Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.
Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.
Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.
Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenggelam dalam Getir Masing-Masing
"Nggak, Pa. Aku udah 28 tahun. Aku berhak menentukan masa depanku sendiri. Dan aku memilih Amara," tegas Sagara dengan ekspresi serius bak tak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.
Napas Pak Darma pun memburu sehingga dadanya naik turun dengan cepat. Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar seakan ingin membuang perasaan tak nyaman dalam dirinya. Tatapannya pun beralih pada Amara yang sedari tadi diam di samping Sagara.
"Amara, apa kamu yakin menikah dengan Sagara? Nggak mau dipikir-pikir lagi?" tanya Pak Darma dengan suara merendah dan sedikit bergetar.
"Saya yakin. Mas Sagara sangat baik kepada saya," jawab Amara lembut dan berusaha setenang mungkin.
Mas? Boleh juga akting dia. Nggak perlu susah-susah ngasih tau jadinya. Dia pintar beradaptasi dan tahu bagaimana menempatkan diri. Puji Sagara dalam hati.
"Kalau ternyata Sagara tak sebaik yang kamu bayangkan bagaimana?" tanya Papa Darma masih berusaha menggoyahkan pendirian gadis polos itu.
"Pa, bisa nggak sih sekali aja percaya dengan pilihan aku? Bisa nggak sih berhenti jelek-jelekin aku? Aku ini udah gede. Aku berhak menjalani hidup sesuai dengan keinginanku. Tolong bebaskan aku dari segala ekspektasi Papa!" sela Sagara dengan suara sedikit meninggi dan penuh penekanan.
"Kurang bebas apa, Ga? Bebasmu itu sudah kelewatan. Kamu sadar nggak? Kamu nggak pernah mau dengerin omongan Papa dan Mama," bentak Pak Darma sambil mengepalkan tangan dan menahan diri agar tak melayangkannya pada Sagara.
Sagara pun menunjukkan lirikan sinis dan tersenyum sebelah bibir kepada papanya. Ia pun berjalan mendekati Pak Darma dengan langkah pelan dan punggung sedikit membungkuk angkuh.
"Aku pernah kan menjadi anak manis dan penurut. Semua yang Mama dan Papa ingin, aku ikuti. Bahkan, sampai aku lupa keinginanku sendiri. Apa pernah kalian mau memahami keinginanku? Kalian menyuruhku kursus musik, tapi aku ditentang menjadi DJ. Kalian menyuruhku belajar bisnis, tapi aku diremehkan ketika membuka coffeshop. Kalian menyuruhku menekuni olahraga, tapi aku ditentang boxing. Why? Aku udah nurut kan? Tapi kalau pilihanku tak sesuai ekspektasi kalian, bukankah wajar?" sahut Sagara tak kalah membara emosinya.
"Tapi pilihanmu itu egois. Hanya untuk kesenangan sesaat. Pilihanmu itu nggak punya masa depan yang pasti. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Lihatlah Mas Dirga! Dia sukses menjadi CEO karena dia nurut," bantah Pak Darma dengan suara lebih berat.
"Mas Dirga. Mas Dirga. Dan Mas Dirga. Ya terus-teruskan kalian bandingin aku sama anak kesayangan kalian! Aku memang nggak pernah membanggakan. Aku memang nggak pernah nurut. Tapi, di situlah aku menemukan cara menjadi diriku sendiri. Di situlah aku menemukan keinginanku sendiri," keluh Sagara penuh emosi dan kepalan tangannya sudah gemetar hebat.
Mendengar perdebatan makin sengit, Opa Hendra pun turun tangan sebelum anak dan bapak itu baku hantam. Opa berjalan pelan dan berdiri di antara Sagara dan Pak Darma yang sudah saling melayangkan tatapan menusuk dengan tangan mengepal.
"Sudah! Malu! Lihatlah Nak Amara bingung melihat kekanak-kanakan kalian," sambar Opa Hendra sambil memegangi pundak anak dan cucunya yang sudah menegang.
Melihat Amara hanya diam tak berkutik, Oma Sari pun segera beranjak dan mendekati Amara. Namun sebelum berhasil mengajak Amara duduk, tiba-tiba, tangan Sagara lebih cepat mencekal pergelangan tangan gadis itu.
"Lebih baik pergi dari sini. Dengan atau tanpa restu kalian, aku akan tetap menikahi Amara!" tegas Sagara tak bisa diganggu gugat.
Masih dengan amarah yang memuncak, Sagara pun menarik tangan Amara dan membawanya keluar dari kediaman keluarganya tanpa pamit sama sekali. Bahkan, ia tak peduli penggilan Oma Sari dan Opa Hendra yang memintanya untuk tetap tinggal.
Sesampainya di mobil, Sagara pun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Ia membawa Amara menempuh perjalanan tanpa tahu ke mana tujuannya. Setelah jauh dari rumah, ia mulai memelankan laju mobil dan perlahan menjemput tenangnya sendiri.
"Ayo kita urus dulu pengunduran dirimu. Setelah itu, fokus ke pernikahan kita," ucap Sagara tanpa menoleh dan ekspresi namun nada suaranya melembut.
"Apa nggak terlalu buru-buru? Sepertinya orang tuamu nggak setuju," sahut Amara ragu.
"Aku nggak peduli orang tuaku setuju atau enggak. Aku cuma butuh warisan dari Opa itu. Aku mau lepas dari kekangan mereka dan menjalankan bisnisku sendiri tanpa banyak dicampuri. Mau sampai kiamat pun pilihanku akan tetap salah di mata mereka," tegas Sagara tak ragu sama sekali.
Amara pun memilih diam karena tak ingin ikut campur terlalu dalam terkait masalah Sagara. Statusnya sebagai calon istri kontrak membuat ia harus lebih membatasi diri dengan privasi lelaki itu. Sesungguhnya, ingin sekali ia mengusap punggung lelaki itu namun ia tak punya nyali untuk melakukannya. Melihat gap mereka terlalu tinggi, ia tak ingin meletakkan harapan terlalu jauh dan tak mau berinteraksi terlalu intens karena tentu sangat sadar diri.
"Bisa kembali ke kafe? Aku nggak bisa ninggalin motorku lama-lama di kafe. Itu pemberian nenekku meski hanya motor tua," pinta Amara sambil menangkupkan kedua tangan di dada.
Sagara pun melirik sekilas tanpa menoleh. Kemudian, ia kembali fokus ke jalan sambil tersenyum tipis.
"Motormu sudah diamankan karyawanku. Tenang aja," jawab Sagara lebih tenang.
Mulut Amara pun membulat, "Oh, jadi Denara...?"
"Iya itu kafe yang diremehkan orang tuaku. Denara: Denisa—Sagara. Coffee shop adalah impian besarku dan aku meletakkan Denisa di sana karena bersamanya adalah harapan terbesarku saat ini," terang Sagara spontan dengan wajah penuh harap meski tersirat kebimbangan karena belum juga menemukan tanda-tanda di mana kekasihnya berada.
"Beruntung sekali menjadi Denisa," sambut Amara terenyuh.
"Aku lebih beruntung memilikinya. Karena dia, aku bisa menemukan mimpiku sendiri," sanggah Sagara penuh kebanggaan pada kekasihnya.
Amara pun mengangguk-angguk. Kemudian, ia mengalihkan pandangan keluar jendela. Diam-diam, kesedihan pun menyapa lirih dalam hatinya. Ada perasaan aneh tatkala menyadari bahwa lelaki yang akan menjadi suaminya ternyata menyimpan perasaan sebesar itu kepada perempuan lain. Namun ia segera menampik perasaan itu karena tak seharusnya ia merasa iri atau sakit atas hal yang bukanlah menjadi ranahnya.
...****************...
Sebelum menuju ke rumahnya, Amara pun mengajak Sagara untuk ke rumah kepala sekolah tempatnya mengajar terlebih dahulu, Pak Heri. Beruntung, sesampainya mereka di sana ternyata Pak Heri baru saja pulang dari bepergian. Dengan berat hari, ia pun menyampaikan maksud kedatangannya, yakni mengundurkan diri sebagai pengajar di sana.
