Happy Ending Love Story adalah sebuah novel dengan berbagai cerita cinta di dalamnya. Setiap judul akan memiliki episode singkat.
Happy Ending Love Story memiliki tema acak dan berfokus pada cerita romansa manis yang pastinya berakhir bahagia.
"Cerita cinta itu memang harus berakhir bahagia, sesuai dengan judulnya Happy Ending Love Story." Eva IM.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva IM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Game of Hearts #7
Dengan susah payah Seokyung datang ke peresmian hotel baru milik Kangin Group. Ada banyak ketidaknyamanan di tubuhnya. Rasa sakit saat dia bergerak terasa, terutama pada tubuh bagian bawahnya. Dia mengingat Hwan yang mendorongnya tanpa henti semalam. Pakaian yang disiapkan staff harus diganti karena mereka memiliki potongan leher yang rendah. Sedangkan pundak hingga buah dadanya penuh dengan tanda merah dari Hwan.
Saat melihatnya dicermin Seokyung terkejut. Bagaimana itu ada disana sebanyak itu. Dia tidak mampu mengingatnya. Seokyung mengendalikan wajahnya karena banyak staff yang melihatnya terkejut. Tapi mereka segera mengendalikan wajah terkejut sama seperti Seokyung. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Mengikuti pertemuan besar sedangkan dia tidak mengenal satu orangpun sangat membebani. Rahangnya kaku karena harus tersenyum dan ramah-tamah dengan para tamu sebagai Nyonya Kang. Pujian menetas disana-sini. Untung saja tidak ada yang menyadari. Karena pada dasarnya Hwan dan Sora adalah pengantin baru. Hari ini adalah kemunculan pertama Sora sebagai istri Kang Inhwan. Seokyung mendesah. Dia segera menegakkan punggungnya. Mengikuti kemana Hwan membawa tangannya.
Meskipun melelahkan, Seokyung sangat tulus berbincang dengan orang-orang. Dia tidak memiliki pengalaman apapun dengan lingkungan sosial kelas atas tapi dia belajar dengan cepat. Dia hanya perlu senyum, mengangguk atau menggeleng. Tidak banyak percakapan keluar dari mulutnya. Pada dasarnya dia tidak paham. Obrolan mereka seputar saham, akuisisi dan kerjasama.
"Aku haus. Aku akan minum sebentar dan segera kembali." Seokyung menarik ujung jas Hwan pelan kemudian berbisik ditelinganya.
Hwan mengangguk. Dia melepaskan tangan Seokyung yang sejak awal berada digenggamannya.
Seokyung menyingkir ke sudut ruangan. Dia mengambil segelas air putih kemudian menenggaknya sekaligus. Dari kejauhan dia mengamati orang-orang. Pikirannya melayang jauh.
Tiba-tiba dia memikirkan Sora. Sora dengan segala alasannya kenapa memilih Seokyung untuk menggantikannya. Hari inilah salah satunya. Kehadiran Nyonya Kang ditengah lingkungan sosial. Jika dia tidak hadir rumor negatif pasti akan segera menyebar. Dan yang kedua adalah anak, meskipun tidak lahir darinya, anak mereka tentu saja harus mirip dengannya dan Hwan. Seokyung datang padanya pada saat yang tepat. Seokyung ditangkap dan dikalahkan oleh Sora.
Dia tersenyum miris dipojok ruangan. Kakinya yang berdenyut-denyut sakit tidak tertahankan. Seokyung memanggil salah satu staff yang berdiri tak jauh darinya. Beberapa staff segera mendekat.
"Aku ingin mengganti sepatuku. Bisakah kalian membawakan sepatu yang lebih nyaman?" Ucap Seokyung. Stiletto yang dia kenakan memang cantik, tapi sepertinya itu tidak cocok untuknya. Sepatu itu terlalu ketat.
"Baik Nyonya, kami akan segera mengambilnya. Anda bisa menunggu diruang tunggu khusus dilantai satu." Jelas salah satu staff perempuan.
Seokyung mengangguk.
"Nyonya silahkan ikut saya. Saya akan mengantar anda ke ruang tunggum" Jelas staff lain kemudian berjalan di depan.
"Ah!" Erang Seokyung. Kakinya terasa hampir patah.
"Nyonya anda baik-baik saja?"
"Sepertinya kakiku terluka."
"Pegang tangan saya Nyonya. Saya akan menuntun anda sampai ke ruang tunggu." Staff mengulurkan tangannya. Segera Seokyung mengambil tangannya yang terulur.
Meskipun terlibat dalam pembicaraan yang serius, mata Hwan tidak lepas dari Seokyung yang berada disudut ruangan. Kecantikan Seokyung hari ini sangat memesona. Bukan hanya dia, semua orang yang hadir memujinya. Seokyung mengenakan slit dress panjang tanpa lengan dan berleher tinggi. Warnanya hitam. Rambut Seokyung diikat rapi dengan hiasan rambut yang indah. Mata hitamnya sangat cocok. Dia seperti ratu kegelapan yang memesona setiap orang yang menatapnya. Senyum cerah dan lekuk tubuhnya alami. Setiap gerakannya halus. Hwan hampir tidak percaya jika dia menggenggam tangan Seokyung dengan posesif. Dia menolak melepaskannya.
