Elisa Marino, Putri Mafia Yang Masuk Ke Dalam Tubuh Putri Mahkota Karena Bantuan Penyihir Juga Atas Persetujuan Putri Mahkota Itu Sendiri
Tanpa Di Ketahui Elisa Marino, Putri Mahkota Itu Memiliki Banyak Musuh Yang Tersebar Di Seluruh Kerajaannya, Beritanya Pun Tersebar Sampai Keluar Kerajaan
Bagaimana Elisa Marino Mengubah Pandangan Orang Mengenai Dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.TiyaD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertukar Tubuh
Elisa Mulai Menembak
Tembakan Kedua Elisa Mengenai Ban Mobil Di Sebelah Kiri Bagian Belakang, Mobil Itu Pun Kehilangan Kendali Dan Berputar Mengenai Mobil Di Sebelahnya
Tembakan Keempat Elisa Mengenai Sopir Mobil Di Depan Bagian Kiri
Terakhir, Elisa Membuat Mobilnya Berputar Lalu Ia Melompat Keluar Dari Dalam Mobilnya Sambil Menekan Remot Kontrol Dan Mobil Elisa Pun Meledak Di Ikuti Oleh Dua Mobil Musuh
Marco Menggenggam Erat Ponselnya Sambil Melihat Rekaman Cctv Yang Berada Di Lokasi Elisa
Bernad Dan Yang Lain Datang
Elisa Yang Terlempar Cukup Jauh, Awalnya Ia Baik-baik Hanya Terluka Di Beberapa Bagian Tubuhnya, Sampai Ia Bertemu Dengan Septian Yang Juga Selamat Karena Melompat Dari Dalam Mobil
"Ha, Sial" Batin Elisa Menahan Sakit
Septian Mengarahkan Senjatanya Dengan Tangan Kirinya, Karena Tangan Kanannya Patah Pada Elisa Yang Berusaha Berdiri
"Awalnya Aku Tidak Ingin Membunuh Mu Sayang, Karena Aku Benar-benar Mencintai Mu"
"STOP YOUR BULLSHIT YOU FUCKING BASTARD, ITU TERDENGAR MENJIJIKAN" Jawab Elisa Marah
Septian Tersenyum "Tapi Karena Ayah Angkat Mu Itu" Menatap Elisa Dengan Dingin "Ternyata, Dia Menyayangimu Dan Itu Membuatku Ingin Membunuh Mu Agar Ayah Mu Itu Tau Bagaimana Rasanya Kehilangan"
Dor..
"Ahk!!!" Elisa Mundur
"ELISAAAAAAA" Teriak Marco
Dor..Dor...Dor..Dor..
Bernad Menembak Septian
Dor...
Septian Menembak Elisa Untuk Kedua Kalinya Sebelum Ia Jatuh Dan Mati
Bernad Menangkap Elisa "KETUA!!"
Air Mata Elisa Jatuh "Dia Membunuh Ku, Karena Orang Itu Menyayangi Ku? Tidak Masuk Akal" Menutup Mata
"Tidak...Ku Mohon" Bernad Mengangkat Elisa Dan Membawanya Ke Dalam Mobil
Sampainya Di Rumah Sakit, Marco Dan Beberapa Orang Juga Sampai Setelah Setengah Jam Elisa Di Ruang Operasi
....
Elisa Membuka Matanya
"Ternyata Kalian Berdua Sangat Mirip" Ujar Barlen
Kedua Elisa Yang Berdiri Di Depannya Mengerutkan Kening
"Siapa Kau?" Tanya Putri Elisa
"Siapa Kamu?" Tanya Elisa
Kedua Elisa Saling Memandang
"Tatapan Mereka Juga Sama Kejamnya" Barlen Tertawa
Elisa Menatap Barlen Lalu Melihat Sekitar Mereka Yang Tampak Gelap, Cahaya Hanya Ada Pada Mereka
"Apa Aku Sudah Mati?" Tanya Mereka Berdua
Kedua Elisa Saling Melirik
"Benar Tapi Ada Salah Satu Dari Kalian Yang Bisa Hidup" Jawab Barlen
"Kenapa Tidak Dua-duanya?" Tanya Putri Elisa
Barlen Melihat Putri "Anda Mau Hidup Putri?"
