NovelToon NovelToon
Wening

Wening

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Supernatural / Roh Supernatural / Mata Batin / Tamat
Popularitas:202.7k
Nilai: 5
Nama Author: Komalasari

Wening adalah gadis pendiam dan tertutup. Dia berprofesi sebagai perawat home care. Wening harus merawat seorang gadis belia bernama Raline, yang memiliki masalah kesehatan sejak kecil. Kesamaan karakter keduanya, membuat mereka menjadi dekat dan akrab. Hanya kepada Wening lah Raline bercerita, bahwa dirinya kerap mengalami hal-hal ganjil di luar nalar. Termasuk, saat dia didatangi bayangan hitam yang mulai meresahkan, bahkan mengancam nyawanya. Tak ingin Raline terluka, Wening berusaha melindungi. Dari sana, dia menyadari bahwa ada kekuatan besar yang tersembunyi dalam dirinya, untuk menguak segala rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aura Nirwasita

Setelah diberitahukan tentang keadaan Raline oleh Gandhi, Wening bergegas menuju rumah sakit. Dia memasuki gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Kali ini, gadis itu datang dengan sikap yang terlihat sangat berbeda. Jika biasanya Wening menghadapi semua orang dengan bahasa tubuh khas para introvert, kini dia mengangkat wajahnya dengan sorot mata menantang siapa pun yang menatapnya.

Satu hal yang juga terlihat tak biasa, Wening menggerai rambut hitamnya yang panjang. Sementara tangan kanan gadis itu menggenggam tangan kiri Gandhi. Duda tampan itu sama sekali tak protes. Dia malah terlihat senang dan tidak keberatan sama sekali.

“Di mana ruangannya?” tanya Wening dengan pandangan tetap lurus ke depan.

“Di depan, ruang A-3,” jawab Gandhi sambil mengarahkan telunjuknya ke pintu masuk yang berada beberapa meter dari mereka.

Sesampainya di depan ruangan yang dimaksud, Wening membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan dan melihat seorang wanita berpakaian suster yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. “Siapa dia?” gumam Wening seraya menautkan alisnya.

Dia melangkah masuk dan mendekati ranjang tempat Raline tanpa menunggu jawaban dari Gandhi.

“Dia suster baru yang saya sewa selama kemarin Suster dirawat dan izin cuti,” terang Gandhi yang kini sudah berdiri di samping Wening.

“Apakah Suster dari rumah sakit ini? Kenapa aku tidak pernah melihat wajahmu?” Wening mengamati wajah gadis yang tampak seumuran dengannya itu dengan lekat.

“Saya perawat baru. Awal bulan ini saya baru mulai dinas,” jawab suster itu sopan. Sementara Wening masih terus memperhatikan gadis di hadapannya. Ekor mata gadis itu tertuju pada pin yang bertuliskan nama ‘Ratna’ di dadanya.

“Ratna?” ucapnya.

“Iya, itu nama saya,” suster baru itu tersenyum ramah padanya, kemudian mengalihkan pandangan kepada Raline yang masih tertidur. Wening pun mengikuti arah tatapan suster itu dan ikut memperhatikan Raline yang terlihat amat nyenyak dalam tidurnya.

“Raline, ini aku,” panggilnya lirih. Tangan Wening terulur dan menyentuh pergelangan tangan Raline.

Raline yang awalnya tertidur pulas, tiba-tiba menggerakkan jemarinya. Gerakan itu, makin lama semakin kuat dan menjalar ke lengan hingga leher. Raline menggeleng lemah seperti baru tersadar dari mimpi. Dia mengerang pelan seraya meringis.

“Astaga, Raline!” seru Gandhi, antusias bercampur bahagia. “Bangun, Nak. Ayah sudah menunggumu berhari-hari,” ujarnya lagi penuh haru.

“Kak,” bukannya menyapa sang ayah lebih dulu, Raline malah memanggil Wening.

“Aku di sini,” Wening menggeser posisi suster Ratna yang awalnya berada paling dekat dengan ranjang Raline menjadi sedikit menjauh. Wening mendekati ranjang gadis belia itu, lalu duduk di tepiannya. Dia membungkuk mendekati wajah Raline sembari mengusap lembut kepalanya.

“Apa yang kau rasakan?” bisik Wening pelan.

“Seseorang mengambil alih tubuhku, Kak. Saat orang itu pergi, tubuhku seakan tanpa tenaga. Aku merasa sangat mengantuk dan kesulitan membuka mata,” jawab Raline dengan bibir terkatup. Gadis belia itu seakan tengah melakukan telepati dengan Wening.

Sesaat Wening tersadar, matanya yang berkilat tiba-tiba berganti menjadi sorot mata biasanya. Dia menoleh ke belakang dan memandang ke arah Gandhi dan juga suster Ratna, lalu kembali kepada Raline.

“Apa hanya aku yang bisa mendengarmu?” Wening mencoba bicara dari dalam hati. Anehnya Raline mengangguk, membuat Wening terkesiap dan menegakkan tubuhnya.

“Aku ingin pulang, Yah. Aku tidak ingin berada di sini lebih lama,” Raline yang semula berbaring, tiba-tiba memilih untuk duduk sambil berusaha mencabut jarum infus di tangan kirinya.

“Jangan, Raline!” cegah suster Ratna dengan suara nyaring. “Biarkan dokter datang lebih dulu dan memeriksamu,” lanjutnya.

“Itu benar, Raline. Bersabarlah,” bujuk Wening pula.

“Aku akan bersabar asal Kakak terus berada di sampingku,” ujar Raline. Dia terlihat sangat bersungguh-sungguh saat mengucapkan kalimat itu.

“Suster dengar sendiri bukan apa yang Raline katakan? Saya tidak mengada-ada. Dia benar-benar mengharapkan Suster datang,” timpal Gandhi.

Wening tak segera menanggapi. Dia hanya menapas panjang sambil sesekali melirik suster Ratna yang tampak tidak menyukai keadaan itu, tetapi berusaha menyembunyikannya.

Untuk sesaat, Wening berpikir dan terdiam. Aura Nirwasita yang tadi sempat menguasai dirinya yang menghilang, kini mulai muncul. Matanya kembali berkilat, diiringi seutas senyuman sinis. “Baiklah kalau itu yang kau inginkan, Raline. Aku akan menjagamu dari hawa-hawa jahat,” ucapnya dengan nada yang sedikit aneh. “Pak,” Wening segera beralih kepada Gandhi. “Saya bersedia ikut bersama Bapak. Mungkin Bapak bisa mengurus proses kepulangan Raline dari sekarang,” sarannya dengan nada datar.

“Ah, ya. Tentu saja!” sumringah, Gandhi bergegas keluar dari ruang rawat inap, sementara suster Ratna sibuk membereskan barang-barang bawaan Raline dan juga milik dia sendiri tanpa banyak bicara.

Tak berapa lama, Gandhi datang bersama beberapa orang perawat dan dokter Sena, dokter keluarga yang selalu menjadi rujukan keluarga Gandhi. “Sudah bangun rupanya, Nak Raline,” sapa dokter Sena seraya mengeluarkan stetoskop dan memeriksa tubuh gadis remaja itu. Seorang perawat juga memeriksa tekanan darah Raline.

“Bagus semuanya,” dokter Sena mengangguk dan menepuk bahu Gandhi.

“Jadi, sudah boleh pulang hari ini ya, Dok?” tanya Gandhi setengah tak percaya.

“Tentu saja. Untuk lain-lain, biar suster Ratna yang mengurus,” tutur dokter itu, kemudian pamit meninggalkan ruangan.

Kebahagiaan Gandhi saat itu begitu terlihat. Tak henti-hentinya dia memamerkan senyum menawannya pada setiap orang di ruangan tersebut. Terlebih ketika mereka sudah meninggalkan rumah sakit dan tiba di kediaman Wiratama.

Bi Lastri dan beberapa orang asisten rumah tangga datang menyambut kedatangan Gandhi dan Raline. Bahkan wanita paruh baya itu sampai merebut pegangan kursi roda dari pegangan suster Ratna dan berniat mendorong Raline seorang diri. “Saya sudah memasakkan makanan kesukaan Neng Raline. Neng harus semangat makannya, ya,” ucap Bi Lastri sembari terus mendorong kursi roda itu hingga ke depan kamar Raline.

“Bibi juga senang sekali, Neng Wening kembali pulang,” ucap Bi Lastri dengan sorot penuh arti.

Wening hanya menanggapinya dengan senyum simpul. Dilihatnya Gandhi yang juga tengah tersenyum ke arahnya. Aura Nirwasita masih juga belum meninggalkan dirinya. “Jangan sering-sering mencuri pandang ke arahku, Sentanu,” bisik Wening sambil mengedipkan sebelah matanya pada Gandhi, lalu melenggang begitu saja memasuki kamar Raline. Bersama suster Ratna, dia mulai sibuk membantu Raline naik ke ranjang. Sesekali dia dan Raline menertawakan sesuatu, sedangkan suster Ratna hanya memasang raut datar melihat kedekatan mereka berdua.

