Seorang perempuan yang berstatus istri, pastinya ingin di cinta sang suami. Tapi Takdir kehidupan Fidiya begitu unik. Mendapatkan suami, mendapat status social yang mapan, tapi tidak mendapatkan kedudukan di hati dan di mata suaminya.
Di mata seorang Ridwan, hanya ibunya dan kedua adiknya, sedikitpun dia tidak memandang Fidiya. Ridwan hanya mendengari apa kata kedua adiknya, dan hanya mendengari kemauan kedua adiknya. Tanpa mau tau apa mau wanita yang menjadi istrinya.
Saat Fidiya menyerah dengan takdirnya, dia dipertemukan dengan Fadlan, seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Ridwan sadar dari kebodohannya, datang dengan segala penyesalannya, meminta Fidiya kembali.
Bagaimana kehidupan Fidya, Fadlan, dan Ridwan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Misca, seorang perawat yang Fadlan sewa untuk menjaga Fidiya selama dia tidak bisa berada di dekat wanita itu.
Jam menunjukkan jam 10 malam, terlihat wanita yang terbaring itu mulai terlihat menggerakkan tangannya. Dengan Sigap Misca berlari mendekati wanita yang menjadi tanggung jawabnya.
"Nona ...." Misca membantu wanita itu agar lengannya tidak terlilit selang infus yang ada.
"Di mana aku?" Suranya terdengar lemah.
"Nona di Rumah Sakit. Nona tidak sadarkan diri sejak kemaren malam."
"Aku ingin bangun."
"Bagun sepertinya nanti dulu biar saya tinggikan saja bagian kepala." Misca segera membantu wanita itu, dengan meninggikan ranjang Rumah Sakit pada bagian kepala Fidiya. "Bagaimana? Cukup?" Misca memastikan wanita itu nyaman dengan posisinya.
"Cukup."
"Saya mau panggil perawat yang menangani Anda, saya hanya perawat yang bertugas menjaga Anda." Misca meraih telepon kabel yang ada di ruangan itu.
Tidak berselang lama, seorang laki-laki muda memakai jas putih, di dampingi beberapa perawat memasuki ruangan itu. Misca menepi, mempersilakan semua petugas kesehatan itu melakukan tugas mereka.
Laki-laki berseragam dokter itu selesai memeriksa Fidiya. "Keadaan Nona Fidiya jauh lebih baik, kalau ingin pulang, nanti silakan dibicarakan ke ruangan saya."
"Iya dok, nanti saya akan kasih tau sama Tuan Fadlan," sahut Misca.
Dokter dan para perawat meninggalkan ruangan itu, sedang Misca langsung mengetik pesan untuk melaporkan keadaan Fidiya pada laki-laki yang memintanya menjaga Fidiya.
"Fadlan?"
Misca tersenyum dan menoleh kearah Fidiya. "Tuan Fadlan yang membawa Anda ke sini. Dia pulang, karena menghindari tuduhan yang mungkin akan membuat nama Anda tercemar, kalau dia yang menjaga Anda."
Ha hahaaaaa ... mereka ingin main cantik rupanya. Fidiya ingin sekali marah, tapi tidak tau meluapkan semua kekesalan, kekecewaannya pada siapa.
Kita lihat Fid, bagaimana takdir kehidupanmu?
***
Malam semakin larut, mata Fidiya masih terjaga, entah karena dia terlalu lama tidak sadar atau karena memikirkan kehidupannya bagai di negara sihir.
Di mana ada seorang laki-laki rela membayar dengan harga yang tidak sedikit, hanya untuk mendapatkan dirinya. Fidiya melirik ke sudut ruangan, di sana ada tas miliknya tergeletak di sana. Sengan susa payah, akhirnya Fidiya berhasil melangkah mendekati tas-nya.
Fidiya langsung mengambil handphone yang ada di sana. Senyuman terukir di wajahnya, saat melihat handphone itu masih punya daya. Terlihat di layar banyak panggilan tidak terjawan dan ratusab pesan. Saat Fidiya membuka, hanya daei satu orang, yaitu Ismi, yang berulang kali menanyakan bagaimana keadaannya.
Sebelum handphone itu sekarat, Fidiya langsung membalas.
Jasadku baik-baik saja, tapi tidak dengan hatiku. Karena aku sangat rindu padamu. Pesan dia kirim pada Ismi.
Fidiya kembali mengetik pesan untuk Elvina.
Terima kasih atas segalanya, saat ini aku sudah keluar dari istana itu, dan aku baik-baik saja.
Terkirim. Fidiya merasa lega, dia segera kembali ke tempat tidurnya.
Pagi menyapa belahan bumi itu, Misca membuka jendela yang ada di ruangan Fidiya, pemandangan jalanan di bawah sana menjadi hiburan sesaat. "Ac aku matikan dulu sebentar, biar udara sejuk masuk ruangan ini, Tuan sangat pintar memilih ruangan."
Fidiya hanya diam, tidak berselang lama terdengar suara ketukkan pintu, saat Misca membukakan pintu terlihat Fadlan dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, diikuti tiga orang perempuan muda mengenakan seragam yang sama, saat Fadlan masuk, mereka semua juga masuk kedalam ruangan.
