Ali bin Abbas adalah seorang Pangeran dari sebuah Kerajaan di Benua Arab. Dengan bimbingan Sang Guru dia bertekad untuk mempersatukan semua Kerajaan yang ada di daratan Benua Gurun tersebut.
Seiring berjalannya waktu, terlepas dari usianya yang masih sangat muda, dia sudah menapaki puncak tertinggi kependekaran.
Akan tetapi dalam waktu yang singkat itu pula ternyata sudah banyak bermunculan aliran-aliran Sesat yang didalangi para pendekar tingkat tinggi.
Bersama Sembilan Muridnya mencoba mengumpulkan Lima Kitab tanpa tanding yang di percaya mampu membuat pemiliknya akan menjadi Penguasa nomer Satu di Dunia.
Akankah perjalanannya mampu mengubah perdamaian seperti yang diinginkannya? Ikuti terus ceritanya hanya di novel Pendekar Bintang Sembilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el kurdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Penyisihan Kelompok Pria 3
Ali lebih memilih musuh yang paling rendah tingkatannya, dia berinisiatif menyerang lebih dulu, melihat serangan yang di lancarkan Ali, para penonton langsung menertawakannya, ada beberapa pendekar yang berkomentar bahwa perguruan Singa Langit telah kehilangan bibit bibit unggulnya, ada juga yang berkomentar kalau perguruan itu sudah mendapatkan keuntungan dari kerajaan, sampai sampai mengambil murid yang tak berbakat sama sekali.
sedangkan kedua perserta yang lain sedang bertarung dengan sengit jual beli serangan yang mereka ciptakan cukup mengobati kekecewaan para penonton, saat kedua pertandingan terlihat sangat berbeda kekuatan nya, pada saat yang sama pendekar pendekar yang telah mengetahui kekuatan Ali, mereka terheran heran apa yang sedang di lakukan pangerannya tersebut, kenapa dia menyembunyikan kekuatannya.
setelah beberapa saat mereka telah bertukar puluhan jurus, Ali sudah menemukan cara untuk melumpuhkan lawannya, dia mengambil pedangnya yang masih terbungkus kain, lawannya mengira itu sebuah tongkat, Ali menyalurkan sedikit tenaga murninya pada pedang tersebut, lawannya mulai waspada dan mundur beberapa langkah sebelum mulai kembali menyerang dengan kemampuan terbaiknya.
Ali mentambil pedang di pinggangnya yang masih terbungkus kain, lawannya yang sudah bersiap langsung mengeluarkan sebuah jurus "jurus pedang membelah gunung " sambil melompat dia mengayunkan pedangnya, Ali sudah siap menagkisnya.
dua lawannya masih bertarung, Anwar bin Rasyid dari perguruan Pedang Matahari yang lebih dominan, setelah bertarung puluhan jurus akhirnya lawannya menyerah, walaupun tingkatannya sama tapi pengalaman Anwar jauh lebih baik, jadi walaupun agak kesulitan Anwar akhirnya bisa melumpuhkan lawannya.
jurus pedang membelah gunung itu cukup kuat, Ali tidak lagi menghindari serangan itu, tapi menangkis dengan pedangnya, setelah itu Ali langsung melancarkan sebuah tendangan yang telak mengenai perut lawannya, lawannya terjungkal keluar arena.
Ali mengalihkan pandangannya pada Anwar yang sedang menunggu nya, "pangeran, apa kau masih bisa melawan ku? " tanya Anwar sambil berjalan mendekati Ali.
"insya allah aku siap. " jawab Ali sambil tersenyum.
"apa kau tau tingkatan kita berbeda? aku takut kau tidak bisa menahan seranganku, hingga tanpa sengaja melukaimu."Anwar mulai mengingatkan Ali akan perbedaan mereka.
"kau tak perlu sungkan karena aku disini bukan pangeran, aku hanya seorang murid yang sedang mencari pengalaman bertarung, aku harap kau tidak mengecewakan aku." jawab Ali sambil berjalan mendekat sampai jarak mereka tinggal dua langkah.
"baiklah, aku sudah memperingatkanmu, jadi jangan pernah menyesali apa yang kau lakukan." ucap Anwar sambil bersiap untuk menyerang, "jurus pedang menembus awan" dia melakukan serangan mendadak, dia pikir Ali tidak akan mampu menahan serangannya itu, namun ternyata Ali dengan mudah menghindari serangan itu.
Dengan sangat cepat Ali melemparkan dua jarum yang tepat mengenai pergelangan tangan kanannya, pedang Anwar terlepas dari tangannya, lalu Ali menyerang Anwar dengan jurus tapak hampa, namun masih bisa di hindari oleh Anwar, Ali terus melangkah maju untuk melakukan serangannya, Anwar berdecak kesal, bagaimana mungkin pemuda ini memiliki kekuatan fisik yang sangat kuat, nafasnya masih stabil, sedangkan Anwar sendiri nafasnya sudah tak teratur.
"bagaimana? kemampuanku tidak terlalu buruk kan?" tanya Ali sambil terus melakukan serangan bertubi tubi, Ali tidak memberikan sedikitpun celah untuk lawannya balik menyerang.
