Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 – Jejak yang Tak Lagi Dapat Disembunyikan
Cahaya keemasan perlahan memudar dari Hutan Ilusi, kini sudah tidak ada lagi raungan yang mengguncang pepohonan maupun kabut hitam yang menyelimuti langit, yang tersisa hanyalah desir angin yang berhembus lembut membawa aroma tanah basah.
Dedaunan dalam hutan kembali hidup, burung-burung yang sempat menghilang pun mulai kembali bertengger di dahan pohon, seolah hutan itu baru saja terbangun dari mimpi buruk yang berlangsung sangat lama.
Aurelia berdiri membeku, di telapak tangannya masih tergenggam sebuah bintang kecil pemberian dari Penjaga Astralis. Cahaya benda itu kini jauh lebih redup, hanya berdenyut pelan seperti detak jantung yang tenang. Dirinya masih belum sempat memahami apa yang telah terjadi, bahkan suara pria berjubah itu pun masih terngiang jelas di pikirannya.
“Bawalah ini. Ini bukan kekuatan, melainkan kenangan.” Namun Aurelia sendiri tidak tahu maksud dari ucapannya itu apa, entahlah kenangan milik siapa dan tentang apa. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dibenaknya tanpa ada jawaban.
“Relia.” Suara Lyra membuyarkan lamunannya.
Aurelia menoleh pada sahabatnya itu. Rambut panjang Lyra sedikit berantakan, jubah akademinya robek di bagian lengan akibat pertarungan sebelumnya, tetapi senyum kecilnya tetap menghiasi wajahnya.
“Kau baik-baik saja?” Aurelia tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya dan mendapat jawaban itu membuat Lyra menghela napas lega. “Lain kali jangan membuatku hampir terkena serangan jantung.” Protes Lyra dan membuat Aurelia terkekeh.
“Aku akan berusaha.”
“Kau selalu bilang begitu.” Lyra menyilangkan tangannya seraya mendengus kecil. “Tapi setiap kali ada masalah, kau selalu berjalan ke arah sumber masalahnya.” Lagi, Lyra kembali melayangkan protesan pada sahabatnya itu.
“Iya ya, aku juga baru sadar.” Aurelia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan akhirnya mereka tetawa bersama. Tawa yang terdengar sederhana, tapi terasa begitu berharga setelah mereka nyaris kehilangan nyawa beberapa menit sebelumnya.
Kini, suara Kepala Akademi kembali menggema dari langit melalui sihir komunikasi yang ia gunakan, suaranya mampu terdengar jelas meski Kepala Akademi tidak berada di dekat mereka.
“Seluruh peserta. Hutan Ilusi akan dibuka, kalian bisa ikuti jalur cahaya untuk menuju pintu keluar.” Sesaat kemudian, puluhan garis cahaya biru muncul di antara pepohonan membentuk jalan yang mengarah keluar dari hutan.
Para peserta yang sempat terpencar kini mulai berdatangan dari berbagai arah. Beberapa dari mereka ada yang mengalami luka ringan, dan juga tampak kelelahan, namun seluruh professor bernapas lega karena ujian kali itu tidak menelan korban jiwa dan itu sudah bagaikan keajaiban.
Saat Aurelia dan Lyra berjalan mengikuti jalur cahaya, beberapa murid disana mulai memperhatikan mereka, tatapan penasaran kembali muncul dari berbagai arah, dan tatapan seperti itu bukan pertama kali yang Aurelia rasakan.
“Itu dia. Dia yang mengeluarkan cahaya tadi.” Bisik salah seorang murid yang sudah lebih dulu berjalan keluar dari Hutan Ilusi.
“Kau benar, aku juga melihatnya, bahkan monster itu berhenti bergerak.” Sahut murid lain.
“Aku penasaran. Sebenarnya dia itu siapa?”
Bisikan-bisikan itu terus terdengar sahut menyahut di telinga Aurelia, beberapa bahkan ada yang menunjuknya dan hal itu membuat Aurelia spontan menundukkan kepalanya. Ia tidak pernah menyukai perhatian orang sebanyak itu, dan Lyra yang menyadari hal itu pun segera berjalan sedikit lebih dekat.