Gandhi terpana dan seakan membeku di tempatnya setelah mendapatkan perilaku yang aneh dan sedikit menggoda dari Wening. Pelan, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Lalu, apa yang bisa saya bantu di sini?” tanyanya kemudian.

“Tidak ada,” sahut Wening cepat, disambut oleh tawa Raline.

“Maaf, bukannya berkata seperti itu tidak sopan? Apalagi pak Gandhi adalah klien,” sela suster Ratna yang sedari tadi terus mengamati Wening.

“Santai saja, Suster Ratna. Memang beginilah kak Wening. Aku kira, papa juga tidak ada masalah,” timpal Raline yang berusaha membela Wening. “Kecuali ...” Raline menjeda kalimatnya sejenak, lalu menatap tajam pada suster Ratna.

“Kecuali suster cemburu pada kak Wening dan papa saya. Jangan bilang kalau suster juga naksir papa saya,” Raline terkikik geli sambil menutup mulutnya.

Merah padam wajah suster Ratna, antara merasa malu dan juga marah. “Saya permisi dulu,” pamit suster itu, lalu melangkah cepat melewati Gandhi begitu saja.

“Jaga bicaramu, Raline. Hormati orang yang lebih tua. Suster Ratna sudah berusaha merawatmu dengan sebaik-baiknya,” tegur Gandhi.

“Baiklah, Papa. Nanti aku akan minta maaf pada suster Ratna. Sekarang aku mau istirahat, bisakah papa keluar?” ujar Raline tanpa beban.

Mendengar hal itu, Gandhi hanya mampu menarik napas panjang. “Ya, sudah. Beristirahatlah. Suster Wening juga sepertinya masih harus banyak beristirahat,” ucap Gandhi pada akhirnya.

“Kak Wening biar di sini, Pa. Kami masih belum selesai mengobrol. Betul kan, kak?” Raline menaikturunkan alisnya lucu, membuat Wening tertawa.

“Kalau itu yang kamu mau, Raline,” jawab Wening pelan.

1
Shanty Yang
baru kali ini baca novel horor sampe tamat 😅 krna dr awal uda bikin penasaran dan seru, ga muter" jdnya lanjut terus. emang terbaik deh author satu ini ❤ semua novelnya da ku baca dan novel prtama yg dibaca dr karya author ini adalah edinburgh 👍👍 skrg lanjut yg masih on going si maman 🤭🤭 tetap sehat teteh author, biar bisa tetap membuat karya yg keren" 🤗🥰😘
Shanty Yang: ok otw 😁
total 2 replies
Nur Bahagia
jujur jadi agak males bacanya, kalo begini.. maaf ya 🙏
Nur Bahagia
kenapa pake meluk.. agak aneh nih cerita nya
Nur Bahagia
jangan2 yg bermasalah sebenarnya adalah gandhi.. dia punya pemikat kali
Nur Bahagia
lhoo kok jadi begini.. semoga alurnya ga semakin menyimpang 😏
Nur Bahagia
kayaknya paundra sakti.. tp kenapa dia ga mau bantuin raline
Nur Bahagia
bolehkan aku curiga sama paundra 🤭
Nur Bahagia
wow wening sakti ternyata 😱
Nur Bahagia
kayaknya raline di rasuki roh halus
Nur Bahagia
aku juga berfikir begitu Ning
Nur Bahagia
kann bener
Nur Bahagia
kayaknya wening bisa sekilas melihat masa depan
Dea Semilikiti Dea Semilikiti
udh curiga sm bilastri prtama baca...tp tk taulah
ren rene
sumpah...q takut. sempet berhenti baca krn kebawa sampe dlm mimpi
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅ: 𝚆𝚊𝚍𝚞𝚑, 𝙺𝚊𝚔. 𝚃𝚎𝚛𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚍𝚒𝚑𝚊𝚢𝚊𝚝𝚒 𝚋𝚊𝚌𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚢𝚊
total 1 replies
ren rene
paundra apakah sosok kasat mata ya
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅ: 𝙻𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝, 𝙺𝚊𝚔
total 1 replies
Mariana Frutty
Siti Arbainah
yg melakukan perjanjian itu dr buyut" terdahulu ya trus mereka yg sekarang hrus bisa melapas perjanjian itu
Siti Arbainah: selama bnyak orang" sesat si kalajanggi gak bakal pernah musnah kan thor
total 2 replies
Nur Setyowanti
Luar biasa
dewi andarini
suka dengan ceritanya
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅ: Terima kasih
total 1 replies
dewi andarini
baru mulai baca... sudah menarik
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅ: Terima kasih, kak. Lanjut
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!