Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengasuh Renald
Kinara meletakkan handphone-nya begitu saja di samping bantal setelah menolak panggilan dari Arbian. Matanya memang benar-benar tak mampu diajak berkompromi. Rasa kantuk dan lelah karena aktivitas semalam dan tadi pagi menyerbunya dengan brutal.
Ia kembali merebahkan kepala di atas bantal empuk, seolah ingin menyerahkan dirinya sepenuhnya pada mimpi.
Namun—
“Tunggu dulu…” Pikirnya.
Kesadaran tiba-tiba menyergap. Ingatan tentang ia berada dimana dan kegiatan apa yang harusnya ia lakukan di pagi ini, membuat tubuhnya menegang. Perlahan ia mendongak, matanya mengerjap-ngerjap, mencoba mencerna kenyataan.
“Ya ampun, jam berapa ini?!" Batin Kinara.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar luas itu. Tak ada tanda-tanda Renald, sang CEO yang juga bosnya. Hidung mancung pria itu tak terlihat di mana pun. Ia menghela napas panjang, tapi bukannya lega, justru rasa gelisah menyeruak.
Tangan kirinya refleks meraih handphone yang tadi sempat ia buang begitu saja. Layarnya menyala, menampilkan waktu.
“Oh… jam sepuluh.” Gumamnya pelan.
Beberapa detik kemudian matanya membelalak, mulutnya refleks berteriak, “JAM SEPULUH?!”
Suara itu memantul ke dinding kamar mewah, membuatnya menjadi semakin panik. Ia hendak bangkit terburu-buru, namun langkahnya terhenti. Tubuhnya terbungkus selimut, dan saat menyadari di balik kain tipis itu tak ada sehelai benang pun yang menempel, wajahnya langsung panas.
Di tambah dengan perlakuan Renald, membuatnya merasakan sakit luar biasa pada tubuh dan juga inti tubuhnya. “Renald sialan!…” Umpatnya lirih, hampir tak terdengar.
Cklekk…
Suara pintu terbuka membuat jantungnya nyaris copot. Ia buru-buru menarik selimut, menyelubungi tubuhnya erat-erat hingga hanya wajah yang terlihat.
“Selamat pagi, Nona.” Suara lembut seorang perempuan terdengar.
Kinara menoleh cepat. Seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah muncul. Itu Bu Nini, kepala ART di rumah ini sekaligus wanita yang mengajaknya berbicara semalam.
“Canggung banget…” Batinnya.
“P-pagi juga, Bu Nini.” Jawab Kinara dengan senyum dipaksakan.
Bu Nini, meski terlihat ramah, bukanlah orang yang naif. Dari posisinya, ia sudah bisa menebak banyak hal. Nona yang tiba-tiba tidur di kamar majikannya, hanya berselimut tanpa pakaian—semua tanda itu sudah cukup jelas. Ia tak perlu bertanya, jawabannya sudah ia ketahui.
Namun, dengan wibawa seorang pengabdi yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah ini, Bu Nini menahan diri. Ia hanya menyampaikan pesan.
“Tadi pagi Tuan berpesan,” ucapnya tenang, “Nona Kinara tidak perlu bekerja hari ini. Tuan ingin Nona tetap menunggu di sini sampai beliau pulang.”
Kinara mendengkus kecil. Ia tahu, menolak sama saja dengan melawan. Renald bukan tipe pria yang bisa menerima penolakan.
“Baik, Bu Nini.” Jawabnya akhirnya, pasrah.
Kalaupun jika harus ke kantor saat ini, ia rasa dirinya pasti sudah sangat terlambat. Apalagi ia juga tidak tahu kalau semalam akan dibawa menginap ke rumah Renald, dan pakaian kerjanya pun belum ia siapkan.
“Ini ada pakaian baru dari Tuan.” Bu Nini menyerahkan sebuah bungkusan rapi. “Untuk sarapan, Nona ingin makan di kamar atau turun ke bawah?”
Kinara berpikir sebentar. Mengurung diri di kamar hanya akan membuatnya jenuh.
“Saya turun ke bawah saja, Bu.”
“Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi.”
“Terima kasih, Bu.” Kinara mengangguk kecil.
Begitu pintu tertutup, Kinara menjatuhkan selimut. Ia menatap tubuhnya yang tanpa busana, lalu berjalan ke kamar mandi dengan wajah muram. Air shower jatuh deras membasahi kulitnya, dingin menusuk, namun ia tak bergeming.
