Bagi sebagian orang jatuh cinta adalah hal yang mudah, manusia bisa jatuh cinta bahkan tanpa mengenal lebih dalam orang yang dia cintai. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hal yang berbeda di rasakan oleh pemuda bernama David Gabriel, putra sulung dari pengusaha kaya raya bernama Louis Gabriel yang sama sekali tidak mudah untuknya jatuh cinta kepada seseorang wanita.
Baginya, jatuh cinta hanya sekali seumur hidup dan cintanya hanya untuk wanita bernama Teresia Anindya Putri, wanita yang tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi.
Mampukah David menemukan kembali cinta pertamanya? Seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani oleh wanita bernama Teresia itu sehingga dia harus pulang ke desa terpencil dimana keluarganya berada?
Sekuel dari "Hasrat Tuan Kesepian" Untuk kalian semua Reader kesayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Tere dengan berbalut kebaya berwarna putih bersih nampak begitu cantik lengkap dengan polesan make-up khas pengantin. Dia masih duduk di dalam kamarnya dengan perasaan berdebar sebenarnya.
Ceklek ....
Pintu kamar pun di buka, Arista sang calon ibu mertua masuk ke dalam kamar dengan tersenyum sumringah lalu duduk tepat di samping calon menantunya.
"Apa kamu gugup?" Tanya Arista kemudian.
"Sedikit, Mom." Jawab Tere tersenyum kecil.
"Wajar si kalau kamu gugup, dulu Mommy juga gugup saat Daddy-nya David nikahi Mommy. Kamu tahu, melihat kamu Mommy seperti berkaca di masa lalu. Mommy juga hidup sendirian dahulu, sampai akhirnya bertemu dengan Daddy Louis dan jatuh cinta sama Mommy. Mommy juga tidak berasal dari keluarga kaya, kehidupan Mommy dahulu bahkan lebih mengenaskan dari yang kamu bayangkan.''
"Kelaparan, di hina karena miskin, bahkan Mommy sempat mencoba untuk mencuri hanya karena tidak punya uang sepeserpun sementara waktu itu adik Mommy sedang dalam keadaan sakit keras. Untungnya yang Tante curi itu benda kepunyaan Daddy Louis dan itu juga awal mula pertemuan kami." Ucap Arista panjang lebar mengingat masa lalu yang berliku, sebelum dirinya dipersunting oleh seorang Louis Gabriel pengusaha kaya raya.
"Benarkah? Masa lalu Mommy gak jauh beda dengan masa lalu aku ternyata. Aku pikir Mommy bermasalah dari keluarga kaya raya.''
Arista tersenyum kecil lalu meraih pergelangan tangan wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi calon menantunya.
"Mommy serahkan David sama kamu, Nak. Tugas Mommy buat jagain dia udah selesai. Sekarang giliran kamu yang harus jagain dia, ingetin jam makannya, urus pakaian-pakaian kerjanya, ingatkan jam tidurnya yang selalu tersita karena urusan pekerjaan kantor.''
"Jadilah istri yang baik buat putra Mommy itu, istri yang berbakti yang akan selalu nurut apapun yang dikatakan oleh suaminya selama itu dalam hal kebaikan. Ingat, dalam hal kebaikan, kalau putra Mommy suami kamu mengajak atau meminta kamu melakukan sesuatu yang tidak baik."
"Kamu berhak menolak dan berkewajiban untuk mengingatkan dia. Kamu ingat pesan Mommy ini ya."
Tere menganggukkan kepalanya lalu seketika memeluk tubuh Arista sang calon ibu mertua.
"Selamat datang di keluarga Louis Gabriel, tinggal beberapa saat lagi kamu akan resmi menjadi anggota keluarga ini, Tere. Jadi menantu Louis Gabriel.'' Lirih Arista mengusap punggung Tere lembut dan penuh kasih sayang.
"Makasih, Mom. Makasih banget karena Mommy sudah baik sekali sama aku.''
Arista menganggukkan-anggukan kepalanya.
"Permisi, Nyonya besar. Ada tamu yang mencari Nona Tere." Tiba-tiba saja Assisten Rumah tangga masuk ke dalam kamar.
"Tamu? Siapa?"
"Aku ...!"
Tanpa di sangka dan tanpa di duga, Larisa masuk ke dalam kamar dengan wajah cengengesan. Tentu saja hal itu membuat Tere merasa terkejut dan seketika berdiri dengan tubuh yang gemetar.
"Kakak?" Gumamnya merasa tidak percaya.
"Kamu kenal sama dia?" Tanya Arista.
"Kenalkan, Tante. Saya Larisa, kakaknya Tere."
