Ashilla tidak pernah menyangka jika di hari itu ia harus merelakan masa lajangnya, menikah dengan sosok yang tidak pernah ia kenal sebelumnya hanya karena ancaman dari sang paman yang akan menghentikan pengobatan adiknya yang tengah berjuang dalam masa kritisnya.
Hidupnya hancur, semakin hancur ketika ia mengetahui fakta sebenarnya mengenai alasan mengapa laki-laki itu memilih menikahinya.
Mampukah Ashilla menjalani biduk rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kata cinta didalamnya?
IG : reinata_ramadani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngidam
°°°~Happy Reading~°°°
Bola mata itu menatap binar pada layar besar televisi yang menampilkan sebuah acara memasak oleh chef ternama. Acara itupun sukses membuat Shilla meneguk ludah, saat salah satu hidangan yang disajikan itu berhasil membangkitkan nafsu makannya.
"Bi..." Perempuan itu langsung berlari menuju dapur dimana bi Asih tengah sibuk menyiapkan makan siangnya.
"Bibi..." Panggilannya menggema, terdengar begitu antusias.
"Iya non. Kenapa anda berlarian?" Bi Asih geleng-geleng kepala. Shilla sungguh masih terlihat seperti gadis remaja pada umumnya.
"Bibi ikut Shilla sebentar yuk," pinta Shilla, membuat bi Asih terpaksa mematikan kompornya sejenak.
Mereka kemudian berlalu menuju ruang televisi beriringan, perempuan itu menunjuk pada tayangan televisi yang tengah memperlihatkan dessert dengan tampilan mewahnya.
"Bibi bisa buat yang seperti itu?"
Bi Asih garuk-garuk kepala.
"Saya tidak terlalu paham mengenai olahan dessert non."
Sungguh rasanya bi Asih ingin merutuk pada sang majikan. Ia bukan juru masak handal. Ia hanya seorang kepala pelayan yang hanya bisa menyajikan hidangan-hidangan sederhana. Dirinya diseret ke Villa inipun karena dipercaya Damian untuk menyimpan rahasia besar tentang keberadaan sang istri sewaan.
"Jadi bibi tidak bisa membuatnya ya?" Wajah penuh antusias itu kini mendadak layu.
"Maafkan bibi, Non."
Membuat Shilla sontak terduduk lesu.
Ahhh, padahal dirinya sangat menginginkannya.
Menatap sendu pada warna-warni dessert didepannya. Mengapa dirinya ingin meluruhkan tangis hanya karena tak dituruti permintaannya? Apa ia berubah se-manja ini hanya karena hidup serba kecukupan?
"Non Shilla mengidam makanan itu?"
Shilla menggeleng. "Tidak tau, Bi. Tapi, Shilla benar-benar ingin memakannya sekarang."
Perempuan itu mengusap kasar wajahnya yang basah karena tangis yang mendadak luruh dari bola matanya.
"Saya bisa suruh mang Asep cari macaron ke kota. Non Shilla mau?"
"Beneran bisa Bi?" Bola mata itu kembali berbinar.
"Iya, tapi mungkin perjalanannya cukup lama. Dua jam bolak-balik. Non Shilla bisa menahannya kan?" Tidak bisa di pungkiri, kondisi ngidam sungguh sangat berat untuk dilalui. Terkadang ada sebagian ibu hamil yang memaksa dituruti saat itu juga tanpa mau di tunda-tunda.
"Iya, tidak apa-apa Bi. Shilla bisa menunggu kok."
"Baiklah, saya suruh mang Asep dulu."
"Terimakasih Bibi." Bibirnya menyunggingkan senyum sangat lebar. Akhirnya keinginannya akan segera terwujud juga. Makanan itu sungguh menggoda imannya yang tengah goyah hanya karena sepotong cemilan yang tak ia kenal namanya.
Di teras villa itu, Shilla menunggu dengan gelisah. Sudah dua jam berlalu, namun mang Asep tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Perempuan itu tak dapat lagi menahan rasa inginnya. Ternyata menunggu akan sesulit ini rasanya. Menyiksa batinnya. Bahkan berhasil meluruhkan tangisnya.
"Non Shilla sebaiknya makan dulu. Non Shilla hanya makan sedikit tadi." Bi Asih sungguh di buat khawatir. Shilla bahkan hanya menghabiskan beberapa sendok makan siang tadi. Sekarang sudah pukul 2 siang. Sedang perempuan hamil itu masih saja menunggu cemilannya tiba.
"Shilla sudah coba tapi ngga kuat nahan mual Bi. Shilla menunggu mang Asep saja ya Bi... ."
Baru saja menjadi bahan pembicaraan, terdengar suara motor mengalun mendekati bangunan villa.
"Itu mang Asep, Bi." Teriak Shilla penuh antusias. Terlihat kini mang Asep mulai mendekat dengan motor maticnya. Damian memang sengaja tak memberikan fasilitas mobil untuk mang Asep. Takut jika suatu saat Shilla keukeh ingin menemui adiknya atau bahkan kabur darinya.
"Mang Asep. Pesanan saya ada kan mang?"
"Aman Neng. Saya beli tiga porsi untuk neng Shilla." Mang Asep mengangkat tinggi-tinggi kantung plastik di tangannya, membuat senyum Shilla seketika merekah.
"Mang Asep terbaik pokoknya." Shilla memberikan dua jempolnya.
"Ayok mang, bawa ke dalem aja. Non Shilla sudah dari tadi nunggu mang Asep nggak sampe-sampe." Interupsi bi Asih.
Tak menunggu lama, Shilla kemudian melahap macaron miliknya. Kaki jenjangnya yang menggantung di kursi itupun bergerak-gerak bebas.
Eummh... Kenikmatan itu sungguh tiada tara.
Baru satu porsi dilahap habis olehnya, perempuan itu menghentikan suapannya.
"Alhamdulillah, Shilla udah kenyang bi." Lega Shilla merasa keinginannya sudah terlaksana. Rasanya benar-benar membahagiakan meski keinginan itu harus melewati penantian yang tak mudah.
"Sisanya bi Asih taroh kulkas dulu ya non. Buat non kalau ingin nyemil lagi."
"Iya bi. Kalau bibi sama mang Asep pengen, makan aja ya. Ngga usah sungkan-sungkan."
"Tidak non. Buat non aja. Non kan yang hamil."
"Ahahaha. Bibi ini ada-ada aja. Emang hanya orang hamil doang yang boleh makan ini?"
"Ngga berani saya non. Kalau nanti habis, terus non Shilla nyariin, gimana. Bisa-bisa saya kena omel sama tuan Damian."
Raut wajah itu berubah menekuk. Ya, bagaimana dengan kabar suaminya saat ini. Sudah satu minggu berlalu. Namun sampai sekarang pun, ia bahkan tak mendengar bagaimana kabarnya.
"Saya ke dalam dulu ya Bi."
"Silahkan non."
Shilla kemudian berlalu kembali ke kamarnya. Sedang bi Asih kini tampak asik memainkan ponselnya.
"Non Shilla sudah mulai mengidam, tuan. Tadi mang Asep ke kota membelikan macaron untuk non Shilla."
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading semua
Saranghaja 💕💕💕