“Tidak usah pedulikan mereka. Orang-orang memang akan selalu membicarakan sesuatu yang tidak mereka pahami.” Bisik Lyra seraya menepuk bahu sahabatnya, kemudian Aurelia mengangguk, meski begitu, ia tetap merasa tidak nyaman.
Tak jauh di belakang rombongan, Caelum berjalan sendirian dengan langkah yang tenang, sedangkan wajahnya tetap datar seperti biasa, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Caelum mengingat kembali cahaya yang memenuhi hutan, tatapan Penjaga Astralis dan bagaimana makhluk itu langsung berlutut dihadapan Aurelia membuatnya terus berpikir.
Catatan-catatan kecil yang sudah ia kumpulkan selama bertahun-tahun lamanya ternyata membawanya menuju kebenaran, kebenaran bahwa Pewaris Astralis ternyata benar-benar masih hidup.
“Sungguh menarik,” gumamnya lirih. Namun senyum tipis itu perlahan menghilang ketika ia menyadari satu hal—Orion. Pria itu selalu muncul jauh lebih cepat dari pada perkiraannya. “Itu berarti, para Penjaga Bintang lainnya mungkin juga sudah mulai bergerak.” Ucapnya lagi seraya mendongakkan kepalanya ke langit.
Di sisi lain, Orion berdiri sendirian di atas cabang pohon tertinggi, dari sana ia dapat melihat seluruh Hutan Ilusi, termasuk dengan Aurelia yang tengah berjalan bersama Lyra dan untuk sesaat tatapannya berubah menjadi sangat lembut.
“Masih terlalu cepat.” Bisik Orion yang tak mengalihkan pandangannya. “Aku berharap, kau masih memiliki lebih banyak waktu.” Angin berhembus pelan, membawa sehelai bulu putih yang jatuh tepat di telapak tangannya dan Orion lekas mengepalkan tangannya.
“Lima segel…” Orion kembali bergumam dengan memejamkan kedua matanya. “… dan satu di antaranya telah terbuka.” Kalimat itu nyaris tenggelam oleh suara angin, karena tidak ada satu orang pun yang mendengar ucapannya.
Gerbang Hutan Ilusi akhirnya terbuka, puluhan professor telah menunggu diluar dengan wajah penuh kecemasan. Begitu para peserta mulai keluar satu per satu, tim penyembuh akademi yang sudah dibentuk pun lekas bergerak memeriksa kondisi mereka, sedangkan Profesor Elowen langsung menghampiri Aurelia ketika gadis itu sudah keluar.
“Gadis kecil..” katanya seraya memeriksa luka-luka yang tertinggal di tangan Aurelia. “… apa kau terluka dibagian lain?” tanyanya dan Aurelia langsung menggeleng cepat.
“Hanya lecet sedikit, Prof.”
“Syukurlah.” Elowen merasa lega mendengar kalimat itu.
Tak lama kemudian, Kepala Akademi Aldric berjalan mendekat ke arahnya. Suasana yang semula riuh perlahan menjadi hening dan seluruh murid langsung memberi jalan. Tatapan Aldric tertuju lurus kepada Aurelia yang tengah bersama Elowen pada saat itu.
“Ikutlah denganku setelah semua pemeriksaan selesai, karena ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan.” Ucap Aldric tenang. Namun jantung Aurelia kembali berdebar cepat.
“Baik.”
Tak jauh dari sana, Kael, Lucien, dan Rowan sudah menunggu saudarinya keluar dari Hutan Ilusi. Saat melihat adik kecilnya itu sudah keluar dan tengah diobati, mereka langsung menghampirinya.
“Relia.” Rowan adalah orang pertama yang memeluknya. Pelukan itu terasa begitu erat hingga hampir membuat Aurelia kehilangan keseimbangan.
