NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

angin sebelum badai

*Bab 3*

Malam ini terasa sangat berat bagi Nayla.

Ia sedang membereskan barang untuk persiapan besok ketika suara ketukan terdengar—_tok, tok, tok_.

Nayla menoleh. Ia berdiri, melangkah ke arah pintu.

_Klik._

Pintu terbuka.

Sosok itu tersenyum hangat di ambang pintu. Nayla langsung mengulurkan tangan, menggenggamnya pelan, lalu membimbingnya masuk menuju dipan.

“Ibu kenapa ke sini?” ucapnya khawatir. “Ibu kan harus istirahat.”

Benar—sosok itu adalah ibunya. Perempuan kecil dengan rambut yang sudah sedikit beruban di pelipis. Tubuhnya terasa lebih ringan dari yang Nayla ingat.

“Ibu baik-baik saja,” jawabnya pelan, senyumnya tak berubah.

Pandangannya jatuh sebentar pada tas-tas besar di sudut kamar—koper setengah tertutup, tumpukan baju terlipat rapi di atas kasur. Lalu naik lagi, menatap wajah Nayla.

Ada sesuatu di sana. Antara takut dan tegang yang berusaha disembunyikan.

“Kamu baik-baik aja kan, Nak?” Tangannya terangkat pelan, merapikan anak rambut Nayla yang turun ke dahi.

Nayla memaksakan senyum. “Nayla baik-baik aja, Bu.”

Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat—jari-jari kurus yang dingin itu—berusaha menyembunyikan sesuatu yang mengendap di dadanya sejak sore tadi. Sesuatu yang belum punya nama, tapi terasa berat.

Ibunya menghela napas panjang. Ia tahu anaknya sedang berbohong, bukan dengan kata-kata, tapi dengan senyum.

“Kamu nggak bisa bohongin Ibu, Nak,” suara ibunya lembut, tapi tepat sasaran. “Ibu tahu.”

Nayla menunduk. Tidak menjawab.

“Kalau kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa,” tangan ibunya mengusap punggung Nayla pelan, naik turun, seperti dulu waktu Nayla kecil dan tak bisa tidur karena takut gelap. “Ibu nggak maksa kamu untuk cerita.”

Hening sebentar.

“Tapi Ibu hanya ingin berpesan.”

Nayla akhirnya mendongak, menatap wajah ibu.

> “Ingat, Nak… di sana nanti kamu bukan cuma dokter. Kamu jadi harapan terakhir orang-orang yang nggak punya siapa-siapa. Sembuhkan mereka, tapi jangan lupa sembuhkan dirimu sendiri juga.”

Lampu dapur yang redup memantul di wajah Nayla. Ia menunduk dalam, jemarinya meremas ujung kemeja hingga kusut. Suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh suara kipas di sudut ruangan.

“Maafin Nayla, Bu…”

Ia mengangkat wajah sebentar, matanya berkaca. “Nayla cuma takut Ibu kesusahan nanti kalau Nayla tinggal.”

Ibunya tak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, seolah menahan semua kata yang ingin meluncur. Lalu pelan, kedua telapak tangannya yang kasar karena kerja naik, menangkup pipi Nayla. Hangat. Tenang.

Ibu jarinya mengusap pelan pipi Nayla, menghapus bayangan air mata yang belum jatuh.

“Kalau cuma itu yang kamu khawatirin, Ibu kuat kok. Lagian kan ada Bik Marni sama adikmu juga, Rian.”

Nayla menganggukan kepalan lalu memeluk ibunya erat, seolah takut kalau dilepas, sosok itu akan hilang. Bau minyak kayu putih yang biasa Ibu pakai sebelum tidur menempel di kerah bajunya. Hangat. Menenangkan.

“Ya, udah kalau gitu,” suara Ibu pelan, serak karena ngantuk.

“Kamu lanjutin gih beres-beresnya. Ibu mau ke kamar. Ibu udah ngantuk, mau tidur.”

Nayla melepas pelukan. “Iya, Bu.”

Ibunya lalu menunduk, mencium keningnya sebelum beranjak. Ciuman itu singkat, tapi cukup buat bikin mata Nayla panas.

Nayla mengangguk pelan.

“Jangan terlalu malam tidurnya,” pesan Ibu terakhir kali sebelum berbalik.

Langkahnya pelan menjauh, suara sendalnya di lantai makin lirih sampai akhirnya pintu kamar ditutup dengan bunyi _klik_ pelan.

Setelah pintu kamar tertutup, sunyi langsung jatuh ke ruangan itu. Bukan sunyi yang kosong, tapi sunyi yang berat—seolah semua kata yang belum sempat diucap dia dan ibunya masih menggantung di udara.

Nayla berjongkok di samping koper terakhir. Tangannya gemetar kecil saat menarik ritsleting yang macet di bagian sudut. _Krek… sret._ Suaranya nyaring di tengah keheningan. Setelah terkunci rapat, koper itu jadi bukti kalau perpisahan ini beneran akan terjadi.

Nayla berdiri pelan, lututnya sedikit kaku karena duduk terlalu lama. Ia berjalan pelan menuju ranjang, lalu menjatuhkan diri tanpa sempat melepas kerudung. Matanya menatap langit-langit yang retak seperti peta jalan yang nggak jelas arahnya.

Di luar, ayam jago belum berkokok. Tapi di dalam kepala Nayla, hari esok sudah berisik.

Besok.

Besok ia akan meninggalkan kota kecil ini, dan merasakan hidup yang sama sekali berbeda dari yang ia kenal.

 

 

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!