NovelToon NovelToon
After The Rain

After The Rain

Status: tamat
Genre:Romansa / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:46k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

Segala kemalangan hidup yang menghampiri Kinara Adorelia membawanya bertemu dengan Sekala Pranadipa, seorang pemuda yang menyimpan banyak luka di balik senyumnya.

Ini bukan sekadar kisah percintaan dua anak manusia, melainkan kisah perjalanan mereka dalam mengarungi badai masing-masing sampai akhirnya tiba dan bersandar di dermaga yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan Kecil Untuk Bertahan

Seperti yang sudah Kinara prediksi sebelumnya, hujan betulan turun tepat ketika ia menapakkan kaki di halte busway. Sore itu, halte busway tampak sepi dan hanya ada dirinya seorang di sana.

Pemandangan seperti ini sebenarnya biasa saja. Karena memang tidak banyak yang suka menggunakan angkutan umum di sekitar kampus. Selain karena mahasiswa yang berkuliah di kampusnya kebanyakan memang berasal dari keluarga kaya, mereka juga tidak terlalu suka menggunakan angkutan umum terutama busway karena sering delay dan space yang ada tidak banyak sehingga seringkali terjadi desak-desakan.

Kinara mengambil posisi duduk di bangku halte. Matanya menerawang jauh ke depan, pada rintik hujan yang turun begitu deras seolah tanpa beban.

Menarik dan membuang napas beberapa kali menjadi satu-satunya hal yang Kinara lakukan selama bermenit-menit kemudian. Aroma hujan yang telah bercampur dengan asap kendaraan menuntun Kinara untuk memejamkan mata, menajamkan indera pendengaran demi meresapi suara tetes air hujan yang serupa alunan musik.

Kemudian, saat nada-nada minor mulai tercipta di kepala, rungu Kinara menangkap suara deru kendaraan yang berjalan mendekat. Rangkaian nada yang telah hadir tanpa sengaja itu seketika buyar kala ia membuka mata.

Tak berselang lama dari saat ia membuka kembali netranya, busway yang ditunggu-tunggu sampai di hadapannya. Tidak mau membuat supir dan penumpang yang lebih dulu ada di dalam busway menunggu lama, Kinara segera bangkit dari duduknya dan sedikit berlarian memasuki busway karena hujan masih turun cukup deras.

Sampai di dalam busway, Kinara sempat saling bertukar senyum dengan petugas yang berjaga di pintu. Petugas kali ini perempuan, berkerudung dan senantiasa memamerkan senyum hangat kepada penumpang.

Beruntung sore ini busway tidak penuh. Hanya ada lima orang penumpang dan Kinara kemudian mengambil posisi duduk di barisan paling belakang dekat jendela sebelah kiri.

Busway melaju dengan kecepatan sedang, membiarkan Kinara melabuhkan pandangan ke luar jendela, menatapi setiap hal yang ditemuinya di sepanjang perjalanan.

Hujan masih turun dengan intensitas yang sama, namun langit di atas mereka sudah tidak lagi berwarna abu-abu pekat. Kumpulan awan mendung mulai menyingkir seiring dengan semakin banyaknya air hujan yang turun, tergantikan dengan sekumpulan awan putih yang membuat suasana tidak lagi muram.

Lalu, perhatian Kinara tercuri saat netranya menangkap sebuah pemandangan tak biasa. Di tengah hujan yang masih turun dengan deras, Kinara melihat perpaduan warna-warni yang cantik di atas langit sana. Betul, Kinara melihat adanya pelangi.

Pemandangan itu tentu saja berhasil membuat sudut-sudut bibir Kinara tertarik ke atas. Dengan gerakan cepat ia keluarkan ponsel dari dalam tas dan segera mengabadikan momen itu untuk waktu yang cukup lama.

Setelahnya, Kinara memandangi hasil jepretannya selama berpuluh-puluh detik. Hanya untuk menemukan satu hal lagi tentang hidup. Bahwa kita tidak perlu menunggu sampai hujan reda untuk bisa melihat pelangi yang dijanjikan Tuhan akan menyapa. Sama seperti bagaimana kita tidak perlu menunggu badai kehidupan yang tengah menerpa untuk bisa mengukir senyum bahagia. Bukankah setidaknya, masih ada hal-hal yang tersisa untuk disyukuri? Seperti hari ini ketika dia masih diberikan kesempatan untuk bernapas dan mencoba peruntungannya mengejar pekerjaan di cafe yang dia cintai, misalnya?

Berbekal satu pelajaran lagi, Kinara membisikkan sesuatu kepada dirinya sendiri : Hidupmu akan baik-baik saja, Nara. Selama kamu nggak memutuskan untuk berhenti di tengah jalan, dan selama kamu percaya bahwa Tuhan akan selalu menghadirkan pelangi di tengah hujan.

...****************...

Sesampainya di rumah, Kinara disuguhi tatapan heran oleh Mama. Perempuan itu terlihat melongokkan kepala ke luar pintu, celingukan mencari sesuatu.

"Mama nyari apa?" tanya Kinara setelah selesai mengibaskan sisa air hujan yang tertinggal di payung yang dia terima dari pegawai busway yang dia senyumi tadi.

Hujan masih terus turun ketika busway sampai di halte dekat rumah Kinara. Mulanya dia berpikir untuk menerobos hujan dan berlarian menuju rumah yang jaraknya masih sekita 500 meter dari halte busway tempatnya turun. Namun siapa sangka kalau petugas busway cantik yang dia senyumi tadi malah menyodorkan payung kepadanya? Sekali lagi, ada begitu banyak hal yang Kinara syukuri hari ini.

"Mobil." Jawab Mama. Wanita itu kemudian memaku tatap pada Kinara yang berdiri menjulang di hadapannya. "Mobil kamu ke mana?" sambungnya.

"Dipakai sama Ayu." Kinara menjawab santai. Setelah melipat payung, Kinara berjalan masuk ke dalam rumah. Menerobos tubuh kecil Mama yang berdiri di tengah-tengah pintu.

"Kok bisa? Memangnya mobil Ayu kenapa?" tanya Mama sembari mengekori Kinara yang berjalan ke arah dapur.

"Ban mobilnya meledak, jadi Nara suruh pakai mobil Nara aja. Lagian tadi Nara habis dari tempat lain dulu, jadinya nggak bisa bareng sama dia." Jelas Nara. Dia kemudian mengambil gelas dari rak piring dan langsung menuangkan air dari dalam teko. Dalam hitungan detik saja, air itu sudah tandas dibuatnya.

Mama manggut-manggut mendengar penuturan Kinara. Kemudian, saat satu pertanyaan hadir di kepala, Mama mulai menatap Kinara serius.

"Ayu belum tahu soal kita, ya?" tanya Mama, dengan nada yang terkesan super hati-hati.

Kinara menggeleng pelan. "Belum ada waktu yang pas untuk kasih tahu. Lagian Nara nggak mau bikin Ayu heboh."

Lagi-lagi Mama cuma bisa menganggukkan kepala. Lagipula, dia memang tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. Soal Kinara mau memberitahu teman-temannya tentang kondisi mereka yang sekarang sama sekali bukan urusannya.

"Ya udah, Ma. Nara bersih-bersih dulu, ya." Pamit Nara.

"Iya. Mama juga mau siapin makan malam."

Kemudian Kinara berlalu menuju kamarnya. Sampai di kamar, Kinara meletakkan tas di atas meja belajar dan duduk di kursi. Dia keluarkan ponsel dari dalam tas dan langsung mencari nomor Dahayu. Seperti janjinya pada gadis itu tadi, Kinara akan menelepon sesampainya di rumah.

