REYHAN, dia adalah anak angkat yang dituduh telah menghabisi orang tua yang mengadopsinya hingga pada usia 12 tahun memaksanya harus merasakan dinginnya tembok penjara.
tidak ada yang mengetahui jika anak kecil itu hanya difitnah karena pada hari kejadian orang-orang melihatnya memegang pistol yang diduga dipakai menghabisi nyawa orang tuanya. bahkan adik angkatnya pun sangat membencinya karena tragedi itu.
pembelaan yang dilakukan hanya sia-sia, saat diadili tanpa sengaja dia melihat pembunuh orang tua angkatnya ada di sana dia tersenyum pada Reyhan dengan menyeringai kemudian pergi begitu saja.melihat itu api dendam dalam dirinya menyala dan bersumpah akan menghabisi orang yang telah membunuh orang tua angkatnya kelak saat dia dibebaskan dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 Kecerobohan Amelia
Amelia berdiri menatap kedua orang tuanya sambil menelan selivahnya. Perasaan sungguh cemas dan takut apakah rahasianya sudah diketahui oleh Luna dan Kyesor.
"Apa yang ayah katakan, aku tidak pernah membohongi kalian." Ucap Amelia pura-pura bego.
"Jangan mengelak lagi, ayah sudah tahu jika kau tidak pernah lagi masuk kuliah. Itu benar kan!" seru Kyesor raut wajah kecewa.
"D-dari mana ayah tahu?" tanya Amelia dengan gugup.
"Karena tadi ayah datang ke kampus mu, niatnya ingin membayar uang kuliah mu tapi yang Ayah dapat justru membuatku sungguh kecewa." Jawab Kyesor.
Amelia bersimpuh dihadapan ayahnya merasa sangat menyesal karena telah berbohong tentang kuliahnya.
"Maafkan aku ayah, aku melakukan ini semata-mata tidak ingin merepotkan kalian dengan biaya kuliahku." Ucap Gadis itu sambil menangis.
"Betapa ayah percaya padamu, tapi kau justru menghancurkan itu. Aku benar-benar kecewa." Balas Kyesor kemudian berbalik membelakangi putrinya.
Sungguh gadis itu merasa sangat menyesal dan sakit hati atas ucapan sang ayah. Tapi dia sadar jika ini memang kesalahannya, Amelia bangkit dan berlari meninggalkan kamar orang tuanya sambil menangis.
Disaat yang sama, Reyhan tengah membuat kopi di dapur dan tanpa sengaja melihat Amelia berlari keluar dari apartemen. Merasa ada yang aneh, dia pun menyusul gadis itu.
"Apa yang terjadi padanya, kenapa dia berlari ke atap?" tanya Reyhan bingung namun ia mengikutinya.
Amelia duduk di sudut memeluk lututnya masih menangis. Dia tidak tahan membayangkan begitu besar kecewa ayah bundanya untuk dirinya.
"Maafkan aku, aku memang anak yang tidak berguna!" ucapnya mengumpat diri kita sendiri.
Reyhan datang dan terkejut melihatnya dengan kondisi yang seperti itu. Segera Reyhan mendekatinya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada gadis itu.
"Mel, ada apa kenapa kau menangis seperti ini?" tanya Reyhan merasa cemas.
Dengan cepat Amelia menyeka air matanya lalu berpaling dari Reyhan karena merasa malu.
"A-aku tidak apa-apa." Jawabnya yang kini sudah berdiri membelakangi Reyhan.
"Itu tidak mungkin, jelas-jelas tadi aku melihatmu menangis." Reyhan tidak mempercayainya.
"Aku bilang aku tidak apa-apa!!!" Membentak Reyhan.
"Kenapa kau selalu memaksa ku untuk menjawab pertanyaan mu. Kau tidak akan pernah tahu perasaanku jadi tidak perlu ikut campur!" Sambungnya kelepasan emosi.
Reyhan tidak bergeming, dia pun perlahan mundur menjauhi gadis itu karena merasa tersinggung dengan ucapnya. Bahkan dia kesal dengan Amelia lalu berbalik pergi meninggalkan gadis itu sendiri.
"Memang gadis yang aneh, apakah dia pikir hanya dirinya yang punya perasaan orang lain tidak." Celotehan Reyhan saat turun kebawah. Setelah masuk ke apartemen, ia langsung bergegas ke kamarnya.
Reyhan langsung berbaring dan seketika mengingat kata-kata Amelia yang membuat kembali merasa kesal.
"Untuk apa mencemaskan gadis sombong seperti dia." Batin Reyhan lalu memperbaiki posisi tidurnya agar bisa beristirahat.
*****
Di kediaman Tiger.... para bodyguardnya tegang karena harus mencari tahu siapa dalang dibalik terbakarnya gudang bensin milik bos mereka.
