Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu Roh dan Mulut yang Terkunci
Di dalam mobil polisi yang sedang melaju mengantarkan mereka pulang, Ryan menatap langit malam dengan wajah datar tanpa ekspresi. Di sebelahnya, Rahman gemetar hebat menahan kecemasan, sesekali melirik Ryan dengan tatapan gelisah.
Walaupun dilanda ketakutan setelah melihat kejadian sebelumnya, Rahman tetap dipenuhi rasa penasaran yang kuat tentang kekuatan Ryan. Namun, saat mengingat kembali hal konyol yang dilakukan Ryan sebelumnya, ketegangannya perlahan menyusut. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Umm, Ryan?”
Ryan tidak langsung merespons. Keheningan itu seketika membuat isi kepala Rahman liar menduga-duga. Ia takut Ryan sedang kesal dan enggan diganggu. Namun, sebelum kepanikan Rahman memuncak, Ryan akhirnya menjawab dengan nada suara yang terdengar lesu.
“Iya, ada apa?”
Wah, dari caranya menjawab, sepertinya dia memang lagi malas atau lelah, pikir Rahman.
Dengan agak ragu dan mata yang lurus menatap ke depan—tidak berani melirik—ia akhirnya bertanya, “Umm… Ryan… Tadi itu apa? Bagaimana bisa kamu mengalahkannya dengan mudah?”
Rahman menunggu jawaban dengan sabar. Namun, beberapa menit berlalu tanpa ada sepatah kata pun. Diliputi rasa takut yang tersisa, ia memberanikan diri untuk perlahan menoleh.
Di luar dugaan, Ryan ternyata sudah tertidur pulas di kursinya. Kepalanya mendongak nyaman dengan mulut agak terbuka, lengkap dengan setitik air liur yang siap menetes dari sudut bibirnya.
Rahman tidak tahu harus merespons bagaimana. Ia hanya bisa menatap kosong ke arah Ryan dengan sudut bibir sedikit terangkat, tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.
Benar juga, aku masih bisa menanyakannya nanti di sekolah. Lebih baik kubiarkan saja dia seperti ini. Lagipula, ini membuatku merasa lebih tenang, pikir Rahman.
Ia memutuskan untuk melupakan sejenak rasa penasarannya dan membiarkan Ryan terus terlelap.
…
Lampu neon di langit-langit bergetar tak stabil, mengeluarkan dengungan rendah bak kepakan sayap lalat di atas mayat. Sinar redupnya yang putih pucat menyoroti bayangan aneh pada dinding beton yang lembab. Di dalam ruang interogasi bawah tanah kantor Nightguard, udara dingin menyusup terus‑menerus—sebuah rasa dingin yang tak hanya menusuk kulit, melainkan membekukan sumsum tulang.
Di bawah meja besi yang menancap keras di lantai, pria setengah baya yang tadi dijatuhkan Ryan perlahan membuka mata. Kesadarannya kembali dengan rasa sakit yang tajam. Ia mengerutkan alis, tangan gemetarnya terangkat menyentuh pangkal leher bagian belakang. Rasa yang dirasakannya kaku, panas, dan berdenyut kuat, bagai ada balok beton seberat sepuluh kilogram menekan tepat pada saraf pusatnya.
Saat kabut yang menghalangi penglihatannya perlahan memudar, hal pertama yang memaksa ia mengubah orientasinya adalah bayangan dua petugas Nightguard. Mereka Berdiri tegak, dengan tatapan sikap menyelidik yang dingin dan tak berbelas kasihan.
Sebelum pria itu sempat menyadari di mana ia berada atau sekadar mengamati ruangan yang asing, sebuah suara berat menghentikan semua kebingungannya dengan kepastian yang mutlak.
“Bagaimana? Sudah sepenuhnya sadar, Pak?”
Tepat di hadapannya, sang petugas membungkuk. Kedua tangannya menekan permukaan meja sambil memamerkan senyum tipis. Namun, wajah yang kaku seperti dinding semen itu membuat senyum polisi tampak seperti topeng semu, menyembunyikan naluri predator tertinggi yang siap menyerang.
“D-Di mana... ini sebenarnya?” kata itu merangkak keluar dari tenggorokannya yang kering.
Mengamati ruangan dengan sirkulasi udara terbatas, merasakan hawa dingin yang tak wajar serta rasa sakit yang menggerogoti setiap inci tubuhnya, pria itu sadar sepenuhnya. Ia sedang menghadapi ketakutan sejati.
"Singkatnya, saat ini anda berada di kantor Nightguard—sebut saja kantor polisi," jawab petugas di depannya. Suaranya datar, sengaja membiarkan suasana menakutkan di ruangan itu menghancurkan sisa‑sisa mentalnya.
Petugas itu kemudian membuka telapak tangannya secara perlahan. Di atas kulit sarung tangannya, tergeletak seongkah batu kecil berwarna putih pucat dan terus memancarkan pendar energi spiritual murni yang tipis, menguap ke udara seperti asap dupa yang dingin.