Fidiya tidak mengerti dengan laki-laki ini, dirinya tidak istimewa, tapi laki-laki ini membuang banyak uang untuk membeli dirinya. Fidiya hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan kebencian.
Fadlan meraih remote ac yang ada diatas meja. Dia segera menghidupkan ac yang ada di ruangan itu. "Jangan terlalu lama menatapku, aku tahu aku tampan." Fadlan sama sekali tidak menoleh kearah Fidiya.
Fidiya mendengus mendengar sindiran Fadlan, dia membuang pandangannya ke arah lain, ketampanan Fadlan tidak membuatnya terpesona sama sekali.
Tuhan, berikan aku keberanian untuk menampar dan mencekik laki-laki bodoh itu! Barangkali dia sedikit cerdas saat kepalanya dihantam dengan sesuatu.
"Siapkan sarapan untuk kami, selesai kalian semua boleh keluar kemanapun kalian mau selama satu jam," titah Fadlan.
Misca membantu Fidiya untuk bangkit dari ranjang besi itu, Fidiya duduk di sofa tunggal yang ada diruangan tersebut. Di meja itu, bermacam menu sarapan pagi sudah tersaji.
Merasa tugas mereka sudah selesai, tiga orang yang berseragam pelayan itu keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Misca, satu jam boleh keluar itu bagai keajaiban bagi Misca.
Fadlan mulai menikmati sarapan yang dia ambil. Sedang Fidiya masih mematung, merasa harga dirinya terinjak-injak karena saat ini dia merasa dirinya hanyalah barang yang seenaknya diperjual-belikan.
"Ayo sarapan."
Ucapan itu berhasil membuat Fidiya memandang kearahnya. "Kenapa Anda membeli saya?" Pertanyaan yang selalu berputar di kepala Fidiya, akhirnya dia lontarkan.
"Aku tidak membeli, aku hanya menebus kebebasanmu sebagai manusia."
Deggg!
Ucapan Fadlan benar adanya, selama tinggal di rumah Ridwan Fidiya merasa tidak hidup. Iya diberi makan tiga kali sehari, sisanya? Dia bagai pajangan hidup yang berstatus istri Tuan rumah.
"Ayoo sarapanlah, hidup ini indah tanpa Ridwan, kau pasti sakit hati dia ceraikan bukan?"
"Aku tidak sakit hati."
"Kalau kau tidak sakit hati, sayangi dirimu, jangan siksa dirimu dengan tidak memberikan nutrisi yang dibutuhkan seluruh anggota badanmu."
Fidiya mengalah, perutnya sangat perih, karena lapar. Dia segera meraih makanan yang dia mau.
"Ridwan akan menceraikanmu."
"Masa bodoh!" Fidiya lebih memilih memanjakan lidahnya daripada mengingat laki-laki yang bernama Ridwan.
Fadlan tersenyum melihat kemarahan yang terpancar dari raut wajah Fidiya. Garis wajah itu, entah kenapa Fadlan selalu tersenyum jika memandangi wajah itu, wajah yang mengingatkannya pada si gadis kecil.
Dirimu ataupun bukan, yang pasti aku sudah terlanjur menyukaimu.
Fadlan berhenti memandangi wajah itu dia segera fokus dengan sarapan yang ada di piringnya.
******
Di kediaman Ridwan.
Sebuah mobil mewah memasuki halaman kediaman Ridwan. Di teras rumah itu tiga wanita penguasa rumah ini berdiri menyambut kedatangannya.
"Aku dapat bonus dari Fadlan, 200 juta!" Ara sangat bahagia mendapat tambahan di rekeningnya.
"Sama aku juga," sahut Melly.
"Berarti kita bertiga dapat bonus dengan nominal yang sama," sela Retna.
"Nggak nyangka, si udik sangat menguntungkan." Ingin rasanya Ara berteriak,meluapkan rasa bahagianya.
"Tidak sia-sia kita ke desa itu, ternyata kita menemukan berlian hidup di sana," Melly menambahi.
"Jaga ucapanmu, jangan sampai hal ini sampai ke telinga kakakkmu!" tegur Retna.
"Maaf bu," ucap keduanya.
"Kita lihat, bagaimana wujud wanita yang Fadlan kirim, aku hanya tau namanya." Mata Melly terus memandangi mobil mewah yang perlahan mulai medekat. "Aku hanya tau namanya, namanya Errie."
Seorang gadis cantik dengan setelan yang nampak anggun keluar dari mobil dengan gaya elegant-nya. Dia melempar senyuman pada tiga orang yang menyambutnya. "Selamat pagi, Ara, Melly dan tante Retna," sapanya.
"Pagi juga Errie," sahut Retna.
Melly dan Ara mematung melihat gadis yang Fadlan kirim, sungguh di luar dugaan mereka, seorang wanita cantik bak model papan atas berjalan mendekati mereka.
Body yang seperti itu, aku ingin memilikinya. Ara sungguh terpukau melihat penampilan wanita itu.
"Ajak calon kakak iparmu masuk!" Retna menepuk punggung Ara dan Melly.
"Iya bu," sahut keduanya.