Putri Elisa Terkejut "Itu!!!!" Melihat Elisa Yang Hanya Diam Dan Fokus Pada Kegelapan "Aku Bosan"
Elisa Melihat Putri Elisa
"Bagaimana Dengan Mu Elisa?" Tanya Putri Elisa
Elisa Tersentak
"Aku?" Elisa Berfikir "Aku Terluka Cukup Parah Dan Aku Yakin Aku Tidak Akan Selamat, Kalau Pun Selamat Aku Pasti Akan Cacat"
Putri Elisa Terkejut, Barlen Mengangguk Setuju
"Jadi...Jika Memang Di Berikan Kehidupan Lagi Aku Tidak Mau Menjadi Elisa Marino" Lanjut Elisa
Putri Elisa Melihat Elisa "Bagaimana Dengan Elisa Aera Varuna Adarlan?"
Elisa Melihat Putri Elisa "Siapa Itu?"
"Anda Yakin Putri?" Tanya Barlen Sedikit Terkejut
Putri Elisa Berbalik Menatap Elisa, Elisa Pun Begitu
"Elisa Aera Varuna Adarlan Itu Aku, Putri Mahkota Dari Kerajaan Adarlan Salah Satu Kerajaan Terbesar. Bagaimana Menurut Mu?"
Elisa Tersentak "Kerajaan? Putri Mahkota?"
Putri Elisa Tersenyum "Iya, Karena Ayah Ku Tidak Memiliki Putra Dan Aku Satu-satunya Anaknya Jadi Aku Akan Menjadi Penerus Raja Berikutnya"
"Ayah!?..." Elisa Mengingat Kembali Kenangan Saat Ia Di Adopsi Oleh Marco Di Mana Tidak Ada Tawa Di Antara Mereka Berdua, Berbicara Pun Hanya Jika Ada Yang Penting
"Apa Ayahmu Menyayangimu?" Tanya Elisa
"Memberikan Semua Yang Ku Butuhkan, Memberikan Semua Yang Ku Inginkan Apa Itu Termasuk Bentuk Kasih Sayang?" Jawab Putri Elisa
Elisa Berfikir "Entahlah, Mungkin Saja. Karena Aku Berusaha Sendiri Untuk Mendapatkan Apa Yang Ku Butuhkan Dan Kuinginkan"
"Karena Anda Seorang Putri Mahkota Sedangkan Dia Adalah Putri Mafia" Lanjut Barlen "Jadi, Kasih Sayang Yang Di Tujukan Seorang Ayah Berbeda"
"Apa Itu Mafia?" Tanya Putri Elisa
"Sebuah Pekerjaan Yang Mengharuskan Mu Menggunakan Tindakan Yang Di Luar Nalar Manusia" Jawab Elisa
Putri Elisa Terkejut Dengan Jawaban Elisa Yang Begitu Dingin
Barlen Melihat Kedua Elisa Yang Ada Di Depannya
"Apa Kau Melakukan Itu?" Tanya Putri Elisa
"Begitulah, Bagaimana Dengan Mu Putri?" Tanya Elisa
"Aku..."
Barlen Menghentikan Obrolan Kedua Elisa
"Tunggu..Tunggu Kenapa Kalian Berdua Malah Saling Curhat?"
Kedua Elisa Melihat Barlen
"Jadi Siapa Kau?" Tanya Putri Elisa
"Aku Penyihir Yang Kebetulan Melewati Kerajaan Mu Yang Sedang Mencari Seseorang Yang Bisa Mengobati Putri Mahkota Mereka" Jelas Barlen
"Lalu Kenapa Aku Ada Disini?" Tanya Elisa
Barlen Melihat Elisa "Waktu Kematian Kalian Sama Tapi Di Antara Kalian Berdua Hanya Ada Satu Tubuh Yang Bisa Di Selamatkan, Tapi..."
"Tapi?" Tanya Kedua Elisa
"Jika Putri Memasuki Tubuhnya Kembali, Kejadian Ini Akan Terluang Kembali" Jawab Barlen
"Kejadian?" Tanya Elisa
"Aku Di Racuni Maksud Mu?" Tanya Putri Elisa
Elisa Terkejut, Ia Melihat Putri Elisa
"Benar Putri, Tapi Jika Elisa Memasuki Tubuh Anda, Mungkin Ini Tidak Akan Terjadi Dan Sesuatu Akan Banyak Berubah" Jawab Barlen
Kedua Elisa Saling Memandang
"Aku Mengerti, Aku Juga Sudah Bosan Dan Malas Dengan Kehidupan Ku" Jawab Putri Elisa "Bagai Mana Dengan Mu Elisa?"