Saat Seokyung meminta izin untuk minum air dan melepaskan tangannya, Hwan merasa kehilangan. Dia menatap nanar tangannya yang kosong.
Mata Hwan melebar saat melihat tangan Seokyung diambil oleh seorang staff laki-laki. Mereka berjalan keluar tempat pertemuan. Tubuh Hwan panas. Matanya tidak mungkin mengkhianatinya. Dia mencari-cari Seokyung tapi tidak menemukan. Itu artinya yang baru dia lihat memang benar. Tubuh Hwan gemetar. Dia segera keluar dari lingkaran pembicaraan tanpa izin.
Hwan mengikuti mereka. Mereka masuk ke dalam ruang tunggu khusus. Darah Hwan langsung mendidih. Tempat itu adalah tempat khusus yang hanya bisa digunakan beberapa orang saja. Seokyung tidak terlihat mabuk. Staff tersebut membawanya tanpa paksaan karena Seokyung setia mengikutinya. Rasa cemburu naik ke permukaan. Wajah Hwan merah padam. Dia kuasai amarah. Aura gelap mengelilinginya.
Hwan mendekat. Tangannya menarik knop pintu tapi terkunci. Amarah membuatnya menjadi tidak sabaran. Dia menggendor pintu dan memanggil-manggil nama Seokyung. Pintu segera terbuka. Wajah staff tadi muncul.
"Tuan Kang?" Staff terkejut.
"Dimana istriku?" Tangannya mencengkeram kerah staff tadi.
"Di, di dalam Tuan." Tubuh staff menegang atas perlakuan Hwan. Dia terkejut. Hwan melepas cengkeramannya dan mendorong staff tersebut menjauh.
Di tengah ruangan ada sofa melingkar besar. Disana duduk Seokyung. Dia tidak sendiri. Ada beberapa staff perempuan yang berjongkok di dekat kakinya.
"Hwan? Apa yang terjadi?" Tanya Seokyung. Dia tidak bisa berdiri karena kakinya sedang diobati.
"Seokyung!" Ucap Hwan. "Kamu baik-baik saja?" Dahi Hwan berkerut melihat situasi di depan matanya.
"Aku sedang mengganti sepatu." Jawab Seokyung.
Kesadaran Hwan kini kembali. Rasa curiga dan cemburu menguap begitu saja.
"Kamu terluka?" Hwan bergegas mendekat.
"Aku tidak biasa memakai hak tinggi." Jawab Seokyung kembali menegakkan punggungnya.
Dahi Hwan berkerut. Dua pelayan terlihat sedang mengobati kaki Seokyung yang berdarah karena ada bagian yang kulitnya terkelupas.
"Kamu terluka.." Ucap Hwan mengambil tempat duduk disamping Seokyung. "Tinggalkan kami sendiri." Titah Hwan. Para staff segera pergi.
"Aku baik-baik saja. Kenapa kamu ikut kemari? Para tamu pasti sedang mencarimu." Seokyung kembali merapikan dressnya.
"Kamu terluka. Bagaimana aku bisa mengabaikanmu." Hwan mengelus pipi Seokyung tiba-tiba.
Hati Seokyung berdesir. Wajah Hwan yang mengkhawatirkannya mencubit hatinya. Perasaan asing menjalarinya.
"Kita sudah pergi terlalu lama, pasti banyak orang yang mencari."
"Kakimu terluka, kamu bisa berjalan?"
Seokyung mengangguk dan tersenyum tipis. Akan sangat memalukan jika orang-orang tahu, seorang Nyonya Kang terluka karena menggunakan sepatu hak tinggi. Seokyung akan mencoba menahannya. Lagipula dia sudah berganti sepatu yang lebih nyaman. Namun tindakan Hwan selanjutnya mengejutkannya.
"Kya!" Seokyung berteriak saat pijakannya hilang. Sontak tangannya berpegangan pada Hwan.
"Kenapa kamu selalu bermasalah dengan kakimu? Apa kamu mau aku gendong kemana-mana?" Hwan menatap lekat Seokyung. Senyum Hwan terbit. Senyuman yang menggoda.
"Tidak!" Teriak Seokyung seraya mengalihkan pandangannya. Dia malu. Melihat senyum menggoda Hwan membuat tubuhnya terbakar.
Pipinya yang putih ternoda merah. Hwan tak bisa lagi menahan perasaannya. Dia tidak berusaha menggoda Seokyung tapi reaksinya menggetarkan hati Seokyung.
'Betapa imutnya'. Hwan mencuri ciuman pipi Seokyung yang merah.
Mata Seokyung membulat akan serangan Hwan yang tiba-tiba. Tatapan mereka kembali bertemu dan Seokyung sadar akan bola mata Hwan yang berbahaya. Tubuhnya menciut. Tatapan panas Hwan padanya sama seperti semalam.
Game of Hearts #8 Next..
.bikin cerita juna juga dung thor
mampir lagi ..
suka alur ya. ni aku baca karya kakak lagi.. sehat selalu