NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Keesokan paginya di Winterhall International School, atmosfer kelas 10 terasa sangat tegang bagi Maizy. Dia duduk di bangkunya dengan lutut yang masih terbebat perban di balik seragamnya, dan kali ini dia terpaksa memakai kacamata cadangan yang frame-nya agak berbeda. Pikirannya benar-benar tidak tenang, terus-menerus melirik ke arah pintu kelas.

Paman Michael tadi benar-benar mengantarnya sampai ke depan gerbang sekolah dengan tatapan dinginnya yang mutlak, berjanji akan menyelesaikan urusan administrasi masinisnya sebentar di stasiun terdekat sebelum kembali ke sekolah untuk menemui pihak yayasan.

Baru saja jam pelajaran pertama dimulai sekitar sepuluh menit, tiba-tiba pintu kelas diketuk. Seorang murid dari kelas lain muncul di ambang pintu dan berbicara ketus kepada guru yang sedang mengajar.

"Permisi, Maizy dari kelas 10 dipanggil untuk segera ke ruang BK sekarang," ucap anak kelas lain itu sambil melirik Maizy dengan tatapan yang sulit diartikan.

Jantung Maizy langsung mencelos. Rachel Rossete yang duduk di sebelahnya langsung menggenggam tangan Maizy dengan cemas. "Maizy... kamu mau aku temani?" bisik Rachel khawatir.

Maizy menggeleng pelan, mencoba tersenyum menenangkan meskipun tangannya sendiri terasa sedingin es. Sifat tidak enakannya membuat dia tidak ingin melibatkan Rachel ke dalam ruang BK yang penuh tekanan. "Tidak apa-apa, Rachel. Aku bisa sendiri."

Dengan langkah yang agak pincang karena luka di lututnya yang masih perih, Maizy berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ruang Bimbingan Konseling (BK). Di sepanjang jalan, dia meremas ujung lengannya, bersiap menghadapi skenario terburuk. Apakah Paul mengadu duluan? Atau guru kemarin yang melaporkan keributan saus tomat?

Tok... Tok...

Maizy mengetuk pintu kayu ruang BK, lalu mendorongnya perlahan. Begitu melangkah masuk, keheningan yang mencekam langsung menyambutnya.

Di dalam ruangan yang ber-AC dingin itu, tidak ada geng Paul seperti biasanya. Di sana hanya ada Frau Fischer, guru BK senior yang terkenal kaku, sedang duduk di balik meja kerjanya. Dan di kursi sofa seberang meja, duduklah Paul Graxiel Laxsman.

Paul masih mengenakan seragam Paskibra-nya yang rapi tanpa cela. Cowok Kanada itu duduk dengan bersedekap dada, menyandarkan punggungnya dengan santai seolah dia adalah pemilik ruangan tersebut. Begitu Maizy masuk, Paul perlahan menoleh dan menatap Maizy lurus-lurus. Tatapan matanya yang tajam dan dingin memancarkan aura superioritas yang mutlak—dia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau bersalah atas aksi perundungan fisik di gang gelap semalam. Sifatnya yang tidak pernah mau kalah justru terlihat semakin menantang di ruang BK ini.

"Ah, Maizy. Silakan masuk dan duduk," ucap Frau Fischer dengan nada suara yang datar dan formal, sambil merapikan beberapa berkas di mejanya.

Maizy melangkah ragu, lalu duduk di kursi tunggal yang berada di dekat Paul, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari cowok itu. Kehadiran Paul yang begitu dominan di ruangan ini membuat nyali Maizy sempat menciut, dan instingnya mengatakan bahwa panggilan BK kali ini tidak akan berjalan adil untuk dirinya.

Belum sempat Frau Fischer membuka suara untuk memulai pembicaraan, pintu ruang BK mendadak terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal buatan penjahit terbaik melangkah masuk ke dalam ruangan. Jam tangan emasnya berkilat mewah di bawah pendar lampu, dan gestur tubuhnya memancarkan otoritas yang luar biasa besar. Wajahnya sangat mirip dengan Paul—angkuh, tegas, dan dingin.

