Karya ke-2 dari Irene Puspitasari. Masih bercerita tentang masa-masa remaja, yang penuh dengan canda juga prahara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irene Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Oleh-oleh Buat Pacar
"Jadi kamu udah punya pacar ya Yon?" tanya Dita kecut.
"Iya udah," jawab Dion.
"Udah berapa lama pacarannya?" tanya Dita lagi.
"Lumayan lama, setahun lebih. Emang kenapa?" tanya Gideon.
"Gapapa sih, cuma pengen tau aja. Ku kira kamu belum punya pacar," kata Dita sedih.
"Kok mikirnya gitu? Apa karena aku jelek ya? Jadi kamu mikir kalau aku gak laku?" tanya Gideon.
"Ya bukan gitu. Kan kamu tuh pendiem banget, ya ku kira kamu gak tertarik buat pacaran gitu. Mau fokus dulu buat sekolah," kata Dita.
"Ya gak juga, gimanapun kan aku cowok normal juga. Punya rasa tertarik sama lawan jenis. Ya aku naksir sama dia, ya ku kejarlah," kata Gideon.
"Kalian udah dapat oleh-oleh semua?" tanya Rendi yang tiba-tiba muncul.
"Udah nih Ren. Kamu masih belum?" tanya Gideon.
"Belum sih. Aku masih mau cari oleh-oleh buat pacar aku. Bantuin dong Yon!" kata Rendi.
"Katamu yang lebih tau selera cewek itu Dita, ya kamu minta bantuan Dita aja lah," elak Dion.
"Emang mau beli apa?" tanya Dita.
"Pengen beliin doi jam tangan sih. Bantuin pilih ya Dit!" kata Rendi.
"Ya udah ayo aku bantu pilihin," kata Dita.
Ketiganya berjalan ke counter yang menjual jam tangan. Dita masih tampak kecewa dengan Gideon. Sementara Gideon tampak senang, dia sedang membayangkan Tabita sangat suka dengan oleh-olehnya.
"Selera cewek kamu kayak apa Ren?" tanya Dita.
"Nah itu dia, aku juga binggung," kata Rendi sambil mengaruk kepala.
"Lha kok aneh, masa selera cewek sendiri gak tau sih? Terus gimana enaknya?" tanya Dita lagi.
"Gimana kalau kamu pilihin yang menurut kamu bagus aja deh Dit?" kata Rendi.
"Nanti selera cewekmu gak sama lagi kayak seleraku. Kayak pacarnya Gideon," sindir Dita sambil melirik Gideon.
Gideon sedang asik mengamati jam tangan lucu yang berderet rapi, sehingga tak mendengarkan obrolan Rendi dan Dita.
"Kan namanya juga di kasih hadiah Dit, ya terserah yang ngasih lah. Tinggal nerima juga kan?" kata Rendi.
"Kalau aku sih mikirnya juga gitu Ren. Kalau dikasih ya harus diterima dengan senang hati, biar gak dibilang nolak rejeki. Pamali," kata Dita masih melirik Gideon.
"Mbak, coba lihat yang itu mbak, yang warna biru muda," kata Gideon sambil menunjuk jam tangan di atalase.
"Yang gambar Doraemon ini ya Mas?" tanya Mbak Counter.
"Iya Mbak yang itu. Menurut Mbak, bagus gak sih?" tanya Gideon.
"Menurut saya sih bagus Mas, warnanya kalem. Hadiah buat pacar ya Mas?" tanya Mbak Counter lagi.
"Hehehe, iya Mbak, tau aja sih?" kata Gideon malu.
"Pasti pacarnya Mas ini imut dan lembut deh," tebak Si Mbak.
"Kok Mbaknya tau ya?" tanya Gideon.
"Ya kalau seleranya kayak gitu sih biasanya orangnya lembut, manis, imut, baik hati, tidak sombong, tidak rajin menabung, ehh....," kata Mbak Counter sambil tertawa.
Gideon ikut tertawa mendengar tebakan Mbak Counter tentang ceweknya. Sementara Dita makin cemberut, seleranya sangat bertolak dengan selera cewek Gideon. Jadi dia merasa dia mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang dengan sifat cewek Gideon.
"Ya deh Mbak, aku ambil yang ini aja. Tolong bungkus yang cantik ya Mbak. Kalau bisa pake pita warna biru juga!" kata Gideon.
"Asiap Mas. Di tunggu ya!" kata Mbak Counter.
"Jadi yang bagus yang mana nih Dit?" tanya Rendi yang mengalihkan perhatian Dita dari Gideon.
"Ehhh iya sampai lupa. Tar deh, aku cariin dulu yang bagus," kata Dita.
"Pilih aja yang mahal, pasti dia suka. Cewek kan biasanya gitu," kata Rendi.
"Belum dapat Ren?" tanya Gideon.
"Blom nih, masih di pilihin sama Dita. Kamu udah dapat?" tanya Rendi balik.
"Udah, lagi di bungkus sama Mbaknya," kata Gideon.
"Sepertinya kamu tau bener ya Yon, selera cewek kamu?" tanya Rendi.
"Namanya juga pacar Ren, ya pasti tau lah selera dia tuh gimana. Udah lama juga kan pacarannya," kata Gideon santai.
"Emang udah berapa lama?" tanya Rendi.
"Udah lebih dari setahun. Apalagi rumahnya deket, jadi yah tiap hari ketemu juga, masa iya gak paham sih?" kata Gideon.
"Jadi kalian tetanggaan?" tanya Rendi lagi.
"Sekarang sih iya. Udah enam bulan terakhir aku dan keluarga pindah kontrakan di depan rumah dia," kata Gideon.
"Pasti itu kamu yang modus ya, biar bisa dekat Si Dia terus," kata Rendi sambil tertawa.
