NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Sang Mafia

Pernikahan Paksa Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia Seleb

Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Retak di Meja Makan

Elena tidak bisa tidur lagi setelah malam itu. Kata "Elena" yang keluar dari bibir Nicholas terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, meneror setiap sudut pikirannya. Apakah dia salah dengar? Apakah itu hanya igauan seorang monster yang kelelahan setelah membunuh orang? Ataukah Nicholas memang sudah tahu sejak awal?

Ketika semburat cahaya fajar pertama menembus gorden tipis kamar, Elena perlahan membuka matanya. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong dan dingin. Nicholas sudah bangun lebih dulu.

Elena mengembuskan napas lega, namun itu tidak bertahan lama. Dia harus segera bersiap sebelum pria itu kembali menyudutkannya. Setelah membersihkan diri dengan cepat, Elena berjalan ke kamar. Dari sekian banyak pakaian Alana yang serba ketat dan terbuka, dia berhasil menemukan sebuah gaun kasual rajut lengan panjang berwarna merah muda lembut yang potongannya sedikit lebih longgar. Warna pink itu setidaknya memberikan sedikit rasa aman yang familier bagi dirinya sendiri, bukan untuk Alana.

Dengan langkah ragu, Elena turun ke lantai bawah. Mansion itu terasa sangat sunyi, hanya ada suara denting piring yang samar dari arah ruang makan.

Begitu melangkah masuk ke ruang makan yang luas, Elena langsung membeku. Nicholas sudah duduk di ujung meja panjang, mengenakan kemeja hitam formal dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan guratan otot dan tato tribal yang rumit di lengannya. Di depannya terdapat cangkir kopi hitam yang masih mengepul dan beberapa lembar koran bisnis.

"Duduk," perintah Nicholas tanpa mengalihkan pandangan dari korannya. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun tetap penuh otoritas.

Elena menelan ludah, lalu berjalan memutari meja dan duduk di kursi yang paling jauh dari Nicholas.

Nicholas perlahan menurunkan korannya. Mata abu-abunya yang tajam menatap Elena dari ujung kepala sampai ujung kaki, berhenti beberapa detik pada gaun rajut pink yang dikenakannya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman sinis yang dingin.

"Merah muda?" Nicholas meletakkan korannya ke meja. "Setahuku, Alana Vance pernah memaki seorang desainer hingga menangis hanya karena sang desainer menyarankan warna pink untuk gaun musim panasnya. Dia bilang pink adalah warna untuk gadis-gadis lemah yang menyedihkan."

Jantung Elena berdegup kencang. Kebohongan ini runtuh bahkan sebelum sarapan dimulai. Dia meremas jemarinya di bawah meja, mencoba mengontrol suaranya agar tidak bergetar.

"Orang bisa berubah, Nicholas. Terutama setelah mereka dipaksa menikah dengan bos mafia," sahut Elena, mencoba membalas dengan nada ketus khas Alana untuk menutupi kepanikannya.

Nicholas tidak membalas. Dia hanya mengetuk-ngetukkan jemarinya yang panjang di atas meja kayu ek yang mahal itu. Detak ketukan jarinya terasa seperti hitungan mundur kematian bagi Elena. Pria itu kemudian memberi isyarat pada pelayan untuk menyajikan makanan.

Seorang pelayan wanita datang membawa nampan berisi sarapan, bacon panggang yang renyah, dan roti panggang mentega. Aroma makanan itu sebenarnya menggugah selera, tapi perut Elena terlalu mual karena ketakutan.

"Makan," kata Nicholas datar. "Aku tidak suka melihat barang pajanganku terlihat kurus kering dan pucat seperti mayat."

Elena mengambil garpunya dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia memotong telur di piringnya dengan mekanis, menyuapkannya ke dalam mulut tanpa bisa merasakan rasanya sama sekali. Suasana di antara mereka begitu tegang hingga suara denting garpu Elena yang membentur piring pualam terdengar sangat nyaring.

Setelah beberapa menit keheningan yang menyiksa, Nicholas tiba-tiba bersandar pada kursi kulitnya, melipat tangan di depan dada.

