NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Dinda mengerjapkan sepasang matanya perlahan, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menggelayut. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar, entah sudah berapa jam ia terlelap di atas ranjang kayu itu.

​Namun, begitu Dinda membalikkan tubuhnya ke arah sisi ruangan, napasnya mendadak tercekat. Ia dikejutkan oleh keberadaan Wira yang rupanya berada di dalam bilik yang sama. Pria itu tampak sedang tertidur dalam posisi duduk bersandar pada dinding kayu, tidak jauh dari tempat tidur Dinda.

​Awalnya Dinda sempat panik, namun saat memperhatikan cara tidur Wira yang tampak kaku, rasa iba perlahan menyusup ke dalam hatinya. Pasti badannya pegal semua tidur dengan posisi begitu, pikir Dinda.

​Dengan memberanikan diri, Dinda menggeser tubuhnya mendekat. "Wira..." panggil Dinda dengan suara rendah yang lembut.

​Karena pria itu tidak kunjung merespons, Dinda mengulurkan jemari lentiknya, menepuk-nepuk pelan pipi tegas berwajah tampan itu. Tak butuh waktu lama, kelopak mata Wira perlahan terbuka. Sepasang mata elangnya yang dalam langsung mengunci pandangan pada wajah cantik Dinda yang berada sangat dekat di depannya.

​"Ada apa?" tanya Wira dengan suara berat yang serak khas orang baru bangun tidur.

​"Wira, berbaringlah di ranjang itu. Pasti sangat tidak nyaman kalau kamu harus tidur dengan cara duduk begitu," ucap Dinda lirih, menawarkan tempatnya.

​Wira terdiam. Pria itu sama sekali tidak bergeser, melainkan terus menatap lekat ke dalam manik mata Dinda dengan tatapan yang mendadak terasa begitu pekat dan menuntut. Tatapan intens itu praktis membuat Dinda mulai salah tingkah dan salah tingkah.

​"Ehm... ya sudah kalau begitu. Aku... aku mau ke dapur dulu untuk minum," pamit Dinda gugup, mencoba mencari alasan untuk melarikan diri dari atmosfer yang mulai terasa mencekik.

​Dinda buru-buru bangkit berdiri. Namun, belum sempat sepasang kakinya melangkah keluar dari bilik kamar, tangan kekar Wira bergerak dengan gerakan secepat kilat. Lengan berotot pria itu terjulur, melingkari pinggang ramping Dinda dengan kuat, lalu menariknya dalam satu sentakan hingga tubuh Dinda jatuh tepat di atas pangkuan kekar sang pemburu.

​Dinda tersentak hebat. "Wi... Wira! Apa-apaan yang kamu lakukan?!" tanya Dinda terbata-bata dengan jantung yang langsung bertalu-talu ekstrem di dalam dadanya.

​"Kau sangat menggoda, Dinda," bisik Wira rendah tepat di dekat telinga Dinda. Suara beratnya kini terdengar penuh serak yang berbahaya.

​Dinda spontan menelan salivanya dengan susah payah. Lidahnya mendadak kelu, ia sama sekali tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk memprotes.

​"Aku... sepertinya aku sudah jatuh hati padamu. Kehadiranmu membuatku ingin terus menyentuhmu," lanjut Wira lagi.

​Rangkaian kalimat jujur yang meluncur dari bibir pria kaku itu bagai sebuah mantra sihir yang kuat. Gumpalan daging di dalam dada Dinda berdetak begitu hebat hingga menimbulkan rasa nyeri yang manis. Aliran darahnya mendadak berdesir bertambah deras, menyebarkan rasa remang dan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

​Suasana semakin tak terkendali saat Wira dengan berani merundukkan kepalanya, menempelkan bibirnya yang basah dan hangat tepat pada ceruk leher mulus Dinda.

​"A-ah... Wira, jangan..." rintih Dinda lirih.

​Suaranya terdengar sangat lemah, berbanding terbalik dengan gelagat tubuhnya yang kini justru mulai melunak dan pasrah di dalam kukungan lengan Wira.

​"Jadilah istriku, Dinda. Maka semua yang kupunya akan kuberikan padamu. Kau juga tidak perlu susah-susah lagi pergi menemui Ketua Kampung untuk mengurus identitasmu," bisik Wira lagi di sela-sela sesapan lembutnya.

​Ucapan Wira seketika membuat pikiran Dinda termenung di tengah kabut gairah. Gadis itu kembali meneguk salivanya.

​Menjadi istri pria ini...? tanya Dinda bergaung di dalam hatinya. Pemikiran tentang pernikahan di zaman asing ini mendadak berputar di kepalanya.

​Namun, seluruh nalar logis Dinda langsung buyar berantakan saat Wira dengan sengaja kembali mencium, lalu menyesap lebih dalam kulit leher mulusnya yang sensitif. Dinda terlonjak pelan, sebuah sensasi menggelitik yang teramat asing mulai mengalir hebat, membuat bagian bawah tubuhnya mendadak terasa lemas dan basah oleh desakan hasrat yang tak lagi terbendung.

​"Jangan menolak, Dinda. Aku tahu... kau pun menginginkan hal yang sama denganku," bisik Wira, seolah bisa membaca dengan jelas perubahan reaksi tubuh gadis di pangkuannya.

​Kata-kata Wira kali ini berhasil memukul telak pertahanan terakhir di perasaan Dinda.

​Ya, Wira... aku memang menginginkanmu. Aku mau jadi istrimu, sentuh aku... jerit Dinda pasrah. Namun, kalimat pengakuan yang teramat jujur itu lagi-lagi hanya mampu tertahan dan terucap di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

○○○

"W-Wira... lepaskan aku..." cicit Dinda gemetar. Suaranya terdengar sangat parau, bergetar hebat di antara rasa gugup dan desiran hasrat yang menguasai dirinya.

​Namun, Wira tidak bergerak mundur sedikit pun. Kukungan lengannya justru terasa semakin kokoh. "Jawab dulu, Dinda. Apa kau bersedia menjadi istriku? Aku menginginkanmu, sangat menginginkanmu," ucap Wira menuntut jawaban dengan tatapan mata elang yang menggelap penuh kesungguhan.

​Dinda memejamkan mata sejenak, membiarkan seluruh pertahanan logikanya runtuh. Di bawah pesona dan intensitas pria di hadapannya, ia akhirnya menyerah kalah pada kata hatinya sendiri. Sembari mendongak pasrah, Dinda mengangguk pelan.

​"I-iya... aku... aku mau menjadi istrimu, Wira," jawab Dinda lirih, nyaris berupa bisikan.

​Mendengar jawaban yang begitu dinantikannya, seulas senyuman puas terbit di wajah tegas Wira. Namun, bukannya melonggarkan pelukan, pengakuan itu justru menjadi lampu hijau bagi sang pemburu untuk bertindak lebih jauh. Pria itu menjadi semakin berani. Tangan kirinya yang besar dan hangat bergerak turun, mencengkeram dan meremas tegas pinggul serta bokong sintal Dinda dalam satu sentakan penuh kepemilikan.

​"Ah..." jerit kecil Dinda spontan terlepas, tubuhnya melengkung tipis di atas pangkuan Wira.

​"Aku mencintaimu, Dinda," ucap Wira dengan suara rendah yang menggetarkan dada.

​Tanpa memberikan kesempatan bagi Dinda untuk bernapas, Wira langsung memangkas jarak. Ia menangkup rahang Dinda dan mendaratkan bibirnya di atas bibir ranum gadis itu. Ciuman yang awalnya terasa menuntut itu dalam sekejap berubah menjadi pagutan yang dalam dan penuh gairah yang membara. Dinda yang semula hanya diam terpaku, kini tak mampu lagi menahan diri. Ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Wira, membalas setiap lumatan pria itu dengan ritme yang sama panasnya. Suara decapan intim dari penyatuan bibir mereka seketika memenuhi seluruh keheningan ruang bilik kecil di rumah pohon tersebut.

​Napas keduanya memburu dan saling berkejaran. Perlahan, Wira melepaskan tautan bibir mereka, lalu mengalihkan cumbuannya turun ke bawah, menjelajahi rahang tegas Dinda, menghujani leher mulusnya dengan kecupan-kecupan basah, sebelum akhirnya bergerak turun semakin dekat menuju belahan dada Dinda yang menyembul di balik kebaya.

​Sentuhan demi sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik yang luar biasa ke seluruh saraf tubuh Dinda. "Ah... terus, Wira... aku ingin lebih..." ucap Dinda setengah merancap tanpa sadar.