"Itu...Aku...Entahlah Aku Juga Bingung, Tapi Jika Di Beri Kehidupan Lagi Aku Tidak Mau Menjadi Putri Mafia Dan Jika Aku Tetap Harus Kembali Ke Tubuh Ku Aku Akan Membalaskan Dendam Ku Setelah Itu Aku Akan Bunuh D*Ri" Jelas Elisa Tenang
Putri Elisa Dan Barlen Terkejut
"Kalau Begitu Apa Kau Mau Menjadi Diriku?" Tanya Putri Elisa
"Lalu Bagai Mana Dengan Mu?" Tanya Elisa
Putri Elisa Melihat Barlen, Barlen Melihat Ke Belakang Mereka Berdua
Sebuah Pintu Terbuka Dan Memancarkan Cahaya Yang Begitu Terang, Kedua Elisa Menghalangi Mata Meraka Menggunakan Tangan Kanan Mereka
"ELISAAA" Suara Teriakan Dari Kegelapan
Elisa Berbalik, Mencari Sumber Suara
Tit..........
Elisa Melihat Barlen "Aku Sudah Mati?"
Barlen Mengangkat Kedua Bahunya
"Aku Pergi Dulu" Ujar Putri Elisa Yang Sudah Di Depan Pintu
Elisa Tersadar "Sejak Kapan Dia.....!!!"
Putri Elisa Melihat Elisa "Maaf, Aku Banyak Membuat Kekacauan" Berbalik Masuk, Pintu Itu Pun Tertutup
Tiba-tiba Semua Menjadi Gelap, Tinggal Lah Elisa Sendiri Di Ruang Gelap Itu
....
Perlahan-lahan Putri Elisa Membuka Matanya Dan Itu Di Lihat Oleh Pelayan Yang Sedang Membersihkan Tubuh Elisa, Pelayan Itu Terkejut Melihat Elisa Yang Membuka Matanya
"Yang Mulia Putri, Anda..." Wulan Berdiri "Syukurlah Anda Sudah..."
Bruk....
Wulan Di Kejutkan Oleh Barlen Yang Jatuh Pingsan, Sedangkan Elisa Yang Masih Dalam Tahap Pemulihan Ia Pun Pingsan Lagi
Beberapa Saat Kemudian
Elisa Bangun Dan Langsung Berdiri Dan Pergi Ke Arah Cermin
Elisa Melihat Wajah Juga Tubuh Barunya Itu "Yah... Cantik Juga"
Wajah Putri Elisa Dan Elisa Itu Sama Hanya Membedakan Wajah Elisa Tampak Dingin, Wajah Yang Susah Berekpresi Dan Tubuhnya Yang Kasar Juga Terdapat Banyak Bekas Luka
Sedangkan Putri Elisa, Wajahnya Yang Begitu Cantik Dan Bersih Juga Bersinar Bagaikan Matahari Pagi, Kulitnya Yang Begitu Mulus, Putih Yang Terawat Dengan Baik Tapi Sifat Angkuh, Sombong Dan Suka Mengambil Milik Orang Lain Membuat Wajah Cantiknya Itu Di Benci Beberapa Orang Termasuk Para Wanita, Dan Sifat Putri Elisa Itu Tidak Diketahui Oleh Elisa Marino Yang Sekarang Ada Di Dalam Tubuh Elisa Aera Varuna Adarlan
...
Elisa Memegang Dadanya Yang Masih Terasa Sakit
"Selamat Datang Elisa" Ujar Barlen
Elisa Berbalik, Ia Terkejut Dengan Sosok Barlen Yang Terlihat Transparan
Elisa Jatuh Dan Mundur "HAN...SETAN...."
"Ini Roh Ku Dasar Bodoh" Kesal
Elisa Memegang Dadanya "KAU..MATI?!"
"Hm"
"KENAPA? SIAPA YANG MEMBUNUH MU?" Takut
"Kau"
"Ha? Aku? Bagaimana, Aku Baru Saja Bangun, Bagaimana Bisa Aku Membunuh Mu?" Panik
"Ha.." Barlen Duduk "Nama Ku Barlen, Aku Penyihir Dari Timur Yang Sudah Hidup Cukup Lama"
"Berapa Lama?"
