NovelToon NovelToon
Kepepet Cinta Ceo Arogan

Kepepet Cinta Ceo Arogan

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:122.3k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arash Maulidia, mahasiswi magang semester enam yang ceroboh namun gigih, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu tabrakan kecil di area parkir.
Mobil yang ia senggol ternyata milik Devan Adhitama — CEO muda, perfeksionis, dan terkenal dingin hingga ke nadinya.

Alih-alih memecat atau menuntut ganti rugi, Devan menjatuhkan hukuman yang jauh lebih berat:
Arash harus menjadi asisten pribadinya.
Tanpa gaji tambahan. Tanpa pilihan. Tanpa ruang untuk salah.

Hari-hari Arash berubah menjadi ujian mental tanpa henti.
Setiap kesalahan berarti denda waktu, setiap keberhasilan hanya membuka tugas yang lebih mustahil dari sebelumnya.
Devan memperlakukan Arash bukan sebagai manusia, tapi sebagai mesin yang harus bekerja sempurna — bahkan detik napasnya pun harus efisien.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga sebuah kecerobohan

Langkah Arash terasa berat saat keluar dari ruangan Bu Rini. Napasnya belum stabil, seolah paru-parunya menolak kenyataan baru: ia bukan lagi peserta magang biasa. Ia kini asisten pribadi CEO Devan Adhitama — jabatan yang kedengarannya megah, tapi terasa seperti hukuman.

Lift berdenting pelan. Angka dua puluh menyala.

Begitu pintu terbuka, hawa di lantai itu langsung berbeda.

Sunyi. Dingin. Eksklusif.

Udara di sana seakan memiliki aturan sendiri—lebih rapi, lebih kaku, menolak sembarang napas yang datang tanpa izin. Dinding kaca menampilkan cakrawala Jakarta; indah sekaligus menakutkan. Sebuah pemisah antara dunia manusia biasa di bawah, dan dunia para penguasa di atas.

Dan di dunia itu, Devan Adhitama menunggu.

Pria itu duduk di balik meja mahoni panjang yang tampak lebih besar dari kamar kos Arash. Kali ini ia tak mengenakan jas abu-abu, melainkan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga siku. Posturnya tegap, wajahnya fokus pada dokumen tebal di tangan. Ia tak menoleh sedikit pun ketika Arash masuk.

Di sampingnya, seorang wanita paruh baya dengan blazer rapi berdiri dengan tablet di tangan—ekspresinya masam dan waspada.

“Kau terlambat dua menit,” ujar Devan tanpa mengangkat kepala. Suaranya datar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.

Arash spontan melirik jam tangannya. 09.02.

“Maaf, Pak. Saya sempat diurus administrasi HRD dan mencari letak ruangan—”

“Saya benci alasan, Nona Maulidia.”

Devan akhirnya mendongak. Tatapan matanya tajam, tenang, namun berbahaya.

“Catat. Mulai sekarang, waktu adalah aset paling berharga dalam hidup saya. Dan kau baru saja membuang dua menit darinya.”

Arash menunduk cepat. “Baik, Pak.”

Devan menoleh ke wanita di sampingnya.

“Ini Bu Sita, manajer administrasi. Dia akan menjelaskan tugas pertamamu. Saya tidak tertarik pada latar belakangmu, nilai IPK-mu, atau mimpimu. Saya hanya tertarik pada efisiensi.”

Senyum tipis muncul di bibirnya—dingin dan samar, tapi cukup membuat udara di ruangan terasa menyempit.

“Dan jika saya melihat satu saja kesalahan ceroboh seperti tadi pagi... kau tahu konsekuensinya.”

Bu Sita maju selangkah.

“Silakan ikut saya, Nona. Tugas pertamamu: menata ulang sistem filing digital Pak Devan. Ada ratusan data yang perlu diverifikasi silang. Kau hanya punya waktu sampai makan siang.”

Arash membelalak. “Sampai makan siang? Itu… empat jam, Bu.”

“Tiga jam lima puluh lima menit,” koreksi Bu Sita datar. “Selamat bekerja, asisten baru. Dan satu saran dariku—jangan bawa kekacauan pribadimu ke lantai ini. Di sini, kesalahan kecil bisa mengubur karier.”

