Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putar Balik
"Woi Anita, jelaskan padaku kenapa sikapmu seharian cuek denganku!" ujar Zain.
"Baiklah akan ku jelasin, dengar baik-baik. Setiap dekat denganmu dadaku terasa sesak terus aku gak bisa fokus belajar, makanya aku gak mau melihat wajahmu."
"Eh? Oh? Eh? Bukankah itu sudah sangat jelas kalau dia juga menyukai Zain? Tapi, kurasa dia juga merasakannya juga ya," lamunan Chaca.
"Bukankah seharusnya kau ke UKS kan?"
"Lah!!!! Buuuukan begitu Zain! Maksud Anita itu bukan itu! Dia gak bakal merasakan sakit kalau dia gak perduli denganmu Zain! Kenapa gak bisa ngerti kalau dia sangat perduli denganmu sih! Makanya kamu harus...harus...harus menunjukkan kejantananmu Zain!" Tegas Ocha berdiri.
Ungkapan Chaca tersebut membuat suasana sekitar yang tadinya ramai seketika mendadak sepi, terlalu sensitif dan seluruh siswa yang ada saat ini berfokus hanya padanya.
"A-aku jantan kok, yakan aku jantan Anita?" ucap Zain gugup.
"Ha? Jangan tanya aku!"
"Dia jantan kok," sahut Alea.
Chaca pergi berlari, mungkin ia malu karena ungkapan yang baru ia nyatakan di tempat keramaian dengan teriakan yang cukup keras.
"Lah dia kabur?" pekik Zain.
"Zain! Kamu harus mengejarnya!" balas Alea.
"Eh? Aku?"
"Iya udah buruan cepat!" jelas Alea kembali.
Di sebuah pohon besar, Chaca merundung diri, "Ah kenapa jadi begini sih! Kenapa aku begini! Rasanya aku ingin kembali ke masa SMP lagi."
"Kamu baik-baik saja?" ucap Zain menghampiri.
"He,em, A-aku baik-baik saja kok. Aku cuma mengeluh sama diri sendiri aja."
"Aku gak begitu ngerti, tapi setiap orang yang mengeluh pasti sedang mengharap sesuatu yang lebih besar. Memang pasti capek sih memaksakan diri untuk terus mengejar dan meraih sesuatu yang kita impikan, jadi gak perlu di paksain. Cukup kau raih sebatas gapaian tanganmu saja. Oke?"
"He,em." Chaca mengangguk kembali tersenyum,
"Bunda, kali ini aku beneran jatuh cinta," lamunan Chaca.
Di sisi lain aku yang masih menunggu Zain belum kembali.
Belajar itu menyenangkan, aku senang menyelesaikan soal dengan cepat dan aku selalu di hargai dengan apa yang aku usahakan, dengan belajar aku merasa sempurna.
Zain tak kembali menjemputku, hingga kelas berakhir dia menghilang entah kemana. Aku yang terlalu cepat menyimpulkan bahagia, justru tanpa sadar perasaan itu bisa saja melukaiku.
Mungkin aku termasuk wanita hebat dalam menyelesaikan soal mata pelajaran, apapun itu jenis pelajaran sekolah, tapi tidak dengan menyelesaikan persoalan hati.
Esok Hari berikutnya.
"Pagi Zain," sapa ku melewati Zain.
"Yo Anita, kelihatanya sikapmu pagi ini mulai normal kembali."
"Ah, kemarin sih memang ada yang gak beres denganku, maaf, kita ini teman kan? Jadi hubungan kita jangan sampai rusak, yakan?" jelasku memangku tangan bersikap santai tersenyum lepas menatap Zain.
Zain yang telah mendapati perubahan sikapku sedikit terkejut. Pasalnya yang ia tau, sikapku selalu labil berubah-ubah tak tentu Arah.
Tak bermaksud hal negatif apapun, aku hanya ingin Zain mengerti jika aku yang saat ini ialah aku yang telah belajar banyak hal dari aku yang kemarin.
Meski aku gak begitu tau kenapa aku berucap seperti itu tapi aku gak bakal bilang jika ingin fokus belajar. Aku berbalik arah pergi meninggalkan Zain yang masih terpaku berdiri dengan tatapan kosongnya.
Dengan nada tebata-bata, "He-hei, Anita, ka-ka-kamu gak a-pa-apa?"
Berhenti berbalik arah menatap Zain, "Apanya? Kenapa Zain?"
Kalau di ingat-ingat kembali sejak bertemu dengan Zain, banyak hal yang telah terjadi padaku dan itu semua diluar perkiraanku. Jadi, aku akan menghancurkan semua yang gak di perlukan.
Pukul 15:20 Alea dan Azi berkunjung ke toko Rio.
"Kencan?" ketus Alea.
"Loh kalian gak tau? Dia pergi dengan Anita sepulang sekolah karena bilangnya mau kencan," jelas Rio.
"Soalnya kak Rio, waktu aku telpon Nita, katanya dia sedang belajar dengan Zain," lanjut Alea.
"Sudah, sudah, kita maklumi saja," sahut Azi mengelus pundak Alea.
Lirih raut wajah Alea seketika berubah menjadi sangat tengil, "Oh ternyata mereka lagi kencan, begitu toh rupanya."
"Lah? Bukanya tadi lagi murung? Tapi ya sepertinya mereka ada kemajuan. Aku terus penasaran sih, soalnya sikap mereka berdua itu begitu-begitu terus gak ada bedanya," lanjut Azi.
"Ya tapi harusnya Zain gengsi dong. Soalnya Anita yang nembak duluan dan mengajaknya kencan. Dasar payah, harus kukasih pelajaran dia nanti!" pekik Rio.
"Ternyata Anita itu lebih agresif dari yang kita kira ya Rio," sahut Aldi yang berdiri di samping Rio.
"Seleranya juga aneh, masak Zain? Apa iya stok lelaki di kalangan usianya telah musnah," jelas Rio.
"Mungkin dia mau mengasuh Zain? Atau memang tipenya yang seperti itu ya?" balas Aldi kembali.
"Gak mungkin ah," ketus Rio.
Diruang perpustakaan sekolah.
"Woi Anita! Sebenernya kamu sadar gak sih kita disini mau ngapain?"
"Belajar buat ujian lah! Apalagi?"
"Owalah, sudah kuduga. Kau itu ya, selalu saja fokus belajar dari pagi, eh bahkan dari kau baru dilahirkan mungkin. Kita ini lagi kencan tau! Kencan!"
"Hem?"
"Kau memintaku menemaniku ke perpustakaan kan? Apa itu namanya kencan!"
"Oh, maaf aku gak ingat."
"Ya yang penting sekarang kau sudah ingat kan?"
Kembali kesisi toko Rio.
"He Alea, ada apa? Kenapa melamun begitu?" tanya Rio singkat.
"Aku gak tau apa-apa, dia gak pernah cerita soal penembakan dan kencan ini. Aku kira aku tau segalanya tentang Anita, tapi ternyata masih cukup jika aku ini disebut sahabat dekatnya. Dia gak pernah cerita dan gak pernah mau cerita ke aku sama sekali."
"Huft.." (Hela nafas Rio).
"Begini, mungkin Anita punya sifat gak ingin melibatkan bantuan orang lain. Soalnya selama ini dia gak pernah melakukannya ke orang lain. Dia juga gak bermaksud merahasiakannya darimu, aku yakin dia pasti bakal cerita denganmu," jelas Rio mengelus lembut kepala Alea.
"Bener apa kata bang Rio," sahut Azi.
"Cinta itu butuh pengertian lebih dari satu orang bukan? Dia pasti bakal sadar kalau dia gak akan bisa melakukannya seorang diri. Sampai saat itu datang, kau harus selalu ada untuknya," lanjut Rio memperjelas semuanya.
"Tenanglah nak, nanti dia juga bakal cerita semuanya tuh, soalnya mereka kurang serasi dan selalu ribut," sahut Aldi mengunyah kentang goreng.
"Benerkah? Soalnya menurutku mereka itu serasi banget. Keduanya juga sama sama suka terus terang," saut Azi menanggapi pernyataan Aldi.
"Terus terang, itu bukan faktor utama dalam sebuah hubungan loh nak. Terlebih lagi Zain itu penakut, mungkin dia bakal kabur kalau kepepet," lanjut Aldi.
Kembali ke sisi ruang perpus.
"Dia lagi menatapku, aku harus tetap tenang, kalau sampai aku goyah, tamat sudah," batinku mengetahui Zain hanya diam terus menatap memperhatikanku.
****
Sampai disini dulu ya Zanit lovers, wah kece gak tuh Zanit lovers? Wkwkwkww, okelah lanjut lagi ya gais yak, makasih tetap ikutin kisah mereka kak akak.
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa