Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Bayangan yang selalu menghantui
Malam ini terasa begitu sunyi. Tidak ada satu pun notifikasi yang masuk di layar ponsel—tidak ada pesan masuk, juga tidak ada yang mengajak ngobrol lewat panggilan telepon. Suasana kamar yang senyap ini terasa sungguh berbeda dari hari hari sebelumya.
Dengan kondisi mental yang masih belum stabil, Alex menangis sejadi-jadinya di atas kasur. Dadanya terasa sesak seolah dihantam benda tebal. Dia benar-benar tidak menyangka hubungan yang sudah berjalan hampir lima tahun hubungan yang selama ini dijaganya dengan sangat baik dan penuh ketulusan harus selesai begitu saja dalam hitungan menit, tanpa tahu apa alasan pastinya.
Di tengah kesendirian malam yang semakin larut, Alex membuka galeri ponselnya. Matanya yang sembap menatap satu per satu foto kebersamaan mereka dulu. Air matanya kembali luruh, menetes tepat di atas layar kaca yang menampilkan senyum manis perempuan yang baru saja meninggalkan nya.
"Kenapa kamu tega banget sih put, gw kesepian, loo ke mana?" gumam Alex lirih. Suaranya bergetar hebat, menahan perih yang teramat dalam.
"Loo pergi ninggalin guwe tanpa ada alasan yang jelas. Loo bahkan enggak ninggalin satu clue pun... kenapa hubungan kita harus berakhir kayak gini? emang ngga ada cara yang lebih baik?” lanjutnya berbisik pada sunyi, berharap angin malam menyampaikan rasa sakitnya.
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, suara kokok ayam mulai memecah sepinya pagi. Alex terkejut, dia baru menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak bisa memejamkan mata semalaman.
"Hmm ... ah, mana hari ini ada kuliah lagi. Ngantuk banget, gimana ya?" tanya Alex pada dirinya sendiri, meratapi wajah kusamnya di depan cermin kamar.
Karena kehabisan energi akibat terjaga semalaman, Alex memutuskan untuk melewatkan rutinitas olahraga paginya. Selepas mandi dan bersiap-siap dengan pakaian kampus, Alex didera rasa ragu. Kepalanya terasa pening, dia takut mengendarai motor dalam kondisi sekacau ini. Akhirnya, dia memilih untuk menelepon Umam, sahabat dekatnya.
"Mam, jemput gue dong," ucap Alex begitu telepon tersambung.
"TUMBEN LO MINTA JEMPUT!" sahut Umam dari seberang sana, suaranya terdengar cempreng menembus speaker HP.
"Ah, berisik. Tinggal jemput doang jangan banyak tanya," potong Alex lemas, lalu mematikan sambungan telepon sepihak.
Tak butuh waktu lama hingga mobil Umam sampai di depan rumah Alex. Begitu Alex keluar, Umam langsung terbelalak. Biasanya dia selalu melihat Alex tampak segar dan rapi di pagi hari. Namun kini, sahabatnya itu berjalan gontai, kelihatan sangat lesu dengan mata yang bengkak dan sembab.
Umam menatapnya dengan nada heran sekaligus meledek, "Gini ya bentukan orang patah hati? Kelihatan habis nangis semalaman, wkwkwk."
"Berisik lo!" ketus Alex sambil membuka pintu dan langsung mengempaskan tubuhnya ke dalam mobil.
Saat mobil mulai melaju membelah jalanan pagi, Umam kembali membuka obrolan karena rasa penasarannya sudah di ujung tanduk.
"Lex, lo beneran kaga tau alasan si Putri ninggalin lo?" tanya Umam serius.
"Kan gue udah bilang, gue kaga tahu, conge!" sahut Alex, nadanya mulai meninggi karena emosinya masih sangat sensitif.
"Terus lo kaga mau cari tahu gitu?" tanya Umam lagi, masih penasaran.
"Bingung gue. Gimana mau cari tahu caranya? WhatsApp gue diblokir, telepon gue dialihkan," ucap Alex, ekspresinya berubah menjadi kebingungan yang teramat dalam.
Umam berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala di balik kemudi. "Wah, bego juga lo ya, Lex. Ya cari tahu ke temen dekatnya kek, atau samperin langsung ke rumahnya. Atau ... lo beli nomor baru kan bisa buat hubungin dia?"