Anwar tidak bisa menjawab pertanyaan Ali, dia terus berfikir keras bagaimana caranya agar bisa terlepas dari serangan Ali yang sempurna.
setelah mendapatkan serangan bertubi tubi cukup lama, Anwar yang telah tak bersenjata itu sudah merasa tidak mampu lagi dan akhirnya dia menyerah.
Anwar menangis sambil memukul tanah, "bagaimana dia bisa melakukannya. " ucapnya penuh kemarahan.
"aku hanya beruntung saat kau berfikir kalau aku sangat lemah dimatamu," jawab Ali mengingatkan Anwar bahwa siapapun lawannya harusnya dia tidak meremehkannya
mendengar jawaban Ali, Anwar memejamkan matanya begitu sakit di ulu hati nya, dia sadar yang di ucapkan Ali memang benar, dia berjanji tidak akan meremehkan lawannya lagi.
pertandingan berikutnya grup 18 di menangkan oleh Usaid bin Hudhair dari perguruan Tongkat Emas, tidak terlalu lama bagi Usaid untuk mengalahkan ketiganya, mungkin karena perbedaan tingkatannya dan juga keseriusannya dalam bertarung yang membuat dirinya lebih mudah menguasai pertarungan, jurus jurus tongkatnya begitu luwes dan indah, Ali memperhatikan dengan serius, sampai tidak menghiraukan ucapan Hisyam.
"kau menyuruh lawanmu untuk tidak meremehkan lawannya, tapi dirimu sendiri meremehkan lawanmu, apa maksudmu tidak mengeluarkan kemampuanmu?" Hisyam barkali kali melontarkan pertanyaan yang sama pada Ali, namun Ali baru menghiraukannya setelah pertandingan selesai.
"aku hanya tidak ingin lawanku berikutnya tidak berani melawanku, seperti yang terjadi padamu tadi." jawab Ali santai.
"itu bukan salahku, mereka saja yang mentalnya lemah. " ucap Hisyam penuh bangga.
"apa katamu? bagaimana dengan pendekar yang tidak menepati janjinya?" tanya Ali pada pemuda di sampingnya itu, ternyata pemuda itu belum banyak belajar dari kekalahannya.
Hisyam tidak menjawab pertanyaan Ali, dia berharap di perlombaan ini dia bisa membalas kekalahannya.
di pertandingan grup 24 berjalan sangat sengit, kelima peserta memiliki tingkatan yang sama, yaitu pendekar tingkat bintang 5. namun setelah beberapa lama semakin terlihat mana yang mampu bertahan, karena kekuatan fisik dan strategi bertarung yang akan mampu bertahan pada akhirnya.
Mu'az alQary dari perguruan Naga Api Akhirnya yang memenangkan pertarungan tersebut, walau tubuhnya mendapatkan beberapa luka, namun kekuatan fisiknya mampu bertahan sampai akhir pertandingan.
kondisi fisik tulangnya sudah mencapai tulang Emas, dia juga lebih mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghindari serangan serangan lawannya.
di pertandingan grup 29 hal yang terjadi sangat mengejutkan, Mas'ud bin Malik dari perguruan Lembah Duri dengan cepat dan sangat mudah mengalahkan lawan lawannya, walaupun dari perguruan kecil Ali tidak menyangka ada murid jenius yang mampu menguasai tingkatan pendekar bintang 7.
"apa kau mengetahui tingkatan kependekarannya?" tanya Hisyam pada Ali akhirnya dia tidak bisa menutup mulutnya lagi.
"dia berada di tingkat kependekaran bintang 7, aku harap kau tidak bertemu dengannya di babak berikutnya," jawab Ali sambil menoleh padanya.
Hisyam tidak bisa menutupi keterkejutannya, mulutnya menganga, tidak percaya jika di perlombaan ini dia akan bertemu dengan pendekar yang jauh lebih kuat darinya.
Ali menggelengkan kepada melihat wajah pemuda disampingnya, pemuda i ini harus merubah mentalnya, kalau ingin menggapai cita citanya.
di pertandingan grup 31 Utbah bin Ghazwan yang paling menonjol, dia belajar dari kesalahan yang dilakukannya saat bertarung bersama Ali, dia juga mengingat ucapan Ali, bahwa dia bukanlah petarung yang mampu bertahan lama, jadi dia berinisiatif untuk menyerang dengan semua kekuatan yang dia miliki, dan benar saja, dalam beberapa puluh jurus saja dia sudah bisa mengalahkan Empat pendekar lainnya.
Ali tersenyum bahagia melihat pemuda itu menyadari kelemahannya, setelah selesai pemuda itu melihat sekelilingnya, saat tatapannya bertemu dengan Ali dia memberi salam penghormatan, Ali sangat terkejut melihat sikap Utbah itu, namun dia langsung membalas salamnya, Hisyam penasaran dengan apa yang dilakukan Utbah, apakah Ali mengenalnya?.
~***1045kata.
maaf jika lama up nya, tolong di maklumi soalnya HP nya cuma dapat minjam....
do'ain ya semoga cepet bisa beli HP lagi, dan bisa up tiap hari lagi....
terima kasih***.