NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — Aku Tidak Mengirim Jadwal Itu

Damar mengirim tangkapan layar jadwal Nadira tujuh menit setelah pertemuan kami berakhir.

Tidak ada salam. Hanya satu pertanyaan.

Apakah data ini berasal dari sistem Anda?

Aku memperbesar gambar tersebut di layar ruang kerja. Susunannya menyerupai kalender biasa, tetapi kolom waktu memakai format dua puluh empat jam dan setiap lokasi diberi kode tingkat risiko.

Sistem pribadiku tidak memakai format seperti itu.

Timku memberi tanda lokasi dengan warna.

Yayasan Helena memakai angka.

Ruang Tengah diberi kode satu. Kantor Damar diberi kode dua. Pertemuan dengan Banyu belum memiliki lokasi, tetapi di sampingnya tertulis angka empat—risiko tinggi.

Aku menelepon Elsa.

“Jangan bilang kau sedang makan,” kataku begitu sambungan terbuka.

“Aku memang sedang makan.”

“Jadwal Nadira bocor dari sistem yayasan.”

Suara alat makan berhenti.

“Bukti?”

Aku mengirim gambar.

Elsa diam beberapa saat. Mungkin ia sedang memperbesar bagian yang sama denganku: kode angka di ujung setiap baris, jenis huruf yang dipakai, dan catatan kecil tentang kendaraan Damar.

“Itu format pemantauan reputasi Helena,” katanya akhirnya.

“Siapa yang masih punya akses?”

“Lebih banyak orang daripada yang akan membuatmu tenang.”

“Aku tidak menelepon untuk ditenangkan.”

“Bagus. Karena ada staf komunikasi, auditor yayasan, dua konsultan krisis, satu vendor media, dan Helena sendiri.”

Aku membuka daftar akses yayasan melalui terminal kepatuhan. Setelah surat penyimpanan dokumen Damar masuk, semua perubahan memang dibekukan. Pembekuan itu tidak mencabut izin membaca atau mengirimkan berkas.

Jadwal Nadira diakses tiga kali sejak pagi.

Pertama oleh auditor program.

Kedua oleh kepala komunikasi yayasan.

Ketiga oleh akun bernama REPUTATION RESPONSE-02.

“Siapa pemilik akun terakhir?” tanyaku.

“Vendor media,” jawab Elsa. “Perusahaan bernama Arunika Komunika.”

Nama itu kukenal. Mereka mengelola artikel berbayar, pemantauan berita, dan hubungan dengan beberapa redaksi hiburan. Helena memakai mereka setiap kali seseorang dalam keluarga tertangkap kamera di tempat yang tidak seharusnya.

“Aku akan memutus kontraknya.”

“Jangan dulu.”

“Mereka mengirim jadwal Nadira kepada media.”

“Kalau kontrak langsung diputus, mereka tahu kita sudah menemukan sumbernya. Biar log tetap berjalan sampai Fahmi mendapat salinan server.”

“Fahmi?”

“Damar menghubungi penyidik siber independen. Fahmi Alamsyah. Dia sedang dalam perjalanan ke kantor yayasan.”

Aku membaca layar.

Dulu, tidak ada orang yang bisa masuk ke sistem keluarga tanpa lebih dulu melewati persetujuanku. Sekarang Damar membawa penyidik sendiri, Elsa membekukan akses tanpa menunggu persetujuanku, dan Nadira mengambil keputusan yang tidak kuketahui sampai akibatnya terlihat.

Bagian lama dalam diriku menyebut keadaan itu kacau.

Bagian yang mulai belajar hanya menjawab: bukan urusanku untuk mengendalikannya.

“Pastikan Fahmi menerima log penuh,” kataku.

“Aku sudah melakukannya.”

“Dan salinan kontrak vendor.”

“Sudah.”

Elsa terdengar puas dengan dirinya sendiri.

“Kau menikmati ini?”

“Sedikit. Sangat menyegarkan bekerja tanpa menunggu seorang lelaki merasa idenya berasal dari dirinya.”

Aku menutup sambungan.

