"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Pintu kayu jati setinggi tiga meter itu tertutup dengan dentuman halus namun solid, memutus kebisingan dan tatapan menghakimi dari aula utama Addison Group. Di dalam ruangan kerja Edgar yang luasnya hampir menyamai satu unit rumah mewah, suasana mendadak senyap. Hanya ada desis pendingin ruangan dan aroma maskulin yang khas campuran kayu cendana dan wangi kesuksesan yang selalu melekat pada sosok Edgar Emiliano Addison.
Gaby menghela napas panjang, bahunya yang tadi tegak kini sedikit merosot. Ia berjalan menuju dinding kaca besar yang menyuguhkan pemandangan pencakar langit Jakarta. Di pantulan kaca, ia melihat sosoknya sendiri; Nyonya Addison yang baru. Masih terasa seperti mimpi buruk bagi musuh-musuhnya, namun seperti mimpi yang terlalu indah untuknya.
"Minum?" suara bariton Edgar memecah keheningan.
Gaby menoleh, melihat Edgar sudah berdiri di depan meja bar pribadinya, menuangkan cairan berwarna ambar ke dalam dua gelas kristal. Edgar berjalan mendekat, menyerahkan satu gelas pada Gaby. Ujung jari mereka bersentuhan, dan untuk pertama kalinya, Gaby merasakan sengatan aneh yang membuat detak jantungnya sedikit tidak beraturan.
"Terima kasih, Mas," ucap Gaby. Ia menyesap minumannya, mencoba mengusir rasa canggung yang tiba-tiba muncul. "Apa yang tadi... apa Mas tidak merasa itu terlalu berlebihan? Mengumumkan pernikahan kita di depan seluruh karyawan secara mendadak?"
Edgar menyeringai, ia menyandarkan tubuh tegapnya di tepi meja kerja yang terbuat dari marmer hitam. "Berlebihan? Bagiku, itu baru permulaan, Gaby. Aku tidak suka membiarkan anjing-anjing di luar sana menggonggong tanpa tahu siapa pemilik rumahnya. Sekarang mereka tahu kau adalah nyonyanya. Itu efisiensi waktu."
Gaby tersenyum tipis. "Mas selalu bicara soal efisiensi. Tapi, mengenai pengumuman tadi... aku pikir setelah pendaftaran di catatan sipil tiga hari lalu, kita hanya akan menjalani kehidupan pernikahan di balik pintu. Aku tidak menyangka Mas akan pasang badan sehebat itu di depan Luna dan Gavin."
Edgar meletakkan gelasnya, matanya menatap Gaby dengan intensitas yang sanggup membuat wanita mana pun luluh. "Aku tidak pernah membiarkan milikku diinjak-injak, Gaby. Meskipun itu hanya di bawah sebuah 'perjanjian'. Tapi, ada hal lain yang harus kita bicarakan."
Edgar mengambil sebuah tablet dari meja dan menggesernya ke arah Gaby. Di layar itu, terpampang berbagai desain dekorasi megah, sketsa gaun dari desainer ternama Paris, hingga daftar tamu yang berisi nama-nama menteri dan pengusaha kelas atas.
"Apa ini?" tanya Gaby bingung.
"Persiapan resepsi pernikahan kita. Aku sudah memesan Grand Ballroom di Hotel Mulia untuk bulan depan. Aku juga sudah meminta perancang gaun pengantin dari Milan untuk terbang ke Jakarta lusa. Kita akan mengadakan pesta pernikahan paling mewah tahun ini."
Gaby nyaris tersedak minumannya. Matanya membulat menatap layar tablet itu. "Resepsi? Mewah? Mas, bukankah kita sudah sah secara hukum? Untuk apa melakukan pesta sebesar ini? Di perjanjian kita, tidak ada poin tentang pesta rakyat atau resepsi jutaan dollar. Aku hanya butuh perlindunganmu untuk menghancurkan mereka, dan Mas butuh aku untuk mengelola audit internal. Itu saja, kan?"
