Syhang nyang cipto gumono, rawuhno sejatining… kang aperojo hing songgobuwono rawuh rawuh rawuh mijil dateng pangarsanisun…
Asap dari bakaran kemenyan membumbung pekat di dalam ruangan. Menebar bau harum menggidikkan ke seluruh area rumah mewah yang baru saja di tempati Mbah Priyo dan keluarga.
Rumah mewah yang dulunya milik paranormal kondang, yang masih berdiri kokoh dengan segala keangkerannya selama empat puluh tahun itu akhirnya berpindah tangan. Dari keluarga Pak Karman ke penghuni baru yang juga seorang paranormal, Mbah Priyo.
Selanjutnya, kisah Mbah Priyo dan segala lelakunya sebagai paranormal dimulai dari rumah dengan tingkat wingit paling tinggi tersebut. Membangkitkan kejayaan paranormal kondang yang telah runtuh dengan kidung-kidung dari alam kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi Menakutkan
Paska kegiatan enak-enak menggarap Tyas bersama teman-teman berandalannya, Sulton mendapatkan luka lebar di lengan karena berusaha menghalau parang yang diacungkan pria bermata juling pada Rido yang baru selesai menuntaskan hasratnya.
Jendela kamar yang bolong tanpa daun ternyata dipergunakan Bambang untuk mengintip kegiatan pemuda berandalan yang sedang melakukan sesuatu pada pujaannya. Gadis yang baru saja membuat pria kurang normal itu jatuh cinta dan berniat menjadikannya istri.
Pada akhirnya lengan Sulton harus dijahit untuk mengatasi luka terbuka yang cukup lebar tersebut, dan oleh karena itulah Sulton berang dan tentu saja ingin memberi pelajaran pada si mata juling. Dia lalu menyelidiki dan menemukan fakta bahwa pria yang membacoknya itu bernama Bambang, bukan pria normal pada umumnya. Persis seperti dugaannya.
Sulton jelas tidak terkejut atas fakta itu, tapi hal yang membuat Sulton kaget dan menjadi sangat was-was adalah rumah sebelah Bambang yang lengang dan terkesan angker. Sulton yang dengan sengaja membeli rokok di warung Bambang mendengar pembicaraan beberapa orang mengenai tetangga Bambang yang baru saja terkena musibah.
Sulton langsung pura-pura menaruh simpati dan bertanya lebih lanjut tentang kondisi tetangga Bambang, mengenai wanita dan pria yang ditemukan sekarat di pinggir sungai untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang korban.
Namun, dari sekian banyak berita yang didengarnya, hanya satu hal yang membuat Sulton tertegun dan mendadak menciut keberaniannya, yaitu saat mengetahui bahwa perempuan yang sudah memuaskan hasratnya dan juga keliaran tiga sahabat adalah anak dari seorang paranormal.
Mendadak, Sulton merasa takdir tidak berpihak baik padanya, merasa kalau hari kematiannya sudah ditentukan oleh tetangga Bambang. Dia pulang dengan terburu-buru dan bertekad untuk meminta maaf bersama kedua orang tuanya.
Sayangnya kedua orang tua Sulton sudah pergi ke luar kota saat dia tiba di rumah, mereka mengunjungi saudara jauh ibunya yang sedang ada acara mantu. Di kota Madiun.
Frustasi dengan ketakutannya membuat Sulton membeli banyak minuman keras dan mengundang tiga temannya ke tempat biasa. Tanpa menyampaikan informasi yang sudah membuatnya panik, Sulton berusaha menikmati mabuk malamnya dengan ceria.
Sulton berharap itu adalah malam terakhir kebersamaan mereka, karena esok pagi Sulton akan menyusul kedua orang tuanya dan menetap di rumah saudaranya untuk menghindari hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi padanya.
Sulton tidak ingin menakuti teman-temannya, karena itulah dia tetap bungkam dan minum dalam diam. Tidak seperti biasanya.
"Kamu sakit gigi, Ton?" tanya Salman usil.
"Hm, lagi kurang mood."
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Besok aku mau ke Madiun, mungkin lama di sana, mau cari kerja!" Jawaban Sulton menjadi bahan candaan ketiga temannya.
"Kesambet apa kamu, Ton?" Ratno mengambil satu botol dan langsung menenggak tanpa menuang di gelas yang sudah tersedia.
Sulton hanya menyeringai tak senang, "Bapak marah tiap hari karena aku nggak kerja!"
"Bukannya biasanya juga begitu? Kamu loh nggak pernah minta duit bapakmu, ngapain pusing? Makanya kalau dapat rezeki banyak kasihkan orang tuamu sebagian, Ton!" tutur Rido bijak.
Sulton menjawab ketus, "Heh, mereka mana mau terima uang haram dariku! Bisa dua hari dua malam mereka ngomel dan menghina, kerjaan nggak punya mendadak punya uang … kamu maling? Pasti itu yang bakal keluar dari mulut bapakku! Udahlah, pokoknya aku udah pamit sama kalian, sekarang aku mau pulang dulu, mau siap-siap. Kalian lanjutin aja minumnya, sayang masih ada satu botol penuh!"
Ratno menanggapi serius keinginan baik sahabatnya, "Lima menit lagi juga habis ini, Ton! Yoweslah terserah kamu! Hati-hati besok di jalan, semoga sukses di Madiun! Ojok lali karo awak dewe sing nak kene!" (Jangan lupa sama kami yang di sini!)
Tidak menunggu jawaban ketiga temannya, Sulton keluar rumah kosong tersebut dengan hati gelisah. Perasaannya tidak sedang baik-baik saja, ada sesuatu tak terjemahkan yang sangat mengganggu nalurinya.
Motor Sulton melaju pelan di jalan dekat persawahan. Hingga tak sengaja lampu motornya menyorot satu sosok tubuh yang berjalan cepat berlawanan arah dengannya. Menuju rumah kosong tempat tiga temannya menghabiskan botol terakhir.
"Brengsek! Mau apa orang gila ini datang lagi?" gumam Sulton mengenali sosok yang tak jauh lagi dari motornya.
"Heh, mau apa lagi kamu?" bentak Sulton dengan suara menggelegar. Menggertak orang yang sudah membuat lengannya terluka.
Mendengar suara keras Sulton, Bambang yang tidak membawa apa-apa langsung lari ke pematang sawah dan menyeberang sungai melewati jembatan kecil, jalan yang tidak mungkin dilalui Sulton dengan menaiki motor.
"Jangan lari kamu!" ancam Sulton beringas tanpa bisa maju lagi. "Awas saja kalau ketemu lagi, saya potong kaki kamu!"
Bambang berlari secepat yang dia bisa, menjauh dari Sulton dan bersembunyi di gundukan tanah dekat sungai. Nafasnya hampir putus karena lelah, mata Bambang juga berputar cepat menyadari air sungai di depannya begitu deras. Ada ketakutan tersendiri saat matanya menatap laju air, sama seperti saat dia menatap nyala api yang berkobar-kobar.
Sesuatu dalam tubuh Bambang bergejolak hebat dan pria kurang normal itu pun mulai berperang dengan dirinya sendiri.
***
apa ini sukma bambang