Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Meng Shan yang baru saja mengangkat kapaknya langsung menurunkannya kembali dengan wajah cemberut karena tidak kebagian jatah bertarung.
Xue Mingyue hanya melipat lengannya di dada, matanya menatap tajam untuk mempelajari gaya bertarung Lin Xiao yang baru.
Sembilan pembunuh itu melesatkan ratusan jarum beracun dan tebasan pedang energi yang membentuk jaring kematian tanpa celah.
Trang. Trang. Trang.
Lin Xiao melangkah maju dengan gerakan yang sangat elegan dan terukur, pedangnya berayun menangkis setiap serangan krusial.
Bilah perak kegelapan itu terasa jauh lebih ringan dan mematikan, menyerap benturan energi musuh tanpa membuat tangan Lin Xiao bergetar sedikit pun.
"Kalian terlalu lambat dan gerakan kalian dipenuhi oleh keraguan." bisik Lin Xiao yang tiba-tiba sudah berada di belakang salah satu pembunuh.
Jleb.
Pedang itu menembus jantung sang pembunuh dari arah belakang, mencabut nyawanya sebelum dia sempat menyadari rasa sakitnya.
Lin Xiao menggunakan mayat itu sebagai perisai daging untuk menahan tebasan dari pembunuh lainnya, lalu menendang dada penyerang itu hingga tulang rusuknya remuk.
Bugh.
Di tengah pembantaian brutal tersebut, Nona Yue memperhatikan setiap gerakan Lin Xiao dengan mata amethyst yang berbinar penuh perhitungan.
'Dia menyembunyikan fluktuasi energinya dengan sangat sempurna, murni mengandalkan tenaga fisik dan refleks membunuh yang luar biasa.' batin gadis misterius itu.
'Pria ini bukan sekadar kultivator berbakat, dia adalah mesin pembunuh yang terlahir dari lautan darah.'
Tiba-tiba, pemimpin pembunuh bayaran itu menyadari bahwa Lin Xiao terlalu kuat untuk dikalahkan dan memutuskan untuk mengubah target.
"Tangkap gadis bercadar itu untuk dijadikan sandera!" raung sang pemimpin melesat ke arah Nona Yue dengan kecepatan penuh.
Tiga pembunuh bayaran lainnya langsung mengikuti komando tersebut, mengarahkan pedang mereka ke leher Nona Yue.
Lin Xiao melirik dari sudut matanya, namun dia sama sekali tidak bergerak untuk menolong sekutu barunya tersebut.
'Mari kita lihat seberapa besar taring yang disembunyikan oleh kucing cantik ini.' batin Lin Xiao membiarkan serangan itu terjadi.
Melihat ancaman yang datang mendekat, Nona Yue hanya menghela napas pelan layaknya seorang putri yang diganggu oleh lalat kotor.
Gadis itu mengangkat tangan kanannya yang seputih salju dengan gerakan yang luar biasa gemulai.
Wush.
Sebuah energi spiritual yang memancarkan cahaya perak layaknya sinar bulan purnama meledak dari telapak tangan Nona Yue.
Energi itu melesat dan melilit leher keempat pembunuh bayaran tersebut seperti pita sutra yang tidak terlihat.
"Tarian Bulan Sabit Kematian." bisik Nona Yue dengan suara merdunya.
Krak. Krak. Krak.
Pita energi itu menyempit secara drastis dalam hitungan detik, mematahkan tulang leher keempat pembunuh bayaran tingkat Inti Emas Akhir itu secara serempak.
Mereka berempat mati seketika dengan mata melotot, tubuh mereka jatuh bergelimpangan di depan ujung gaun Nona Yue tanpa menyentuh gadis itu sedikit pun.
Melihat pemandangan itu, roh Kaisar Bayangan di dalam Dantian Lin Xiao langsung tertawa pelan.
'Teknik manipulasi ruang tingkat tinggi yang disamarkan sebagai sihir cahaya.' nilai roh kuno tersebut dengan akurat.
'Bocah, gadis ini pasti memiliki latar belakang yang sangat menakutkan di pusat benua ini.'
Lin Xiao tersenyum tipis, merasa sangat puas karena dugaannya tentang kekuatan tersembunyi gadis itu terbukti benar.
Pemuda itu mengalihkan pandangannya kembali ke arah sisa pembunuh bayaran yang kini berdiri mematung dalam ketakutan yang absolut.
