NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Goresan pertama

Suara denting alat makan perak beradu dengan piring porselen halus mengisi ruang makan keluarga Anabella yang luas. 

Ting. Crak. 

Agnesa mengiris omelet jamurnya menjadi potongan-potongan kecil yang presisi, hampir simetris satu sama lain.

 Di seberang meja, sang ayah sedang membaca koran digital di tablet, sementara ibunya menyesap jus jeruk dengan punggung yang tegak lurus pada sandaran kursi.

​"Agnes, bagaimana persiapan ujian praktik biologi minggu depan?" Suara ibunya memecah keheningan dengan intonasi yang terkontrol.

​Agnesa mengunyah potongan omeletnya pelan sebelum menjawab. "Sudah delapan puluh persen, Ma. Tinggal menyempurnakan klasifikasi taksonominya."

​"Pastikan seratus persen. Mama tidak ingin nilai biologi kamu turun lagi seperti kuis bulan lalu. Sembilan puluh lima itu batas bawah, bukan target."

​Agnesa tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Ia menatap butiran merica hitam di atas telurnya.

Sembilan puluh lima itu bagus. Banyak orang senang dapat delapan puluh. Kenapa merica ini tidak hancur sempurna?

​Bzzzt. Bzzzt.

​Ponsel Agnesa yang diletakkan di samping piring bergetar. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Agnesa melirik sekilas, lalu kembali fokus pada piringnya. Namun, getaran itu kembali muncul.

Agnesa meletakkan garpunya. Tangannya bergerak merapikan letak serbet di pangkuannya yang sebenarnya sudah rapi. 

Ia tidak segera mengambil ponselnya, namun matanya terus tertuju pada sudut layar yang berkedip.

 Ibunya melirik ke arah ponsel tersebut dengan satu alis terangkat.

​"Siapa, Agnes? Jam makan siang adalah waktu keluarga," tegur ayahnya tanpa mengalihkan pandang dari tablet.

​"Sekretaris OSIS, Pa. Sepertinya soal proposal kemarin," bohong Agnesa lancar. 

Ia meraih ponselnya, jempolnya menggeser layar dengan cepat.

​0812-xxxx-xxxx: Gue di depan rumah lo.

​Agnesa berhenti bernapas selama satu detik. Paru-parunya seolah lupa cara mengembang. 

Ia segera mengetik balasan dengan jari yang bergerak secepat kilat.

​Agnesa: Siapa ini? Jangan bercanda.

​0812-xxxx-xxxx: Naren. Buka gerbangnya. Panas.

Tengkuk Agnesa mendadak terasa dingin. Ia merasakan sensasi geli yang aneh menjalar dari ujung jari hingga ke bahunya.

 Ia menelan ludah, suaranya terdengar seperti bunyi klik di tenggorokannya yang kering.

 Ia melirik ke arah jendela besar yang menghadap ke gerbang depan rumah, namun tertutup tirai tipis.

​"Ma, Pa, sepertinya Agnes harus ke depan sebentar. Ada berkas yang harus ditandatangani segera. Kurirnya sudah di depan," kata Agnesa sambil berdiri.

​"Kurir hari Sabtu?" Ibunya menatap curiga.

​"Urgent, Ma. Soal pendaftaran lomba debat." Agnesa tidak menunggu jawaban lebih lanjut. 

Ia melangkah cepat meninggalkan ruang makan, mengabaikan seruan ibunya tentang "etika di meja makan".

​Begitu sampai di teras, udara panas Sabtu siang langsung menyambutnya.

 Di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi, sebuah motor sport hitam terparkir dengan mesin yang sudah mati.

 Sosok yang duduk di atasnya masih memakai helm full-face, kemeja hitamnya basah oleh keringat, menempel ketat di punggungnya yang lebar.

​Agnesa berjalan mendekat, langkahnya sedikit terburu-buru hingga hampir tersandung kerikil di jalan setapak taman. 

Plak, plak, plak.

 Suara flat shoes-nya beradu dengan beton.

