Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA GILANG
Pelangi memasuki kamar Gilang dengan kaki gemetar. Kamar berukuran besar itu terlihat rapi dan elegan, dengan interior sederhana yang didominasi warna abu-abu dan putih. Ranjang berukuran king size terletak di tengah-tengah kamar yang menghadap langsung ke jendela bertirai abu-abu.
Toni melangkah mendahului Pelangi, membimbing gadis itu menuju sofa yang terletak di sisi lain kamar. Sesampainya di depan sofa, Toni meminta Pelangi untuk duduk, kemudian mengambilkan sebotol minuman bersoda dari kulkas mini yang juga ada di kamar itu.
"Minumlah. Rileks, jangan terlalu gugup," ujar Toni.
Pelangi mendongak agar dapat menatap Toni. "Bagaimana aku tidak gugup. Apa yang aku lakukan ini salah, seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Aku membodohi Pak Gilang, aku sungguh membodohinya. Dan sekarang dia akan menghukumku."
Toni menyentuh pundak Pelangi, mengguncang tubuh gadis itu yang gemetar dan tegang. "Tidak, Pelangi. Dia tidak akan menghukummu. Aku tahu betul bagaimana sifat Gilang. Dia memang kesal sekarang, tetapi dia tidak akan menyakitimu. Aku yakin. Jangan berpikiran yang bukan-bukan, fokus saja pada tugasmu untuk terus mendampinginya dan meyakinkan dirinya agar dia segera menikah denganmu."
Pelangi menunduk, memainkan ujung kukunya untuk mengurangi rasa gugup. "Bukankah aku sebenarnya belum menyetujui rencana ini. kemarin, jelas-jelas Andrew mendatangiku dan memintaku untuk memikirkan hal ini terlebih dahulu. Tapi kemarin juga tiba-tiba Anda seolah menjebak Pak Gilang, lalu semuanya terjadi begitu saja."
Toni menghela napas dengan berat, lalu menatap Pelangi lekat-lekat. "Cepat atau lambat kamu pasti akan menyetujuinya, Pelangi."
"Kenapa Anda begitu yakin?"
"Utang-utangmu bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh--"
"Aku akan melunasi sendiri dengan caraku." Pelangi memotong ucapan Toni.
"Tujuh ratus juta! Nominal itu tidak sedikit." Toni memandang Pelangi penuh kemenangan. Saat Pelangi diam saja, ia pun melanjutkan, "Aku terkejut saat mengetahui jumlah utang-utangmu. Dengan nominal sebanyak itu, hanya keajaiban yang mempu mengatasinya. Anggap saja perintah dari Tuan Farhan adalah keajaiban untukmu Pelangi. Dan tidak ada keajaiban yang tidak berisiko."
***
Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, Gilang akhirnya memasuki kamar. Pria tampan itu terlihat santai dalam balutan kaos putih polos dan celana chino berwarna cokelat.
Tanpa ragu, ia berjalan menghampiri Pelangi, kemudian melempar sebuah lingerie berwarna merah maron ke arah gadis itu. "Pakailah!" titahnya, dengan nada memaksa.
Pelangi memungut kain berwarna merah yang jatuh di pangkuannya, dan berapa terkejutnya ia saat melihat bahwa kain yang sehalus sutera itu adalah sebuah baju tidur yang sangat mini.
Pelangi meneguk saliva, kemudian bangkit menghampiri Gilang. "Bapak ingin saya memakai ini?"
Gilang yang sudah berbaring di atas ranjang dan menyangga kepalanya dengan siku menaikan sebelah alisnya. "Ya, memangnya kalau tidak untuk dipakai, mau diapakan lagi! Pakailah, dan cepat berbaring di sampingku!"
"Aku tidak akan memakainya," lirih Pelangi, membiarkan pakaian tidur itu jatuh dari tangannya.
Gilang tertawa sinis. "Kenapa? Bukankah kita telah tidur bersama? Jangan malu, Pelangi, toh semalam saja kita telan-jang kan?"
Pelangi menunduk, tidak berani untuk membantah perkataan Gilang, toh percuma saja membantah, karena biar bagaimanapun ia tetap harus meyakinkan Gilang bahwa mereka telah tidur bersama semalam.
Melihat Pelangi yang berdiri diam bagai patung, membuat amarah Gilang kembali merayap ke permukaan. Ia bangkit dan mendorong tubuh Pelangi, sehingga gadis itu terjatuh di atas ranjang dalam posisi telentang.
Gilang menerjang tubuh Pelangi yang tak berdaya, menindih tubuh gadis itu dan menatap wajah cantiknya lekat-lekat. Namun, ia tidak melakukan apa pun selain menatap Pelangi.