Mendengar saran terakhir Umam, Alex terdiam. Kalimat "beli nomor baru" itu tiba-tiba berdengung kuat di kepalanya, menembus rasa frustrasinya. Sebuah harapan kecil yang nekat mendadak muncul di benak Alex.
Namun karena tubuhnya sudah terlalu lelah menahan kesedihan dan kantuk, Alex hanya mendesah pelan, "Ah, entah. Gimana nanti aja."
Alex menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang dingin. Matanya menatap kosong ke luar jendela, memandangi jalanan yang mulai ramai. Di tengah rasa sesak yang belum hilang dan ide nekat yang mulai berputar di otaknya, rasa kantuk yang luar biasa akhirnya merenggut kesadaran Alex. Dia pun tertidur lelap, membawa luka hatinya ke dalam mimpi.
"Lex, bangun. Sudah sampai kampus," kata Umam sambil menggoyang bahu sahabatnya itu.
Setelah turun dari mobil, dari kejauhan rupanya Marko sudah memperhatikan kedatangan Alex dan Umam.
"Woy!" teriak Marko.
Umam dan Alex sangat familiar dengan suara itu. Mereka berdua menoleh, dan Marko pun langsung berjalan menghampiri mereka.
"Mam, si Alex pasti kaga tidur semalaman ya?" tanya Marko kepada Umam setelah posisinya dekat.
Umam langsung menjawab santai, "Namanya juga patah hati, Ko."
"Wkwkwk, emang ya kalau udah patah hati pasti gitu," sahut Marko sambil tertawa mengejek Alex.
Alex hanya bisa mengerjap-ngerjap, mengusap wajahnya yang masih terasa kaku akibat bangun tidur, lalu mulai berjalan meninggalkan area parkiran. Langkah kakinya terasa begitu berat saat menyusuri koridor kampus yang mulai ramai oleh hilir mudik mahasiswa.
Pikirannya masih berkabut, namun matanya otomatis terjaga ketika menangkap sosok familier di ujung koridor dekat mading utama.
Itu Putri.
Jantung Alex mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Di sebelah Putri, ada beberapa teman kelasnya yang sedang asyik mengobrol. Secara tidak sengaja, mata mereka berdua sempat saling bertatapan selama sedetik.
Namun, alih-alih tersenyum atau menghampiri seperti biasanya, ekspresi wajah Putri langsung berubah dingin. Perempuan itu tampak salah tingkah, lalu dengan sengaja memalingkan muka dan menarik lengan temannya untuk berjalan berbalik arah, menjauh dari posisi Alex.
Putri jelas-jelas sedang menghindarinya.
Alex sempat refleks memajukan selangkah kakinya, berniat mengejar Putri untuk menagih penjelasan yang menggantung semalaman. Namun, langkah itu mendadak terkunci. Alex mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor yang padat. Bisikan-bisikan mahasiswa di sekitar dan tawa renyah di lorong itu seolah menampar logikanya.
‘Gue mau ngapain?’ batin Alex, mencengkeram tali tas ranselnya erat-erat.
Ada rasa perih yang bercampur dengan ego yang bergejolak di dadanya. Dia terpukul, tapi dia juga seorang laki-laki yang punya harga diri. Mengejar seorang perempuan yang jelas-jelas sudah membuangnya, lalu memohon-mohon di tempat seramai kampus ini, hanya akan membuat dirinya terlihat menyedihkan di mata semua orang. Alex tidak semurah itu.
"Enggak usah dikejar, Lex. Malah bikin ribut ntar," bisik Umam yang menyadari perubahan sikap sahabatnya, sambil menepuk pundak Alex pelan.
Alex menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan kasar. Dia membiarkan punggung Putri hilang di balik belokan koridor. Ego dan harga dirinya mungkin terselamatkan pagi ini, tetapi rasa penasaran yang membakar dadanya justru terasa semakin menjadi-jadi.
Jika dia tidak bisa menghadapi Putri secara langsung di dunia nyata, maka dia harus mencari cara lain di dunia maya. Kalimat Umam di mobil tadi tentang 'beli nomor baru' mendadak kembali terngiang, dan kali ini, Alex benar-benar bulat untuk melakukannya.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita