NovelToon NovelToon
Hot Jenderal !!!

Hot Jenderal !!!

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:6.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Fara Dela Sandi

Jenderal tinggi di tinggal kan oleh sang istri. Menjadi duda dengan satu orang Putri. Banyak wanita yang berlomba-lomba menginginkan Bara Dirgantara. Namun tak semua nya tulus pada Putri cantik nya. Hingga, ke dua orang tua sang Hot Jenderal itu memutuskan untuk menikahkan Bara dengan adik dari Nana Wijaya. Turun Ranjang, begitu lah orang-orang menyebutnya. Akan kah cinta antara mereka berdua bersemi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 (Mimpi Buruk)

Tulisan yang bercetak miring adalah untuk mimpi

.

.

.

Gemuruh suara langkah kaki dan suara pemberitahuan baik keberangkatan dan kedatangan Pesawat luar dalam negeri menggema. Bara Dirgantara menatap tajam pada sang istri. Yang terlihat asik dengan benda persegi panjang tipis itu. Hingga mengabaikan suami tampan nya itu.

Bulu kuduk Aurora berdiri kala ia merasakan tatapan tajam dan kesal menjadi satu padanya. Wanita Dirgantara itu menoleh, sontak saja ia tersenyum kikuk pada Bara.

"Apakah benda itu lebih menyenangkan dari pada aku?" seru Bara dengan nada berat.

"Tidak. Hanya saja, Mama dan Sora terlihat bersemangat mengirim kan pesan padaku. Hingga aku harus membalas nya dengan cepat bukan?" bujuk Aurora dengan cepat menggandeng lengan Bara. Ia harus bergerak cepat agar, pria yang terlihat cemburu pada benda mati ini mereda.

Helaan napas pelan mengalun. Entah kenapa, Bara Dirgantara merasakan keanehan pada diri nya. Ia muda marah pada hal yang remeh, seperti saat ini. Atau bahkan ia akan mudah cemburu pada hal yang sama sekali tak penting. Apa yang terjadi padanya? Dulu--sekali, tidak pernah ia bertindak berlebihan seperti ini. Bahkan, saat Nana tengah hamil Sora ia tak pernah memberikan perhatian lebih. Tidak ada peran yang berlebih.

Wajah tampan itu tetap terlihat dingin dan menakutkan. Tidak ada kata hangat keluar dari bibir nya. Kata manis?! Jangan tanyakan hal ini. Bara bahkan tidak pernah mengatakan hal yang manis. Hubungan nya dengan Nana Wijaya adalah hubungan suami-istri yang tak normal. Ia tidak pernah melakukan hal yang romantis. Hanya melakukan percakapan formal. Mereka saling menghargai dan mendukung satu sama lain. Dimana Nana akan berbicara akan ke adaan keluarga nya. Tentang Aurora dan Rian sang Ayah, yang hampir membuat wanita itu pusing. Sedangkan, Bara Dirgantara hanya menjadi pendengar yang baik. Bara, hanya mengatakan hal-hal ringan. Namun, dengan Aurora. Bara Dirgantara selalu kehilangan kendali atas diri. Apakah wanita yang kini menjadi istri nya ini telah menyihir nya. Hingga ia menjadi tergila-gila pada wanita bermata hitam legam bening ini. Atau bahkan mungkin sudah menjadi budak cinta sang istri? Ah! Entahlah.

CUPS!

Satu kecupan melayang di pipi kanan Bara. Menyadarkan Jenderal tinggi Indonesia ini dalam lamunan. Ia menunduk kan kepalanya, menatap intens senyum malu-malu yang mengembangkan di wajah putih susu.

"Jangan marah lagi, hem!" Ujar Aurora dengan mengedipkan sebelah matanya seimut mungkin.

Wanita itu berprasangka, diamnya Bara lantaran pria Dirgantara ini masih marah padanya. Tanpa tau apa yang tengah membuat sang suami melamun. Bara menipiskan bibirnya

Sebelum ia menunduk lebih dalam, guna mendekat kan bibirnya pada daun telinga Aurora.

"Aku maunya di bibir sayang, bukan di pipi!" Bisik Bara menghembuskan napas hangat yang mampu membawa bulu kuduk Aurora meremang.

"Yaks!" Teriak Aurora tertahan di kerongkongan memukul manja dada bidang Bara. Lelaki Dirgantara itu tertawa pelan. Sebelum menegakkan tubuhnya dengan baik.

Beberapa kali, lensa tanpa kilatan dan suara membidik kemesraan ke duanya. Dari awal keluar pintu kedatangan luar negeri. Ke duanya telah di ikuti.

"Sayang sekali, senyum cantik itu hanya akan menjadi senyum terakhir mu." Ujarnya menatap layar yang bergulir.

***

Kerongkongan terasa seret dan gatal. Aurora Wijaya kecil terbatuk-batuk pelan, sebelum membuka ke dua matanya. Kamar pink terlihat temaram, ranjang king size berderit kala tubuh anak perempuan cantik itu merubah posisi berbaring menjadi duduk. Kelopak mata sakuranya beberapa kali menggerjab perlahan. Ia menoleh ke samping ranjang. Tidak di temukan sang kakak. Seperti nya, gadis yang tua lima tahun darinya itu telah kembali ke kamarnya.

Nana Wijaya, selalu menemani Aurora sebelum memejamkan mata. Membicarakan banyak hal untuk sang adik tercinta. Saat kelopak mata sakura itu tertutup, maka tugas Nana selesai. Ia akan langsung menuju kamar yang bertepatan di seberang kamar Aurora.

"Ah! Airnya habis." Kesal Aurora mengangkat teko minum.

Aurora melirik jam yang tergeletak di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Putri bungsu Wijaya ini mengerang kesal. Ia sangat malas untuk turun dari ranjang. Namun tenggorokan yang terasa gatal memaksa gadis ini turun dari ranjang. Langkah lambat menuju pintu kamar lantaran mata bulat itu masih ingin terpejam.

Engsel pintu di putar cepat. Tubuh gadis berusia belasan tahun itu terperanjat kala bunyi senjata api menggema. Kelopak mata yang sayu terjaga dengan cepat. Langkah kaki tak lagi lemah, lantaran dadanya terasa rasa yang menghimpit. Begitu sesak hanya karena bunyi senjata. Aurora Wijaya berlari menuruni anak tangga, hujan deras menghujani bumi begitu tiba-tiba. Tak butuh tuntunan yang pasti, karena hati kecil itu seakan tau kemana langkah harus terlibat.

Membeku!!!!! Ke dua pupil mata Auroa melebar. Tidak ada pekikan keras, cairan kental merah merembes, tidak cukup sekali saja bunyi memekakkan telinga itu menyapa Aurora. Bunyi ke dua, mampu mengantarkan frekuensi yang membuat Aurora Wijaya berteriak nyaring.

"Maaaaa!!!!!!!!!!!!!!"

Akhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Brak!!!!!!!

Tubuh rapuh yang membelakangi tubuh mungil itu menyapa lantai teras belakang rumah besar ke diaman Wijaya. Sosok berpakaian serba hitam itu berlari di tengah hujan. Langkah kaki mungil menggigil. Sebelum berlari cepat mendekati tubuh sang Ibu. Wajah sang Ibu berlumuran darah, dada atas yang juga menjadi sasaran.

Semampu nya tangan mungil itu merangkul tubuh sang Ibu. Wanita yang telah melahirkan nya itu terlihat kejam. Dengan mata memejam erat dan napas tersengal-senggal. Tak jauh dari posisi Aurora, Rian Wijaya terjerembab sekarang Nana Wijaya terpekik nyaring dan kehilangan kesadaran. Para pembantu Keluarga Wijaya terpekik, suara hujan cukup membuat gaduh.

"Ma-"

"Aurora!" Seruan dengan elusan pelan di telapak tangan yang di genggaman membawa kelopak mata sakura itu terbuka cepat.

Secepat kedipan mata. Secepat itu pula tubuh Aurora memeluk tubuh Bara. Tidak ada tangisan, wanita itu hanya memeluk erat leher Bara. Tubuh nya bergetar hebat, bibir bawah di gigit keras. Tak peduli jika darah merembes turun di dagu. Aurora, harus meredakan rasa sakit dan ketakutan nya. Telapak tangan besar Bara tidak berhenti mengusap punggung belakang Aurora yang begitu basah.

"Tidak apa-apa. Tidak akan ada yang bisa menyakiti mu. Aku disini bersama mu. Aku di sini." Tutut Bara dengan nada lembut. Mencoba memberi tahukan pada sang istri. Jika ia akan tetap berada di samping nya. Melindungi nya, hingga tidak akan ada yang bisa menyakiti wanita ini.

"Aku di sini." Ulang Bara sebelum mengecup puncak kepala Aurora dengan lembut.

Hembusan angin siang menerbangkan beberapa gorden pintu. Iris hitam legam terlihat begitu kosong dan sendu. Tidak terlihat ada keceriaan yang biasanya ia tampilkan.

Aurora seolah memeluk tubuhnya sendiri. Tidak ingin terlihat baik-baik saja ketika sendiri. Wanita ini ingin memberikan hatinya waktu. Waktu mengenang rasa sakit akan kehilangan. Dan mimpi yang terus menghantuinya. Meski orang lain akan menilai bahwasanya dirinya adalah wanita yang kuat. Wanita yang tidak takut apapun. Wanita yang bar-bar dan begitu menakutkan. Siapa sangka, ada sisi yang berbeda di dirinya. Ada sisi rapuh yang harus ia sembunyikan dengan rapat. Agar tidak satupun orang memandang lemah dirinya.

KLIK!

KRET!

"Bunda?" Seruan di ambang pintu membawa kesadaran yang sepat mengambang kembali hadir.

Seperkian detik, raut wajah itu berubah. Aurora menoleh dan tersenyum lebar. Seolah, tidak ada duka yang merundung nya. Tidak ada mimpi buruk yang menghantui nya hingga mata indah itu terbuka. Kaki jenjang di turunkan, telapak kaki Aurora menyapa lantai. Wanita cantik itu menghampiri sang anak. Ya, anak nya.

"Ada apa sayang?"

"Ayo kita makan di luar, Daddy menyebalkan. Karena baru saja sampai kemarin malah masuk kerja hari ini!" Gerutu Sora dengan mengerucut bibirnya.

Aurora terkekeh ringan."Baiklah. Ayo kita keluar bersenang-senang!" Balas Aurora dengan penuh semangat.

"Aye!!!! Ayo!" Teriak Sora meraih tangan Aurora dan membawa nya keluar dari kamar.

Di setiap langkah yang diambil. Rasa yang berbeda. Kala cahaya jendela transparan menyentuh tubuhnya ada bayangan di bawah sana. Seolah berkata, jika ada dendam yang selalu membayangi diri. Namun genggaman hangat dari Sora mampu memberikan sensasi yang berbeda.

"Anakku!" seruan hati tersendat dan tertahan.

TBC

JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENTAR!!!

"Ada kalanya, hidup terasa ambigu. Rasa senang membuat mu lupa akan rasa sakit yang menghimpit. Namun, air mata selalu menyadarkan kita. Jika ada luka yang tak kasat mata!!"

~Author~

1
Andriyati
apa apa apa,, sora bukan anak bara,,, omaigott
Cee Suli
mampir lagi kak kangen sama ini novel,,,,semangat y
Ct Marimar
boring ya..x de yg woww ..jln cerita yg pelit1 .
Niaa🥰🥰
Luar biasa
Ibelmizzel
visual ny dak cocok sebagai jendral jauh.😁
Rovin Wijayanti
ok
Theodora Messakh
Keren sekali Aurora, pepet terus sampe dapet daripada si nenek lampir Kayla yg deket...bakalan menderita si Sora
Devi Sihotang Sihotang
bagus aurora... buat keyla kesal... hahaha
Elizabeth Zulfa
pengen tau reaksi bara pas tau klo Sora itu bukan anknya... kira2 apa zg bkalan dilakukan ya...
Elizabeth Zulfa
di bara kek lagu dangdut itu loh... zg bunyinya gini nih " Ande2 orong2 ora Melok gawe Melok momong " 😁😁😁😁
kasian tp lucu 😅😅
Noor Laila Khairul Isma
Good
Wiwuk Putri
wah apa ini
konspirasi konspirasi
Wiwuk Putri
spt dugaan q di flash back ternyata itu bukan anak pak jendral
Wiwuk Putri
nama nya suka berubah ubah jd bingung ini yg siapa itu yg mana
Senja
fix author nya Nctzen dr yuta taeong lukas mark, kita liat siapa lagi yg akan muncul jd cameo di novel ini
Senja
author nya nulis sambil bayangin sohyun sama taeyong
Senja
koq jauh ya di sungai Han
ida fitri
aku mampir ya thor biarpun dah end tpi bikin aku penasaran sama alur ceritanya
Dian Susantie
mana nih Thor.. yg Yamato udh lama bingit ga up.. 😓😓😓
Rosmawati/jnr
Bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!