Aulia Jasmine, gadis sederhana yang merasa hidupnya sudah sempurna karena di nikahi oleh Calvin Syahputra. Seorang pria yang sangat ia cintai dan juga menunujukan cinta yang besar untuknya. Namun, sebuah fakta menamparnya saat Jianita Kanaya datang padanya dan Jia mengaku sebagai istri sah Calvin. Jia memperlihat surat nikahnya, foto pernikahannya bahkan foto saat ia melahirkan anak pertamanya dan Calvin.
Jasmine seperti di sambar petir di siang bolong, ia tak mampu berkata-kata dan hanya bisa memegang perutnya dimana buah hatinya dan Calvin juga tumbuh disana. Kenapa semua itu terjadi padanya? Ternyata dia adalah pelakor?
"Dasar pelakor!" Seru Jia penuh amarah, Jasmine hanya bisa menggeleng lemah dengan deraian air mata yang tiada henti di pipinya.
"Aku bukan pelakor..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #21 - Tak Salah Memilih
Calvin menceritakan dengan jujur tentang tuntutan Jia pada Jasmine, tentu saja Jasmine terkejut. Bukan karena ia takut kehilangan apa yang Calvin punya, namun ia merasa tuntutan itu terlalu berlebihan apalagi Rasya yang masih kecil dan Calvin tidak pernah melakukan ketidak adilan pada mereka.
"Aku benar-benar nggak habis fikir dengan apa yang di fikirkan Jia," tukas Calvin kesal.
"Mas, kenapa kamu... Nggak ikuti aja maunya Jia?" Calvin langsung mengernyit bingung mendengar ucapan Jasmine itu.
"Nggak bisa gitu dong, Jasmine. Aku masih punya kamu dan calon anak kita yang harus aku biayai, apalagi nanti kamu mau lahiran, biayanya nggak sedikit," tukas Calvin penuh emosi, bahkan tatapannya begitu tajam namun Jasmine langsung menggenggam tangan sang suami dengan lembut, ia juga menatap mata Calvin dengan dalam.
"Mas, aku masih punya tabungan yang cukup banget sampai aku melahirkan. Selain itu, kamu juga 'kan masih punya pekerjaan tetap, setiap bulan kamu dapat gaji. Jadi apa yang kamu khawatirkan? Kamu kasih aja apa yang Jia mau dari pada dia menjauh kamu dari Rasya," tutur Jasmine dengan lembut nan hati-hati agar tak semakin memancing emosi Calvin.
"Masalahnya Jia sengaja melakukan ini, Jasmine. Karena..." Calvin menatap mata Jasmine dengan sendu. "Karena dia benci sama kamu, dia cuma ingin balas dendam aja. Dia nggak akan membiarkan hidup kita tenang, dia itu benar-benar egois." Calvin menggeram tertahan.
"Ya udah, biarin aja kalau gitu," kata Jasmine dengan tegas. "Biarin dia melakukan apapun yang kamu mau, selama kita masih punya uang untuk makan, aku nggak masalah kok, Mas." Calvin tertegun mendengar ucapan Jasmine yang terdengar begitu enteng itu. "Uang kita bisa cari sama-sama, property bisa kata dapatkan Sama-sama. Lagi pula, yang aku butuh itu kamu, bukan property kamu. Selama kamu ada buat aku, selama kamu sehat, kamu pasti bisa nafakahi aku."
Calvin tersenyum haru mendengar luasnya hati sang istri, inilah yang membuat ia merasa begitu nyaman dengan Jasmine. Jasmine bukan hanya mampu menyenangkan dirinya tapi juga sangat mampu menenangkannya. Sesuatu yang tak bisa di dapatkannya dari Jia padahal itu yang paling ia butuhkan.
"Kenapa kamu begitu naif, Jasmine? Hm?" Tanya Calvin sambil mengangkat tubuh Jasmine ke pangkuan nya dengan posisi mengangkangi Calvin yang seketika membuat Jasmine memekik kemudian ia terkekeh saat Calvin justru mengecup seluruh wajahnya.
Hati Calvin yang tadinya panas kini perlahan terasa sejuk, apalagi ketika Jasmine mengalungkan lengannya di lehernya dengan manja. "Naif bagaimana?" Tanya Jasmine sembari mendongak saat Calvin menciumi lehernya.
"Ya naif, seperti kamu ini. Mudah percaya, mampu berfikir positif." Calvin menangkup pipi Jasmine, mengecupnya dengan gemas.
"Karena mama selalu bilang, fikiran yang positif memberikan energi positif dan membawa hal positif juga."
"Anak pintar, patut di kasih hadiah," kata Calvin yang kini mencubit gemas pipi Jasmine.
"Emm belikan aku sekotak cokelat," tukas Jasmine manja.
"As you wish, my queen."
***
"Kamu mau berhenti jadi model?" Pekik Bu Chika setelah mendengar apa yang di utarakan Jia tentang keinginannya berhenti sebagai model. "Karir kamu lagi bersinar loh, Jia. Sayang bangat kalau kamu berhenti lagi," tukas Bu Chika.
"Aku tahu, Ma. Tapi aku nggak mau sampai kehilangan hak asuh Rasya karena aku terlalu sibuk, aku sudah kehilangan suamiku dan rasanya sangat menyakitkan." suara Jia tercekat di tenggorokannya. "Jadi aku nggak mau sampai kehilangan anakku, aku bisa mati tanpa Rasya, Ma." air mata kembali mengalir dari sudut mata Jia tanpa bisa ia cegah.
Bu Chika memeluk menantunya itu dengan hangat, mengusap punggungnya. "Nggak akan, Mama nggak akan biarin kamu kehilangan Rasya."
Di balik pintu, lagi-lagi Rasya mengintip mamanya yang masih selalu sedih. Rasya berjanji pada dirinya sendiri, ia akan selalu ada bersama sang Mama meskipun selama ini mamanya tak pernah ada untuknya. Tapi Rasya laki-laki, ia harus menjadi pengganti ayahnya menjaga sang Mama agar tak menangis lagi.
"Jangan sedih, Mama. Aku akan selalu ada untuk Mama, aku nggak akan pergi dengan papa sampai mati pun."
sayang sekali padahal ceritanya menarik
nasibnya istri ke dua/Sob//Sob/
kok mau sih cuma dinikah siri...?