Edgar melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Gaby bisa merasakan panas tubuh pria itu. Edgar menunduk, menatap Gaby tepat di manik matanya.
"Gaby, dengarkan aku," bisik Edgar, suaranya rendah dan sangat persuasif. "Kau seorang analis. Kau tahu cara kerja pasar. Jika aku hanya menikahimu secara diam-diam, orang-orang akan tetap menganggapmu sebagai simpanan atau wanita yang terjebak skandal. Tapi, jika aku mengadakan pesta termegah di negeri ini, aku sedang memberikan pernyataan pada dunia. Bahwa Gaby Fritzyara adalah ratu di kekaisaran Addison. Bahwa kau tidak bisa disentuh."
Gaby menggeleng pelan, hatinya bergetar. "Tapi biayanya... ini tidak masuk akal, Mas. Ini pemborosan untuk sebuah pernikahan yang dasarnya adalah kesepakatan bisnis."
Edgar terkekeh, suara tawa yang kering namun terdengar sangat seksi di telinga Gaby. Ia mengulurkan tangan, menyelipkan sehelai rambut Gaby ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut sangat bertolak belakang dengan aura dinginnya.
"Uang bukan masalah bagiku, Gaby. Anggap saja ini adalah bagian dari strategi 'pemasaran'. Aku ingin Gavin dan keluarga Fritzyara melihat setiap detail kemewahan ini dari kejauhan. Aku ingin mereka meratapi nasib karena telah membuang berlian demi sampah. Aku ingin mereka menyaksikan kau berdiri di sampingku, mengenakan mahkota yang harganya lebih mahal dari seluruh aset perusahaan ayahmu."
Gaby terdiam. Logikanya mencoba menolak, tapi nuraninya mulai merasakan sesuatu yang lain. Kenikmatan. Ya, ia mulai menikmati bagaimana Edgar memuliakannya. Selama lima tahun dengan Gavin, Gaby selalu diminta untuk sederhana, hemat dan tidak menonjol. Gavin selalu malu jika Gaby terlalu bersinar. Tapi Edgar? Edgar justru ingin menyinarinya dengan lampu sorot paling terang di dunia.
"Jadi... ini semua masuk dalam babak penghancuran Gavin?" tanya Gaby, mencoba memastikan motif Edgar.
Edgar terdiam sejenak, menatap bibir Gaby yang sedikit terbuka sebelum kembali menatap matanya. "Ya. Ini babak di mana kita membuat mereka sadar bahwa mereka bukan hanya kehilangan seorang wanita, tapi mereka kehilangan akses ke puncak dunia. Tapi selain itu..."
Edgar menjeda kalimatnya, tangannya kini beralih menyentuh rahang Gaby, membelainya pelan dengan ibu jari.
"Aku juga ingin semua pria di luar sana tahu, bahwa wanita sehebat kau sudah tidak tersedia lagi di pasar. Kau milikku, Gaby. Dan aku suka memamerkan milikku yang paling berharga."
Deg. Jantung Gaby berdegup kencang. Ia tidak tahu apakah ini masih bagian dari akting Edgar atau sesuatu yang nyata. Namun, satu hal yang pasti berada di dalam dekapan otoritas Edgar Addison terasa jauh lebih "nikmat" dan aman daripada yang pernah ia bayangkan.
"Baiklah," bisik Gaby akhirnya. "Jika ini memang bagian dari rencana Mas... aku akan mengikutinya. Aku akan menjadi Nyonya Addison yang paling sempurna untukmu."
Edgar tersenyum puas. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Gaby dengan lembut namun lama. "Itu baru istriku. Sekarang, bersiaplah. Besok kita akan mulai melakukan audit pertama kita pada divisi Gavin. Aku ingin melihat wajahnya saat kau duduk di kursi pimpinan tepat di hadapannya."
Gaby mengangguk, sebuah senyum kemenangan terukir di wajahnya. Bersama Edgar, ia bukan lagi seorang analis yang bersembunyi di balik data. Ia adalah badai yang siap meratakan siapa pun yang pernah menyakitinya.