Tangkapan layar tersebut telah dikirim ke satu editor situs hiburan, tetapi belum diterbitkan. Nomor editor tercantum pada metadata internal Arunika. Aku pernah bertemu dengannya dua kali dalam makan malam bisnis.

Satu panggilan cukup untuk menghentikan berita.

Satu transfer iklan cukup untuk membuat redaksi bukan hanya menghapus jadwal, tetapi juga menyangkal pernah menerimanya.

Aku membuka nomor tersebut.

Kemudian menutupnya lagi.

Cara tercepat masih terasa seperti jalan yang paling masuk akal.

Itulah masalahnya.

Selama bertahun-tahun aku mengira keputusan yang cepat selalu lebih baik daripada proses yang memberi orang lain waktu untuk memilih.

Asisten investasiku masuk setelah mengetuk.

“Bapak meminta data perusahaan media?” tanyanya.

Aku baru ingat pernah mengirim pesan sebelum Elsa menelepon. Naluri pertamaku bukan mencari bukti untuk Nadira.

Aku meminta harga perusahaan yang menerima jadwal itu.

“Letakkan,” kataku.

Asisten menaruh tablet di meja. Situs tersebut dimiliki kelompok media kecil dengan utang besar. Harga sahamnya turun hampir tiga puluh persen dalam setahun. Dengan perusahaan lapis kedua, aku bisa membeli kendali sebelum pasar tutup.

Tidak perlu ancaman.

Tidak perlu menelepon editor.

Pemilik baru cukup mengatakan artikel itu tidak memenuhi standar editorial.

“Ada masalah reputasi yang perlu ditangani?” tanya asistenku.

Aku melihat proyeksi akuisisi.

Tiga tahun lalu, aku pasti sudah menyetujuinya.

Aku akan memindahkan berita, mengganti editor, menghapus salinan, lalu memberi tahu Nadira bahwa isu sudah selesai. Ia mungkin kesal karena aku ikut campur. Setelah beberapa waktu, masalah akan menghilang, dan tindakanku akan terlihat seperti bantuan lagi.

“Batalkan pemeriksaannya,” kataku.

Asisten mengerutkan kening.

“Seluruhnya?”

“Iya.”

“Tim sudah menyiapkan struktur pembelian.”

“Hapus dari agenda. Simpan catatan bahwa saya meminta pembatalan sebelum penawaran dibuat.”

Ia pergi sambil membawa ekspresi bingung. Mungkin ia tidak mengerti mengapa aku perlu mencatat keputusan untuk tidak membeli sesuatu.

Aku tahu alasannya.

Keputusan yang benar tanpa catatan mudah berubah menjadi cerita baik yang kuceritakan tentang diriku sendiri.

Aku membutuhkan bukti, terutama untuk hari ketika rasa takut membuatku ingin mengulang pola lama.

Aku membalas pesan Damar.

Jadwal itu bukan dari sistem keamanan saya. Formatnya milik sistem pemantauan reputasi Kalyana Family Welfare Foundation. Saya sedang mengirim log akses dan kontrak vendornya.

Aku berhenti sebelum menambahkan bahwa aku bisa menghentikan media dalam lima menit.

Kalimat itu tidak diperlukan.

Yang diperlukan Nadira bukan kemampuan suaminya menutup berita. Ia membutuhkan bukti untuk memutuskan apakah ingin membantah, melapor, atau membiarkannya terbit sebagai bagian penyelidikan.

Elsa mengirim paket dokumen yang sudah diverifikasi. Aku meneruskannya ke Damar tanpa mengubah nama berkas. Di dalamnya ada kontrak Arunika Komunika, daftar pegawai yang dapat mengakses jadwal, pembayaran dari yayasan, dan tiga surel Helena.

Surel pertama meminta vendor memantau semua penyebutan tentang perceraian keluarga.

Surel kedua meminta mereka menyiapkan narasi mengenai kondisi emosional Nadira.

Surel ketiga dikirim satu jam setelah kesepakatan pisah ditandatangani.

Jangan terbitkan jadwal lebih dulu. Kirim kepada redaksi yang mudah dikendalikan dan tunggu reaksi pihak Nadira.