​"Naren! Kamu gila?" desis Agnesa begitu ia sampai di balik jeruji gerbang.

​Naren melepas helmnya. Rambutnya yang biasanya acak-acakan kini lebih berantakan dan lepek karena keringat. Ia menyeka dahinya dengan punggung tangan yang kotor oleh bekas oli.

Naren menatap Agnesa dari balik jeruji gerbang. 

Agnesa berdiri kaku dengan gaun rumahnya yang bersih dan mahal, sementara Naren tampak seperti baru saja keluar dari bengkel.

 Naren merogoh saku kemejanya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah kumal dan terlipat tidak beraturan.

​"Gue mau kasih ini," kata Naren. Suaranya serak.

​Agnesa mengernyit. "Apa ini? Surat pernyataan? Kan bisa hari Senin."

​"Bukan. Ini daftar kebutuhan markas yang bakal kita pake buat kegiatan sosial bulan depan. Gue mau lo acc sekarang biar Venzo bisa belanja sore ini."

​Agnesa meraih kertas itu melalui celah gerbang. 

Tangannya sempat bersentuhan dengan jari Naren yang kasar dan hangat. Ia segera menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api.

​"Kamu jauh-jauh ke sini cuma buat ini? Kamu bisa kirim foto lewat WhatsApp, Naren!"

​Naren menyandarkan motornya pada standar samping. 

Klak. 

"Ponsel gue lowbat. Dan gue nggak suka nunggu balasan lo yang biasanya baru dibalas tiga jam kemudian."

​Agnesa membuka lipatan kertas itu. Isinya berantakan; tulisan tangan yang sulit dibaca, coretan di sana-sini, dan ada noda minyak goreng di sudut kanan atas.

​"Ini... ini tidak bisa dibaca, Naren. Apa ini? 'Satu karton mi instan' atau 'Satu karton mi lidi'?" Agnesa menunjuk sebuah baris tulisan.

​"Instan. Lo kira kita mau jualan di depan SD?" Naren mendengus.

 Ia melihat ke arah rumah Agnesa yang besar dan sunyi. "Rumah lo gede banget. Lo nggak kesasar kalau mau ke kamar mandi?"

​"Jangan bicara yang tidak relevan. Dan kenapa kamu tahu alamat rumah saya?"

​Naren mengangkat bahu. "Gampang nyarinya. Tanya anak-anak OSIS juga pasti tahu rumah 'Sang Ratu'."

Naren melangkah satu langkah lebih dekat ke gerbang, membuat wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari jeruji besi.

 Agnesa secara refleks mundur selangkah, namun ia berhenti dan kembali maju, menolak untuk terlihat terintimidasi.

 Posisi mereka kini dipisahkan oleh besi dingin yang menjadi batas dua dunia yang sangat berbeda.

​"Kamu harus pergi sekarang. Orang tua saya ada di dalam," bisik Agnesa penuh tekanan.

​"Kenapa? Takut mereka tahu lo temenan sama anak gang motor?"

​"Kita tidak berteman, Naren. Kita... rekan kerja di sekolah. Dan itu pun terpaksa."

​Naren menatap mata Agnesa cukup lama. Tidak ada amarah di sana, hanya rasa ingin tahu yang dingin.

 "Lo selalu ngomong seolah hidup lo itu skripsi yang harus sempurna ya, Nes?"

​Agnesa terdiam. Di kepalanya, ia sedang menghitung berapa detik lagi ibunya akan menyusul keluar jika ia tidak segera kembali. 

Satu, dua, tiga... kenapa pot bunga di pojok itu miring? Seharusnya petugas taman merapikannya kemarin.

​"Pergi, Naren. Saya akan periksa daftar ini dan saya kirim revisinya lewat chat nanti malam."

​"Gue butuh tanda tangan basah. Venzo bilang kalau nggak ada tanda tangan lo, bendahara sekolah nggak bakal cairin dana talangan."

