Hai, hai!
Cerita cinta romantis, action, memperjuangakan cinta sejati,
memiliki bisnis yang sama, kisah cinta diantara dua pilihan abang dan adik tiri.
Pertikaian kedua mafia pemilik kasino Internasional, penuh drama keluarga,
sanggupkah Adrian memperjuangkan hatinya untuk Fene?
setelah kepergian Bram yang menyayat hati keluarga...
mampukah Jasmine mengahadapi permintaan Adrian untuk menikahi sahabatnya sendiri Fene?
sangat memilukan, saat Adrian harus kehilangan Jasmine istri pertamanya!
melanjutkan kehidupan membesarkan putri mereka Jasmine Moreno Lim sebagai artis cilik hollywood.
Bagaimana pertemuan Fene dan Samuel Hu?
bagaimana hubungan Adrian dengan Adik kandungnya Michel Leonard Kind?
dimana cinta Aliandra Leonard Kind akan berlabuh? karena Alea sangat mengidolakan Adrian.
simak kisahnya,
nikmati ceritanya Part by part, penuh haru, dan bahagia memperjuangkan perusahaan sekaligus cinta sejati.
terimakasih,
tya calysta
🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya Calysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21. Saham
Benarkah!!
Kevin di kejutkan cerita Edward.
Melihat bukti ada dihadapannya.
Tante Irene adalah adik Mami Kevin, menikahi Hanz Parker.
Memiliki anak bernama Holi Parker.
Fene,
Kevin tidak mengetahuinya.
Holi wanita karier di New York, jarang hadir berkumpul.
Holi Parker berkerja disalah satu Bank.
"Apakah Om Hanz telah membantu semua kegilaan Mark dad?"
Kevin penasaran.
Edward tersenyum.
"Oya dad, siapa nama keluarga Marisa? saya pernah melihat Marisa menemui Hanz."
Kevin ingin mengetahui segalanya.
"Saya mengenal Marisa."
jawab Edward membaringkan tubuhnya diatas sofa.
"Bukankah Marisa keluarga Parker dad?"
Kevin membuka data-data kekayaan mereka.
"Didata saya pemegang saham kedua Mark adalah Marisa Parker, apakah yang dimaksud itu Mami Marisa?"
lanjut Kevin.
Menurut data dimiliki Kevin,
Edward Lincoln pemilik saham terbesar, 30%,
Mark Claire Zurk, 15%,
Marisa Parker,10%,
Hanz Parker, 20%,
Irene Stuard, 10%,
Adriana Lim, 7%,
Holi Parker, 3%...
"Apakah mereka menguasai semua benua dad?"
Kevin menatap Bram, Adrian dan Edward.
"Saya sudah membagi dengan baik, mereka semua ingin menguasai secara keseluruhan, disitulah awal permusuhan ini terjadi,
Chiang Lim memiliki 3% diwariskan ke Adrian."
jelas Edward.
Bram melihat pergerakan data Kevin.
"Saham gue masih 2% Bram."
tawa Kevin.
"Aaah lo, pintar amat, tapi disemua ini kenapa tidak ada nama Fene?"
tanya Bram pada Edward.
"Fene sudah diambil Mark, memberikan separoh keuntungannya pada Fene." jawab Edward.
"Lo juga, belum ngasih jatah Fene kan Bram?"
ledek Kevin.
"Sengaja, biar dia nggak pergi dari gue." gelak Bram.
Edward terkekeh,
"licik."
Bram tertawa mendengar Edward.
"Oya Adrian, berapa saham Fene di Jakarta?"
Edward menaikkan satu alisnya.
"Fene wanita tangguh di Jakarta dad, sahamnya 60%."
jelas Adrian.
"Kemaren saya mewakili Fene, meeting virtual beberapa investor."
jelas Adrian.
"Oooh, apakah dia terus bekerja selama disana?"
"Fene jarang keluar dad."
jelas Adrian.
"Ooooh, ternyata dia wanita cerdas mempertahankan warisan."
Edward berdecak kagum.
"Kalian harus mempertahankannya." kekeh Edward.
Bram, Adrian saling tatap, mengerti maksud Edward.
"Fene pewaris tahta dad."
tawa Adrian.
"Saya rasa Mark akan mengambil alih, jika mengetahui semua kepemilikan putri angkatnya."
Edward tersenyum lirih.
"Hmm, saya akan membantu Fene dad." ucap Adrian.
"Membantu yah, bukan merebut."
sindir Bram.
"Anjing lo!!"
Adrian bergumul diatas tubuh Bram agar menutup mulutnya.
"Kevin tu,"
Adrian menunjuk Kevin.
"kok?"
tanya Kevin bingung.
"lo punya kerja, ngerjain Fene." tegas Adrian.
"Hmm, kalian terlalu mendramakan kisah ini."
jawab Kevin tanpa dosa.
Edward geleng-geleng kepala.
"Gue akan melamar Fene secepatnya."
Bram mengusap matanya.
