Nayra sudah lama menjalin hubungan dengan Arfi, karena perbedaan status sosial Nayra terpaksa memutuskan hubungannya dengan Arfi. Tanpa nayra duga beberapa tahun kemudian nayra bertemu kembali dengan Arfi. perasaan Nayra masih sama seperti dulu, tapi sayangnya Arfi sudah menikah dengan Renata seorang wanita karir yang cantik dan sukses. apakah Nayra harus menjadi seorang pelakor hanya demi mendapatkan kembali cinta Arfi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah untuk Arfi
Nayra sangat mengkhawatirkan Arfi, setelah mendengar jeritan suara Arfi ditelphone Nayra menjadi gelisah. Nayra takut terjadi sesuatu pada Arfi.
Tidak lama kemudian Nayra mendapatkan telphone dari rumah sakit yang memberitahunya kalau Arfi mengalami kecelakaan, Nayra panik. ia bergegas pergi kerumah sakit.
Nayra membuka pintu kamar, tempat dimana Arfi dirawat, Nayra menghampiri Arfi dan ia menjadi sedih melihat keadaan Arfi.
"Arfi kamu kenapa?" Nayra memegang tangan arfi, matanya mulai berair.
"Seperti yang kamu lihat, aku sakit karena kecelakaan." Arfi bicara dengan suara yang sedikit lemah.
"Aku tahu, tapi kenapa kamu bisa kecelakaan?"
"Tadi waktu aku menelphonemu, aku kaget karena kamu mendadak membatalkan pernikahan kita, aku jadi tidak fokus nyetir dan akhirnya mobilku menabrak pohon." Cerita Arfi.
"Ini semua salahku. Arfi, aku minta maaf." Nayra menangis.
"Nay, sudahlah jangan menangis. ini bukan salah kamu, seharusnya aku tidak menelphone waktu sedang menyetir."
"Tetap saja ini salahku, seandainya aku tidak membatalkan pernikahan kita kamu tidak akan celaka." Nayra menyalahkan dirinya sendiri.
"Arfi, dimana Renata? kenapa dia tidak ada disini?" Nayra merasa heran.
"Tadi suster sudah mencoba menelphone Renata, seperti biasa saat sedang bekerja dia susah dihubungi jadi aku minta suster untuk menelphone kamu."
Mendengar penjelasan Arfi, Nayra merasa iba. bagaimana mungkin ada seorang istri yang sibuk bekerja ketika suaminya sedang sakit.
"Arfi, aku benar benar minta maaf. aku janji, aku akan menuruti keinginan kamu asal kamu memaafkan kamu."
"Aku sudah bilang. ini bukan salah kamu, tapi kalau kamu tanya apa keinginanku. sekarang ini aku cuma satu keinginan."
"Apa?" Nayra ingin tahu apa yang diinginkan Arfi.
"Aku ingin kita menikah."
Nayra terdiam saat Arfi mengutarakan keinginannya.
Arfi memang tidak pernah menyerah, sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Batin Nayra.
"Nay, aku sedang butuh seseorang yang merawatku."
"Kalau begitu, biar perawat saja yang merawatmu." ucap Nayra sewot.
"Aku tidak mau, aku mau istriku yang merawatku. Nay, Renata tidak ada disini. kamu mau kan merawatku?" Arfi meminta dengan wajah penuh harap.
"Jadi aku ini cuma cadangan, kalau tidak ada Renata baru kamu ingat aku." sindir Nayra.
"Itu tidak benar. ya sudah, kalau kamu tidak mau merawatku juga tidak apa apa." Arfi memejamkan matanya.
"Arfi, aku cuma bercanda. aku akan merawat kamu sampai kamu sembuh."
"Tapi aku maunya dirawat istriku." Arfi menggoda Nayra.
"Oh..begitu, kalau begitu aku pergi. kamu telphone saja Renata." Nayra kesal.
"Nay, bukan itu maksudku. aku ingin kita menikah karena aku ingin dirawat istriku, yaitu kamu." Arfi memegang tangan Nayra.
"Nay, kenapa diam kamu mau kan menikah denganku?" entah sudah berapa kali Arfi menanyakan pertanyaan yang sama, Nayra sampai bosan mendengarnya.
"Iya, iya aku mau. puas kamu." Nayra cemberut.
"Nay, kamu tidak akan bohong lagi?" Karena merasa bahagia Arfi melupakan kalau dia sedang sakit.
"Aww.. " Arfi meringis kesakitan saat ia ingin duduk dan memeluk Nayra.
"Makanya kalau lagi sakit jangan berpikir macam macam." Nayra menertawakan Arfi.
"Nay, nanti sore kita nikah." Ucap Arfi tiba tiba.
"Tapi.. Arfi, kamu kan masih sakit."
Nayra sebenarnya hanya asal bicara, ia tidak benar benar ingin menikah dengan Arfi. Nayra hanya ingin merawat Arfi sampai sembuh, Nayra berpikir jika Arfi sudah sembuh ia akan mencari cari alasan agar pernikahannya dan Arfi batal.