​"Ya Tuhan..." Agnesa memijit pel pangkal hidungnya. "Tunggu di sini. Jangan bergerak. Jangan nyalakan mesin motor. Jangan merokok."

​Agnesa berbalik dan lari kecil menuju rumah. Ia masuk ke ruang kerja ayahnya, mengambil pulpen dan stempel OSIS yang selalu ia bawa di dalam tas.

​Crek.

​Suara pintu ruang makan terbuka. Ibunya berdiri di sana, memegang serbet. "Agnes? Lama sekali. Mana kurirnya?"

​"Sudah pergi, Ma! Agnes cuma ambil pulpen yang ketinggalan!" teriak Agnesa sambil terus berlari kembali ke luar.

​Di gerbang, Naren masih di sana. Ia sedang asyik memperhatikan seekor semut yang merayap di atas tangki bensin motornya. Ia tampak sama sekali tidak peduli dengan kegentingan yang dirasakan Agnesa.

Agnesa meletakkan kertas itu di pilar semen gerbang. Ia menandatanganinya dengan sentakan tangan yang kasar, membuat ujung pulpennya hampir merobek kertas. 

Ia menekankan stempel OSIS dengan sekuat tenaga hingga bunyinya terdengar Buk! di udara siang yang terik.

​"Nih. Puas?" Agnesa menyodorkan kertas itu kembali.

​Naren mengambilnya, melipatnya asal-asalan, dan memasukkannya ke saku belakang celana jin-nya yang becek. "Makasih, Bu Ketua."

​"Dan satu lagi, Naren." Agnesa menatapnya tajam. 

"Jangan pernah ke sini lagi tanpa janji. Ini rumah, bukan markas ZENTRIX."

​Naren memakai helmnya kembali. Suaranya terdengar berat dari balik kaca helm yang gelap. "Tergantung. Kalau lo susah dihubungi, gerbang lo bakal jadi tempat nongkrong favorit gue."

​Brummm!

​Naren menyalakan mesin motornya. Suara knalpotnya yang menggelegar memecah keheningan kompleks perumahan elit itu.

 Beberapa burung di pohon depan rumah terbang terkejut. Ciap, ciap!

​"Naren! Matikan! Berisik!" teriak Agnesa, namun Naren hanya melambaikan tangan tanpa menoleh dan memacu motornya pergi, meninggalkan bau bensin dan asap tipis di depan rumah mewah itu.

​Agnesa berdiri di sana sampai suara motor itu hilang sepenuhnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lari, melainkan karena rasa takut yang bercampur dengan sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti.

​Ia berbalik dan berjalan perlahan menuju pintu rumah. 

Saat ia sampai di teras, ia melihat ibunya berdiri di depan pintu kaca, menatap ke arah gerbang dengan ekspresi yang sulit dibaca.

​"Tadi itu siapa, Agnes?" tanya ibunya dingin.

Agnesa berhenti tepat di depan ibunya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, lalu ia menatap ibunya tepat di mata.

 Ia membuka mulut seolah ingin menjelaskan sesuatu, namun ia menutupnya kembali. Ia hanya mengangkat bahu pelan dan berjalan masuk melewati ibunya tanpa suara.

​"Hanya anak sekolah yang tidak tahu sopan santun, Ma," ucap Agnesa akhirnya saat ia sudah berada di tangga menuju kamarnya.

​"Mama tidak suka kamu berhubungan dengan anak-anak seperti itu. Seragamnya saja tidak rapi."

​Agnesa tidak menyahut. Ia masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

 Klak.

​Ia menjatuhkan diri ke kasur yang empuk dan beraroma lavender. Matanya menatap langit-langit kamar. 

Di tangannya, ia masih merasakan sisa kehangatan dari ujung jari Naren tadi. Ia melihat telapak tangannya sendiri.

 Ada sedikit noda hitam tipis di sana. Bekas oli dari tangan Naren.

Agnesa bangkit dan berjalan menuju wastafel di dalam kamarnya. Ia menghidupkan keran, mengambil sabun cair beraroma mawar, dan mulai mencuci tangannya.