"Dimana pamanku?" tanya Dinda ke salah satu bodyguard yang menjaga di depan ruangan Tiger.
"Dia adalah didalam Non." Jawabnya.
"Aku ingin bertemu dengannya tolong biarkan aku masuk." Ucap Adinda.
"Maafkan saya Non, tapi bos sudah berpesan agar tidak ada yang mengganggunya saat ini."
"Tapi aku ingin menemuinya!" Adinda bersih keras. Hingga akhirnya.... Dorr dorr, Mereka mendengar suara tembakan yang berasal dari ruang itu.
Adinda pun jadi takut dan tidak jadi bertemu dengan Pamannya itu. Padahal dia hanya ingin bicara untuk menangkan sang paman yang dia anggap seperti ayahnya sendiri.
"Baiklah, aku pergi saja." Ucap Adinda meninggalkan tempat itu.
Sedangkan didalam sana, Tiger menggila dengan menembak semua benda di ruangan itu tanpa terkecuali. Bahkan suasananya sudah seperti kapal pecah karena puing-puing keramik dan kaca berhamburan di mana-mana. Untung saja di tempat itu tidak ada siapa-siap, karena jika itu terjadi Tiger tidak segan menghabisi orang itu. Dan begitulah dia Ketika sedang marah atau stress.
"Hufff....hufff..." Ngos-ngosan.
"Siapa orang yang berani membakar uang ku, dia sungguh berani datang ke wilayah ku dan membakar gudang minyak ku. Disaat dia tertangkap nantinya, aku tidak akan pernah mengampuninya, Arghh!" Ucapnya sangat murka.
"Tiger... aku harap kau suka dengan kejutkan ku ini, Hahaha"
******
Malam semakin larut, tapi Amelia masih ada di atap. Bahkan dia tidak peduli dengan rasa dingin yang menusuk tulang. Dia berdiri menatap kota sambil termenung.
Duarrr.... Suara kilat menyadarkannya, sepertinya akan turun hujan. Gadis itu berlari ketempat yang teduh kala gerimis datang secara perlahan dan lama-kelamaan menjadi deras. Dia bahkan tidak ingin turun ke apartemen karena masih merasa bersalah.
Ditengah derasnya hujan gadis itu menggigil karena dingin, dia pun hanya bisa duduk memeluk lututnya berusaha menghangatkan diri, tapi apa yang ia lakukan hanya sia-sia. Pelan-pelan mata Amelia sayu setelah itu ia punya pingsan karena rasa dingin.
Duarrr...... suara kilat yang begitu keras membangun Reyhan dengan kaget. Segera ia menoleh jam yang sudah menunjukkan pukul 01.30.
"Kenapa tiba-tiba aku merasakan cemas yah?" batinnya merasa aneh.
"Ya tuhan Amelia, apakah dia sudah kembali dari atas atau belum." Reyhan seketika teringat dengan Amelia.
Segera ia bangkit untuk pergi memeriksa apakah gadis itu sudah ada dikamar atau tidak.
"Dia tidak ada di kamarnya, ia berarti dia masih ada di atap. Astaga apa yang sedang dia pikirkan, apakah dia tidak takut." Celoteh Reyhan segera mengambilnya jaket dan payung untuk naik ke atas.
Setelah tiba di atas, dia sangat terkejut melihat Amelia terbaring tak jauh dari tempat ia berdiri. Reyhan langsung menghampiri dengan perasaan cemas.
"Amelia, ya ampun dia benar-benar masih ada disini." Ucapnya yang langsung menyelimuti tubuh gadis itu lalu membopongnya turun kebawah.
"Tuan... nyonya, tolong!!" Reyhan berteriak saat memasuki apartemen.
Beberapa saat kemudian Luna dan Kyesor keluar dan terkejut melihat putri mereka. Reyhan kemudian meletakkan Amelia di sofa.
"Mel, ya ampun. Apa yang terjadi padamu nak?" Luna histeris dan langsung menghampiri anaknya penuh cemas.
"Amelia, ya tuhan." Kyesor pun juga cemas.
Reyhan lalu datang kembali membawa selimut untuk Amelia agar gadis itu tidak kedinginan lagi.
"Bangun sayang, hiks." Luna menepuk-nepuk pipi putrinya meminta agar bangun.
"Bunda, cepat ambil air hangat dan kain, sepertinya Amelia hipotermia." Ucap Kyesor mengerti dengan kondisi putrinya.
"Reyhan coba jelaskan apa yang terjadi pada Amelia?" tanya Kyesor pada Reyhan.
"Iya Tuan, aku menemukan dia di atap, aku pikir tadi dia sudah turun tapi ternyata tidak."