Spin of Senandung Lara.
Baca Senandung Lara lebih dahulu agar tidak bingung dengan jalan ceritanya.
Dendam pada Friska membuat Raka melampiaskan pada Nira yang tak lain adalah adik dari Friska.
Raka memperkosa Nira hingga mengandung dan membuat Nira terpaksa menikah dengan Raka, pria yang tidak Ia cintai.
Akankah pernikahan mereka bahagia jika niat Raka hanya balas dendam, lalu bagaimana dengan kekasih Nira yang tak lain adalah Vans sahabat Raka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Nada sudah duduk di meja kerjanya hampir satu jam namun Ia belum melihat kedatangan Raka padahal biasanya Raka datang awal dan tidak pernah terlambat.
Dan pukul sebelas siang barulah Raka nampak datang ke kantor.
"Kesiangan pak?" sapa Nada karena banyak berkas yang harus segera di tanda tangani oleh Raka jadi Nada mengikuti Raka masuk ke ruangan.
"Ya, aku menemani istriku belanja lebih dulu." balas Raka sambil tersenyum.
Deg... entah mengapa dada Nada terasa sesak mendengar Raka mengucapkan itu.
"Beruntung sekali istrinya." batin Nada.
"Hari ini ada meeting penting atau tidak?" tanya Raka pada Nada.
"Sepertinya tidak pak."
Raka mengangguk, "Aku ingin pulang lebih awal." kata Raka.
"Baik pak."
Nada segera keluar setelah selesai, Ia tidak sanggup lagi mendengar Raka mengatakan tentang istrinya.
Rasanya menyakitkan untuknya, padahal Nada sudah berusaha sebisa mungkin agar tidak menyukai Raka namun tetap saja, perasaan tidak bisa di tahan semudah itu.
Raka sangat baik dan perhatian padanya, membuat Nada tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada Raka.
"Jaga hatimu Nada, jangan sampai kau menyukai Paka Raka yang jelas jelas sudah memiliki istri." gumam Nada tertunduk lesu.
"Kau sudah makan siang?" tanya Raka saat jam makan siang dan Nada masih mengantar berkas ke ruangannya.
"Belum pak."
"Mau makan siang bersama diluar?" tawar Raka.
Nada menggelengkan kepalanya, "Tidak pak, saya membawa bekal sendiri."
Raka mengangguk paham, "Enak sekali ya memiliki seorang Ibu yang selalu membawakan bekal setiap hari."
"Bapak kan juga sudah punya istri, kenapa tidak di bawakan bekal?"
Raka tersenyum, "Aku hanya tidak ingin merepotkannya." balas Raka yang membuat Nada semakin terpesona.
"Lihatlah bahkan dia tidak ingin membuat istrinya repot." batin Nada sangat iri dengan kebahagiaan istri Raka.
"Aku akan keluar membeli makanan, mau kubelikan sesuatu?"
Nada menggelengkan kepalanya, "Tidak pak, terima kasih."
"Baiklah, aku keluar sekarang." kata Raka meninggalkan Nada.
Nada menghela nafas panjang sambil memandangi punggung Raka.
"Aku semakin menyukainya, bagaimana ini." Nada tertunduk lesu.
Nada baru saja menghabiskan kotak bekalnya, lalu ada yang meletakan es coklat di mejanya. Nada mendongak dan melihat itu Raka.
"Untuk mu."
"Terima kasih banyak pak, tapi sepertinya Bapak tidak harus membelikan saya ini." kata Nada terdengar sungkan.
"Tidak apa, aku suka kinerjamu. jadi anggap saja ini bonus." kata Raka lalu memasuki ruangan nya tanpa mendengar protesan Nada lagi.
"Dia hanya menyukai pekerjaan ku, bukan menyukai ku." gumam Nada menatap sedih es coklat didepannya.
Saat jam pulang, Nada buru buru pulang. Ia tidak ingin berpapasan dengan Raka yang berakhir Raka mengantarnya pulang. Sungguh Nada tidak ingin baper dengan perlakuan baik Raka yang hanya menganggapnya karyawan baik tidak lebih.
"Kau tidak di antar lagi?" tanya Ratna celinggukan melihat luar, tidak ada mobil didepan saat Nada pulang.
"Memang ibu berharap aku di antar siapa? kakak mana mungkin mau mengantar dan menjemputku!" gerutu Nada.
"Bukan kakak mu, tapi Tuan muda yang kemarin itu!"
Seketika mood Nada kembali buruk karena lagi lagi Ibunya berharap untuk menjadikan Raka menantunya.
