Varel dan Vera tinggal di ibu kota Jakarta , rumah mereka satu komplek yang hanya berjarak kurang lebih 100 meter, Varel dan Vera sering bermain bersama dari umur 3 tahun , karena tetanggaan, so pasti kedua orang tua mereka saling kenal satu sama lain.
Papa Vera adalah seorang pengusaha garmen yang cukup besar , dan juga punya banyak butiq di Jakarta ,Bandung dan kota kainnya, dan papi Varel bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti sebagai Direktur utama.
Varel dan Vera bersekolah di Taman kanak-kanak yang sama dan juga di SD yang sama, di sekolahpun mereka juga bermain bersama bak seperti anak kembar atau seperti lem sama kertas yang tak terpisahkan , saling menjaga dan saling melindungi, begitulah Varel sama Vera baik di rumah,maupun di sekolah sampai mereka kelas 5 SD ,mereka masih tetap bersahabat.
Suatu hari papi Varel di pindah kerja kan ke Surabaya saat Varel dan Vera kelas 5 SD semester pertama, dan otomatis Varel dan Vera pun terpaksa berpisah., karena perpisahan tersebut, watak Varel dan Vera berubah djngin dan tidak pernah tersenyum sampai mereka remaja
Bagaimana kisah persahabatan Varel dan Vera selanjutnya ? apakah mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti ?
Yuk Readers ,,,ikuti kisahnya selanjutnya ,,
jangan lupa Komentar dan like nya ya , untuk penyemangat author biar bisa lebih maju lagi kedepannya
Wassalam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda waty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Penyesalan Varel
Setelah kliennya menghilang di balik pintu, Levi memencet telpon untuk memanggil sekretarisnya Stella
" Stella, ke ruangan saya" kata lebih singkat di telpon
" Baik pak" terdengar suara di sebrang sana
Tak cukup dua menit stella pun masuk ke ruangan Levi
" Duduk Stella " perintah Levi
Stella pun duduk di depan meja Levi
" Stella, tadi CEO perusahaan Garuda Sakti telah tekan kontrak, ini proyek yang sangat besar menghabiskan dana triliunan, dan tentu dengan keuntungan yang tidak sedikit, untuk rasa terima kasih saya pada pemilik rancangan gambar rumah sakit mewah tersebut, saya mau traktir dia makan " kata Levi dengan nada bahagia dan penuh rasa syukur
"Kalau boleh tau kapan bapak mau traktir Rosa makan " tanya Stella pada Levi
" Siang ini " kata Levi singkat
" Baik pak, sebentar , saya telpon kepala workshop lantai 15 dulu " kata Stella sambil melakukan panggilan di depan Levi
" Selamat siang ibu Marisa, saya mau kabari kalau rancangan gambar Rosa berhasil menghantarkan perusahaan kita ke tekan kotrak dengan klien kita, karena itu bapak Levi pengin mentraktir Rosa makan siang hari ini sebagai ungkapan rasa terima kasihnya " kata Stella pada mantan atasan Rosa
" Maaf Bu Stella, saya minta maaf , dua hari yang lalu Rosa telah resign dari perusahaan ini, di resign karena pingin merawat mamanya yang lagi sakit " kata Marisa menjelaskan di sebrang sana
" Baiklah kalau begitu,saya tutup telponnya dulu " kata Stella menutup telponnya
" Pak Levi, maaf Rosa 2 hari yang lalu mendadak resign dari kantor karena pengen merawat mamanya yang lagi sakit " kata Stella menjelaskan
Mendengar kabar itu Levi jadi kaget , dan merasa kehilangan orang terbaik di kantornya
" Ouh ya , kalau boleh tau dimana Rosa tinggal , biar saya yang datangi rumahnya" kata Levi lagi
" Saya tidak tau dimana dia tinggal pak, tapi coba kita lihat biodatanya yang tersimpan di kantor ini " kata Stella lagi
" Silahkan pake leptop saya saja " Levi yang merasa agak penasaran juga sama Rosa dan kepintarannya
Stella pun membuka biodata Kariawan kantor dan mencari nama Rosa , setelah menemukannya
" Ini pak datanya" kata Stella menunjukkan data Rosa pada Levi
"Kamu saja yang membacakan datanya untuk ku" perintah Levi lagi
" Baik pak
Nama: Vera Rosalina Putri
Tamatan ; University College London
Nama ibu Felly Rosalina
Nama ayah Fito Gunawan
Pernah tinggal di Jakarta dan Bandung
Saat ini tinggal di jalan kemanggi Jakarta,,, "
mendadak ada yang merebut leptopnya
Mendengar nama Vera di sebut, Varel atau Levi langsung merebut leptopnya dari tangan Stella, lalu Levi membaca sendiri biodata Rosa sambil menyipitkan matanya, Levi membaca biodata itu berulang-ulang .
