NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran

Kamis siang. Hujan gerimis yang dingin mengguyur kota Oxford, membungkus bangunan-bangunan batu tua St. Jude’s dengan suasana syahdu.

Sesi praktikum Biokimia Lanjut baru saja usai lima menit yang lalu. Kebanyakan mahasiswa sibuk membereskan alat-alat kaca sambil mengeluh tentang kerumitan laporan minggu ini.

Rory melepaskan jas laboratorium putihnya, melipatnya dengan rapi, lalu memasukannya ke dalam ransel. Saat ia menyelesaikan tali tasnya, Julian berjalan mendekati mejanya. Pria itu sudah mengganti jas labnya dengan mantel trench coat cokelat gelap berpotongan elegan.

"Siap untuk berangkat, Rory?" tanya Julian pelan, suaranya halus tapi tetap terdengar wibawa di tengah hiruk-pikuk kelas yang mulai sepi.

Rory mendongak, menyunggingkan senyum tipis. "Siap, Julian."

Beberapa pasang mata mahasiswa baru yang masih berada di ruangan sempat melirik heran melihat Julian memegang payung hitam besar dan melangkah keluar berdampingan dengan Rory Vance. Namun, Julian tidak mengindahkan tatapan-tatapan itu sedikit pun.

Kafe kecil bernama The Copper Kettle terletak di sebuah gang berbatu yang tenang, tak jauh dari Museum Ashmolean. Suasananya sangat hangat dan tersembunyi: interior berbahan kayu tua, lampu gantung berwarna keemasan, dan aroma biji kopi yang dipanggang bercampur bau kue kayu manis.

Julian membukakan pintu kayu kafe untuk Rory, membiarkan gadis itu masuk lebih dulu sebelum ia melangkah masuk dan mengibaskan sisa air hujan dari payungnya.

Mereka mengambil tempat duduk di sudut dekat jendela kaca besar yang menghadap ke gang basah.

"Tempat yang sangat menyenangkan," komentar Rory jujur sambil memandangi dekorasi kafe yang hangat. "Aku kira seorang Radcliffe hanya tahu restoran berbintang lima dengan taplak meja sutra."

Julian tertawa pelan sebuah tawa yang renyah dan lepas. Pria itu melepas mantelnya dan menggantungnya di sandaran kursi.

"Leo yang memberi tahu tempat ini dua tahun lalu," kata Julian sambil menatap Rory. "Dan sejujurnya...aku lebih menyukai tempat-tempat seperti ini. Di sini tidak ada orang yang peduli siapa nama belakang keluargaku."

Seorang pelayan datang membawakan dua cangkir cappuccino hangat dan sepotong pie apel panggang.

Selama setengah jam pertama, suasana makan siang itu berlangsung sangat menyenangkan. Mereka mengobrol tentang banyak hal di luar kuliah mulai dari buku favorit, pandangan hidup, hingga kebiasaan lucu Gemma dan Leo yang makin hari makin tidak terpisahkan.

Rory melihat sisi lain dari Julian Radcliffe pria itu ternyata punya selera humor yang cerdas, pendengar yang sangat menghargai pendapat orang lain, dan memiliki kehangatan luar biasa di balik perawakan dinginnya.

Namun, ketenangan itu mendadak terusik ketika suara denting bel pintu kafe berbunyi.

Seorang gadis jangkung dengan gaun wol desainer ternama dan mantel bulu putih melangkah masuk. Penampilannya sangat glamor, memancarkan aura kelas atas yang pekat.

Mata gadis itu menyapu ruangan, hingga akhirnya berhenti tepat pada meja Julian.

"Julian? Oh my God, ini beneran kamu?" suara gadis itu terdengar lantang dan manja.

Julian seketika membeku. Raut santai di wajahnya mengeras dalam sekejap.

Gadis itu berjalan mendekat dengan langkah percaya diri, memandang Rory dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai yang sangat kentara dan dingin.

"Victoria," sapa Julian dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat kaku dan formal.

"Aku tidak menyangka ketemu kamu di kafe kecil seperti ini, Jul," kata Victoria sambil menyilangkan tangan di dada. Matanya kembali melirik Rory, terutama pada kemeja sederhana dan ransel kain milik Rory yang bersandar di lantai. "Dan... siapa ini? Mahasiswi junior yang butuh bimbingan akademis?"

Rory merasakan perubahan hawa di sekitar meja mereka, namun ia tetap duduk tegap dengan ketenangan penuh. Ia menatap Victoria lurus-lurus tanpa rasa minder sedikit pun.