Sembari menunggu telepon tersambung, Kinara memutar kursi agar menghadap ke jendela. Dari jendela itu, Kinara kembali memandangi rumah tetangga yang ada anak kecil perempuan tempo hari. Sayangnya, sore ini gadis kecil itu tidak ada di sana. Pintu rumah tertutup rapat dan gorden yang menutupi jendela pun tidak memberikan celah sedikit pun untuk siapa pun bisa mengintip ke dalamnya.

Beberapa detik kemudian, telepon tersambung. Suara Dahayu menyapa dari seberang. Kinara praktis tersenyum. Suara Dahayu memang serupa sumber mata air di tengah padang gurun tandus yang berhasil mengusir dahaganya.

"Lo baru sampai?"

"Iya. Baru banget duduk."

"Naik apa pulangnya? Kehujanan, nggak?"

"Naik busway. Nggak kehujanan, soalnya tadi mbak petugas busway nya baik banget ngasih payung ke aku."

"Waaah, beneran? Ini pasti karena lo orang baik sih, makanya mbak petugasnya juga jadi baik. Coba kalau gue yang naik, pasti disinisin."

Kinara tergelak saat mendengar aduan Dahayu. Ia tahu gadis itu hanya sedang berusaha memujinya, tetapi cara Dahayu menyampaikan pujian itu benar-benar membuat perutnya tergelitik.

Percakapan mereka terus berlanjut. Berbagai hal mulai dari yang remeh-temeh sampai dengan pembahasan yang serius mereka bicarakan melalui sambungan telepon. Kinara sejatinya bukanlah tipikal orang yang suka banyak bicara, tapi bersama Dahayu, Kinara bisa membicarakan apa saja. Bahkan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain sekali pun. Tentang siapa yang pertama kali menciptakan bahasa, misalnya.

Bersama orang-orang yang membuatnya nyaman, Kinara bebas menjadi dirinya sendiri tanpa takut dikucilkan.

Bersambung

1
Astri
kapan ktemu sm tokoh prianya
Astri
mungkin kamu nerima apa adanya, tp orang tuamu belum tentu mau nerima nara lagi dalam kondisi yg sekarang,
Astri
tetangga seribu bibir
galih90
👍👍👍
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Lily
suka karakter kinara, banyak pelajaran juga yg bisa di ambil dr cerita ini. semangat trs untuk authornya dlm berkarya
iin
keren 👍👍👍👍
Rini Antika
Semangat terus dalam berkarya 💪💪
Arianeee
knpa kinara di panggilnya bee?
nowitsrain: soalnya cerewet, ngomong mulu kek lebah bunyinya ngungg ngungg ngungg
total 1 replies
Arianeee
uda mulai tertarik nih nara
nowitsrain: iya hihi
total 1 replies
🌻Ruby Kejora
Karyanya bagus
Sukses bwt karyanya kk
Zenun
sweet😍😍
nowitsrain: Hehehe
total 1 replies
Zenun
hiya..hiya..hiya😄
Zenun
widih mantap dah
setiap manusia hidup didunia ini memiliki badai masing-masing, dimana kita tidak akan pernah tau seberapa dahsyat badai orang lain, karena kita tidak berada di posisi nya.... KATA KATA YANG SERING KITA LUPAKAN SAAT KITA MENERIMA SEBUAH UJIAN DALAM HIDUP KITA. terimakasih kak atas tulisan ini karna sejati nya bersyukur itu tak perlu menunggu saat kita bahagia 🥰🥰🥰🥰
nowitsrain: Terima kasih, ya, sudah mau baca :) ... sehat selalu!
total 1 replies
Zenun
semangat sekala, semangat Kin, semangat juga untuk kakak
nowitsrain: terima kasih :)
total 1 replies
@Biru791
kapan aja ini up nya thour
nowitsrain: up setiap hari ya
total 1 replies
Zenun
ehehehe
Zenun
udah gak pake pacaran lagi
Zenun: bagus sih begitu
total 2 replies
Zenun
kibar?
nowitsrain: udah mau tamat masa ada pemain baru wkwk
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!