Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Berani Sakiti Dia
Suara gemercik air di kamar mandi akhirnya berhenti.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka, dan Aga melangkah keluar. Wajahnya tampak segar, namun tatapan matanya sudah kembali dingin dan tegas, berbeda dengan saat dia tertidur pulas tadi. Dia mengenakan celana berwarna hitam dan kemeja putih yang belum dikancingkan sempurna, memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang bidang. Rambut hitamnya masih basah, meneteskan air yang sedikit membasahi bahu dan kerah bajunya.
Mario yang sejak tadi berdiri menunggu di sudut ruangan dengan sikap tegap, segera bergerak maju hendak membantu memakaikan dasi, tapi langkahnya terhenti saat Aga berbicara tanpa menatapnya, matanya fokus menyisir rambutnya di depan cermin.
"Mario...," ujar Aga pelan, namun suaranya terdengar berat.
"Iya, Pak?"
Aga berhenti menyisir rambutnya, lalu perlahan menoleh ke arah sekretarisnya itu.
"Tadi apa kamu ketemu sama Nadia?" tanyanya, tatapannya tajam menelisik setiap perubahan ekspresi di wajah Mario.
Mario tidak berniat menyembunyikan apa pun. Dia mengangkat dagunya, menatap balik bosnya dengan penuh keyakinan.
"Iya, Pak. Saya ketemu dia di depan pintu lift," jawab Mario lugas, tanpa basa-basi. "Dia ada hotel ini pagi buta begini. Apa tidak berbahaya, Pak? Bagaimana kalau ada yang melihat."
Wajah Aga berubah seketika. Alisnya terangkat, dan dia bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Dia tahu betul bagaimana sikap Mario jika sudah menyangkut dirinya dan keluarganya.
"Terus?" Aga melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah. "Memang kenapa kalau dia ada di hotel ini? Kamu... interogasi dia? Kamu kasarin dia?"
Mario menghela napas panjang, lalu mengangguk mantap.
"Iya, Pak. Saya interogasi dia. Saya tidak bisa bilang kalau saya kasarin dia. Tapi mungkin sikap saya memang tegas," jawab Mario tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Saya tanya apa maksud dia ada di sini pagi-pagi buta. Saya tanya apa tujuan dia mendekati Pak Aga terus-terusan. Padahal sudah jelas Nyonya Ardila menentang hubungan kalian."
Bugh!
Tangan Aga menghantam meja di sampingnya dengan keras, membuat vas bunga di atasnya bergetar hebat. Wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak.
"Kamu gila ya, Mario?!" bentak Aga, suaranya rendah namun penuh kekuatan yang menggema di seluruh ruangan. "Siapa yang kasih kamu wewenang buat bertindak seenakmu sendiri? Hah? Kamu sekretaris aku, bukan hakim atau algojo yang berhak menghakimi orang lain!"
Aga melangkah semakin dekat, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Tatapannya tajam menusuk, penuh kekecewaan yang mendalam.
"Dia perempuan! Dan dia orang yang aku sayang! Bukan musuh yang harus kamu ancam! Kenapa kamu bersikap kasar sama dia?"
"Saya enggak kasarin dia, Pak. Saya cuma...."
"Kamu enggak berhak tegas sama dia atau apa pun katamu itu, Mario!"
"Saya melakukan ini karena saya peduli! Karena saya sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Santoso! Saya nggak mau lihat Pak Aga hancur cuma karena masalah perasaan!" Mario tak kalah lantang, suaranya meninggi menandingi kemarahan bosnya, namun tetap sopan dalam penyampaiannya.
Aga menatap Mario lekat-lekat, dadanya naik turun menahan emosi. Dia tahu semua ucapan Mario itu benar secara logika. Dia tahu Mario mengatakannya demi kebaikan dirinya dan nama keluarga. Tapi... cara Mario menyakiti Nadia adalah garis yang tak boleh dilampaui.
"Kamu bisa kritik aku, kamu bisa kasih saran, itu tugas kamu," ucap Aga, suaranya mulai pelan namun terdengar sangat dingin dan menakutkan. "Tapi jangan pernah sekali-kali kamu sentuh dia, jangan pernah kamu kasarin dia, dan jangan pernah kamu rendahkan dia. Itu perintah aku, Mario. Kalau sampai aku tahu kamu ulangi lagi hal yang sama... aku nggak akan peduli berapa lama kamu kerja sama aku. Aku akan ganti kamu seketika itu juga."
Mario terdiam, mengepalkan kedua tangannya di sisi badan. Dia tahu Aga tidak main-main.
"Maaf, Pak. Tapi saya akan lakukan lagi kalau itu demi menjaga masa depan Pak Aga," ucap Mario tegas.
Aga menghela napas panjang, sangat panjang, mencoba meredakan amarah yang masih menggelegak di dadanya. Dia tidak punya energi untuk berdebat lebih lama lagi. Dia tahu, argumen mereka tidak akan pernah bertemu titik temu hari ini.
Dengan gerakan kasar namun rapi, Aga mengambil jas hitamnya, memakainya dan mengancingkan kancingnya satu per satu. Pakaian itu seperti jubah kerajaannya, ketika dia memakainya, dia kembali menjadi sosok CEO yang tangguh dan tak tersentuh.
"Sudah. Tutup mulut kamu," perintah Aga singkat. Dia merapikan kerah bajunya di depan cermin untuk terakhir kalinya. "Ayo pergi."
Aga berjalan cepat menuju pintu keluar, meninggalkan Mario yang segera mengejar langkahnya dari belakang.
Saat tangan Aga hendak membuka pintu kamar, Mario kembali berbicara. "Pak Aga, kita tidak langsung ke kantor. Bapak harus mampir dulu ke rumah utama. Nyonya Ardila sudah menunggu sejak pagi. Beliau bilang ingin sarapan bersama dan membicarakan hal penting... soal rencana pertunangan Pak Aga dengan Nona Jenna Wijaya."
Langkah Aga terhenti sesaat. Punggungnya menegang kaku. Dia tidak menjawab, tidak juga menoleh. Dia hanya mendorong pintu itu terbuka lebar, dan melangkah keluar menuju koridor yang sepi, membawa serta beban di pundaknya yang terasa semakin berat.
demi hrga dirimu...