Mereka dihadapkan pada dua orang monster yang bisa membunuh ahli Inti Emas Akhir semudah mematahkan ranting kering.
"Kami menyerah! Kami akan mengembalikan uang bayaran ini!" jerit salah satu pembunuh menjatuhkan senjatanya dan bersujud.
Namun bagi Lin Xiao, kata menyerah dari seorang musuh hanyalah lelucon murahan yang tidak memiliki nilai sama sekali.
Wush.
Bayangan Lin Xiao melesat membelah sisa-sisa pembunuh itu, pedang peraknya menari meninggalkan jejak garis merah di udara.
Dalam waktu kurang dari lima tarikan napas, seluruh pembunuh bayaran itu telah jatuh tak bernyawa dengan tenggorokan terpotong rapi.
Pertarungan berdarah itu berakhir secepat kilat, menyisakan Tuan Muda Lu yang kini berdiri sendirian dengan celana basah karena mengompol ketakutan.
Pemuda arogan dari Istana Bayangan Bulan itu jatuh terduduk ke tanah, kakinya tidak lagi memiliki tenaga untuk melarikan diri.
"J-jangan bunuh aku... kumohon..." ratap Tuan Muda Lu saat Lin Xiao berjalan perlahan mendekatinya.
"Ayahku adalah Tetua Penegak Hukum di Istana Bayangan Bulan, jika kau membunuhku, kau tidak akan bisa hidup di pusat benua ini!"
Lin Xiao berhenti tepat di depan pemuda yang sedang menangis tersedu-sedu itu, memandangnya dengan tatapan kosong yang mematikan.
"Ancaman yang sangat membosankan, aku sudah mendengarkan ancaman ini sejak cerita ini dimulai, aku harap ayahmu memiliki kata-kata yang lebih bervariasi saat aku memenggal kepalanya nanti." bisik Lin Xiao menundukkan badannya.
Sss.
Lin Xiao menempelkan telapak tangan kirinya ke atas dahi Tuan Muda Lu tanpa mencabut pedangnya.
Dia melepaskan dosis mematikan dari Racun Peluruh Tulang secara langsung ke dalam aliran darah pemuda bangsawan tersebut.
"A-apa yang kau... Aaaarrghh!" jerit Tuan Muda Lu terputus seketika saat kulit wajahnya mulai meleleh menjadi cairan hitam kental.
Hanya dalam waktu beberapa detik, tubuh pemuda arogan itu hancur tanpa sisa, meninggalkan genangan racun yang meresap ke dalam tanah hutan.
Bahkan pakaian dan tulang belulangnya tidak tersisa, menghapuskan seluruh jejak forensik keberadaannya di dunia ini.
Nona Yue menatap metode eksekusi tanpa jejak tersebut dengan kening sedikit berkerut.
"Racun korosif tingkat tinggi." gumam Nona Yue berjalan mendekati Lin Xiao.
"Kau benar-benar tidak menyisakan ruang untuk belas kasihan sedikit pun, Tuan Lin Xiao."
Lin Xiao berdiri dan menepuk debu dari jubahnya, lalu menyarungkan kembali pedang peraknya yang telah puas meminum darah.
"Belas kasihan adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh orang mati, Nona Yue." jawab Lin Xiao dengan sangat rasional.
"Aku lebih suka menjadi monster yang hidup daripada orang suci yang mati membusuk di pinggir jalan."
Gadis bercadar sutra itu menghela napas pelan, namun tidak membantah filosofi kejam dari sekutu barunya tersebut.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan kita." ajak Nona Yue memimpin langkah kembali.
"Pintu masuk menuju Domain Bintang Jatuh berjarak beberapa mil dari sini, dan kita harus tiba sebelum matahari terbenam untuk menyelaraskan segel petanya."
Lin Xiao memberikan isyarat kepada Meng Shan dan Xue Mingyue untuk segera mengikuti langkah gadis misterius itu.
Penyergapan pertama di wilayah pusat benua ini telah diselesaikan tanpa perlu membongkar identitas kultivasi Lin Xiao yang sesungguhnya.
Namun jauh di dalam hutan yang gelap itu, reruntuhan kuno dari Kaisar Ilusi Bintang telah menunggu untuk menguji batas kewarasan dan kekuatan mereka berdua.
Sebuah tempat di mana kebohongan dan rahasia tidak akan bisa disembunyikan lagi dari tatapan kematian.