Pelangi merinding melihat kekecewaan di mata Gilang. Tadinya ia pikir Gilang akan memaksanya untuk membuktikan apakah mereka benar-benar tidur bersama semalam, tetapi begitu melihat tatapan mata Gilang, ia tahu jika pria itu tidaklah seburuk itu. Ketakutannya berubah menjadi kesedihan saat melihat tatapan kecewa di mata Gilang.
"Aku pikir tadinya kita bisa berteman," ujar Gilang kemudian. Jarak antara wajahnya dengan wajah Pelangi begitu dekat, sehingga Pelangi dapat merasakan embusan hangat dari hidung pria itu di wajahnya, begitu juga sebaliknya.
"Pak, aku--"
"Shut." Gilang meletakan hatinya di bibir Pelangi, meminta gadis itu untuk diam. "Aku belum selesai."
Pelangi mengangguk.
"Aku pikir hubungan kita akan lebih baik setelah kamu membantuku agar Gisel mau menikah denganku. Selama ini aku tidak memiliki teman selain Toni, yang kumiliki hanyalah rekan kerja." Gilang menghela napas."Jujur saja aku menyukaimu Pelangi, kepolosanmu dan kejujuranmu membuat aku ingin berteman denganmu. Hanya teman, tidak lebih dari itu. Aku sama sekali tidak menginginkanmu menjadi sesuatu yang lebih bagiku, apalagi mengingankanmu untuk kutiduri. Sehingga rasanya sangat tidak masuk akal jika akhirnya kamu dan aku tidur bersama."
Hati Pelangi seperti ditonjok saat mendengar semua perkataan Gilang.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam, aku tidak mengingatnya sama sekali. Tetapi, karena orang lain telah melihat kita berdua di sana, bahkan Pak RT di tempatmu melihat aku keluar dari kamarmu, aku rasa semuanya akan berubah. Suka atau tidak, aku mungkin akan menikahimu demi menjaga martabatmu."
"Pak, aku--"
"Tapi aku tidak bisa melakukan semua itu, Pelangi. Aku tidak mencintaimu, aku sangat mencintai Gisel hingga rasanya aku sangat berdosa karena telah mengkhianatinya."
"Pak, maafkan aku," lirih Pelangi.
Gilang menundukan wajahnya, membiarkan kepalanya terkulai di samping Pelangi, sementara tubuhnya masih berada di atas tubuh Pelangi. "Aku sudah memikirkan apa yang harus kulakukan. Aku harap kamu menyetujuinya, toh menurutku tidak ada penyelesaian yang lebih baik dari semua kekacauan ini."
"Apa itu, Pak?"
Gilang mengangkat kepalanya, lalu menatap Pelangi lekat-lekat. "Dengarkan aku."
***
Gisel mendengar kabar tidak menyenangkan yang memecah konsentrasinya. Saat sedang melakukan pemotretan di sebuah mall ternama untuk sebuah prodak, seorang paparazi kampungan berlari ke arahnya dan membisikan berita tidak menyenangkan itu langsung di telinganya.
"Gilang terpergok berdua-duaan dengan seorang gadis." Itulah yang diucapkan oleh si paparazi kampungan, yang memang suka menyebar gosip ke mana-mana.
Gisel mendorong si paparazi, pria kemayu berkulit hitam yang mempunyai kemampuan untuk mendapatkan informasi dari mana pun dan siapa pun. "Jangan bercanda kamu!' teriak Gisel.
Pria itu berdecak, lalu berkata, " Periksa saja langsung ke rumahnya. Aku dengar, gadis yang telah ditiduri oleh Gilang itu sekarang ada di rumahnya.
Gisel yang tidak ingin merasa penasaran lebih lama, akhirnya mengikuti saran pria itu. Ia menyambar tas tangan miliknya yang terletak di atas meja make up, lalu berjalan tergesa-gesa menuju area parkir.
Sebuah sedan mewah menantinya, sedan berwarna putih yang merupakan pemberian Gilang itu kemudian melaju membelah jalanan perkotaan yang ramai menuju kediaman Gilang. Di dalam perjalanan, dada Gisel berdebar tak karuan. Ia tahu betul bahwa Gilang bukanlah tipe pria yang akan tidur dengan sembarang wanita. Bagaimanapun juga, setelah lama mengenal Gilang, Gisel tahu betul bahwa pria itu adalah tipe pria setia. Jika sampai benar Gilang tidur dengan wanita lain, maka semua rencananya bisa hancur berantakan. Bisa-bisa pernikahan yang telah direncanakannya Batal hanya karena permasalahan yang baginya tidak masuk akal.
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️