Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Dia membereskan barangnya segera, dia sudah menghubungi temannya untuk mencarikan dirinya kontrakan dekat dengan toko.
Sejam kemudian suara ketukan nyaring terdengar tapi dia tidak peduli, dia yakin gedoran itu berasal dari ibunya yang menyuruhnya membersihkan rumah dan dia yakin kalau ibunya juga akan meminta semua gajinya karena hari ini dia gajian.
"Buka pintunya Aminah, kamu tidak dengar ibu sejak tadi memanggilmu?". Ucapnya dengan kesal semakin menggedor pintunya semakin brutal
Aminah memakai Air pond nya dan tidak peduli pada sang ibu yang ada didepan pintu kamarnya, dia sedang asyik mengemas barangnya karena besok pagi dia akan berangkat saat ibunya pergi.
Besok adalah acara keluarga ibu dan ayahnya jadi ibunya akan kesana untuk membantu begitu juga adik-adiknya sedangkan dirinya tidak pernah diajak.
"Dasar anak kurang ajar, berani sekali dia melakukan ini padaku, akan kuberi pelajaran dia". Ucapnya penuh amarah
Dia bergegas masuk kedalam kamarnya untuk mencari kunci cadangan milik kamar Aminah, dia akan membuat perhitungan pada anak itu.
Keningnya mengkerut saat berusaha membuka pintu kamar dan ternyata tidak berhasil, kunci yang dia pegang tidak bisa membuka pintu itu.
"Jangan bilang Aminah mengganti kunci kamarnya?". Cicit nya pelan .
Wajah nya memerah karena emosi naik di ubun-ubun nya.
"Kurang ajar, kalau sampai pintu ini terbuka, ibu akan beri kamu pelajaran Aminah, ibu tidak akan membiarkan kamu kurang ajar seperti ini pada ibu dasar anak durhaka". Bentaknya sambil memukul keras pintu kamar Aminah.
Gedoran keras itu membuat seisi rumah menjadi gaduh, belum lagi teriakan Halimah memenuhinya.
"Ya ampun Bu berisik sekali, ibu kenapa sih kok berisik banget?". Lisa keluar dari kamarnya menggunakan masker wajah menatap ibunya dengan kesal.
"Iya ini, ibu berisik banget, ayah sampai terbangun karena suara ibu, kan ayah mau istirahat, besok harus kerja pagi". Sungut sang suami sambil mengucek matanya yang sayu khas orang terkejut saat tidur.
"Itu Si Aminah, sejak tadi ibu menggedor pintunya tapi dia tidak membukanya, yang membuat ibu lebih kesal, dia sengaja mengganti kunci pintu kamarnya entah kapan, ibu tidak bisa membukanya dengan kunci serep". Jawabnya dengan kesal sambil mengatakan sumpah serapahnya.
Mata keduanya melotot mendengar hal itu terutama sang ayah yang kini mengepalkan tangannya, anak sulungnya itu sudah berani melawan ternyata.
Wajah kantuknya kini berubah merah dan penuh emosi, dia menyingkirkan sang istri kemudian menggedor pintu kamar Aminah dengan sekuat tenaganya.
"Aminah buka pintunya, jika tidak ayah akan dobrak pintu ini dan memberi kamu pelajaran karena sudah berani kurang ajar pada orang tua". Bentaknya dengan suara menggelegar.
Aminah yang berada didalam kamar menghela nafas, barangnya sudah selesai dia bungkus dan rapikan tinggal diangkut saja.
Dia melangkahkan kakinya kemudian membuka pintu dan langsung berjalan keluar tanpa banyak berkata.
Tapi saat dia berjalan rambutnya langsung ditarik oleh sang ayah dengan kencang, dia sedikit mengadu dan meringis tapi tidak mengeluarkan kata tapi langsung menepis tangan ayahnya dengan kasar dan menatapnya dengan tatapan datar dan dingin.
"Dasar anak kurang ajar". Umpat sang ayah melihat Aminah menepis tangannya.
Tangannya kembali dia layangkan kepada wajah Aminah tapi tangan itu ditangkap baik oleh Aminah kemudian dihempaskan
"Jangan pernah memukul ku, aku sudah bukan anak kecil yang belum bisa melapor ke polisi jika terjadi kekerasan kepadaku". Desis Aminah menahan amarah.
Sang ayah mundur satu langkah melihat amarah yang berkobar dimata sang anak dan mendengar kata polisi
"Dasar anak durhaka, apa maksudmu mu ha?, kamu mau memenjarakan ayah yang sudah membesarkan mu?". Bentak sang ibu dengan keras.
Mendengar perkataan sang ibu, tawa Aminah langsung meledak, tawa kesakitan dan penuh kepahitan, matanya berkaca-kaca menatap kedua orangtuanya dengan penuh luka.
"Membesarkan seperti apa Bu?". Ucapnya menatap ibunya dengan berani.
"Kau". Mata sang ibu membelalak melihat perlawanan sang anak
Benar kata orang, jika terus disakiti pada akhirnya akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja dan ini adalah puncak rasa sakit hati yang akan Mina ledakkan.
"Membereskan seperti apa Bu?, sejak kecil aku selalu ibu asingkan dan bedakan dengan ketiga adikku, aku selalu ibu tuntut untuk berbakti bahkan saat usiaku masih 6 tahun, apa ibu tidak pernah sekali saja perhatikan jika akulah yang paling banyak ibu dan ayah sakiti selama ini". Bentaknya dengan suara menggelegar.
Air matanya akhirnya mengalir tapi dia menghapusnya dengan kasar
"Kurang ajar". Desis sang ayah ingin maju memberi Aminah pelajaran.
"Sekali ayah melayangkan tangan kepadaku lagi, maka besok ayah akan berada dibalik jeruji besi dan dijemput didepan rumah atau kantor ayah". jawabnya menatap garang sang ayah.
Herman kembali menurunkan tangannya sambil mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih, dia hanya bisa menahan amarahnya karena tidak mau berurusan dengan polisi, bisa hancur reputasi yang dia bangun dikantornya seandainya polisi datang kesana dan menjemput dirinya karena laporan sang anak
"Kakak ini kenapa sih?, kok jadi kurang ajar seperti ini pada orangtua, nanti kakak masuk neraka loh". Kesal sang adik menatap kakaknya dengan jengkel.
"Diam dan tutup mulutmu Lisa, jika tidak mau wajah cantik yang kamu rawat pakai gajiku itu rusak karena aku hajar". Ucapnya menatap nyalang sang adik yang selalu mengompori orangtuanya untuk menganiaya dirinya.
Lisa menelan ludahnya, jagunnya naik turun karena ketakutan melihat wajah kakaknya yang kini diliputi amarah luar biasa.
"Jawab aku Bu, ibu membesarkan aku seperti apa?, ibu tidak lupa kan bagaimana anak sulung yang tidak pernah ibu anggap ini selalu tidak mendapatkan jatah makanan yang enak?, saat semua anak ibu yang lainnya diberi daging ayam, ibu hanya memberiku ceker dan kepalanya?".
Sang ibu menelan ludah, luapan emosi anaknya saat ini membuat nyalinya seakan menciut.
"Aku dibedakan sejak kecil tapi selalu ibu tuntut untuk mengerti dan memberikan yang terbaik untuk adik-adik, aku anak ibu tapi aku terasa seperti orang asing yang menumpang dan harus tahu balas Budi, terus kenapa ibu tidak melakukan itu juga kepada ketiga adikku, apa aku bukan anak ibu?". Tanyanya dengan suara bergetar hebat.
Air matanya tak berhenti mengalir, hatinya sungguh sakit dan remuk melihat sikap keluarganya saat ini bahkan sang ayah yang harusnya menjadi pelindung untuknya menjadi luka pertama yang tidak akan bisa dia hapus selamanya.
"Jangan bicara sembarangan Aminah, siapa yang memperlakukan mu seperti itu?, kamu hanya drama supaya kami melihatmu begitu". Bentaknya.
Dia berusaha membangun otoritasnya kembali atas anaknya ini, dia tidak akan membiarkan tambang emasnya ini tidak patuh.
"Oh yah, aku ratu drama yah?".Jawab Aminah terkekeh pelan.