 Ia menggosok telapak tangannya lama, memperhatikan busa putih yang perlahan berubah menjadi sedikit keruh. 

Namun, setelah noda itu hilang, ia tidak segera mematikan air. Ia membiarkan air dingin itu mengalir melewati jari-jarinya selama hampir satu menit, matanya menatap kosong ke arah lubang pembuangan.

​Kenapa dia harus datang sendiri? Kenapa dia tidak minta Abyan saja?

​Agnesa berjalan kembali ke meja belajarnya. 

Ia membuka laptopnya, namun perhatiannya teralih pada sebuah bingkai foto di sudut meja. Foto dirinya saat memenangkan lomba pidato nasional tahun lalu. 

Di foto itu, ia tersenyum, namun senyumnya tampak kaku, seolah ia sedang menahan napas agar posenya tetap sempurna.

​Ia teringat wajah Naren tadi. Naren tidak peduli pada pose. Naren tidak peduli pada seragam basah. Naren tidak peduli pada aturan jam makan siang.

​Dia sangat mengacaukan segalanya, gumam Agnesa.

​Ia mengambil ponselnya kembali. Masih tidak ada pesan baru dari Naren. Ia membuka profil WhatsApp Naren. Tidak ada foto profil, hanya sebuah kutipan pendek di kolom bio: "Jangan lupa rem."

​Agnesa mendengus kecil. "Rem? Dia bahkan tidak tahu di mana letak rem untuk mulutnya sendiri."

​Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar. Bukan dari Naren, melainkan dari grup OSIS.

​Arion: Woy, tadi si Bos beneran ke rumah Agnesa? Gila, nekat banget tuh anak.

​Abyan: Hahaha, gue bilang juga apa. Naren mah kalau udah niat, gerbang surga aja bakal dia gedor.

​Venzo: Berisik, Yan. Fokus ke acara sosial aja.

​Agnesa segera menutup aplikasi itu. Wajahnya terasa panas. Jadi satu geng itu tahu Naren ke rumahnya? Ini adalah bencana reputasi. Jika berita ini sampai ke telinga guru-guru, posisinya sebagai ketua OSIS teladan bisa terancam.

​Ia berjalan menuju jendela, menyibak tirai tipis. Jalanan di depan rumahnya kembali sunyi. Hanya ada beberapa daun kering yang tertiup angin, berputar-putar di tempat motor Naren tadi berhenti.

"Besok hari Minggu," ucap Agnesa pada ruangan yang kosong. 

"Hari Minggu berarti tidak ada sekolah. Tidak ada sekolah berarti tidak ada Naren."

Ia mengatakan itu dengan nada yang sangat tegas, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sangat bahagia dengan fakta tersebut. 

Namun, ia tidak segera beranjak dari jendela, melainkan terus menatap jalanan kosong itu selama beberapa menit lagi.

​Ia teringat kertas kumal yang ditandatanganinya tadi. Daftar kebutuhan markas.

 Di antara barisan mi instan dan beras, ada satu tulisan di pojok bawah yang hampir terhapus. 

​Susu cokelat kotak - 1.

​Itu bukan kebutuhan sosial. Itu barang satuan. Dan Naren suka susu cokelat? Bayangan Naren yang dingin dan menyeramkan sedang minum susu cokelat kotak di pinggir jalan membuat Agnesa ingin tertawa, namun ia menahannya.

​"Manusia aneh," bisiknya.

​Agnesa kembali ke meja belajarnya. Kali ini ia benar-benar membuka buku biologinya.

​Klasifikasi taksonomi... Kingdom Animalia... Phylum Chordata...

​Ia mencoba membaca dengan suara keras untuk mengusir bayangan Naren dari kepalanya. 

Namun, setiap kali ia membaca kata "Chordata", ia teringat garis rahang Naren yang tegas saat ia melepas helmnya tadi. 