Dia adalah Albert Laxsman, ayah kandung Paul.

"Selamat pagi, Frau Fischer. Maaf saya sedikit terlambat karena harus menghadiri rapat dewan komisaris terlebih dahulu," ucap Albert dengan nada suara yang berat, namun terdengar sangat meremehkan seisi ruangan, seolah waktu beberapa menitnya jauh lebih berharga daripada apa pun di sekolah ini.

"Ah, Herr Laxsman! Silakan duduk, terima kasih banyak sudah menyempatkan hadir," Frau Fischer langsung berdiri dan menyambut Albert dengan sikap yang luar biasa ramah—sangat kontras dengan sikap kakunya kepada murid biasa.

Albert duduk di sebelah Paul. Dia bahkan tidak melirik ke arah Maizy, seolah gadis kelas 10 yang penampilannya berantakan dengan kacamata cadangan itu hanyalah angin lalu yang tidak penting. Paul sendiri hanya melirik ayahnya sekilas, lalu kembali menyandarkan punggung dengan senyum miring yang penuh kemenangan. Sifat Paul yang mutlak tidak mau kalah jelas turun langsung dari gen pria di sebelahnya ini.

"Jadi, Frau Fischer," Albert membuka jasnya yang kaku, melipat kaki dengan santai. "Bisa kita selesaikan urusan kesalahpahaman remaja ini dengan cepat? Saya tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan drama anak-anak."

Maizy mencengkeram rok seragamnya kuat-kuat di bawah meja. Sifatnya yang "tidak enakan" mulai terkikis oleh rasa tidak adil yang mendidih di dadanya.

"Herr Laxsman, ini bukan sekadar kesalahpahaman," Maizy akhirnya memberanikan diri untuk bersuara, meskipun suaranya sedikit bergetar. "Paul dan gengnya menyudutkan saya di gang sepulang sekolah semalam. Mereka merusak kacamata saya dan membuat lutut saya memar."

Mendengar itu, Albert Laxsman akhirnya menoleh, menatap Maizy dari balik matanya yang sipit dan dingin. Dia menatap lecet di sudut bibir Maizy dengan pandangan meremehkan yang amat kentara.

"Gadis kecil, dengar saya," ucap Albert dengan nada merendah yang sangat menghina. "Anak saya, Paul, adalah Ketua Paskibra dan calon penerima beasiswa penuh ke Kanada. Dia dididik di lingkungan keluarga kelas atas yang terhormat. Tidak mungkin dia membuang-buang energinya untuk menyentuh murid kelas bawah yang... well, bahkan tidak bisa menjaga penampilannya sendiri dengan benar."

"Tapi itu kenyataannya! Paul ada di sana semalam!" bela Maizy, matanya mulai berkaca-kaca karena merasa disudutkan.

"Frau Fischer," Albert mengabaikan ucapan Maizy sepenuhnya, beralih menatap guru BK dengan tatapan menuntut yang mutlak. "Saya harap sekolah bisa membedakan mana aduan yang berbobot dan mana yang hanya sekadar cari perhatian dari murid yang kurang berprestasi. Jangan sampai donasi tahunan yang keluarga Laxsman berikan untuk yayasan Winterhall terganggu hanya karena rumor tidak berdasar dari anak ini."

Frau Fischer tampak menelan ludah, wajahnya mendadak tegang menghadapi tekanan dari wali murid kelas kakap tersebut. Dia melirik Maizy dengan tatapan kasihan yang bercampur enggan. "Tentu saja, Herr Laxsman. Kami akan mempertimbangkan hal itu..."

Paul yang duduk di sebelah ayahnya melipat tangan di dada, menatap Maizy dengan pandangan superioritas yang seolah mengatakan: *'Sudah kubilang kan, di sini suaramu tidak akan pernah didengar.'*

Maizy hanya bisa menunduk dalam-dalam, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Paman Michael belum juga datang, dan di dalam ruangan terkutuk ini, dia benar-benar dikeroyok oleh kekuasaan dan uang milik keluarga Laxsman yang dengan begitu mudahnya merendahkan harga dirinya sebagai manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!