NovelToon NovelToon
Ritual Bunga Kantil

Ritual Bunga Kantil

Status: tamat
Genre:Spiritual / Horor / Tamat
Popularitas:203k
Nilai: 5
Nama Author: Meylani Putri Putti

Keling, begitulah orang menyebut Lastri. Bukan hanya itu, kata hinaan kerap terlontar untuk Lastri rasa sakit, kecewa, serta merasa tidak berguna.
Hal itu membuatnya menerima ajakan Nilam untuk memasang susuk serta ritual agar ia bisa menjadi cantik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertolongan Emir

Lastri seakan tidak percaya dengan apa yang ia alami, Lastri berjalan jauh meninggalkan kantornya dan sampai ia berhenti di tempat yang ramai lalu memesan ojek online.

Jemputan dari ojek online pun tiba, ia naik dan pulang menuju rumah. Sesampainya di rumah Lastri di buat bingung karena lampu rumahnya tidak menyala, dengan cepat Lastri bergegas masuk.

Lastri mencoba membuka pintu rumahnya, rupanya pintu itu tidak terkunci.

'Enggak dikunci. Apa ibu lupa mengunci pintu?' pikirnya.

Lastri masuk dan menyalakan semua lampu, ia berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Usai berganti pakaian ia memutuskan untuk makan malam.

'Laper banget. Kayanya aku harus makan dulu.’

Lastri membuka tudung saji namun, tidak terdapat makanan di sana.

‘Ibu nggak masak sepertinya. Aku bikin mie instan aja deh,' Lastri bermonolog.

Lastri berjalan menuju dapur dan menyalakan lampu dapur.

“Astagfirullah Ibu!” pekik Lastri.

Terlihat Minah tergeletak di lantai dapur dengan darah mengering di mulutnya serta terdapat beberapa bercak darah di lantai.

“Ya Allah Bu. Tolong! Tolong!” teriak Lastri sambil memangku ibunya.

Mendengar teriakan Lastri beberapa tetangga menerobos masuk ke dalam rumahnya.

“Ada apa Lastri?” tanya seseorang dari depan pintu dapur.

“Bu, tolong Ibu saya!” ucap Lastri sambil menagis.

“Ya Allah. Ibu kamu kenapa?”

“Saya nggak tahu Bu. Saat saya pulang Ibu sudah begini.”

“Ya sudah Ibu-ibu kita bantu angkat Minah ke kamarnya dulu!” pinta seorang tetangga.

Beberapa tetangga membantu Lastri mengangkat tubuh Minah untuk dibawa masuk ke dalam kamar.

Lastri membersihkan darah yang sudah mengering di mulut Minah dengan kain basah.

“Lastri sebaiknya kamu bawa ibumu ke rumah sakit,” saran seorang tetangga.

Lastri membuka HP-nya dan mencoba menghubungi Ayu namun tidak diangkat begitu pula dengan Nilam bahkan nomornya tidak aktif.

Hingga Lastri ingat jika Emir tadi pagi mengirim pesan chat kepadanya. Tanpa pikir panjang Lastri menghubungi Emir dan meminta pertolongan.

“Halo Emir,” ucap Lastri dalam telepon.

“Iya Lastri ada apa?”

“Eh tunggu. Kamu nangis? Kenapa?” tanya Emir mendengar suara Lastri yang terisak.

“Emir apa kamu bisa bantu aku bawa ibu ke rumah sakit?”

“Oke dalam 5 menit aku sampai ke sana.”

Emir langsung menutup teleponnya dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Dengan kecepatan tinggi serta kepiawaiannya dalam mengemudi ia dengan mudah menyalip pengendara lain yang ada di depannya.

Emir tanpa ragu menerobos masuk ke dalam gang kecil yang hanya muat untuk satu mobil itu dan memutar arah setelahnya.