"Ku mohon Ibu, jangan mengharap Pak Raka lagi karena Ia sudah beristri." pinta Nada dengan suara lelah.
"Ck, sekarang memiliki istri tidak lagi menjadi jaminan dia akan setia. goda saja dia siapa tahu dia mau menikahimu dan kehidupan kita bisa berubah."
"Aku bisa merubah keadaan hidup kita tanpa harus merusak kebahagiaan orang lain, ku mohon Ibu mengertilah!"
"Ck, kau terlalu naif." cibir Ratna lalu meninggalkan Nada memasuki kamarnya.
Nada hanya bisa menghela nafas panjang, Tidak kakaknya ataupun Ibunya sama sama ingin menjerumuskan Nada ke jalan yang tidak benar.
Sementara itu, Raka baru saja sampai dirumah. Ia baru ingin membuka pintu namun Nira sudah lebih dulu membuka kan pintu untuknya.
"Kakak pulang awal?" tanya Nira tampak senang.
"Hari ini pekerjaan tidak terlalu banyak jadi aku bisa pulang lebih awal, apa kau senang?" tanya Raka sambil mengelus kepala Nira.
Nira mengangguk, "Tapi aku belum menyelesikan masakan ku kak." keluh Nira.
Raka tersenyum, "Aku mandi dulu dan setelah itu aku akan membantumu memasak di dapur."
"Baiklah kak."
Raka segera ke atas untuk mandi, selesai mandi Raka menuju dapur dan langsung memeluk Nira dari belakang membuat Nira terkejut,
"Sedang masak apa?"
"Soto lamongan kak," balas Nira sedikit gugup karena Raka memeluknya erat dan juga nafasnya terasa berhembus dilehernya.
"Aku suka soto." bisik Raka.
"Kak, aku sedang memasak, jangan mengoda ku." protes Nira.
"Aku hanya ingin membantu."
Nira berbalik, "Jika ingin membantu disebelah sini kak!"
Nira menarik tangan Raka agar berdiri disampingnya namun tetap saja disamping Nira, Raka malah mencubiti pipi gembul Nira.
"Ku bilang jangan menganggu ku kak!"
"Aku hanya ingin menyentuh istriku, apa tidak boleh?"
"Kakak tidak menyentuh tapi menganggu!" protes Nira.
Raka tersenyum, "Baiklah, aku akan duduk disana menunggu soto lamongan buatan istriku." kata Raka yang sontak membuat pipi Nira memerah menahan malu.
Semangkuk soto lamongan sudah Nira siapkan di meja makan untuk Raka yang sudah menunggu disana.
"Bagaiman Rasanya kak?" tanya Nira terlihat antusias dan penasaran.
"Lumayan enak, hanya kurang sedikit garam."
Nira bergegas mengambilkan garam untuk ditambahkan di mangkuk Raka.
"Nah sekarang baru pas rasanya."
Dengan lahap, Raka menghabikan semangkuk soto buatan Nira.
"Mau tambah lagi kak?"
Raka menggeleng, "Aku sudah kenyang."
"Aku juga sudah kenyang." kata Nira yang baru saja menghabiskan sekotak salad buah.
"Sekarang waktunya kita tidur." ajak Raka menatap Nira nakal.
"Aku masih ingin menonton film kak, lagipula tidak baik setelah makan langsung rebahan."
Raka mengangguk setuju meskipun Ia juga tak sabar ingin segera mengajak Nira ke kamar.
"Baiklah, ayo duduk berdua dan nonton film." ajak Raka berdiri lebih dulu dan di ikuti Nira.
Keduanya menonton film bersama, Film romantis komedi yang ada beberapa kali adegan dewasa.
Nira tampak menunduk, berbeda dengan Raka yang justru senang. Bahkan Raka sudah berulah, Ia sengaja menaruh tangannya di paha mulus Nira.
"Kak..." protes Nira yang merasa geli saat Raka menyentuhnya.
Raka tak mengubris panggilan Nira, Ia justru menarik tangan Nira dan membawanya ke pangkuan.
"Filmnya belum selesai kak.'
"Tapi aku sudah tidak tahan." Bisik Raka dengan nafas memburu.
"Baiklah, ayo kita ke kamar." kata Nira terlihat sudah pasrah.
Senyum Raka mengembang seketika saat Nira menuruti keinginannya.
Namun baru selangkah mereka menaiki tangga, terdengar bel rumah berbunyi.
"Biar aku saja, kau naiklah ke atas dulu." kata Raka yang langsung di angguki Nira.
Raka segera membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Aku ingin menemui Nira!"
Bersambung....