“Kau membuat kami khawatir setengah mati.” Kael memang tidak langsung memeluknya, namun ia mengusap pelan puncak kepala Aurelia, sama seperti yang selalu ia lakukan sejak mereka kecil.
Gerakan sederhana itu selalu membuat hati Aurelia merasa hangat. Lucien menatap adiknya beberapa detik sebelum akhirnya bernapas lega. “Melihat kau baik baik saja itu adalah sesuatu hal yang terpenting.” Ucap Lucien seraya tersenyum lembut ke arah saudarinya itu.
Ketegangan mulai menghilang secara perlahan, dan ketika tiga kakaknya berada didekatnya, Aurelia selalu seperti pulang ke rumah, seakan ia kembali menjadi dirinya sendiri dan Aurelia adik dari tiga kakak laki-laki keluarga Arvendis, bukan seorang Pewaris Astralis maupun gadis yang menjadi pusat perhatian seluruh akademi.
Malam tiba, kegelapan malam sudah menyelimuti Akademi Aetherion. Namun terdapat perbedaan yang terjadi dengan malam-malam sebelumnya, karena malam itu hampir tidak ada satu pun murid yang langsung tidur.
Seluruh asrama dipenuhi suara bisikan-bisikan yang mereka lihat saat berada di Hutan Ilusi, mereka membicarakan monster hingga cahaya emas yang tiba-tiba muncul di Hutan Ilusi, serta menyebutkan satu nama murid tahun pertama yang melakukan semuanya—Aurelia Evandria.
Di ruang guru, para professor berkumpul mengelilingi meja bundar, dan tak seorang pun memulai percakapan untuk mematahkan keheningan yang terjadi disana. Hingga akhirnya Aldric meletakkan sebuah benda di atas meja.
Benda itu adalah sebuah pecahan dari kristal hitam, kristal yang tertinggal setelah tubuh Penjaga Astralis hancur dan Profesor Cedric yang juga berada disana pun langsung menatapnya dengan wajah yang sangat serius.
“Mana Kegelapan Purba,” gumamnya dan membuat Profesor Elowen menelan air liurnya tidak percaya.
“Itu berarti, mereka benar-benar mulai bergerak.” Sahut Elowen yang dibalas anggukan oleh Aldric.
Kini tatapan Aldric mengarah ke jendela besar yang memperlihatkan langit malam. Bintang-bintang tampak bersinar terang lebih dari biasanya. Namun entah kenapa, keindahan itu justru terasa seperti sebuah peringatan.
“Festival Agung Sihir akan segera dimulai.” Ucap Aldric pelan. “Dan aku yakin, musuh kita tidak akan menunggu sampai festival berakhir.” Aldric melanjutkan.
****
Jauh di Utara, tepatnya dibalik pegunugan yang tak pernah tercantum dalam peta kerajaan, disana berdiri sebuah benteng hitam yang menjulang ke langit. Di dalam aula utamanya, terdapat puluhan sosok berjubah gelap berlutut menghadap ke arah sebuah singgasana.
Pria yang duduk di atasnya membuka matanya perlahan. Mata merahnya memantulkan cahaya dari bola kristal yang masih menayangkan kejadian di Hutan Ilusi. Ia tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.
“Jadi, Astralis sudah benar-benar memilih perwarisnya.” Ia berdiri perlahan dan jubah hitamnya menjuntai hingga menyapu lantai batu di kastelnya. “Kalau begitu, sudah waktunya para Pemburu Bintang keluar dari bayangan.” Lanjutnya lagi.
“Perintah akan kami laksanakan.” Puluhan sosok berjubah itu serempak menundukkan kepala.
Pria bermata merah itu kini menatap langit malam dari balik jendela benteng kastelnya, hingga ia melihat sebuah bintang jatuh melintas di cakrawala.
“Larilah sejauh apapun,” gumamnya pelan dengan mata yang masih memandang langit hitam itu. “Karena takdir akan selalu menemukanmu, Aurelia Evandria.” Ucapnya lagi, dan untuk pertama kalinya, perburuan terhadap Pewaris Astralis resmi dimulai.