Emir keluar mobil dan membuka pintu agar Lastri dan ibunya bisa masuk. Tanpa banyak pertanyaan Emir masuk ke dalam kamar ibu Lastri dan mengangkatnya masuk ke dalam mobil disusul oleh Lastri.

Emir bergegas tancap gas sambil menyalakan dua lampu sen mobilnya serta terus membunyikan klakson.

Di kursi belakang Lastri terus menangis sambil memangku ibunya yang masih tak sadarkan diri.

“Sabar ya Lastri sebentar lagi kita sampai.”

Saat sampai di rumah sakit Emir memanggil para petugas untuk segera membantunya.

Beberapa perawat menghampiri mobil Emir sambil membawa kasur darurat dan dengan cepat membawa ibu Lastri ke IGD disusul oleh seorang Dokter.

“Maaf Mbak. Mohon tunggu di luar dulu,” ucap seorang perawat yang menahan Lastri untuk ikut masuk.

Lastri duduk di kursi tunggu sambil menangis sesenggukan.

“Tenang Lastri kamu jangan menangis, kita berdoa saja semoga ibu kamu baik-baik saja.”

Tiba-tiba HP Lastri berbunyi, rupanya ada telepon yang masuk dan itu dari Ayu. Lastri dengan cepat mengangkatnya.

“Halo Ayu.”

“Lastri ada apa? Maaf aku tadi keluar cari makan dan HPku ketinggalan,” tutur Ayu di telepon.

“Yu. Ibu masuk rumah sakit.”

“Ya sudah kamu kirim alamat rumah sakitnya biar aku bisa ke sana.”

Lastri pun mengirimkan lokasi rumah sakit tersebut kepada Ayu dan menutup teleponnya.

Beberapa saat kemudian Dokter itu keluar ruangan.

“Dokter bagaimana keadaan ibu saya?” tanya Lastri cemas.

“Kami belum bisa memastikan, kami harus memeriksanya lebih lanjut. Kami akan membawa ibu Anda ke ruang CT scan,” tutur Dokter itu.

Ibu Lastri mulai di pindahkan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelum pemeriksaan Dokter meminta Lastri ikut ke ruangannya untuk memberi beberapa pertanyaan mengenai kondisi ibunya sebelum di bawa ke rumah sakit.

“Apa sebelumnya ibu anda memiliki keluhan seperti nyeri pada perut atau semacamnya?” tanya Dokter itu.

“Tidak Dok. Ibu saya tidak pernah mengeluh sakit hanya terkadang ibu saya sering masuk angin.”

“Ini hanya perkiraan saya saja sebelum hasil pemeriksaan. Dari kondisi yang saya lihat ibu Anda mengalami muntah darah. Ini bisa di akibatkan oleh beberapa hal namun yang sering terjadi adalah masalah pada lambung.”

“Kami akan memeriksa lebih lanjut Anda bisa menunggu di luar,” sambung dokter tersebut.

Lastri pun kembali duduk di kursi tunggu sembari menunggu pemeriksaan selesai.

“Lastri,” Ayu datang menghampiri.

“Ayu.”

Lastri kembali menangis sesenggukan di pelukan Ayu. Ayu menepuk pelan pundak Lastri dan berusaha menenangkan Lastri.

“Loh ... Emir,” Ayu terkejut melihat Emir.

“Halo Yu,” ucap Emir.

“Kalian saling kenal?” tanya Lastri.

“Ya kenal lah dia kan anak kedua Pak Gunawan.”

“Hah? Beneran?” Lastri terkejut sambil menghapus air matanya.

'Duh kenapa si Ayu ke sini sih.’ guman Emir dalam hati.

Emir hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan Lastri.

“Lastri gimana keadaan ibumu?” tanya Ayu.

“Aku belum tahu Yu. Ibu masih diperiksa,” sahut Lastri.

“Oh ya. Syukur kalau begitu,” sahut Ayu.

Emir mengerutkan alisnya mendengar serta melihat ekspresi Ayu yang seakan berubah tidak seperti awal ia datang.

