Hai Kaka2 readers dimanapun berada, perkenalkan ini Novel pertama sy.
Dara merasa dijebak dalam pernikahan paksa ini, sementara Azlan adalah cowok yang selama ini dia hindari. Namun. tiba-tiba harus. menjadi suaminya atas drama penggrebegan di pagi hari.
Dara benci dan muak dengan cara licik cowok tersebut.
Sebelum Dara benar-benar ingin mengakhiri pernikahan paksa ini, Azlan mengajukan permohonan agar Dara mau diajak menemui keluarganya di Prabumulih.
Sambutan baik dan sikap ramah orang tua Azlan tiba-tiba mengubah keputusan Dara. Akankah Dara akhirnya menerima pernikahan ini dengan hadirnya cinta?
Ikuti terus ceritanya di "Dijebak Nikah Paksa".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternodai
"Assalamualaikum!"
"Tok ... tok ... tok ... Lan ... Lan ....!" panggil seseorang mengagetkan dua insan yang sedang terlelap berpelukan.
"Assalamualaikum!" ulang suara di luar sana tak sabar.
Dara menggeliat-geliat meregangkan sekujur tubuhnya yang terasa terkunci.
"Hahhh, aduh. Apaan sih ini?" Dara tersadar dari tidurnya. Tubuhnya terasa berat, saat dia menoleh ke samping alangkah terkejutnya.
"Ya ampun," ucap Dara seraya menutup mulutnya. Dara menepis-nepis tangan kekar Azlan yang memeluk tubuhnya, kakinya terasa kebas karena kesemutan ditindih kaki Azlan. Disingkirkannya kaki yang menumpang di atasnya. Bisa-bisanya dia tertidur dengan Azlan dengan posisi yang benar-benar diluar dugaannya.
"Ihhhh ... kok bisa seperti ini? Ya ampun," sesalnya sedih.
"Gubrak," Kaki Azlan disingkirkannya dengan kuat sehingga menimpa dinding lemari plastik.
Azlan bergeliat tersadar dari tidurnya, nampaknya dia sangat ngantuk sehingga belum menyadari keadaan yang sebenarnya.
Dara perlahan menjauhkan tubuhnya, dia merasa risih dan muncul perasaan tidak enak.
POV Dara
Saat tersadar setelah mendengar ketukan pintu dan suara orang mengucap salam dari luar, aku begitu terkejut dengan keadaanku yang tengah tertidur bersama Bang Azlan dalam posisi dipeluk tangan kekar Bang Azlan. Kakinya menumpang di atas kakiku, membuat kakiku terasa berat. Jujur ini pengalaman pertamaku tertidur bersama seorang cowok dengan posisi yang begitu intim.
Aku benar-benar shock, dan merasa risih dan muncul perasaan tidak enak. Diri ini merasa jadi orang hina, sedih, padahal saat pelukan dan ciuman itu terjadi, aku dalam keadaan sadar.
Kenapa aku bisa terbuai? Selalu saja ketika Bang Azlan masih mengenakan seragam Teknisinya, aku selalu merasa jatuh cinta, Bang Azlan nampak lebih tampan dan berkharisma.
Saat sentuhan itu, naluriku sebagai seorang perempuan yang mulai merangkak dewasa, tiba-tiba muncul. Refleks perasaan ingin disentuh dan dicium menjalar di jiwa. Walaupun aku berteriak-teriak ingin dilepaskan, namun aku begitu menikmati sentuhan itu.
Bang Azlan benar-benar membuat aku terbuai dan hilang nalar. Belum juga dipertemukan dengan keluarganya di kampung, aku sudah segampangan ini.
Bibir ini telah ternodai, ini ciumanku yang pertama dari orang yang belum sepenuhnya aku cinta, hanya sekedar rasa suka yang masih beberapa persen.
Kutatap sekujur tubuhku, masih lengkap dan melekat, tidak ada yang terkoyak. "Bersyukur." Aku mengusap dada lega.
POV end.
*
*
POV Azlan
Perdebatan kami yang menguras emosi tadi itu, tidak aku sangka akan berakhir romantis. Saat kuancam akan kucium lidahnya yang melelet itu, Dara berlari ketakutan ke arah kasur kami. Lalu aku mengejarnya, respon Dara diluar dugaanku, dia berontak kecil tapi tidak berusaha menepis rangkulanku.
"Gubrak!" Kami terpelanting di atas kasur, tubuhku yang agak lebih besar darinya menimpa persis di atasnya, jelas ini posisi yang selama ini aku dambakan sebagai lelaki normal. Dara berontak karena merasa berat akan bobot tubuhku. Aku menyesuaikan tubuhku di sampingnya tapi masih dengan posisi yang sama, kukunci tubuhnya dengan tangan kekarku.