"Kami menemukan ini di Gang Mawar, tepat di tempat Anda ditemukan pingsan," ujar polisi itu dengan nada berat. "Berdasarkan ukurannya, kemungkinan besar ini adalah sisa-sisa dari hantu tingkat tinggi yang lenyap. Saya rasa Anda sempat dirasuki makhluk berbahaya ini, lalu dimurnikan oleh seseorang hingga akhirnya terkapar di sana. Apakah Anda ingat apa yang terjadi sebelumnya?"
Deg.
Setelah pertanyaan itu terdengar, pandangan pria setengah baya itu tiba‑tiba mengabur, berubah menjadi kabur berwarna hitam dan merah. Sakit kepala yang amat hebat menusuk pelipisnya, seakan ada paku besi yang ditancapkan ke otaknya. Kesadarannya terlempar mundur secara paksa, terseret kembali ke pagi hari di sebuah sudut pasar yang ramai.
Dalam ingatan itu, suara semua pedagang tiba-tiba menghilang. Di tengah kerumunan tampak seorang pria berjas hitam pekat dengan potongan terlalu rapi—terlalu mewah bagi pasar yang basah dan kumuh. Pria misterius itu berbalik, menatapnya. Wajahnya tak jelas, tetapi suaranya sangat lembut. Bukan suara biasa yang didengar, melainkan bisikan gaib yang merayap langsung dari dalam kepalanya, mencemari akal, dan menenangkan jiwa.
Pria paruh baya itu tersengal. Di dunia nyata, ia bersusah payah menstabilkan napasnya yang memburu. Dada ringkihnya kembang-kempis, meraup oksigen dingin di dalam ruang interogasi. Begitu merasa perang di dalam kepalanya agak mereda, ia menegakkan tubuhnya yang bungkuk. Sembari mencengkeram tepi meja besi, ia akhirnya membuka mulut untuk bersaksi.
“Sebelumnya... saat saya sedang di pasar... saya... saya bertemu dengan seseorang... dia memakai... jas necis hitam—”
Kalimat itu terputus begitu saja.
“AAAGHHH—KKKHHH?!”
Sebuah jeritan melengking yang sama sekali tidak terdengar seperti suara manusia lolos dari tenggorokannya. Pria itu mendadak menjambak rambutnya sendiri dalam histeria murni. Matanya melotot hingga urat-urat merah di bola matanya pecah, menumpahkan darah yang langsung menggenang di pelupuk mata.
Prang!
Tanpa kendali, ia menghantamkan dahinya ke meja besi di depannya. Hantaman pertama merobek kulit wajahnya, mengalirkan darah segar ke permukaan logam.
Prang!
Hantaman kedua lebih keras, menghancurkan tulang hidung dan rahangnya hingga terdengar bunyi gemertak mengerikan.
Tiba-tiba Pria itu berdiri tegak. Tubuhnya kaku seperti papan, tangannya tergantung lemas di sisi badan. Di atas wajahnya yang hancur dan bersimbah darah, bibirnya perlahan tertarik ke belakang, membentuk sebuah senyuman asimetris yang sangat lebar—sebuah senyuman gembira yang dipaksakan dari dalam, melampaui batas elastisitas otot manusia.
DUAR!!!
Kepalanya meledak dari dalam.
Bukan ledakan mesiu, melainkan tekanan domestik dari energi kutukan yang memuai secara paksa dalam satu milidetik. Darah hitam keunguan, pecahan tengkorak, dan serpihan materi organik otak seketika menyembur, mengotori meja besi, langit-langit, dan dinding ruang interogasi yang dingin.
Bau anyir yang luar biasa pekat dan menusuk langsung merajai ruangan, mengalahkan aroma dupa basah yang sempat tersisa dari tubuh pria itu.
“Ugh! Uhuk! Uhuk!”
Petugas Nightguard di sisinya terbatuk keras. Ia mundur untuk menghindari percikan darah, sambil menyingkirkan sisa riak energi kutukan hitam yang mendesis di udara setelah ledakan. Saat menyaksikan kejadian mengerikan dalam sekejap, pertahanan mentalnya runtuh. Dengan tangan yang bergetar hebat hampir menjatuhkan peralatannya, ia cepat‑cepat mengambil radio komunikator di bahunya dan melangkah keluar ruangan.
Sementara itu, petugas yang sedari tadi memimpin interogasi tidak bergerak satu sentimeter pun. Wajah dan seragam cokelat taktisnya kini basah oleh noda darah korban. Ia hanya terpaku kaku, matanya menatap kosong ke arah kursi di depannya yang kini hanya menyisakan seonggok tubuh tanpa kepala yang perlahan merosot ke lantai.
Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menyeka darah di pipinya, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan wajah pias tanpa warna.
“Pria berjas necis hitam... Taktik pembungkaman mengerikan ini...”gumamnya, suaranya bergetar menahan kengerian yang mendalam. Ini bukan lagi kasus remeh atau sekadar pelanggaran jam malam warga sipil...