Barlen Mencoba Mengingat "Sekitar 500 Tahun, Mungkin"
"WTF...ITU BUKAN LAGI CUKUP LAMA TAPI SUDAH SETENGAH ABAD, YANG BENAR SAJA!!?" Tidak Percaya
"Tidak Percaya Ya Tidak Apa-apa, Dan Waktu Ku Tidak Banyak Aku Akan Menceritakan Sedikit Mengenai Dunia Ini"
Elisa Mengangguk "Ok"
"Di Sini Ada Banyak Kekuatan, Salah Satunya Sihir Tapi Aku Tidak Tau Pasti Bagaimana Perkembangan Sihir Di Kerajaan Ini"
"Baiklah" Elisa Mengangguk
"Itu Saja"
"Ha?!!!" Bingung
"Lainnya Cari Tau Saja Sendiri"
"Apa-apaan!!!"
"Aku Pergi Dulu, Haa Akhirnya Aku Bebas" Barlen Menghilang
Elisa Berdiri "HEY TUNGGU, PENJELASAN MACAM APA ITU WOE!!!"" Marah
Pintu Terbuka
Elisa Melihat Ke Arah Pintu
Seorang Pria Yang Masih Terlihat Muda Itu Walaupun Usianya Sudah Berkepala 4 Berdiri Tegak Melihat Elisa Yang Tampak Bingung
"Elisa.. Akhirnya Kau Bangun Juga" Ujar Pria Itu Terharu Juga Bahagia
"Siapa Kau?" Tanya Elisa Membuat Langkah Pria Itu Yang Tak Lain Adalah Raja Juga Ayahnya Yang Sekarang Itu Terhenti
"Melihat Dari Pakaiannya Yang Tampak Mewah Dan Wajahnya Yang Sedikit Mirip Dengan Wajah Ini Pasti Dan Tidak Lain Adalah Ayah Putri Elisa Tapi Entah Kenapa, Tubuh Ini Tidak Menyukainya?" Batin Elisa Yang Menolak Dengan Keras
Elisa Berjalan Pelan Ke Arah Tempat Tidurnya Lalu Berbaring "Ahk, Masih Sakit!!"
Erlan Berlari Ke Arah Elisa "Nak, Kau Tidak Mengenal Ku?"
Elisa Menatap Dingin Ke Arah Erlan "Apa Aku Harus Mengenal Mu?"
Erlan Terkejut "Apa Ini Perubahan Yang Di Katakan Penyihir Itu, Tapi Bukankah Perubahan Ini Terlalu Berlebihan!!?" Batin
Elisa Memejamkan Matanya Dalam Waktu 5 Detik Elisa Langsung Tertidur
...
Besoknya
Elisa Membuka Matanya
"Yah...Yang Benar Saja, Bagaimana Bisa Di Usianya Yang Masih Begitu Mudah Sudah Memiliki 5 Suami, Sudah Gila!!! Mana Semua Hasil Rebutan Lagi, Sumpah Sudah Gila Putri Ini!!" Cerutu Elisa Setelah Melihat Setengah Ingatan Putri Elisa
Pintu Terbuka
Empat Pelayan Masuk, Mereka Terkejut Melihat Elisa Yang Duduk Di Atas Tempat Tidurnya Sambil Menatap Mereka Dengan Dingin
"Oh!! Kami Memberi Salam Pada Yang Mulia Putri Mahkota" Salam Para Pelayan Sambil Berlutut
Elisa Yang Sudah Biasa Melihat Itu Hanya Menatap Mereka Dengan Datar
"Aku Mau Mandi" Ujar Elisa
Para Pelayan Dengan Cepat Berdiri
"Segera Kami Siapkan Yang Mulia Putri" Jawab Pelayan
Keempat Pelayan Itu Berlari Menyediakan Semua Keperluan Mandi Juga Pakaian Elisa
Mata Elisa Terfokus Pada Warna Yang Ada Di Sekitar Tubuh Para Pelayan Tapi Ia Tidak Menghiraukan Itu Karena Ada Sesuatu Yang Lebih Penting Di Pikirannya Sendiri