Walau Dara masih berusaha berontak memukul-mukul tubuhku. Namun, aku tahu pukulan kecil itu memberi sinyal lain, ada hasrat lain yang ingin tersalurkan. Aku tatap kedua bola matanya, Dara menatap balik namun dengan semu malu. Kini tangannya tidak memukul-mukul lagi, dan mulutnya tidak teriak-teriak lagi. Dara seakan pasrah menginginkan sebuah hasrat yang sama seperti yang aku rasakan.
Tatapanku turun ke bibirnya, bibir yang mungil dan selalu berona merah. Aku dekatkan wajahku dengannya sehingga tak berjarak, secepat kilat mata Dara terpejam. Lalu dengan penuh perasaan kucium bibir mungil nan manis itu, cinta yang kurasakan semakin menggebu saat aku merasakan kembali bibir hangatnya ini. Ini adalah kali kedua aku menciumnya, saat yang pertama kali aku mencuranginya ketika Dara terlelap.
Mungkin bagi Dara ini adalah ciuman pertamanya, aku melihat dia begitu menikmatinya meskipun tidak ada perlawanan. Ciuman itu hanya berlangsung 30 detik, aku menatap seluruh wajah Dara yang cantik dengan tatapan sendu, mata Dara pun terbuka. Kami saling bertatap. Aku begitu sedih membayangkan bahwa wajah ini tidak akan lagi bisa kupandangi selain hari ini, bisa jadi ini kesempatan terakhir, kucurahkan semua rasa cintaku dengan ciuman-ciuman kasih sayang. Ku absen satu persatu wajah itu, pipinya yang merona, keningnya yang agak jenong tak luput dari ungkapan cintaku. Ciumanku berakhir di kedua matanya, matanya yang sayu kucium silih berganti.
Tanganku yang kekar yang mengunci tubuhnya kini beralih mengusap kepalanya dengan lembut.
Entah karena usapan tanganku, mata Dara benar-benar terpejam disusul dengan helaan nafas yang teratur, Dara tertidur seakan telah aku nina bobokan. Posisi kami yang begitu dekat dan dengan keadaan Dara tertidur, bisa saja memancing hasratku yang lain, namun aku masih punya iman dan memegang janjiku, selama Dara belum menginginkan maka aku tidak akan menyentuhnya.
Rasa kantuk mulai menyerang, akupun menyusul Dara terlelap ke alam mimpi dengan posisi memeluknya. Sungguh ini posisi yang nyaman dan romantis pertama kali bersama Dara.
POV end
*
*
"Assalamualaikum.....!" ulangnya lagi.
Dara dan Azlan saling berpandangan, Dara memberi kode supaya Azlan yang membuka pintu. Azlan bangkit seraya mengusap rambut Dara.
Dara mengibaskan rambut yang diusap Azlan dengan sebal. Kini mukanya kembali mode jutek.
Perlahan Azlan memutar kunci dan membuka pintu.
"Ya ... ampun, gua gedor-gedor dari tadi baru nyahut. Kemana saja Lu? Gua hampir mati berdiri. Lagi ngapain sih jam segini, belum ganti baju pula. Ahhhh habis kangen-kangenan ya?" protesnya tanpa jeda. Si Vai ini bikin gedek saja, orang bangun tidur diomeli.
"Ngapain Lu kesini ganggu orang saja?" ketus Azlan kesal.
"Gawat nih, kayaknya kalian habis kangen-kangenan. Sorry banget gua ganggu," ucap Rivai merasa tidak enak saat melihat Dara di belakang Azlan.
"Ya udah, lu mau apa kesini?" tanya Azlan.
"Gua mau kasih undangan," sahut Rivai sambil memberikan sebuah undangan.
"Undangan dari siapa?" heran Azlan.
"Rian. Dua Minggu lagi dia nikah," terang Rivai.
"Kenapa gak dia kasih sendiri undangannya?"
"Dia sibuk ngantar undangan lain," jawab Rivai.
"Bentrok kagak sama acara gua balik kampung?"
"Lu lihatlah tanggal berapa, emang elu kapan balik kampung, fix jadi?" Rivai meyakinkan.
"Jadilah," sahut Azlan sambil mencari tanggal di mana hari pernikahan Rian.
"Dua minggu lagi." Azlan berguman.
"Gimana, bentrok kagak?" tanya Rivai.
Azlan menjawab dengan gelengan kepala.
