Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03 Ingin Turun Takhta
3 Hari Kemudian...
Desi menatap tumpukan dokumen dihadapannya dengan jenuh. Tangan kecilnya yang sudah bergetar seolah kehilangan tenaga berusaha untuk mengambil pena bulu disampingnya. Terdapat kantung mata hitam diwajahnya, ini adalah bukti kalau selama tiga hari dirinya tidak mendapatkan istirahat yang cukup.
Ya, Desi sudah paham kalau dirinya sekarang adalah seorang Maharani Agung yang bertanggung jawab atas kekaisaran ini. Ia sudah menerima takdir barunya tersebut.
Dirinya sekarang bukanlah Desi si pekerja korporat. Ia sekarang adalah Maharani Agung Zhang Da Xie yang harus mengurus dokumen dihadapannya ini.
Benar! Mulai sekarang ganti panggilan kalian dari Desi si pekerja korporat menjadi Da Xie si pekerja rodi!
Brak!!
Da Xie tiba-tiba memukul meja dihadapannya sekuat tenaga.
Tidak bisa. Tidak bisa begini!
Seharusnya dirinya berpindah tubuh agar terbebas dari pekerjaan dan dokumen menumpuk. Bukannya malah terus bekerja keras seperti ini. Malahan, rasanya kerjaannya sekarang lebih banyak dibandingkan ketika dirinya masih menjadi pegawai kantoran.
Dirinya tak mau bekerja! Ia ingin-nya bersantai-santai saja hidup sederhana sembari meminum secangkir kopi dan menikmati pemandangan alam yang indah.
Brak!!
Pintu ruang kerja didobrak oleh seseorang. Dia adalah dayang biasa yang selalu melayani Da Xie. Dayang itu berkata, "ada apa Maharani Agung? Saya mendengar suara ribut. Apakah ada musuh yang ingin menyakiti anda?"
"Tidak... Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong karena kau sudah berada disini, Aku ingin bertanya kepadamu." Ucap Da Xie kepada Dayang tersebut.
"Silahkan, Maharani Agung bisa bertanya banyak hal kepada saya." Dayang itu membungkuk memberi hormat. Siap menjawab pertanyaan dari Da Xie.
Da Xie bingung, ia tak tahu harus mulai dari mana. "Hm... Intinya sih, apakah ada cara agar aku tidak perlu bekerja?" Da Xie mulai mengajukan pertanyaan-nya.
"Apa?" Dayang tersebut terlihat bingung.
"Ah... Kalau anda tidak mau bekerja. Maka anda harus menyelesaikan pekerjaan anda." Dayang itu menjawab dengan rasional.
Namum mendengar jawaban tidak memuaskan itu malah membuat Da Xie sebal. "Tidak! Pekerjaan sebanyak ini mana mungkin bisa selesai. Berikan cara lain!"
Dayang itu terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab kembali, "Kalau begitu anda tinggal turun takhta saja."
"Turun takhta?" Da Xie tertarik dengan usulan tersebut.
Benar juga. Kenapa Da Xie tidak memikirkan-nya sejak awal?
Jika ia turun takhta, maka dia tidak akan perlu mengurusi dokumen membosankan ini. Walau sebagai gantinya dirinya harus menjadi rakyat jelata dan harus mengurusi ladang, tetapi itu lebih baik daripada menjadi Maharani oke!
"Kau benar, aku tinggal menjadi Maharani yang buruk lalu diturunkan dari takhta! Itu ide yang jenius!!" Teriak Da Xie senang.
Dayang itu terlihat kaget dengan ungkapan Da Xie itu, ia langsung menghentikan Da Xie agar tidak melaksanakan ide gilanya itu.
"Maharani Agung , jika anda menjadi Maharani yang buruk. Maka bisa-bisa anda akan digantung. Saya sarankan anda tidak melakukan itu!" Teriak Dayang tersebut panik.
"Uhuk!!"
Da Xie tersedak mendengar ucapan Dayang. Benar juga, ini adalah era kuno dimana kalau kau berbuat kejahatan besar maka kau bisa digantung dan mati, bukannya dipenjara beberapa tahun saja karena punya koneksi.
Da Xie benar-benar lupa soal itu!
"Ugh... Berarti aku tidak boleh berbuat berlebihan agar tidak digantung... Tetapi setidaknya masih ada cara lain untuk turun takhta bukan?" Da Xie bergumam pada dirinya sendiri.
Dayang itu terlihat kebingungan dengan ucapan Da Xie. Dia tambah kebingungan lagi kala Da Xie tiba-tiba tertawa seperti orang gila.
"Hahahahaha, akhirnya aku bisa terbebas dari perkejaan memuakkan ini!!" Teriak Da Xie kegirangan.
Dayang itu panik melihat tingkah laku Da Xie. "Ya Ampun!! Maharani Agung, jangan bilang anda sakit lagi?!!"
...****************...
Adipati Yan kini sedang dalam perjalanan menuju ruang kantor Da Xie, dirinya baru saja dipanggil dayang untuk kesana. Ia bertanya-tanya kira-kira kenapa Da Xie memanggilnya.
Setelah sampai didepan pintu ruang kerja. Adipati Yan membuka pintu dan masuk secara perlahan. Ia melongok masuk dan mendapati Da Xie yang sedang membaringkan kepalanya dimeja kerja dengan wajah se-pucat mayat.
