NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 SEPATU BARU, LANGKAH LAMA

Arkan tidak langsung menuju kampus.

Ia membelokkan mobil ke pusat perbelanjaan terdekat yang memiliki deretan toko pakaian dan sepatu formal. Bukan tempat paling mewah di Pontianak, tetapi cukup untuk menemukan sesuatu yang layak dipakai tanpa harus menarik perhatian berlebihan.

Mobil berhenti di area parkir.

Beberapa orang menoleh ketika SUV hitam itu masuk, tetapi Arkan tidak memedulikannya. Ia turun, mengunci mobil, lalu berjalan menuju pintu masuk dengan kemeja biru tua dan sepatu lama yang masih setia menempel di kakinya.

Sistem langsung berbicara.

[Target pembaruan visual terdeteksi.]

[Prioritas: sepatu, celana, kemeja cadangan, jam tangan sederhana.]

[Larangan: pakaian mencolok seperti manusia yang baru memenangkan undian.]

Arkan menatap layar ponsel sekilas.

“Aku juga tidak mau terlihat norak.”

[Bagus.]

[Triliuner muda seharusnya tampak tenang, bukan seperti brosur kredit berjalan.]

Arkan hampir tersenyum.

Ia masuk ke sebuah toko sepatu. Seorang pegawai wanita menyambutnya dengan senyum standar. Matanya sempat turun ke sepatu Arkan, tetapi tidak ada ekspresi meremehkan yang terlalu jelas. Arkan langsung menunjuk deretan sepatu formal kasual berwarna gelap.

“Saya cari yang nyaman. Bisa dipakai ke kampus, kantor, dan pertemuan.”

Pegawai itu mengangguk. “Boleh, Pak. Ukurannya berapa?”

Arkan menyebut ukuran.

Tidak sampai sepuluh menit, ia sudah mencoba satu pasang sepatu kulit hitam yang sederhana, tidak mencolok, tetapi terlihat rapi. Ia berdiri, melangkah beberapa kali, lalu mengangguk.

“Ambil ini.”

Pegawai itu tampak sedikit kaget karena Arkan tidak banyak memilih. “Baik, Pak. Mau lihat model lain juga?”

“Tidak perlu. Saya ambil dua pasang. Satu warna hitam, satu cokelat gelap.”

Sistem memberi komentar.

[Keputusan efisien.]

[Status visual meningkat.]

[Catatan: sepatu lama dapat pensiun bersama motor tua, meski kontribusinya lebih kecil.]

Arkan mengabaikan.

Setelah itu, ia membeli beberapa kemeja polos, celana bahan, sabuk, dan jam tangan sederhana. Tidak ada logo besar. Tidak ada warna mencolok. Tidak ada gaya berlebihan. Semua dipilih agar ia terlihat rapi tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Di ruang ganti, Arkan mengganti kemeja lamanya dengan kemeja putih bersih, celana gelap, dan sepatu baru. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

Masih Arkan.

Wajah yang sama.

Mata yang sama.

Hanya saja, ia tidak lagi terlihat seperti seseorang yang selalu bersiap meminta maaf karena keadaan.

Sistem muncul di layar ponsel.

[Evaluasi visual terbaru.]

[Status: layak tampil di lingkungan kampus, bank, kantor, dan pertemuan bisnis ringan.]

[Catatan: akhirnya Tuan Rumah tidak terlihat seperti figuran kesulitan ekonomi.]

Arkan menghela napas.

“Komentarmu tidak pernah bisa normal ya?”

[Normalitas tidak cocok untuk memperbaiki tragedi penampilan.]

Arkan keluar dari toko dengan beberapa tas belanja. Ia tidak membeli banyak. Cukup untuk kebutuhan awal. Sisanya bisa diurus nanti.

Saat kembali ke mobil, ponselnya bergetar.

Dimas membalas.

[Serius mau ke kampus hari ini?]

[Ada Pak Surya kayaknya. Tapi kamu mau urus cuti atau aktif lagi?]

Arkan masuk ke mobil, meletakkan tas belanja di kursi belakang, lalu mengetik.

[Aktif lagi.]

Balasan Dimas datang cepat.

[Wah. Oke. Aku juga lagi di kampus. Kabari kalau sudah sampai.]

Arkan meletakkan ponsel di konsol.

Sistem menampilkan rute.

[Tujuan: Kampus Bina Khatulistiwa Pontianak.]

[Status akademik Tuan Rumah: cuti tidak aktif.]

[Masalah utama: administrasi tertunda, pembayaran semester, dokumen akademik, komunikasi dosen pembimbing.]

[Rekomendasi: selesaikan hari ini.]

Arkan menyalakan mobil.

“Selesaikan hari ini.”

[Dicatat.]

Mobil bergerak keluar dari parkiran.

Perjalanan ke kampus tidak lama. Namun semakin dekat, semakin banyak bagian lama hidup Arkan muncul di kepalanya. Jalan yang dulu sering ia lewati dengan motor tua. Warung fotokopi tempat ia pernah menawar harga jilid tugas. Gerbang kecil tempat ia dulu menunggu hujan reda karena tidak punya jas hujan layak. Parkiran motor tempat ia pernah duduk sendiri setelah menerima kabar bahwa biaya semester tidak bisa dibayar tepat waktu.

Ia pernah meninggalkan kampus ini bukan karena malas.

Bukan karena tidak mampu berpikir.

Bukan karena tidak punya mimpi.

Ia hanya kalah sementara oleh angka-angka kecil yang bagi orang lain mungkin tidak seberapa.

Hari ini ia kembali.

Bukan untuk membalas siapa pun.

Bukan untuk pamer.

Hanya untuk mengambil lagi bagian hidupnya yang sempat tertunda.

Mobil berhenti di depan gerbang kampus.

Satpam melihat mobil itu, lalu mendekat. Tatapannya sopan.

“Mau ke mana, Pak?”

Arkan menurunkan kaca.

“Ke bagian akademik. Saya mahasiswa sini.”

Satpam itu tampak sedikit terkejut, tetapi cepat mengangguk. “Oh, baik, Pak. Silakan masuk. Parkir tamu di sebelah kanan.”

Mahasiswa sini.

Kalimat itu terasa aneh diucapkan dari dalam SUV baru.

Arkan masuk ke area kampus. Beberapa mahasiswa yang sedang berjalan menoleh ketika mobilnya melintas. Bukan karena mobil itu super mewah, tetapi cukup berbeda dari kendaraan yang biasa masuk area mahasiswa.

Ia memarkir mobil di area tamu.

Sebelum turun, ia menatap gedung kampus di depannya.

Sistem berbicara.

[Lokasi lama terdeteksi.]

[Riwayat: ambisi tertunda.]

[Status saat ini: Tuan Rumah kembali dengan sumber daya yang tidak masuk akal.]

[Rekomendasi: jangan berjalan seperti orang yang masih takut disuruh pulang.]

Arkan memegang gagang pintu.

“Aku tidak takut.”

[Bagus.]

Ia turun.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!