Jika pengganti tidak diinginkan, maka jalan keluarnya mencari penyambung sosok yang hilang.
Tidak salah, jika timbul rasa cemburu dalam suatu ikatan. Namun, rasa cemburu yang Kinasya miliki pada suaminya. Menghadirkan ketidaknyamanan dan membatasi semua gerak langkah suaminya.
Hingga akhirnya, Kinasya divonis mengidap sindrom Othello. Dia tidak bisa membedakan mana kenyataan dan imajinasi, sehingga ia meyakini dan bersikap sesuai dengan hal yang ia percaya. Padahal sangat bertentangan dengan keadaan sebenarnya.
Bukannya tidak mungkin, kecenderungan terbakar cemburu buta akibat sindrom Othello ini, membuahkan tindak kekerasan atau tindak bunuh diri maupun pembunuhan. Sayangnya, hal ini berakhir tragis untuk dirinya sendiri.
Seribu kali sayang. Disfungsi seksual yang pernah Ghifar alami, kini kambuh kembali dalam dirinya, lepas sepeninggalan istrinya. Ia tidak kuasa menahan rasa traumanya, hingga gairah hidupnya padam begitu saja.
Pekan berganti bulan, bulan berganti tahun. Ghifar tetap enggan untuk menikah kembali, meski wanita silih berganti dipilihkan oleh orang tuanya.
Hidup terus berlanjut, hingga Ghifar tersadar bahwa anak-anaknya membutuhkan peran ibu. Ia tidak mungkin terus melamuni istri yang pergi dan tak akan pernah kembali lagi itu. Mau tidak mau, ia membuka hati dan pikirannya, mencoba membangkitkan gairah dan rasa minatnya pada keindahan wanita kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IS21. Menuntut perhiasan kembali
Ghifar ternganga, dengan bola mata Kal yang hampir menggelinding. Melihat museum ibunya, yang tidak tertata rapi lagi.
Ghifar langsung kalap, ia menarik laci di tengah-tengah lemari tersebut.
Amarahnya memuncak, seluruh perhiasan kenang-kenangan istrinya raib begitu saja.
Ghifar menepuk pundak anaknya, "Bantu Kaf sekolah ya? Nanti Papa anter sekolah Kal sama Kaf, sarapan kalian roti aja. Nanti pulangnya dijemput sama kakek ya? Nanti Papa bilang ke kakek."
Ghifar memiliki rencana untuk ini semua.
Bagaimanapun caranya, ia harus mengetahui pelakunya. Bukan karena nilainya, tapi kenangan yang ada di barang tersebut.
"Pasti pencurinya ibu Rani sama bu Ani, Pa." tuduh Kal, dengan berjalan keluar dari walk on closet milik orang tuanya.
"Nanti Papa cek CCTV, kita tak boleh asal nuduh Kal. Tak baik itu, nanti bisa kena pasal pencemaran nama baik." terang Ghifar dengan mengekori langkah kaki anaknya.
Sayangnya, dalam ucapannya sendiri. Ghifar langsung teringat semua tuduhan tidak masuk akal dari istrinya pada dirinya.
"Papa…. Topi polisi aku mana?"
Ghifar tersenyum samar, kekesalannya mampu tersamarkan melihat anak laki-lakinya yang wajahnya persis dengan dirinya tersebut. Kaf bisa memakai pakaiannya sendiri. Kaf sekarang tengah berada di tengah-tengah tempat tidurnya, dengan menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Nanti Kakak cari ya, Dek? Adek turun dari kasur, nanti jatuh."
Ghifar melongo saja mendengar penuturan anaknya. Nadanya begitu mirip dengan wanita terbaik dalam hidupnya, setelah ibunya tersebut.
Ghifar berpikir, apa mendiang istrinya merasuki tubuh putrinya? Tapi, gelagat Kal normal layaknya anak-anak. Hanya saja, anak itu lebih dewasa dari usianya.
Tentu karena, Kal prihatin melihat keadaan ayahnya. Kal dipaksa dewasa, karena keadaan.
"Papa, roti aku mana?" seru Kal dari ruangan lain.
Ghifar segera mengumpulkan kesadarannya, "Belum Papa siapin. Bentar, Nak." Ghifar lebih dulu mengajak Kaf turun dari tempat tidur.
"Bawa tasnya, Kaf. Makan sarapan, terus berangkat." Ghifar meriah kemejanya yang berada di sandaran kursi.
Kemudian ia mengenakannya, sembari menggiring Kaf untuk segera berjalan keluar dari kamar mereka.
"Ayo, cepet. Sarapan dulu." Ghifar langsung memberikan masing-masing anak satu tangkup roti.
Setelah itu, Ghifar mengecek mesin cuci yang masih berputar tersebut. Lalu ia menuruni tangga, untuk memanasi mesin kendaraannya.
Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah kembali ke rumah. Setelah mengantarkan kedua anaknya ke sekolah mereka masing-masing.
Monitor ada di hadapannya, sorot matanya begitu fokus. Bahkan, ia enggan memalingkannya sejenak pada ponsel yang tergolek dan terus berbunyi tersebut.
"Dapat." ucapnya seorang diri.
Ternyata, hanya satu dari dua orang asing yang menggondol semua kenang-kenangan dari mendiang istrinya tersebut.
Tanpa pikir panjang, Ghifar langsung menuju ke yayasan tempat dirinya mendapat dua orang pekerja tersebut dengan membawa barang bukti.
Ghifar langsung menunjukkan barang bukti berupa rekaman video CCTV, yang ia bawa tersebut. Meski awalnya pihak yayasan selalu menepis, kini mereka dibuat malu sendiri.
Ghifar menatap bengis, pelaku yang kini dihadapkan di depan matanya.
"Aku tak pernah mikirin nilainya. Tapi asal kau tau aja! Semua barang-barang ya kau rampok itu, punya mendiang istri Saya. Saya berharap, malam nanti almarhumah datang buat nyekik kau!" ancaman Ghifar terdengar konyol.
"Kau jual, atau bagaimana itu Rin?" tanya salah satu pihak dari yayasan mereka.
Ibu Rina hanya bisa menunduk, "Sebagian dijual, sebagian masih di Saya." akunya lirih.
"Lagian, heran sama orang kek kau. Perampok kok amatiran? Kenapa tak kabur jauh?" Ghifar geleng-geleng kepala, dengan masih mempertahankan wanita paruh baya tersebut.
Rasa hormatnya hilang sudah.
Ibu Rina terisak penuh penyesalan, "Saya tak berniat nyolong, Pak. Tapi Saya merasa ingin memiliki perhiasan sebanyak itu."
Musuh terbesar manusia, adalah egonya sendiri.
"Cepat, ambil!" pinta Ghifar kemudian.
Wanita paruh baya tersebut langsung bergegas, kemudian kembali dengan kantong plastik berwarna hitam.
Ghifar hafal betul rupa dan bentuk perhiasan milik istrinya. Ia berangan-angan, jika Kal besar nanti, ia akan memberikannya dan memakaikannya pada Kal.
"Mana nih yang mata berlian hitam?" Ghifar mencari-cari terus, kumpulan perhatian berbagai macam bentuk tersebut.
"Kau tak tau kan? Gimana aku ngusahain liontin mirip punya Rose Titanic itu. Ke Brasil aku bawa dia hamil besar, aku penuhi pesanan perhiasan dia sampai nyentuh angka M itu." celoteh Ghifar, dengan masih memilah-milah beberapa perhiasan tersebut.
"Saya udah jual, Pak. Saya pikir, itu terlalu norak untuk Saya pakai sendiri." aku wanita tersebut dengan merasa bersalah.
"Kau jual berapa? Kau jual di mana? Aku tak mau tau pokoknya, aku mau perhiasan dan barang-barang mendiang istri aku yang kau udah jual itu, harus kembali. Lusa aku datang lagi, dengan barang-barang yang udah lengkap." Ghifar menoleh pada pemilik yayasan tersebut, "Nih, Pak. Bapak jadi saksinya ya? Kalau perhiasan tak kembali, Saya bakal tuntut Ibu Rina ke pengadilan. Berikut dengan yayasan milik Bapak juga, karena udah nampung orang-orang kek gini." Ghifar ngotot-ngotot, pada pemilik yayasan tersebut.
"Baik, Pak. Saya akan bantu Ibu Rina juga, untuk balikin semuanya." sanggup pemilik yayasan dengan hati yang was-was.
Ghifar mengangguk, "Totalnya tiga perhiasan yang tak ada di sini ya, Pak? Kalung liontin, persis mirip punya Rose Titanic. Kalung pinggang, dengan hiasan lonceng di kedua ujungnya. Dengan cincin kawin milik istri Saya, model sederhana, kotak aja itu seberat tiga gram, bertuliskan inisial huruf K&G. Saya tak bakal tuntut dan anggap ini masalah selesai, kalau perhiasan itu udah kembali ke Saya."
Ghifar Bahkan hafal jelas semua perhiasan milik istrinya.
"Baik, Pak. Kami usahakan." sanggup pemilik yayasan.
Ghifar mengangguk, "Barang-barang ini Saya bawa pulang, berikut ponsel istri Saya juga. Saya rekam semua perdebatan kami ini, di ponsel milik Saya. Dua hari lagi, Saya kembali ambil tiga barang itu." Ghifar mendelik satu persatu, pada orang-orang bersangkutan.
"Baik, Pak."
Ghifar mengangguk, kemudian mematikan mode rekam dalam ponselnya. Kemudian, ia berlalu pergi dengan barang-barang milik istrinya yang sudah berada di genggamannya kembali.
Ghifar berpikir untuk membeli brankas saja setelah ini. Ia tidak menyangka, rumahnya yang aman dan selalu terjaga. Kini diacak-acak oleh pencuri.
Beberapa saat kemudian, Ghifar terjebak dalam kemacetan. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala, karena mobilnya tidak juga bergerak sejak sepuluh menit yang lalu.
"Bisa kena semprot Novi lagi ini. Aku yang bos juga, dia yang marahin terus bisanya." Ghifar kembali bermonolog seorang diri.
Ia mengedarkan pandangannya kembali, sampai ia menangkap sosok yang ia kenal berada di jok motor besar.
"Wah, wah, wah. Senjata nih." Ghifar kembali mengaktifkan mode rekam dalam ponselnya.
...****************...
Siapa hayo 🤭
sering kali membandingkan istri nya orang lain.. mata nya jelalatan ngk suka aku
aq aja yg emak kandung kalo anakku ngga tertib langsung teriak²