****

Empat jam terasa seperti empat tahun.

Arash tenggelam dalam tumpukan data dan file digital. Ribuan dokumen dengan kode dan catatan kecil yang rumit menari di layar. Jemarinya mengetik cepat, matanya panas, otaknya berdenyut keras—namun ia tidak berhenti.

Setiap klik adalah bukti bahwa ia masih bisa berdiri. Bahwa ia tak akan dikalahkan oleh ketakutan.

Ruangannya hanya dipisahkan oleh kaca buram dari kantor Devan. Dari bayangan samar, ia bisa melihat pria itu sesekali berjalan, menjawab telepon, atau menandatangani dokumen. Setiap gerakannya tegas, terukur, seperti jam tangan Swiss yang tak pernah meleset satu detik pun.

Pukul 12.45, Arash menekan tombol terakhir.

Selesai.

Kepalanya berasap, matanya berkunang, tapi ada secuil kepuasan di dadanya.

Bu Sita datang memeriksa hasil kerja. Jarinya mengetuk tablet pelan, wajahnya tetap datar.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya ia bergumam, “Hampir sempurna. Hanya tiga berkas yang salah kode.”

Tatapannya beralih ke Arash. “Untuk waktu secepat ini, itu… mengesankan.”

Arash hampir tersenyum lega—hampir. Karena tepat saat itu, pintu ruangan Devan terbuka.

Pria itu berdiri di sana tanpa blazer, hanya dengan kemeja biru tua yang lengannya tergulung. Otot lengannya tampak kaku, jam tangan mahalnya berkilau, dan aura dominannya memenuhi ruangan tanpa perlu suara keras.

“Maulidia,” panggilnya pendek.

Arash menegakkan tubuh. “Ya, Pak?”

“Kau ikut saya makan siang.”

Bu Sita menatap Arash dengan mata sedikit terbelalak, lalu buru-buru berbalik.

“Saya... serahkan pada Anda, Pak,” katanya cepat sebelum pergi.

“S-saya bawa bekal, Pak,” ujar Arash pelan, menahan gugup. “Saya bisa makan di pantry saja.”

“Itu bukan tawaran, tapi perintah,” balas Devan datar sambil mengambil kunci mobil dari gantungan di dinding. “Kita perlu membicarakan detail utangmu. Anggap saja ini bagian dari kontrak kerjamu.”

Arash menggigit bibir, tapi akhirnya mengikuti pria itu ke lift pribadi.

Begitu pintu tertutup, keheningan di antara mereka nyaris menyesakkan.

Devan menatap lurus ke depan.

“Kau ceroboh di jalanan, tapi tidak ceroboh saat bekerja. Itu bagus.”

Arash menoleh sedikit. “Terima kasih, Pak.”

“Jangan senang dulu,” potong Devan cepat. “Itu hanya berarti kau bisa fokus di bawah tekanan. Sekarang, mari kita bahas harga dari kecerobohanmu.”

Ia mengangkat ponselnya, menampilkan angka di layar.

Rp 85.000.000,00.

Arash terpaku. Napasnya terhenti sesaat. “Sebesar itu… hanya untuk goresan kecil?”

“Mobil saya impor edisi terbatas,” jawab Devan tenang. “Perbaikan bodi dan cat khususnya tidak murah. Gajimu sebagai asisten pribadi saya delapan juta lima ratus ribu per bulan, dan semuanya akan dipotong untuk melunasi kerugian ini.”

Arash menelan ludah. “Berarti… saya harus bekerja sepuluh bulan tanpa digaji?”

“Tepat sekali. Sepuluh bulan, Maulidia. Dan jika kau membuat satu kesalahan besar, kontrak itu akan otomatis diperpanjang sesuai kerugian yang kau timbulkan. Ada pertanyaan?”

Arash menatap pantulan dirinya di pintu lift yang mengilap. Bayangan itu tampak berbeda—lebih berani, lebih keras.

“Tidak ada, Pak,” katanya akhirnya. Suaranya pelan, tapi tegas. “Saya akan bekerja sampai lunas. Setelah itu, saya akan pastikan tidak ada urusan pribadi atau profesional antara saya dan Bapak.”