Dengan penuh percaya diri, Larisa mengenalkan diri sendiri seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Saya Arista, ibu mertua Teresia." Jawab Arista, menerima uluran tangan tersebut.
Arista merasakan ada yang aneh dengan kedatangan wanita bernama Larisa ini. Jika dia memang kakak dari calon menantunya, tentu saja wajah Tere tidak akan terlihat muram seperti itu saat melihat kedatangannya.
"Tante, boleh saya bicara empat mata sama adik saya?" Pinta Larisa kemudian.
"Kamu baik-baik saja sayang kalau Mommy tinggal?''
Tere menganggukkan kepalanya seraya tersenyum hambar.
Dengan perasaan berat, akhirnya Arista pun meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.
Blug ....
Kamar pun di tutup rapat dan Arista benar-benar keluar dari dalam kamar.
"Hebat kamu ya, belum satu bulan di sini udah langsung nikah aja? Kamu kasih apa si David itu sampai dia benar-benar menikahi kamu secepat ini?'' tanya Larisa, tatapan matanya nampak menatap wajah Tere sang adik dengan tatapan mata penuh kebencian.
"Darimana kakak tahu alamat rumah ini? Bagaimana caranya juga kakak bisa tiba-tiba saja ada di kota, padalah Kaka sama sekali tidak punya uang untuk datang ke sini? Pakaian Kaka? Kaka memakai pakaian siapa? Apa Kaka mencuri?"
"Kurang ajar, jangan sembarangan ya kamu kalau ngomong. Seumur hidup kakak, gak pernah Kaka mencuri sesusah apapun hidup kita. Pakaian kakak ini pinjam dari si Anggita, kamu pasti kenal sama dia. Wanita yang kamu rebut kekasihnya itu."
Teresia pun seketika menarik napas berat lalu menghembuskan'nya secara kasar. Darimana kakaknya bisa kenal dengan wanita bernama Anggita?
Wanita itu jelas-jelas telah menunjukkan rasa tidak suka akan hubungan dirinya dengan calon suaminya. Mereka pasti akan berkerja sama untuk menghancurkan pernikahan yang akan segera di gelar dalam hitungan detik itu.
Batin Tere seketika merasa gelisah.
"Apa yang kakak inginkan sekarang? Apa tujuan kakak datang ke pernikahan aku ini? Jawab, Kak?" Ucapnya kemudian, sedikit menaikan suaranya.
"Apa lagi, kakak ingin kamu batalkan rencana pernikahan kamu ini."
"Hah ... Hahahaha ... Kaka pikir aku gila, hah? Kaka pikir aku akan mengikuti kemauan Kaka itu? Ingat kak, aku bukan lagi adik penurut kayak dulu, semenjak kebohongan Kaka terbongkar dan aku menerima semua perlakukan kasar Kaka, aku bersumpah tidak akan lagi mengikuti semua perintah kaka.''
Larisa pun seketika memajukan langkah kakinya hingga mereka berdiri saling berhadapan kini. Wajah mereka bahkan berada sangat dekat juga saling menatap satu sama lain penuh dengan tatapan kebencian.
Bola mata Teresia nampak memerah menahan rasa amarah, dadanya terlihat naik turun menahan rasa sesak di dadanya kini.
Grep ....
Wajahnya tiba-tiba di cengkraman kuat oleh Larisa sang kakak, dia pun berusaha melepaskan diri namun, usahanya sia-sia.
"Dengerin kakak, sampai kapanpun kamu gak akan pernah bisa lepas dari kakak. Kamu tetap adik Kaka yang penurut dan itu harus. Kalau tidak, Kaka akan menghancurkan pernikahan kamu ini. Kaka akan obrak-abrik acara di luar sana. Kamu tahu betul kalau kaka mampu melakukan hal itu. Kecuali--''
"Kecuali apa? Kecuali apa, Kak?"
Larisa pun melepaskan cengkraman tangannya, lalu berbisik di telinga adik tirinya.
"Kecuali kalau kamu mau membawa Kaka tinggal di rumah ini, atau dimanapun kamu tinggal. Kaka tidak sudi tinggal di rumah si nenek lampir Anggita, heuh ... Dia itu wanita gila. Bisa kebawa gila nanti kalau Kaka tinggal lama-lama sama dia.'' Ancam Larisa memberi penawaran.
"Kenapa? Bukankah Kaka juga wanita gila? Kalian sama-sama gila jadi, kalian cocok tinggal di bersama."
Larisa yang merasa tersinggung pun seketika hendak menampar wajah Teresia sang adik. Namun, tiba-tiba saja pergelangan tangannya segara di raih oleh David yang saat ini sudah berada di sampingnya kini.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Promosi lagi ya, Reader. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian di sana ya.