" Vera.. sayang benarkah ini kamu , mengapa kita tidak pernah ketemu di sini, tenyata kamu bekerja di kantor kak Varel sayang," Levi bicara sendiri melihat ke leptopnya sambil menanggis
Stella yang melihat itu menjadi tak percaya dan berulang kali Stella mencubit tangga nya sendiri untuk memastikan dia lagi bermimpi atau tidak, bagaimana tidak, dia melihat bosnya yang super duper dingin dan tempramental kini menangis di hadapan leptopnya sambil membaca biodata Rosa.
" Stella saya mau menghubungi seseorang , silahkan meninggalkan ruangan ini " perintah Levi pada sekretarisnya
" Baik pak " jawab Stella singkat. Dan Stella pun keluar dari ruangan kerja Levi lalu menutup pintu ruangannya kembali
Setelah Stella menghilang dari pandangannya, Levi pun memencet telpon di atas meja kerjanya nya
" Marshcel , kamu ke ruangan saya segera " perintah Levi pada asisten atau sekretaris pribadinya
" Baik pak Levi " jawaban suara di sebrang sana
Tanpa menunggu lama pintu ruangan Levi di ketuk
Tok tok tok
" Masuk " jawab Levi cepat
Pintu pun terbuka , tampak Marshcel berjalan tergesa-gesa menuju meja kerja Levi
" Ada apa pak Levi " tanya Marshcel penasaran
" Marshcel, kita terkecoh, ternyata orang yang kita cari- cari ternyata bekerja di kantor ini tanpa kita sadari " kata Levi mulai bercerita
" Ouh ya, di bagian mana ya pak dia bekerja " tanya Marshcel kaget
" Dia bekerja di workshop lantai 15, dan asal kamu tau, dia seorang arsitek jenius yang di handalkan di kantor saya ini, dan Minggu lalu ada klien yang memesan rancangan gambar rumah sakit mewah, dalam 2 hari Vera menyelesaikannya dengan sempurna lengkap dengan drafter yang mendeteil, dan beberapa jam yang lalu saya sudah tekan kontrak dengan perusahaan Garuda Sakti mengerjakan proyek pembangunan rumah sakit mewah yang di rancang oleh Vera " lanjut Levi bercerita
Marshcel yang mendengar cerita atasannya tak henti- henti berdecak kagum
" Wah hebat Vera nya bapak, terus kenapa pak Levi tidak tau itu rancangan gambar Vera setelah menyeleksi semua gambar dari workshop lantai 15, bukan kah di setiap gambar ada namanya di salah satu sudut rancangannya " tanya Marshcel lagi
" Ya saya melihat inisial namanya VRP di sana, saya tidak pernah berfikir kalau itu nama Vera, karena dari awal saya memberikan tugas itu melewati Stella, saya sudah tanya terlebih dahulu siapa-siapa saja arsitek terbaik di perusahaan ini " kata Levi menjeda ceritanya pada Marshcel, lalu meneguk air putih yang telah tersedia di mejanya
" Terus , siapa Arsitek yang terbaik di perusahaan ini " tanya Marshcel penasaran
" Stella bilang arsitek terbaik di perusahaan ini ada dua orang, yang pertama Rosa , yang kedua Rehan, tapi yang sering di pilih klien adalah rancangan gambar arsitek Rosa" kata Levi melanjutkan ceritanya
" Loh kok Rosa sih, bukannya tadi Vera " tanya Marshcel bingung
" Yeah,, Rosa itu adalah Vera , disini semua Kariawan memanggilnya Rosa , karena nama aslinya Vera Rosalina Putri atau inisial VRP yang di rancangannya " jawab Levi lagi
" Wah bagus donk pak Levi, tanpa kita susah mencari- cari keberadaannya nya lagi ternyata dia sudah ada di perusahaan ini" jawab Marshcel senang dengan cahaya mata yang berbinar-binar
" Sayangnya Vera sudah resign 2 hari yang lalu setelah menyerahkan rancangan gambarnya, alasannya mamanya Tante Felly dalam ke adaan sakit, sebagai anak satu-satunya, Vera pengen merawat mamanya dengan tangannya sendiri" cerita Levi lagi sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya
" Terus apa yang harus saya lakukan selanjutnya pak Levi " tanya Marshcel pada atasan nya
" Cepat kamu datangi alamat rumahnya di jalan kemangi, cari informasi keadaan mamanya juga, dan segera laporkan pada saya hari ini juga sebelum jam 3 sore ini " perintah Levi pada sekretaris pribadinya
" Kalau begitu baiklah pak Levi, saya jalan dulu" kata Marshcel lalu berlalu pergi dari ruangan Levi.
Sepeninggal Marshcel bos muda dingin dan tampan itu menyandarkan kepala dan badannya duduk di kursi kebesarannya, lalu memegang kalung anggrek di dadanya
' Vera ternyata kak Varel begitu bodoh dan tidak peka dengan inisial huruf di rancangan gambar mu, maaf kak Varel Vera ' kata batin Varel sambil mengusap- usap kalung anggreknya
semangat bund 💪💪