"Bagaimana tidurmu semalam... *Elena*?"

*Prang!*

Garpu di tangan Elena terlepas begitu saja, menghantam tepi piring dan jatuh ke atas lantai marmer. Wajah Elena seketika memucat, kehilangan seluruh pasokan darahnya. Matanya membelalak menatap Nicholas yang kini sedang menatapnya dengan tatapan seekor serigala yang berhasil memojokkan mangsa kecilnya.

"Kenapa terkejut?" Nicholas bertanya dengan nada suara yang sangat tenang, terlalu tenang, yang justru terdengar seratus kali lebih mengerikan daripada bentakan. "Kau mengira penyamaran bodoh yang direncanakan oleh ayah pengecutmu itu akan berhasil mengelabuiku?"

Elena bangkit dari kursinya secara refleks, melangkah mundur hingga kursinya berderit nyaring di atas lantai. "Kau... sejak kapan kau tahu?" bisiknya dengan suara yang bergetar hebat.

Nicholas ikut bangkit. Sosoknya yang tinggi besar tampak begitu mengintimidasi di bawah cahaya lampu kristal. Dia melangkah perlahan memutari meja panjang itu, mendekati Elena yang terus melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding dingin ruang makan.

"Sejak awal," jawab Nicholas dingin. Dia berhenti tepat di depan Elena, mengurung tubuh gadis itu dengan meletakkan kedua tangannya di dinding di sisi kanan dan kiri kepala Elena. Aroma maskulin dan tembakau dari tubuh Nicholas kembali mengepung indra penciuman Elena.

"Kau pikir aku bodoh, Elena?" Nicholas menundukkan kepalanya, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Elena.

"Aku tahu Alana kabur ke London dua jam sebelum aku datang ke rumahmu. Aku tahu Arthur Vance tidak punya pilihan selain menumbalkan putri keduanya yang tidak pernah dianggap ada. Aku tahu segalanya."

Air mata ketakutan yang sejak semalam ditahan Elena akhirnya menetes membasahi pipinya. "Jika kau sudah tahu... kenapa kau tetap membawaku? Kenapa tidak membunuh kami semua malam itu?"

Nicholas mengulurkan satu tangannya yang besar, jemarinya yang kasar mengusap air mata di pipi Elena dengan kelembutan yang aneh, namun sentuhan itu justru membuat Elena merinding. Ibu jari Nicholas bergerak turun, mencengkeram dagu Elena dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik mata abu-abunya yang kelam.

"Karena Alana Vance terlalu tidak berguna untuk menjadi bidak di rumahku. Dia berisik, egois, dan bodoh," bisik Nicholas, suaranya rendah dan serak di dekat bibir Elena.

"Sedangkan kau... kau tenang, patuh, dan matamu... matamu menyimpan dendam yang sama denganku pada keluarga Vance."

Nicholas melepaskan cengkeramannya di dagu Elena, lalu mundur satu langkah, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Kau ingin kebebasanmu, kan? Dan aku ingin Arthur Vance membayar seluruh utangnya hingga sepeser terakhir," kata Nicholas dengan senyum dingin yang misterius.

"Mulai hari ini, mainkan peranmu sebagai Alana di depan publik dan musuh-musuhku. Patuhi semua perintahku, dan jangan pernah berpikir untuk lari. Jika kau setia, aku akan memberikan apa yang kau inginkan setelah semua ini selesai."

Elena mengatur napasnya yang memburu, menatap pria iblis di hadapannya. Dia tidak punya pilihan lain. Dia sudah masuk terlalu dalam ke sarang serigala.

"Dan jika aku menolak?" tantang Elena, mencoba mencari sisa-sisa keberaniannya.

Nicholas menatapnya datar, seolah pertanyaan Elena hanyalah lelucon kecil. "Maka malam ini juga, kepala Arthur Vance akan dikirimkan ke meja belajarmu dalam kotak hadiah berwarna merah muda. Kau ingin mencobanya?"

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!