"Kak Vai, ngapain Kak kesini, perasaan udah seminggu Dara gak ketemu Kakak?" sapa Dara tiba-tiba.
"Kangen ya?" seloroh Rivai sambil tertawa.
"Kangen banget," sahut Dara sambil tersenyum manis. Dara tidak peduli pada Azlan yang didekatnya memasang muka cemburu.
"Kakak datang kemari mau kasih undangan pernikahan Rian," cetusnya yang membuat Dara seketika muram.
"Jadi benaran Kak Rian nikah?" tanya Dara lesu.
"Benaran," sahut Rivai. "Tuh undangannya di Kakanda tersayangnya Neng Dara," celetuk Rivai sambil tersengeh. Dara menanggapi ucapan Rivai dengan sedikit kusut.
"Ya udah deh, Kak Vai balik lagi ya. Jangan kusut gitu, jangan berantem sama Azlan setelah Kak Vai pergi. Maaf mengganggu acara kangen-kangenan kalian," pamitnya dipenuhi kalimat godaan.
"Kenapa tidak ngopi dan ngobrol dulu Kak, kita sudah lama tidak ngumpul?" sergah Dara.
"Masih ada urusan," sahut Rivai.
"Lan, gua pamit ya," ucap Rivai pamit.
"Gak ngopi dulu I?" tanya Azlan.
"Masih ada urusan Lan, lagipula gua takut ganggu penganten baru yang lagi kangen-kangenan," goda Rivai lagi sambil tertawa.
"Ok deh kalau begitu makasih ya I." Rivai mengangguk dan berlalu pergi.
Dara masuk lalu menghempas tubuhnya di lantai dengan kesal.
"Gara-gara Si Vai, Daraku jutek lagi," gerutu Azlan dalam hati. Tapi bukan karena kedatangan Rivai sih sebenarnya. Dara kesal karena undangan pernikahan Rian. Azlan tahu apa yang dirasakan Dara, Dara nampak kecewa setelah mendapat kabar itu.
Azlan tahu perasaan Dara pada Rian, pesona Rian mampu mengalahkan cinta Dara pada Azlan. Azlanpun sadar akan hal itu. Namun Azlan tidak akan menyerah, akan terus dia kejar Dara sampai Dara cinta mati padanya, itu tekad Azlan.
"Dek, ayok kita lanjutkan yang tadi?" goda Azlan sambil tersenyum pura-pura tidak paham Dara sedang kesal.
"Ihhh, dasar mesum," sentaknya kesal.
"Mesum-mesum juga tapi suka kan?" godanya lagi.
"Nggak!" sangkal Dara cemberut.
"Kenapa sih Adek jutek lagi sama Abang, apa karena undangan pernikahan Rian tadi?" tanya Azlan meyakinkan. Dara diam seolah enggan menjawab.
"Dara kesal sama Abang, sebab Abang telah berani menodai Dara." ungkit Dara tentang kejadian
sebelum Rivai datang tadi. Sebetulnya bukan hanya itu yang bikin Dara kesal, undangan pernikahan Rianlah yang membuat dia sedih. Dara merasa sudah tidak ada harapan lagi sama Rian. Tapi dia tidak mau melukai Azlan secara langsung dengan berkata jujur.
"Abang minta maaf, lagian Adek juga tidak nolak," jawab Azlan. "Kalau dilanjutkan lagi gimana, tadi Rivai keburu datang ganggu kita," goda Azlan lagi membuat Dara bersemu merah.
"Lanjutin pake ini," balas Dara sambil mengacungkan tinju. Azlan pura-pura meringis ketakutan.
"Ya udah deh, sebaiknya Abang siapkan sesuatu buat Adek, biar kesalnya hilang. Abang tadi beli makanan kesukaan Adek lho," rayu Azlan. Dara diam saja tidak menyahut, diapun sebetulnya lapar sebab nasi gorengnya yang tadi pagi dia buat, belum sempat dia makan karena keburu ada Meta datang.
Hai..... apa kabar semua readersnya saya? Semoga sehat walafiat. Saya minta dukungannya yang sebanyak-banyaknya. Kalian penyemangat bagi saya, kalian jiwa saya. Yang minta dukungan balik, kasih tanda supaya saya mampir balik. Ayo teman-teman reader mampirlah di karya saya, ceritanya Insya Allah bisa membuat kalian terhibur. Kalau kalian sudi, kasih like, komen, hadiah dan votenya. Trmksh byk teman-teman reader.....
ya wajarlah Azlan marah, istri keluar rumah ga izin suami tu dosa.