Berkisah tentang Jenar Ayu Santika yang harus rela menjadi pengasuh Aiden (5 tahun). Bocah yang memiliki karakter usil dan nakal serta kecerdasan yang berbeda dengan anak yang seusianya.
Keusilan Aiden berhasil membuat Ayu kesulitan dan juga mendekatkan dia dengan Edwin (Papah Aiden).
Apakah Ayu bisa menjadi pengasuh yang baik bahkan menjadi Ibu bagi Aiden dan Istri Edwin?
Ikuti terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - PCM
"Jadi kalian tidak akan menikah?"
Ayu dan Edwin saling tatap mendengar pertanyaan Aiden. Edwin sendiri bukan tidak ingin menikah apalagi dengan Ayu, yang mana dia mulai menyukai gadis itu.Tapi pernikahan bukan sesuatu yang dilakukan tanpa rencana.
"Aiden." Edwin berjongkok di hadapan putranya. "Papa bukan tidak ingin menikah, tapi semua harus direncanakan dengan matang."
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Aiden lagi.
"Kamu harus tanyakan dulu apakah mempelai wanitanya mau atau tidak."
Aiden menoleh ke arah Ayu yang ada di sampingnya, begitupun dengan Edwin yang juga menatap Ayu.
"Apa?" tanya Ayu pada ayah dan anak yang sedang menatapnya.
"Tante tidak ingin menikah dengan Papa?"
"Yang benar saja, menikah itu harus dengan dasar cinta. Bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang tidak mencintaiku."
"Papa tidak cinta dengan Tante Ayu?"
Edwin terkekeh kemudian berdiri. "Itu bukan urusanmu Boy, kamu masih kecil. Soal cinta biar kami yang urus."
"Maksudnya?" tanya Ayu.
"Ayo ikut aku, kita harus bicara tapi tidak di depan Aiden. Dia sudah terlalu banyak memikirkan urusan orang dewasa," seru Aiden.
"Ingat, kalian harus segera menikah atau aku kirimkan foto ini kepada Oma dan pastinya Oma akan langsung menikahkan kalian," ancam Aiden.
Edwin hanya berdecak lalu meraih tangan Ayu agar ikut dengannya.
"Kita mau kemana Pak?"
"Kita bicara di ruanganku," jawab Edwin sambil terus menggenggam tangan Ayu. Ayu berjalan dengan tatapan mengarah pada tangannya yang digenggam oleh Edwin. Saat ini mereka sudah berada di depan pintu ruang kerja Edwin.
"Pak Edwin, tanganku ...."
"Kenapa?" tanya Edwin sambil melepaskan tangan Ayu lalu membuka pintu. “Masuk!” titahnya.
Ayu dan Edwin sudah duduk berhadapan di sofa yang hanya terhalang sebuah meja. Jika Ayu menundukkan wajahnya karena bingung apa yang akan mereka bicarakan berbeda dengan Edwin yang sedang menatap lekat wajah Ayu.
“Pak Edwin.”
“Ayu.”
Ucap keduanya serempak.
“Bapak duluan deh,” titah Ayu.
“Terkait permintaan Aiden dan jebakannya. Menurut kamu bagaimana?”
“Ya nggak gimana-gimana. Jelas kita nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu sedang dalam hubungan pacaran atau …”
“Nggak ada,” jawab Ayu padahal Edwin belum selesai bertanya.
“Bagaimana kalau aku akan mengabulkan permintaan Aiden.”
Ayu melengos mendengarkan ucapan Edwin. Dia mengira Edwin mengatakan niat untuk menikah dengan wanita lain dan Mirna adalah orang tersebut. Karena Mirna sendiri pernah mengaku kalau dia adalah calon istri Edwin.
“Nikah ya nikah aja Pak. Kenapa juga nanya saya,” ketus Ayu sambil membuang pandangannya enggan untuk menatap Edwin.
“Tentu saja aku harus bertanya sama kamu, karena aku ingin menikahnya dengan kamu.”
“Hahh,” pekik Ayu. “Pak Edwin kalau bercanda itu lihat situasi dan kondisi dong, ini bukan hal yang lucu untuk dijadikan candaan.”
“Kamu pikir aku sedang bercanda?” tanya Edwin dengan raut wajah datar dan dingin sama saat Ayu masih bekerja sebagai sekretaris Edwin.
Ayu bahkan menelan ludah, tidak menduga sahutannya membuat Edwin tersinggung dan sepertinya pria itu marah.
“Apa yang aku sampaikan itu serius. Jadi apa jawabanmu?”
“Tunggu, ini maksudnya Pak Edwin sedang melamar aku? Nggak romantis banget sih,” ejek Ayu.
“Ayu, aku serius. Apa jawabanmu?”
“A-aku … aku ingin menikah dengan pria yang mencintai aku begitu pula sebaliknya. Kalau Pak Edwin ingin menikah hanya karena permintaan Aiden, Bapak salah orang.”
“Kalau ternyata aku tertarik dengan kamu, gimana?”
“Pak Edwin nggak lagi mabuk, ‘kan?”
Edwin berdecak. “Jawab saja pertanyaanku.”
“Tapi nggak sekarang juga nikahnya. Aku harus benar-benar yakin kalau Pak Edwin memang serius.”
“Oke, nanti malam aku akan menemui orang tuamu untuk melamarmu.”
pak Edwin gercep
calon ibu & calon anak suka nge game😄