"Kenapa harus resign, Nduk? Apakah ada yang membuatmu nggak nyaman di sekolah? Kami akan kehilangan guru yang telaten dan berdedikasi tinggi seperti Mbak Mara," tanya Pak Heri tulus dan sangat menyayangkan keputusan Amara.
Amara pun hampir menangis mendengar pertanyaan dan perhatian Pak Heri yang selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Ia tak mampu menjawab pertanyaan Pak Heri karena bingung juga bagaimana cara menjelaskan bahwa ia akan menikah, sedangkan pernikahan yang dijalaninya tak seindah orang lain.
"Mohon maaf saya menyela, Pak. Perkenalkan saya Sagara, calon suami Amara. Jadi, alasan Amara mengundurkan diri karena kami akan melangsungkan pernikahan lusa dan Amara akan ikut saya tinggal di kota. Tetapi, tidak masalah jika Amara harus menetap di sini sementara waktu sampai Bapak menemukan guru pengganti. Kami ikut bagaimana baiknya menurut Bapak saja," papar Sagara dengan nada dan ekspresi sangat sopan.
"Alhamdulillah. Kenapa tidak mengabari dari jauh-jauh hari, Nduk? Saya tentu sangat bahagia mendengar kabar baik ini," ucap Pak Heri berseri-seri.
"Ini juga mendadak, Pak. Kemarin-kemarin sibuk dengan prosesi pemakaman nenek sampai nggak terpikir untuk mengabari siapa pun. Selain itu, maksud saya ke sini juga mau minta tolong Bapak untuk menjadi saksi di pernikahan saya. Apakah Bapak bersedia?" tanya Amara sedikit berbohong untuk menenangkan prasangka yang tak diinginkan.
Sagara sempat tertegun dan tak menyangka bahwa Amara dapat melanjutkan cerita yang ia karang dengan serius.
"Sungguh suatu kebanggaan bisa menjadi saksi pernikahan kalian. Tentu saya sangat bersedia," jawab Pak Heri sambil menepuk pelan pundak Sagara, lalu ia melanjutkan, "Semoga acara lancar dan kalian bisa menjadi keluarga sakinah mawadah wa rahmah. Pesan saya. Nak Sagara, tolong jaga dan sayangi Amara sebaik mungkin. Dia sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Terlebih saya menjadi saksi dalam pernikahan kalian, kalau sampai kamu menyakiti Amara, maka orang pertama yang akan menuntut adalah saya."
Amara sangat terharu mendengar ucapan tulus Pak Heri. Ia sampai menitikkan air mata membayangkan bahwa yang mengatakan itu adalah bapaknya sendiri. Kesedihan pun tak dapat dibendungnya lagi. Kalau mungkin bapak masih hidup, mungkin ia tak harus menjalani hidup serumit itu.
"Hei, kenapa calon manten malah menangis? Sudah. Berbahagialah. Mungkin ini hadiah dari doa-doa dan kesabaranmu setelah berbagai kesulitan yang kamu hadapi selama ini, Nduk," tutur Pak Heri ikut berkaca-kaca melihat Amara tak dapat membendung air matanya.
Pak Heri pun berdiri dan pamit sebentar, "Sebentar, ya. Saya panggilkan Ibu dulu. Pasti Ibu sangat bahagia mendengar kabar ini."
Amara pun mengangguk sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya benar-benar pecah dan tak bisa dihentikan sama sekali. Ada banyak hal yang ia tangisi sampai tak tahu mana yang membuatnya sepedih ini. Selama ini, semua kepahitan benar-benar ia telan sendiri hingga tak tahu getir mana yang sedang ia sapa saat ini.
Hadiah? Bahagia? Bahkan, sebelum pernikahan ini terjadi, yang kupikirkan hanyalah berbagai kemungkinan terburuk yang akan terjadi nanti dan bagaimana menyiapkan diri untuk perpisahan yang tak bisa kuprediksi kedatangannya. Setelah kepergian Nenek, nggak ada yang bisa menerima kehadiranku seutuh itu. Rintih hati Amara meratapi nasibnya sendiri.
Menyaksikan Amara sesenggukan, dada Sagara mendadak sesak. Ada pedih yang teramat dalam di balik tangisan tanpa suara itu. Tangannya pun refleks tergerak untuk mengusap punggung Amara berharap dapat memberinya sedikit ketenangan.
