrah dengan keadaan.
Awalnya dia memang berontak karena kaget dan juga takut. Ingin melepaskan tangannya dari Marshal. Namun, karena Marshal yang malah semakin mengeratkan cenggraman tangannya, Viona kembali diam dengan seribu kekesalan yang begitu mendalam. Pikirannya tertuju pada Sendi. Bagaimana dengan Sendi sekarang? Sendi pasti sedang kebingungan melihat kejadian barusan.
"Aku sudah memperingatkanmu beberapa kali, JANGAN DEKAT DENGAN PRIA LAIN! Kenapa kau begitu keras kepala, ha? Kenapa tidak mau menuruti peringatan dariku?" bentak Marshal memecah keheningan begitu mobil sudah mulai melaju.
Jantung Viona langsung berdebar hebat. Terkejut dan takut melihat Marshal yang sudah mengeluarkan amarahnya.
"Sa-saya hanya ingin mengajak Sendi pulang, Tuan," ucapnya gugup serta menunduk.
Marshal kembali memberikan sorotan tajamnnya. Meraih dagu Viona untuk menatapnya. Viona hanya bisa memejamkan mata tidak berani menatap wajah Marshal yang sangat dekat dengan wajahnya. Tubuhnya begitu gemetar. Takut akan amarah Marshal yang akan segera memuncak.
"Aku sudah memperingatkanmu, jangan dekat dengan pria lain! Tapi kenapa kamu terus dekat dengan pria tadi? Kenapa kamu kamu malah mengajaknya pulang? Apa peringatanku kurang jelas?"
Viona yang kini menggigit bibir bawahnya dengan mata yang masih terpejam. Jantungnya semakin berdebar dan tubuh yang semakin gemetar ketakutan.
"Jika kamu masih seperti ini terus ...," Marshal mengelus pipi Viona lembut. "Jangan salahkan aku, jika aku melanggar perjanjian kita. Acara pernikahan kita akan dimajukan. Kita menikah minggu depan!"
"Apa?!" Viona langsung membuka matanya lebar. Melihat Marshal dengan kaget. "Ke-kenapa, Tuan?"
"Kenapa? Apa ucapanku kurang jelas?" Viona hanya melongo masih tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. "Biar aku perjelas kembali. Kita menikah minggu depan!" tegasnya yang membuat mata Viona kembali melolot.
"Tuan, tapi ..."
"Tidak ada bantahan. Jangan membantahku! Kita akan tetap menikah minggu depan!" Tatapan tajamnya kembali menghunus sudut pandang Viona, yang membuat gadis itu kembali pasrah dengan keadaannya.
Bagaimana bisa Marshal memajukan pernikahannya begitu saja. Viona belum siap untuk menikah. Menerima tawaran itu saja dia terpaksa dan sampai sekarang masih belum bisa mengikhlaskannya. Tapi, dengan mudahnya Marshal bilang pernikahannya minggu depan? Viona tidak percaya akan hal itu.
_________________
"Kamu kenapa?"
Vino mendekat pada Viona yang tengah melamun di meja makan sendirian. Tangannya memegang sendok, tanpa berniat untuk menyantap makanan.
"Dek, kenapa?" Vino duduk di samping Viona, menatap wajah adiknya dengan lekat.
Viona menyimpan sendoknya, menoleh pada Vino. "Badmood," jawab Viona lirih, kemudian menyandarkan kepalanya dipundak Vino yang memang duduk tepat di samping tubuhnya.
"Emang kenapa?" Vino mengusap kepala adiknya dengan sayang. Viona terlihat banyak pikiran saat ini.
"Pernikahanku jadinya minggu depan."
"Apa?" Vino langsung menarik kepala Viona supaya bisa dilihatnya. "Minggu depan?"
Viona mengangguk pelan, "Iya, tuan Marshal bilang minggu depan."
Butuh beberapa kerjapan mata untuk Vino mengembalikkan kesadarannya setelah lama mencerna ucapan Viona. Dia menatap Viona tak percaya. "Kenapa jadi minggu depan? Bukankah pernikahan kamu nanti, setelah kakak menikah?"
Viona membuang napasnya dengan lemah. Menyandarkan punggung pada kursi. "Tuan Marshal memajukan tanggalnya."
"Kenapa tiba-tiba?"
"Panjang ceritanya. Dia memang menyebalkan! Seenaknya aja dia rubah jadwal, padahal aku gak mau ...." Viona menekuk wajahnya. Keputusan Marshal yang sepihak itu membuatnya tidak bergairah hidup lagi. Kenapa juga Marshal harus menginginkan pernikahan secepatnya? Padahal Viona sama sekali belum siap.
"Aku harus gimana, Kak? Aku belum siap nikah."
Melihat wajah muram sang adik membuat Vino jadi tidak tega. Dia sama sekali tidak menyangka jika nasib adiknya bisa jadi semenyedihkan ini. Wajah yang selalu terlihat riang itu kini terlihat sangat sendu. Telihat sekali jika Viona begitu tersiksa menghadapi kenyaataan yang begitu pahit menyapanya.