Adrian, Kevin saling tatap,
Edward terduduk kaget mendengar pernyataan Bram.
"Secepat inikah Bram?"
kejut Edward.
"Ya dad, sebelum Adrian merebutnya dariku."
tawa mereka kembali pecah.
Edward merebahkan tubuhnya ke posisi semula.
Mereka mengatur strategi.
Semoga besok berjalan sesuai rancana.
Pagi yang indah sebelum berpisah,
Fene mendengarkan pengarahan Bram.
Adrian membantu Veni.
"Kamu baik-baik yah."
bisik Adrian ketelinga Veni.
"Iya, kamu juga hati-hati.
I love you."
Veni memeluk Adrian.
Adrian membalas pelukan Veni memberibeberapa kecupan.
Fene, Bram saling berepesan.
Edward memberi hp tercanggih pada Fene.
"Semua nomor sudah ada disana, ingat jangan gegabah, kalau ada apa-apa hubungi saya segera.
Saya percayakan sama kamu mengatasi Mark."
Suara Edward terdengar dalam.
"Ya dad, terimakasih."
Fene memeluk Edward.
Memeluk Bram, Kevin dan Veni, mereka berpisah.
Fene, Adrian sengaja berpisah selama perjalanan.
Mereka akan bertemu di salah satu hotel di Napoli.
Fene melepas rindu bersama Mark, sengaja memerankan drama.
Mereka lunch bersama disalah satu restorant terbaik di kota itu.
Cuaca sangat dingin,
Fene merasakan sesaknya.
Fene tiba direstorant, meminta pelayan membawanya menemui Mark.
Fene melihat Mark dari kejauhan, sangat tampan, menarik nafas, sebelum mendekati Mark.
"Papi,"
panggil Fene manja.
"Heeiiii, how are you dear?"
Mark memeluk erat Fene.
"Duduklah, apa kamu akan memesan pasta?"
Mark membawa Fene kekursi dekatnya, sesekali menggoda Fene layaknya orang saling mencintai.
"Oooh, ya pi."
senyum Fene manja.
"Hm, saya merindukan mu."
Mark mencium punggung tangan Fene, sangat romantis.
"Hmm, me too."
Fene sangat nyaman berada didekat Mark.
"Oya, gimana? kapan kamu akan kembali ke Jakarta?"
tanya Mark.
"Hmm, mungkin lusa, ada beberapa pekerjaan yang akan aku selesaikan pi."
jelas Fene berbohong.
Mark tersenyum hangat,
bercerita semua kisah mereka, saling merindu.
"Apa kamu akan pulang ke rumah papi?"
senyum Mark.
"Sepertinya aku akan disini dulu, ada temu janji bersama temanku."
"Ooooh, baiklah. Kamu masih ingat rumah?"
sindir Mark.
"Hmm, iya aku pulang, tapi selesaikan pekerjaan dulu yah."
Fene memberikan kecupan pada jari-jari Mark.
"Hmm, mami mana pi?"
tanya Fene bersandar dibahu Mark.
"Uhuuugh, uhuuugh,
eeee, hmmm ada disini Fen."
Mark tersedak tampak salah tingkah.
"Ooough, mami baik-baik ajakan?"
"Ya, baik dong." ucap Mark,
mereka bersenda gurau seakan tidak terjadi apa-apa.
Adrian duduk dicafe seberang tanpa diketahui Mark.
Adrian memberi informasi kepada Bram melalui telfon.
"Gue menikmati gadis Napoli."
tawa Adrian menggoda sahabatnya.
"Gue menikmati susu coklat."
kekeh Kevin ngelantur.
Beberapa kali mata Adrian melihat orang Mark, berdiri diarea restoran.
Adrian mengirim pesan kepada Fene.
'aku akan menunggumu.'
Berlalu pergi meninggalkan cafe.
Fene,
Mark melihat pesan dihp Fene.
"Apa kamu berkencan dengan pria?"
goda Mark.
Fene mengangguk, menatap wajah Mark tersipu malu.
"Secepatnya, aku mengenalkan pada papi."
Fene mengusap punggung Mark tersenyum manja.
"Oke, kebetulan papi ada janji, papi menunggu kamu dirumah.
Home sweet home sweety."
Mark mengedipkan mata, mencium mesra kening Fene.
Mencium punggung tangan Fene.
'Sanhat romantis, pantas Adriana mencintai papi.'
batin Fene.
Mereka berpisah,
Fene memilih berjalan sendiri, menutup seluruh tubuhnya, membalikkan jacket.
Agar tidak diketahui oleh siapapun.
Fene memasuki sebuah hotel, memesan kamar.
Adrian menunggu kabar, melalui hp.
Setiba dikamar Fene mengirim pesan kepada Adrian.
'2078'***
Bram, cintamu ke fene sampai mati ....😭
pusing aku Thor😂😂
kenapa banyak cinta untuk fene, kenapa berjodoh denganx....
bentar tak baca sampai habis biar bisa tau jalan cerita n kisah mereka 🤗🤗🤗