Tak lama kemudian, dengan langkah cepat, Bu Rusmini (istri Pak Heri) mendekati Amara dengan wajah bahagia. Amara pun segera berdiri menyambut kehadirannya. Tanpa banyak kata, ia pun memeluk erat Amara dengan berurai air mata dengan haru yang membiru.
"Alhamdulillah, Nduk. Ibu sangat bahagia," tangis hari Bu Rusmini sambil menepuk punggung Amara dengan lembut.
"Iya, Bu. Terima kasih selama ini sudah membantu saya dan nenek dalam banyak hal. Saya pasti akan selalu mengingat kebaikan Ibu dan Bapak meski hanya Allah yang bisa membalas," sahut Amara terbata-bata karena isaknya sendiri.
"Pokoknya sampai kapan pun, kamu akan menjadi anak Ibu dan Bapak. Jangan sungkan-sungkan kalau mau ke sini. Ibu akan selalu menunggu cerita-cerita suka duka kalian," ucap Bu Rusmini sambil melepas pelukannya.
"Ibuu..." tangisan Amara pun makin pecah sampai badannya terguncang dan gemetar.
Mendengar rintihan Amara yang begitu memilukan, Pak Heri dan Sagara hanya bisa menunduk sambil menyeka air yang tiba-tiba menyudut di pelupuk mata mereka.
Apa aku salah melibatkan Amara dalam hal ini? Sepertinya hidupnya selama ini tak mudah sama sekali. Tanya hati Sagara merasa bersalah dan mulai meragukan niatnya sendiri.
Dengan penuh kasih sayang, Bu Rusmini pun memegang pipi Amara yang sudah banjir oleh air mata. Ia pandangi wajah gadis itu dengan rasa iba yang sangat bahkan terlampau dalam. Gadis yatim piatu sejak umur 10 tahun dan harus berjuang keras bersama neneknya dalam menghadapi berbagai kesulitan. Masih basah diingatannya, gadis kecil kelas 4 SD yang datang ke rumahnya dan meminta Pak Heri mengantar neneknya yang sakit ke puskesmas sambil membawa seplastik singkong sebagai imbalan yang ia mampu. Bu Rusmini masih ingat betul percakapan pertama mereka.
"Ibu, Pak Heri ada? Saya Amara, murid Pak Heri di kelas 4," tanya Amara kecil dengan isak yang masih kentara.
"Sebentar, ya, Nduk. Bapak sedang mandi. Sebentar lagi selesai kok. Masuk dulu yuk," ajak Bu Rusmini terkesan dengan kesopanan Amara.
"Ndak usah, Ibu. Nanti tolong bilang aja ke Pak Heri kalau Nenek Amara sakit. Tolong antarkan ke puskesmas. Tapi, Amara cuma punya ini buat bayar," ucap Amara sembari menyerahkan seplastik singkong dengan mata memohon
Ingatan itu selalu menghangatkan sekaligus mengiris hati Bu Rusmini. Dan ia tak menyangka, di usia Amara yang masih muda dan baru meniti karier, gadis itu pun harus menerima kenyataan pahit bahwa sang nenek pergi untuk selamanya. Ia bahkan tak dapat membayangkan bagaimana gadis itu masih berdiri sekuat ini selepas hancur dihantam ujian hidup yang datang bertubi-tubi.
"Nduk, lihat Ibu," pinta Bu Rusmini menatap Amara dalam-dalam.
Amara pun mengangkat wajah dan membalas tatapan Bu Rusmini. Dadanya berdebar mendapati raut Bu Rusmini mendambakan kejujuran.
"Ibu sangat bahagia kamu akan segera menikah. Semoga berjodoh selamanya, ya. Kamu bahagia, kan?" tanya lirih Bu Rusmini penuh kelembutan sekaligus penekanan.
Amara pun mendadak tersentak. Lidahnya menjadi kelu. Mulutnya sedikit membuka seakan ingin menjawab namun tak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Nduk, kamu bahagia, kan?" ulang Bu Rusmini memastikan dan berharap besar untuk diiyakan.