Untuk pertama kalinya, Devan menatapnya lebih lama dari beberapa detik.

Senyum tipis terukir di bibirnya.

“Menarik,” gumamnya. “Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan, Nona Maulidia.”

Lift berdenting. Pintu terbuka.

Udara panas Jakarta menyambut mereka. Di luar, sedan hitam Devan sudah menunggu—bersih, tanpa jejak baret sedikit pun.

Devan melangkah lebih dulu tanpa menoleh.

“Ayo. Kita makan siang di tempat yang sesuai dengan harga utangmu.”

Arash mengepalkan tangan, melangkah mengikuti pria itu.

Langit Jakarta terasa terlalu cerah untuk hari seberat ini.

Sepuluh bulan.

Itu bukan sekadar magang.

Itu adalah awal dari pertarungan.

Dan di antara mereka berdua—hanya satu yang akan menang.

1
Ari Sawitri
ayah spt pantas banget dikasih kopi sianida .. biar koit 😡😡😡
rokhatii: nanti masuk bui kak😭😭
total 1 replies
Ari Sawitri
dr kmrn kmrn harusnya langsung pindah ke Jogja .. menjauh dr keluarga toxic itu, hidup baru lingkungan baru
rokhatii: semua butuh proses🤭
total 1 replies
Ari Sawitri
perasaan cerita berputar disitu trs. ga ada langkah ke depan dilakukan Devan
klu memang punya perusahaan dijogja knp TDK segera pindah disana dan berkarya disana. mbulet aja dg perasaan minder dan bersalah. lama lama jd bosan 😔
Ari Sawitri
jane kakeknya ini gimana sih? kmrn kmrn dia ikut memusuhi Devan. skrg dia membela Devan dg menyalahkan Danu .. ga jelas banget 🤨🤔
Ari Sawitri
sela siapa ya? apa aku kelewat baca ya ?🤔
Ari Sawitri
untung adik tiri nya baik dan sayang dg Devan.. itu Danu dan Diana adl gambaran orang tua durhaka ke anak. spt yg banyak ustad bilang bahwa memang ada orang tua yg durhaka ke anak
Ari Sawitri
lagian juga arash aneh orang sakit kok dibelikan seblak .. ya ga bisa lah apalagi Devan orang yg pemilih gt .. belikan bubur Ayam atau nasi tim gt buat orang sakit
Ari Sawitri
berarti Devan dg Chyntia sdh pernah jg kan bs tau dia bukan yg pertama .. haddew kasian bgt arash nanti dpt barang bekas 😒🤨
rokhatii: nggak papa kak semoga arash menerima apa.adanya
total 1 replies
Ari Sawitri
serius nih kerja ga mandi? 😅😅
⋆.˚Khaira🦋
baguuuss ceritanya 🥰🥰🥰
⋆.˚Khaira🦋
si arash bunting dah ini kayanya, sensi amat elaaahh... lakik mw sembuh bukan di dukung malah dia baper 🙄
⋆.˚Khaira🦋
saaaahh... congrat yaa bang Devan n arash 💐
⋆.˚Khaira🦋
tahan...tahan...tahan yaa devan, gak lama kok puasanya 🤭🤣
⋆.˚Khaira🦋
kereeenn badass nih bang aldrich 👏
⋆.˚Khaira🦋
waaah parah nih pak kulkas, bukan muhrim woooyyy nikahin buru sono biar bisa peluk² 🙃
⋆.˚Khaira🦋
bapak modelan gitu malah bikin anak makin arogan yg ada... heran gua dah sama orang kaya 🙄
⋆.˚Khaira🦋
apa setiap orang tua yg kaya raya selalu kaya gitu yaa, menjodohkan anaknya seenaknya aja, tanpa mikirin perasaann anaknya 🥺
⋆.˚Khaira🦋
gemmesss...gemmeess gimana gituu mereka... untungnya imannya arash kuat yaaak 😁
⋆.˚Khaira🦋
uuuh... manusia kulkas udab mencair kayanya rash 🤭🤣
⋆.˚Khaira🦋
mmmmmhh... pak devan anda mulai ketergantungan dgn arash rupanya🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!