​Dalam kungkungan gairah yang memabukkan, jemari Dinda yang gemetar bahkan ikut bergerak, membantu tangan kekar Wira untuk membuka satu-persatu kancing kebaya bludru biru yang menghalangi mereka.

​"Ugh..." Wira mengerang rendah. Mengerti akan kode dari calon istrinya, dengan gerakan yang lebih terampil ia menanggalkan kancing-kancing tersebut hingga kebayanya terbuka lebar, menampakkan keindahan tubuh bagian atas Dinda yang luar biasa menawan.

​Dua gundukan dada Dinda yang padat dan berisi kini terpampang jelas di depan mata Wira. Pakaian dalam modern yang dikenakan Dinda tampak begitu ketat, menopang aset berharganya hingga menyembul penuh dan sintal.

​Wira sempat terpaku sejenak, menatap pemandangan indah di depannya dengan napas tertahan. "Indah sekali, Dinda... Milikmu terlihat sangat penuh dan besar, jauh lebih menawan dari milik para wanita di desa ini," puji Wira berbisik dengan suara serak, matanya berkilat penuh kekaguman yang jujur.

​Pujian blak-blakan dari mulut Wira membuat Dinda merasa seolah terbang melayang di atas awan. Rasa percaya dirinya membubung tinggi.

​Wira tak ingin membuang waktu lagi. Dengan penuh kelaparan, jemari kasarnya bergerak menurunkan pembatas kain dalam tersebut, mengeluarkan gundukan daging bulat yang putih mulus itu sepenuhnya ke udara bebas. Benturan kelembutan itu bergesek hangat dengan dada bidang Wira yang keras. Pria itu kemudian merunduk, menyesap dan melumat bagian sensitif itu dengan rakus, memberikan sensasi kenikmatan yang teramat pekat hingga tak mampu lagi dijelaskan oleh akal pikiran Dinda. Dinda hanya bisa mendongak, mencengkeram erat rambut pendek Wira sembari meloloskan desahan pasrah yang tertahan di tenggorokan.

1
Wahyuningsih
makin segu aja thor..... klau up jgn lma2 thor tk enak menunggu dikau bestari 😅😅 upnya yg buanyk thor n hrs tiap hri sehat sellu jga keshtn tetp💪💪💪 n makaciiiiih tuk upnya
Yulianti Amiruddin
lanjutkan Thor ceritax lgi ini🤣🤣
sasa adzka
😂😂😂 ngadi ngadi ne si othor mah.. ada emang beda dimensi saling bercakap mana jiwa nya pada di mana itu semu😂😂😂 tapi its ok ko.. bagus, keren cerita nya... 😍😍😍 lanjutkan lagi ya up nya kak😍😍😍
Ummanya Hil_Ziy: 😄Haha lucu ya. aku yang buatpun tertawa terbahak-bahak....😊
total 1 replies
Anita Rahayu
yg panjang thor nulisnya🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Anita Rahayu
double up dan panjang thor ceritanya soalnya bagus dan menarik👍👍👍👍👍👍👍
Chen Nadari
y0 double up thorr
sasa adzka
thor jangan sampai lu bikin si dinda kagak bisa karate ya.. zaman ketinggalan kaya ini harus lebih pinter pinter loh karena dia dari zaman modern😍😍😍
semangat ya up trus 😍😍😍
sasa adzka
eh eh eh😄😄😄😄😄 nikah dulu secara adat thor😂😂😂 langsung terkam aja ne si wira
sasa adzka
😄😄 cuci mata tiap hari ya din.. kali aja bisa di pegang otot otot perutnya😂😂😂
sasa adzka
baru mampir Thor...
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍
Ana Putri
semangatt nulis nya thor 😍
Ana Putri
keren
Chen Nadari
di tanggu up nya Thorr
Ratmi Yati
di tunggu update terbaru your
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
waaaah mantap dpt ruang dimensi
Wahyuningsih
q mampir thor
Irmha febyollah
kapan update nya kk
Ummanya Hil_Ziy: Dari Tempatku jam 9 ya kakak. Tungguin Updatenya ya, Insyaallah bakal seru😊🙏
total 1 replies
Cahi Rama
bab nya terlalu sedikit kak tambah lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!