Di saat perbedaan usia menjadi halangan dalam mencinta, maka waktu yang akan menjawab segalanya.
Di saat cinta pertama tak bisa digapai dengan mudah, maka waktu yang akan menjarah.
Di saat pernikahan menjadi benteng perunggu, maka jandamu yang akan kutunggu.
Hey, kamu!
Berbahagialah dengan kehidupanmu saat ini. Namun jika suatu saat hatimu tersakiti, maka lihatlah ke sini, ada aku yang selalu menanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Jelata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Bertepatan setelah itu, hujan pun turun begitu deras. Aku mengajak Anis kembali ke mobil setelah membayar tagihan minuman dan cemilan yang telah kami nikmati hingga tandas.
"Kenapa hujan selalu turun di saat kita bersama?" Anis bertanya sembari mengibas-ibaskan tangan pada pakaiannya yang sempat terkena air langit dan meninggalkan bekas. Bekas basah yang disebabkan oleh tempias.
Aku hanya tersenyum ringan menanggapinya. Kenapa wanita selalu memandang ribet pada suatu hal? "Bukankah itu tandanya berkah?" sahutku seolah bertanya balik padanya.
"Iya berkah, tapi kita jadi basah," cebiknya yang seolah masih kesal akan kebasahan yang menimpa pakaiannya.
"Ya, udah, aku antar kamu pulang aja, ya. Biar bisa langsung ganti baju," saranku kemudian.
Ia bergeming sejenak, seolah tidak ingin kalau aku mengantarnya pulang ke kediaman orang tuanya. "A-aku ... aku masih pingin sama kamu, Ru."
DEG
Jelas!
Aku pun juga inginnya begitu. Namun, ini sudah hampir larut malam. Tidak mungkin aku mengantarkan anak gadis orang pulang ke rumah secara diam-diam. Sudah jelas, tadi perginya aku jemput dengan menyelam.
Maksudnya ... menyelam sambil minum air!
Ehem!
Aku ini ...!
"Jadi, maunya kemana?" Kuserahkan semua keputusan pada dirinya. Aku tidak ingin memaksa atau pun memengaruhinya.
Tapi ... otakku ini ...!
Adoooh!
"Kemana ya, kira-kira? Aku juga bingung," tuturnya yang mulai kebingungan sendiri.
Jujur saja, aku sangat ingin membawanya ke suatu tempat yang sangat privasi, hanya ada aku dan dirinya. Namun, aku yakin ia tidak akan menghendakinya.
"Jadi ... kemana, Ru?" Ia kembali bertanya setelah menyadari kebungkamanku yang tidak lebih dari satu menit itu.
"Terserah, aku ikut aja," jawabku seolah tak ingin mendengarkan bisikan setan yang sedari tadi menari-nari di kepalaku.
Mana hujan makin deras lagi, pikiran iblisku semakin meronta-ronta.
Kalian tahu 'kan apa yang sedang aku pikirkan?
Ah, sudahlah jangan dilanjutkan!
Nanti kalian ikut kesetanan!
Setelah melewati pergelutan pikiran dan batin masing-masing, aku dan Anis memutuskan untuk pulang. Kuantarkan ia ke kediaman dengan wajahnya yang masih tertekuk masam seakan ingin membangkang.
Aku sangat mengerti ia masih ingin berada di dekatku. Namun, apa daya? Jika aku tak membawanya pulang malam ini, bisa-bisa aku akan kehilangan kepercayaan dari kedua orang tua Anis yang juga sudah kuanggap seperti orang tuaku.
"Udah, gak usah sedih gitu. Besok 'kan kita masih bisa bertemu lagi," kataku seolah sedang membujuk seorang anak kecil yang sedang merajuk. Sayangnya aku tidak mempunyai permen atau cokelat sebagai modal bersajak tanpa tajuk.
Ia seolah tak ingin mendengarkanku. Masih saja menatap lurus ke arah kaca mobil, walaupun keempat roda mobil sedanku ini telah terparkir sempurna di pelataran rumahnya itu.
Kuhela napas sejenak, melepas keinginan yang masih terpendam di dalam hatiku. Ingin sekali kuutarakan yang sejujurnya agar ia tahu betapa aku juga sangat ingin menghabiskan malam bersama ia, pujaan hatiku.
Hingga akhirnya kukeluarkan jurus ampuh dengan mendaratkan kecupan ringan pada pipinya. Ia agak tersentak, lalu menatap kedua mataku dengan ekspresi wajah tercengang. Namun, beberapa detik kemudian ia mengulas senyuman berbalut rasa malu sembari memegangi bekas kecupanku yang aku sendiri pun seolah tak sadar jika telah melakukannya.
Aku hanya merasa seperti ada magnet yang menarik bibirku untuk mendekati wajahnya. Dan, akhirnya ... aku kalah. Termakan bisikan iblis perempuan yang sedari tadi berseliweran tak tentu arah.
"Kalau boleh, aku ingin meminta sesuatu," ujarku dengan napas setengah memburu. Aku rasa Anis juga turut merasakan hal itu.
"Apa?" responnya secepat kilat.
Kugenggam sebelah telapak tangannya yang terasa sangat dingin itu. "Aku akan sangat berterima kasih, jika kamu mau menghabiskan waktu bersamaku. Walau hanya satu malam dari seluruh waktu di dalam hidupmu."
Anis mematung. Apakah aku telah salah bicara? Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku.
Terserah Anis mau berpikiran apa tentangku. Yang jelas aku tak ingin menyesal seumur hidupku.
Namun, di luar taksiranku. Anis malah merespon dengan kalimat yang paling jitu menurutku.
"Tolong nikahi aku, Ru."
DEG DEG DEG
mampir juga ya/Coffee//Coffee/
. kasian deluh
GK MUNAFIK, TTP SAKIT BAYANGKN SI LKI2 YG DI KENAL MNIKMATI TUBUH WANITA YG DICINTAI, SESEK TDK JDI YG PRTAMA YG BUKA SEGEL,
MSH MNDING DGN JANDA YG GK DI KENAL,, GK KNAL JUGA DGN MNTAN SUAMINYA, INI SI HERU, DRI SMP MNCINTAI ANIS, UJUNG2 NYA DPT BEKAS, DN UDH PNY ANAK..