"Tau aja sih. Namanya juga usaha Bro," kata Gideon tertawa.
Dita yang mendengarkan percakapan itu semakin dongkol.
"Yang ini aja gimana Ren? Bagus nih," kata Dita.
"Yang warna merah itu Dit?" tanya Rendi.
"Iya yang merah itu. Yang ada bling-bling cantiknya. Tapi harganya lumayan sih, gapapa kan?" tanya Dita.
Rendi melihat sekilas harga jam tangan yang di tunjuk Dita. Masih dalam jangkauan kantongnya yang memang tebal.
"Iya deh yang itu aja, bagus. Kamu pilih juga buat kamu Dit, biar aku bayarin!" kata Rendi.
"Serius Ren?" tanya Dita kaget.
"Seriuslah, pilih aja. Tapi harganya jangan lebih mahal dari yang tadi ya, kalau sama sih gapapa," kata Rendi.
"Makasih banyak ya Ren. Kamu baik banget deh," kata Dita ceria.
Rendi cuma tersenyum melihatnya.
"Ini Mas, udah di bungkus cantik nih," kata Si Mbak.
"Iya Mbak, makasih ya," kata Gideon sambil menerima bungusan cantik berpita biru.
"Yang ini boleh gak Ren?" tunjuk Dita pada jam tangan merah dengan gambar mawar di tengah.
"Boleh, bungkus aja," kata Rendi sambil melihat sekilas harganya.
"Makasih ya Ren," kata Dita sambil melirik Gideon.
Gideon melirik keki pada jam tangan yang dipilih Dita. Harganya dua kali lipat dari jam tangan yang tadi di belinya untuk Tabita.
"Udahan atau masih lanjut nih belanjanya?" tanya Gideon setelah Rendi dan Dita menyelesaikan transaksinya.
"Ada satu lagi sih barang yang mau aku beli," kata Rendi.
"Mau beli apa lagi?" tanya Gideon.
"Mau beliin tas sih, tuh di counter sebelah sana," tunjuk Rendi.
"Ya udah kalau gitu kamu ke sana aja sama Dita, aku tunggu di bangku itu ya?" kata Gideon sambil menunjuk bangku beton.
"Iya deh, tunggu aja di situ, jangan kemana-mana. Dari pada tar harus nyari-nyari. Abis ini kita balik ke hotel!" kata Rendi.
"Siap Bos, saya akan setia menunggu anda di sini," canda Gideon.
"Ya udah kalau begitu. Yuk Dit kita kesana," ajak Rendi.
*****
Saat tiba kembali di kamar hotel, Yoga ternyata udah tiba lebih dulu. Wajahnya tampak sangat ceria.
"Wah sepertinya ada yang baru jadian nih Yon, wajahnya cerah banget," kata Rendi.
"Dapat traktiran nih kita Ren," kata Gideon.
Yoga cuma tertawa mendengar ledekan teman-temannya.
"Tapi nanti ya, traktirannya di sekolah saja. Kalau disini mah aku tak mampu. Uang saku yang ku dapat dari sekolah udah habis buat traktir Susan," kata Yoga memelas.
Rendi dan Gideon menjadi tertawa melihat tampang memelas Yoga.
"Emang Si Susan minta traktir apaan Yog?" tanya Rendi.
"Banyak Ren, baju, tas, sepatu sama aksesoris. Tadinya masih pengen beli lagi apa gitu, tapi aku alihin. Duit aku udah abis, orang rumah aja sampai gak kebeli oleh-oleh," kata Yoga sedih.
Rendi tertawa ngakak melihat kemalangan Yoga, tapi Gideon merasa prihatin.
"Jadi orang rumah gak kebeli oleh-oleh sama sekali Yog?" tanya Gideon.
Yoga cuma menggelengkan kepala sedih.
"Ya udah, nih aku bagi sekotak oleh-oleh buat orang rumahmu. Jangan di kasih ke Susan lagi tapi, kasian adikmu yang pasti ngarep oleh-oleh dari Masnya," kata Gideon.
"Wah makasih banget ya Yon. Biar Tuhan saja yang membalas kebaikanmu," kata Yoga.
"Dah deh, gak usah lebay kayak gitu," kata Gideon.
"Emang kamu tadi gak diporotin juga sama Dita Yon?" tanya Yoga.
"Mana bisa Dita morotin aku. Rendi tuh yang di porotin sama Dita, habis banyak tuh anak," kata Gideon.
"Bener Ren? Kok bisa sih?" tanya Yoga.
"Gak banyak kok, cuma sejutaan aja. Dan itu masih murah kok buat aku," kata Rendi.
"Gila sejuta di bilang murah, Susan aja abis lima ratusan aku udah menjerit," kata Yoga.
"Ya kan beda level Yog, gimana sih?" kata Gideon.
"Level bos mah beda. Tapi kok Dita malah di bayarin sama Rendi sih? Bukan e Dita itu naksirnya sama Gideon ya?" tanya Yoga heran.
"Ya kan yang naksir Dita, bukan aku. Lagian aku gak cocoklah sama selera dia, cocoknya sama Bos Rendi tuh," kata Gideon.
Rendi cuma tertawa mendengar percakapan teman-temannya.
"Gapapalah, itung-itung ucapan terima kasih, karna Dita udah bantu milihin oleh-oleh buat pacar aku. Lagian kalau dia merasa berhutang budi kan bagus tuh. Bisa buat cadangan kalau aku nanti putus sama yang ini," kata Rendi tertawa.
"Dasar play boy cap biawak," kata Yoga ngakak.
Gideon ikut tertawa mendengarnya. Dalam hati dia berdoa, semoga cewek matre kayak Dita gak menjadi korban play boy modus kayak Rendi.