"Victoria Vance maksudku, Victoria Montgomery," potong Julian cepat, suaranya menahan nada peringatan yang tajam. "Ini Aurora Vance, rekan mahasiswa satu jurusanku. Dan Rory, ini Victoria, teman keluarga Radcliffe."

'Teman keluarga' kata-kata itu diucapkan Julian dengan penekanan dingin.

Victoria terkekeh sinis, menyisir rambut pirangnya. "Teman keluarga? Ayahmu minggu lalu baru saja membicarakan soal aliansi bisnis dan rencana pertunangan kita di acara gala malam, Julian. Jangan pura-pura lupa."

Pertunangan.

Kata itu menghantam udara di antara mereka seperti es yang pecah.

Jantung Rory berdesir pelan. Bukan karena ia cemburu secara berlebihan, melainkan karena kata itu langsung menariknya kembali pada kenyataan keras: perbedaan dunia yang membentang lebar antara dirinya dan Julian Radcliffe.

Julian berdiri dari kursinya, matanya berkilat marah. "Victoria, ini bukan tempat atau waktu yang tepat untuk membicarakan kebohongan bisnis ayahku. Tolong jaga batasanmu."

Victoria menaikkan alisnya, menatap Julian lalu beralih menatap Rory dengan senyum meremehkan. "Terserah kamu, Julian. Tapi kamu tahu Ayahmu tidak akan pernah membiarkan nama Radcliffe disandingkan dengan...orang dari kalangan sembarangan."

Dengan gerakan anggun yang dibuat-buat, Victoria berbalik dan melangkah keluar dari kafe.

Suasana di meja sudut itu mendadak hening pekat. Hanya ada suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela.

Julian kembali duduk, tangannya mengepal tipis di atas meja. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang luar biasa saat menatap Rory.

"Rory... aku minta maaf atas perkataan Victoria," kata Julian, suaranya terdengar sangat rendah dan penuh rasa penyesalan. "Soal pertunangan itu itu hanya rencana sepihak yang dipaksakan oleh Ayahku dan keluarga Montgomery demi bisnis. Aku sama sekali tidak pernah menyetujuinya."

Rory menatap Julian. Ia mengambil cangkir cappuccino-nya yang mulai mendingin, menyesapnya perlahan untuk menetralkan degupan di dadanya, lalu meletakkannya kembali.

"Kamu tidak perlu minta maaf, Julian," kata Rory tenang. Suaranya terdengar sangat rasional, walau ada sedikit nada jarak yang membentang. "Itu urusan pribadimu dan keluargamu."

"Ini bukan cuma urusan pribadiku kalau sampai membuatmu merasa tidak nyaman, Rory!" tekan Julian pelan, ia memberanikan diri meraih tangan Rory yang tergeletak di atas meja.

Genggaman tangan Julian hangat, namun Rory tidak menarik tangannya. Ia membiarkan tangan Julian menggenggamnya, sambil menatap mata hazel yang memancarkan kejujuran murni itu.

"Julian," panggil Rory lembut, menyebut nama pria itu dengan sangat jelas. "Aku datang ke St. Jude’s untuk belajar, bukan untuk terlibat dalam drama keluarga bangsawan. Aku menghargai kebaikanmu dan waktu yang kita habiskan bersama...tapi aku juga sadar di mana posisiku."

Julian menatap mata cokelat jernih Rory. Di sana tidak ada kemarahan, yang ada hanyalah keteguhan hati dan cara pandang realistis yang sangat kuat. Dan hal itu justru membuat dada Julian makin terasa sesak.

"Jangan menarik garis batas di antara kita hanya karena orang lain, Aurora," bisik Julian penuh ketulusan, menggenggam jemari Rory sedikit lebih erat. "Aku yang memilih dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku. Bukan Ayahku, bukan Victoria... tapi aku."

Rory menatap Julian cukup lama. Kehangatan dari genggaman tangan Julian dan ketulusan dalam tatapannya perlahan melelehkan garis pertahanan yang sempat Rory bangun beberapa menit lalu.

Rory menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman tulus yang sangat menenangkan.

"Terima kasih, Julian. Tapi makan siang kita sudah dingin," kata Rory mencoba mencairkan suasana.

Julian menghela napas lega, sudut bibirnya kembali terangkat tipis melihat senyuman Rory. Ia perlahan melepaskan genggaman tangannya, meski matanya tak sedetik pun lepas dari wajah gadis di hadapannya.

"Kalau begitu, biarkan aku memesankan pie apel yang baru untukmu," balas Julian.

Hujan di luar kafe masih turun dengan derasnya, namun di dalam ruangan kecil itu, sebuah ikatan baru yang jauh lebih kuat dan diuji oleh kenyataan baru saja terbentuk di antara Aurora Vance dan Julian Radcliffe.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!