“Oh iya. Kalian kok bisa saling kenal sih?” tanya Ayu.

Emir mendengus. “Ini bukan saatnya membahas masalah itu,” sahut Emir.

“Apaan sih kamu sensi banget sama aku!” ucap Ayu.

“Udah nggak apa-apa. Ayu kamu ingat aku bilang ada yang ngasih aku banyak barang, dia orangnya.”

“Udah itu nggak penting lagi. Yang terpenting sekarang kondisi ibumu,” sahut Ayu.

'Kenapa hari ini sikap Ayu aneh seperti berubah-ubah. Apa hanya perasaanku saja?' pikir Lastri.

Mereka bertiga duduk di kursi tunggu, cukup lama Lastri menunggu hingga hasil pemeriksaan keluar dan Dokter kembali memanggil Lastri di susul oleh Emir.

“Bagaimana Dok?” tanya Emir.

“Ini aneh, semuanya normal tidak ada yang bermasalah,” sahut Dokter itu.

Dokter memperlihatkan hasik CT scan kepada Lastri. Yang menjadi bukti jika kondisi organ dalam dari Ibu Lastri normal Dokter juga memberikan beberapa persepsi tentang kondisi ibu Lastri serta menjelaskan bahwa harus tetap menjalani rawat inap sampai ibu Lastri sadar kembali.

“Aneh. Apa dokter itu melupakan sesuatu jelas-jelas ibuku mengeluarkan darah dari mulutnya,” ucap Lastri.

“Tapi kamu lihat sendirikan Lastri, Dokter bilang organ dalam ibumu baik-baik saja bahkan normal,” sahut Ayu.

“Yang terpenting kita sudah mengetahui hasilnya. Dokter bilang hanya efek syok. Kita berdoa saja semoga ibumu cepat sadar Lastri,” tutur Emir.

“Emir terima kasih karena sudah mau mengatar kami.”

“Dan Ayu terima kasih juga kamu mau datang ke sini,” sambung Lastri.

“Kalian bisa pulang, biar aku menjaga ibu di sini,” ucap Lastri lagi.

“Kamu yang sabar ya Lastri, semoga ibumu cepat sadar. Kalau begitu aku pamit dulu,” ucap Ayu sambil mengusap bahu Lastri penuh simpatik.

Ayu berjalan pergi meninggalkan Lastri dan juga Emir.

“Aku tetap di sini,” Emir kembali duduk di kursi.

“Tapi kenapa?”

“Ya ... Aku nemenin kamu di sini.”

“Enggak perlu. Biar aku menemani Ibu di sini,”

Emir tidak menghiraukan ucapan Lastri ia malah memasang earphone di kedua telinganya.

Lastri menghela nafas. “Terserah kamu deh.”

bersambung gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih.

1
Antoni Indri
seru ceritanya...
bagas muhammad
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
bagas muhammad
apa lastri melangar pantangan.di teror terus
Dwi Ratih
ceritanya bagus singkat GK bertele2 aku suka sekali
👑Meylani Putri Putti: makasi kk 🥰
total 1 replies
Ajeng Sripungga
Luar biasa
Krisna Adhi
/Facepalm//Facepalm/
siscapucinoo
ayu nih
Santi Rizal
good... mksh Thor
Santi Rizal
syukurlah Lastri selamat
Santi Rizal
makin seru dan menegangkan
Santi Rizal
sereeerrm Thor
Santi Rizal
tegang banget nih
Santi Rizal
lumayan deh ga terlalu horor...ada ngakakny
Santi Rizal
seperti nya ayu pelakunya
Santi Rizal
msh banyak keganjilan...othor bisa banget bikin penasaran
Santi Rizal
kok JD serem iihh
Santi Rizal
ternyata Nilam jahat
Santi Rizal
apa karena susuk Lastri JD di teror mahluk astral
Santi Rizal
Lastri polos banget
Santi Rizal
bullying sangat berpengaruh PD mental seseorang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!