Helena tidak sedang mencoba menjatuhkan Nadira secara langsung.

Ia menguji responsnya.

Pola yang sangat kukenal karena aku pernah melakukan hal serupa. Letakkan sesuatu di jalan seseorang, lalu lihat ia bergerak ke mana.

Ponselku berbunyi.

Ayah mengirim pesan singkat.

Hentikan Elsa sebelum dia merusak yayasan ibumu.

Aku membiarkannya tanpa jawaban.

Beberapa menit kemudian, Damar menelepon.

“Saya sudah menerima log,” katanya.

“Jadwal itu berasal dari yayasan.”

“Fahmi sedang mengamankan salinan server.”

“Bagus.”

“Situs media belum menerbitkan apa pun.”

“Aku tahu.”

“Apakah Anda menghubungi mereka?”

“Tidak.”

“Meminta orang lain menghubungi?”

“Tidak.”

“Membeli perusahaan mereka?”

Pertanyaan terakhir mengembalikan perhatianku pada tablet akuisisi yang masih berada di meja.

“Aku meminta pemeriksaan harga,” jawabku. “Lalu membatalkannya sebelum ada penawaran.”

Damar terdiam sebentar.

“Kenapa diperiksa?”

“Karena itu cara yang biasanya kupakai.”

“Dan kenapa dibatalkan?”

Aku menatap layar tablet.

“Karena berita itu menyangkut Nadira. Keputusan menangani atau membiarkannya terbit harus datang darinya.”

“Jawaban Anda akan dicatat.”

“Catat.”

Sambungan seharusnya selesai.

Damar belum menutup telepon.

“Ada hal lain,” katanya.

“Apa?”

“Fahmi menemukan nama beberapa perusahaan media dalam catatan transaksi lama Anda.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Kami sedang memeriksa apakah pembelian tersebut berhubungan dengan pemberitaan tentang Nadira.”

Aku melihat keluar jendela. Dari lantai ini, orang-orang di bawah terlihat seperti titik yang bergerak tanpa suara. Mudah membayangkan hidup mereka dapat diarahkan hanya dengan memindahkan beberapa jalan.

“Ada satu perusahaan,” kataku.

“Nama?”

“Warta Kota Raya.”

“Dibeli kapan?”

“Tiga tahun lalu.”

“Setelah mereka menulis artikel tentang istri Anda?”

Rahangku mengeras.

“Iya.”

“Apa tujuan pembeliannya?”

“Awalnya menghentikan berita yang memuat fitnah tentang Nadira.”

“Awalnya?”

Aku tidak menyukai satu kata itu.

Aku lebih tidak suka karena aku tahu persis apa yang mengikutinya.

“Setelah membeli saham,” kataku, “aku meminta redaksi meninjau seluruh pemberitaan yang menyebut dirinya.”

“Menghapus berapa banyak?”

“Aku tidak tahu.”

“Kalau begitu kami akan mencari tahu.”

Damar memutus sambungan.

Aku membuka arsip investasi Warta Kota Raya. Pembelian dilakukan melalui perusahaan yang tidak memakai nama Kalyana. Tidak ada namaku di dokumen publik, tetapi instruksi kepada redaksi masih tersimpan.

Beberapa artikel ditandai sebagai fitnah.

Beberapa ditandai tidak sesuai standar.

Satu artikel diberi perintah berbeda.

Hapus seluruh versi. Jangan simpan dalam arsip redaksi.

Aku membuka judulnya.

Konflik Kepentingan Mediator yang Menikah dengan Pewaris Kalyana.

Pesan dari Damar masuk sebelum aku sempat membuka salinannya.

Kami menemukan bukti Anda bukan hanya menghapus fitnah. Anda membeli kendali atas media yang mengkritik pekerjaan Nadira.

Aku menatap pesan itu lama.

Dulu, aku mungkin akan mencari alasan.

Sekarang aku hanya melihat satu hal yang paling sulit diakui:

Aku tidak cuma mengatur jalan hidup Nadira dari belakang.

Aku juga pernah membeli jalan yang bisa dipakai orang lain untuk mempertanyakanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!