Pikirannya berkelana. Setiap tetes air seakan mengingatkan dirinya pada kejadian semalam. Merasa kotor? Tentu saja. Seandainya bisa, ia ingin menghapus semua jejak Renald dari tubuhnya.
Namun kenyataan tak bisa dihindari. Renald kini ibarat bayangan yang melekat. Lelaki itu memegang kendali atas hidupnya.
“Aku harus cari jalan keluar secepatnya…” Bisiknya.
Saat itu juga, ia mengingat lowongan pekerjaan di salah satu klub malam yang sudah ia putuskan sebagai jalan terakhirnya.
“Ah iya, kenapa aku jadi pelupa gini. Nanti aku telepon saat pulang.” Ucapnya sendiri, mencoba menyemangati diri.
Tekadnya bulat. Ia harus menambah jam kerja, mencari tambahan penghasilan. Hanya dengan begitu ia bisa segera melunasi pinjamannya dan bebas dari jerat Renald.
Selesai membersihkan diri, ia mengenakan dress selutut motif floral warna pink peach. Penampilannya kian anggun. Rambut hitam panjangnya tergerai, kulit putih bersihnya tampak berkilau di bawah cahaya lampu kamar.
Bercermin, matanya mendapati tanda kemerahan di leher.
“Ah Renald, sial!” Desisnya.
Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan foundation, lalu dengan sigap menutupi bekas itu. Untungnya Renald tadi pagi sudah memindahkan barang-barangnya dari kamar sebelah ke kamar ini. Setelah beberapa kali sentuhan, bekas itu tertutup rapi.
“Perfect!” Serunya puas sambil tersenyum tipis.
Dengan langkah hati-hati, ia menuruni tangga menuju ruang makan. Meja panjang penuh makanan lezat terhidang. Namun ruang makan yang megah itu justru terasa sepi dan asing. Duduk sendirian di meja sebesar itu, rasanya seperti terjebak dalam kesendirian yang mewah.
Melihat Bu Nini berdiri di samping, Kinara spontan mengajaknya.
“Bu Nini, ayo duduk. Kita makan sama-sama.”
Wanita tua itu terkejut. “Maaf, Nona. Saya sudah makan. Tugas saya hanya melayani.”
Kinara bangkit, menarik kursi di sebelahnya, lalu menggandeng Bu Nini untuk duduk.
“Tapi, Nona…”
“Sudah, Bu. Temani saya, ya? Saya nggak enak makan sendirian.” Wajah Kinara memelas.
Akhirnya, Bu Nini menyerah. Ia duduk dengan canggung, menerima piring yang sudah diisi Kinara.
“Terima kasih, Nona.” Suaranya bergetar. Dalam hati ia kagum, dengan sikap wanita yang dibawa oleh Tuannya itu.
Mereka mulai makan. Suara sendok dan garpu berdenting, menggema di ruangan luas.
“Hm, Bu Nini sudah lama ya kerja sama Renald?” Tanya Kinara sambil menyuap makanan.
Bu Nini menatapnya sejenak, lalu tersenyum samar. “Sudah, Non. Kurang lebih tiga puluh tahun.”
Kinara terbelalak. “Lama juga ya, Bu…”
“Iya. Saya sudah di rumah ini sejak Tuan Renald masih bayi merah. Saya yang menyuapinya, menggendongnya, mengajarinya berjalan dan berbicara.”
Nada suaranya mengandung keharuan. Matanya sedikit berkaca-kaca, seakan kenangan lama kembali menyeruak.
Kinara terdiam, menatap Bu Nini. Ada ketulusan di balik kata-kata itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat Renald bukan dari sisi dingin dan menakutkan, melainkan sebagai sosok bayi kecil yang pernah rapuh, pernah membutuhkan kasih sayang.
“Pasti banyak sekali cerita tentang beliau, ya Bu…” Suara Kinara lirih, seolah menunggu Bu Nini membuka sedikit cerita dari masa lalu pria yang selalu bersikap dingin itu.
Bu Nini menatap Kinara, lalu menarik napas panjang. Ada keraguan di wajahnya ketika akan mengatakan kalimat selanjutnya, seakan ia sedang menimbang sesuatu.
“Banyak sekali, Non..." Ujar Bu Nini akhirnya dengan mata seolah tengah menerawang ke masa lalu.