"Maharani Agung! Apa yang terjadi dengan anda?!" Tanya Adipati Yan dengan panik. Ia segera menghampiri Da Xie.
"Ah... Akhirnya kau datang... Aku sudah menunggumu." Da Xie menjawab pelan, ia berusaha bangkit dengan susah payah.
"Salam Maharani Agung, saya Yan menghadap anda." Ucap Adipati Yan memberi salam.
Da Xie hanya tersenyum ringan. Ia mempersilakan Adipati untuk duduk. Setelah itu, Da Xie mulai menjelaskan alasan mengapa dirinya memanggil Adipati Yan.
"Jadi, Adipati Yan apa kau tahu alasan kenapa aku memanggilmu?" Tanya Da Xie.
Adipati Yan menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia tidak tahu. Dirinya saja tidak diberitahu. Apa Maharani berpikir kalau dirinya adalah cenayang yang mengetahui segala hal, haha...
"Intinya sih, aku dengar kalau aku ingin membuat kebijakan baru, maka aku harus berkompromi dengan orang yang turut serta mengerjakan tugas kekaisaran. Untuk itulah aku memanggilmu, Adipati Yan." Jelas Da Xie.
"Jadi, apa sekarang kau paham alasan kenapa aku memanggilmu?" Lanjut Da Xie kepada Adipati Yan yang sedari tadi mendengarkan dengan seksama.
"Ya? Apa anda ingin saya memanggilkan orang yang turut serta mengerjakan tugas kekaisaran?" Balas Adipati Yan dengan polosnya.
Da Xie menepuk jidatnya sendiri. Sebenarnya pria ini mendengarkan ucapannya atau tidak sih? lagipula bukankah Adipati Yan adalah orang yang turut serta mengerjakan tugas kekaisaran.
Da Xie menghela nafas sebal. Ia sudah lelah karena pekerjaannya dan tidak ingin tambah lelah menghadapi Adipati dihadapannya tersebut.
"Bukan itu maksudku! Alasan aku memanggilmu kesini, itu karena aku ingin membuat kebijakan baru!!" Da Xie menjelaskan dengan gemas.
"Ohh." Adipati Yan menganggukkan kepalanya tanda paham.
1 menit...
2 menit...
3 menit...
"Ya ampun!! Sebenarnya kau paham ucapanku tidak sih?!!" Da Xie geram sendiri. Kenapa Adipati Yan malah diam dan merespon dengan 'Ohh' saja. Tidakkah dia ingin menanyakan kebijakan baru apa yang dibuat, atau pertanyaan sejenisnya?
"Ah... Ya! Jadi, kebijakan seperti apa yang ingin anda buat?" Akhirnya Adipati Yan membuka suara.
Da Xie menatap sebal kearah Adipati Yan. Ia memutar bola matanya dengan malas dan menyimpangkan tangannya tanda dirinya benar-benar kesal dengan pria itu.
Adipati Yan yang melihat reaksi Da Xie langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maafkan hamba Maharani Agung, Akhir-akhir ini hamba kurang tidur karena banyak yang harus dikerjakan, jadi hamba kurang fokus menjalankan aktivitas."
Da Xie berusaha tenang. Dia bisa memaklumi alasan Adipati Yan itu. Sepertinya bekerja mengurus kekaisaran ini memang berat.
'Huh... Untungnya aku akan segera turun takhta. Jadi tidak perlu bekerja disini lagi haha...' Batin Da Xie senang.
Akhirnya setelah Da Xie benar-benar tenang. Ia mulai menjelaskan tujuannya kepada Adipati Yan.
"Begini Adipati Yan. Aku ingin menurunkan harga ekspor batu bara kita ke kerajaan lain." Jelas Da Xie.
Adipati Yan menatap kearah Da Xie dengan heran. Kenapa Da Xie tiba-tiba ingin menurunkan harga ekspor batu bara-nya? Padahal selama ini tidak ada masalah dengan harganya.
"Mohon maaf Maharani Agung, tetapi batu bara adalah barang ekspor utama kekaisaran kita. Jika kita menurunkan harga, bisa-bisa kita akan rugi besar." Ucap Adipati Yan sembari membungkuk.
Da Xie tahu kalau batu bara adalah bahan ekspor utama kekaisaran ini. Ia juga tahu kalau hal ini bisa membuat kekaisaran rugi besar. Tetapi itu memang rencananya. Jika ia bisa membuat kekaisaran rugi besar, maka para rakyat akan murka.
Pada saat rakyat murka itulah, Da Xie akan berkata kalau ini kelalaian-nya akibat salah mengambil keputusan. Lalu akhirnya Da Xie bisa turun takhta dengan dalih dirinya adalah orang yang lalai.
Benar-benar rencana yang sempurna.
"Kata siapa kita akan rugi? Sudahlah, kau percaya saja padaku. Apa kau mempertanyakan keputusan Maharani Agung ini?" Da Xie terlihat sedih saat mengucapkan kalimat akhirnya.
"Tidak. Hamba tidak mungkin berani. Baiklah, hamba akan menginformasikan hal ini kepada bagian pengelolaan ekspor-impor kekaisaran." Ucap Adipati Yan.
Akhirnya Adipati Yan membungkuk dan pamit undur diri. Begitu melihat Adipati Yan keluar dari ruangan, Da Xie tersenyum senang.
"Hehehehehe... aku akan turun takhta dan bisa lepas tangan dari semua dokumen ini!" teriak Da Xie senang.