Setiap kali ia membaca kata "Reptilia", ia teringat mata Naren yang tajam namun memiliki sorot yang sulit dijelaskan—seperti seekor predator yang sedang bosan.

​Ia menutup buku itu dengan suara Brak! yang keras.

​"Ini tidak akan berhasil," keluhnya.

​Ia bangkit dan pergi menuju dapur, berniat mengambil segelas air dingin.

 Di sana, ia melihat asisten rumah tangganya sedang merapikan belanjaan. Ada sekotak susu cokelat di atas meja dapur.

​Agnesa menatap kotak susu itu lama.

Tangannya terulur hendak mengambil kotak susu tersebut, namun ia segera menariknya kembali dan malah mengambil botol air mineral dingin. 

Ia meneguk air itu dengan cepat, mencoba mendinginkan suhu tubuhnya yang entah mengapa terasa sedikit naik.

​"Non Agnes mau susu cokelat? Biar saya tuangkan ke gelas," tawar asisten rumah tangganya.

​"Tidak perlu, Bi. Saya tidak suka yang manis-manis," jawab Agnesa cepat, terlalu cepat.

​Ia segera kembali ke kamarnya, mengabaikan tatapan bingung sang asisten.

​Sabtu siang itu berlanjut dengan lambat. Matahari mulai condong ke barat, bayangan pohon-pohon besar di taman rumah Agnesa mulai memanjang, menyerupai jari-jari raksasa yang mencoba meraih bangunan mewah itu.

​Agnesa menyadari satu hal yang menakutkan bagi dirinya yang menyukai keteraturan: hari ini, untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun hidupnya, ia tidak lagi merasa sepenuhnya memegang kendali atas jadwalnya sendiri.

 Ada sebuah anomali bernama Naren yang telah masuk ke dalam sistemnya, dan variabel itu menolak untuk dihapus.

​Ia membuka jendela kamarnya sedikit, membiarkan udara sore masuk. 

Di kejauhan, ia mendengar suara mesin motor yang sangat samar. Mungkin itu bukan motor Naren, mungkin itu hanya imajinasinya. 

Namun, Agnesa mendapati dirinya sedang mendengarkan suara itu dengan penuh perhatian, sampai suara itu benar-benar hilang ditelan hiruk pikuk kota Bandung.

​"Senin masih lama," gumamnya, kali ini dengan nada yang tidak lagi terdengar seperti sebuah keluhan, melainkan seperti sebuah antisipasi yang ia sendiri takut untuk akui.

Di atas pilar semen gerbang depan rumah Agnesa, ada sesuatu yang tertinggal.

 Sebuah tutup pentil ban motor berwarna hitam yang sepertinya terjatuh saat Naren tadi menyandarkan motornya. 

Benda kecil itu tergeletak di sana, luput dari perhatian Agnesa, berkilat di bawah sinar matahari sore seolah-olah menjadi sebuah tanda wilayah yang telah ditandai.

​Dunia domestik Agnesa yang rapi dan terencana baru saja mendapat goresan pertama. Dan seperti sebuah lukisan mahal yang tergores, perhatian orang justru akan tertuju pada goresan itu, bukan pada keindahan yang tersisa.

​Agnesa kembali duduk di kursinya, menarik napas dalam-dalam, dan mulai menulis jadwal untuk hari Minggu.

​07:00 - Bangun.

07:30 - Sarapan.

08:00 - Belajar Fisika.

...

19:00 - Cek revisi daftar kebutuhan Naren.

​Ia menatap baris terakhir itu cukup lama sebelum akhirnya menutup buku agendanya dengan perlahan. 

Sabtu siang yang panas akhirnya mulai mendingin, namun di dalam diri Agnesa, sebuah api kecil baru saja menyala, dan ia tidak tahu bagaimana cara memadamkannya.

BERSAMBUNG…

Bab Selanjutnya ➜

"Zo, lo punya sarung tangan plastik?"

"Buat apa?"

Naren Ikut Aturan Agnesa? Yuk Kepoin Kisahnya di Bab 4: Catatan Merah

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!