"Sayang, tapi aku udah siapin semuanya. mungkin cuma tempatnya yang dirubah. kita akan menikah disini." meskipun sedang sakit Arfi mengatakan dengan penuh semangat.
"Disini?" Tanya Nayra, ia tidak mengerti. kenapa Arfi memaksakan diri untuk menikah dengannya.
"Iya sayang, aku kan lagi sakit jadi belum bisa kemana mana."
"Arfi, apa tidak sebaiknya kita tunggu sampai kamu sembuh."
Aku akan terus mengulur ngulur waktu. Nayra berusaha mencegah penikahannya dengan Arfi.
"Tidak bisa Nay, aku mau kita nikah sore ini. karena aku sudah siapin semua. lagi pula, kalau kamu jadi istri aku. kamu bisa dengan bebas merawat aku." Arfi senyum senyum sendiri.
"Bebas? Maksud kamu?" Nayra sebenarnya mengerti kemana arah pembicaraan Arfi, tapi Karena kesal Nayra pura tidak tahu.
"Nay, seandainya ada suster atau orang lain yang bertanya. Pak ini siapanya bapak? aku gampang jawabnya. ini istri aku, masa aku bilang ini pacar gelap aku." Arfi kembali menggoda Nayra, ia seolah tahu Nayra sedang berpura pura bodoh.
"Arfi, jadi kamu anggap aku ini pacar gelap? keterlaluan kamu." Nayra marah marah.
"Makanya Nay, kita nikah. supaya status kamu itu berubah jadi istri sah. memang kamu mau terus terusan menjalani hubungan yang engga jelas?" Lagi lagi Arfi menggoda Nayra dan Nayra semakin kesal. Nayra menatap Arfi dengan tajam, ia seakan seakan ingin menelan Arfi hidup hidup.
"Sayang, jangan liatin aku begitu dong. Aku kan jadi takut." Arfi berusaha menahan tawanya agar Nayra tidak semakin marah.
Mengingat Arfi sedang sakit, Nayra memilih untuk mengalah.
"Kamu makan dulu, habis itu minum obat." Nayra mengambil mangkuk bubur yanga ada dimeja.
"Buka mulutnya." Perintah Nayra saat sendok yang berisi bubur sudah ia sodorkan didepan mulut Arfi.
Arfi membuka mulutnya dan menerima bubur yang diberikan Nayra, Nayra dengan sabar menyuapi Arfi.Tanpa mereka sadari Arfi sudah menghabiskan buburnya.
Apa seperti ini rasanya dilayani istri? Renata bahkan tidak pernah melakukan ini. Raut wajah Arfi tiba tiba berubah menjadi sedih
"Arfi, kamu kenapa?" Nayra melihat Arfi menghapus air matanya.
"Tidak apa apa Nay, aku cuma senang karena kamu mau merawat aku. istriku saja, tidak perduli padaku." kata kata Arfi mengisyatkan bahwa, ia sangat ingin Nayra menjadi istrinya.
"Arfi sekarang tanggal berapa ya?" Nayra mengalihkan pembicaraan ia tidak ingin Arfi bersedih.
"Tanggal 20 Agustus. memangnya kenapa?"
Arfi memutar bola matanya, malas ia menjawab pertanyaan Nayra. ia mengira Nayra hanya berpura pura, seorang yang berkerja sebagai guru lupa dengan tanggal. menurut Arfi itu sesuatu yang tidak mungkin.
"Kalau begitu ini hari ulang tahun kamu."
Nayra mengucapkannya dengan wajah ceria, Berbeda dengan Arfi yang justru terlihat bertambah sedih.
"Tu kan, kamu sedih lagi." Nayra meletakan mangkuk bubur diatas meja.
"Bagaimana aku tidak sedih, hari ini ulang tahunku tapi Renata tidak ingat dan sekarang aku ada dirumah sakit." Arfi menundukan wajahnya.
"Arfi, jangan sebut nama Renata saat kita sedang berdua. karena sekarang tidak ada Renata, yang ada hanya kamu dan aku." ucapan Nayra membuat Arfi teringat dengan kata katanya sendiri.
"Hari ini aku akan memberikan hadiah yang spesial untuk kamu." Nayra kelihatan bersungguh sungguh.
"Hadiah apa?" Arfi yang semula sedih menjadi bahagia.
"Hadiahnya memang bukan mobil atau barang barang mewah lainnya, hadiahku adalah menjadi istrimu." Nayra memegang tangan Arfi
"Arfi, hari ini. aku tidak akan akan kabur lagi, aku juga tidak akan ingkar janji aku akan benar benar menjadi istri kamu. kita akan menikah seperti keinginan kamu." Nayra meyakinkan Arfi.
"Nay, kamu tidak bohong?" Arfi terharu, ia memeluk Nayra erat erat. kali ia tidak meringis kesakitan karena ia sedang duduk dihadapan Nayra, sehingga tidak sulit baginya untuk memeluk Nayra.
"Iya, aku tidak bohong." Nayra mengelus elus punggung Arfi, entah mengapa melihat Arfi bahagia Nayra juga ikut bahagia.