Alfarizqi, putra Kyai pemilik Pesantren Bustanul Huffazh, kembali ke Indonesia setelah menamatkan studi di Madinah. Ia membawa serta janji suci yang terlanjur ia berikan pada wanita asal Maroko yaitu Sarah, seorang perempuan yatim piatu korban pemerkosaan yang kini tengah mengandung. Meskipun tidak ada cinta di hatinya, Alfa merasa bertanggung jawab penuh untuk menikahi dan melindungi Sarah, sebagai wujud pengorbanan dan rasa kemanusiaannya. Namun, janji itu terbentur takdir ketika ayahnya menjodohkannya dengan Rayya, demi keberlangsungan pesantren. Rayya, seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, memiliki mimpi dan masa depan yang telah ia rencanakan bersama Adam, teman sekaligus cinta pertamanya semasa SMA. Mereka berjanji akan menikah setelah Rayya kembali ke Tanah Air. Hidup Rayya yang bebas dan penuh ambisi seketika hancur saat ayahnya memaksanya pulang untuk sebuah perjodohan. Ada lagi Rumanah, santri pintar berprestasi yang sejak dulu sudah diam-diam menaruh hati pada Alfarizqy. Di bawah langit yang sama, dua insan yang tidak saling mengenal, dengan janji dan cinta yang berbeda, kini terpaksa berada di persimpangan takdir. Alfa terhimpit antara janji yang harus ia tepati dan kewajiban keluarga yang tak bisa ia tolak. Sementara Rayya, harus memilih antara cintanya pada Adam atau menuruti permintaan orang tua. "Ada Cinta di Langit Madinah" adalah kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan pencarian makna cinta sejati. Akankah Alfa dan Rayya menemukan cinta di antara ikatan yang tak mereka inginkan, atau akankah mereka tetap berpegang teguh pada janji yang telah terucap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pengakuan
Rayya terbangun dengan mata bengkak dan kepala pusing. Di seberang jendela, langit Amsterdam sudah terang, tapi suasana hatinya tetap mendung. Ia tak ingat kapan tertidur. Yang ia tahu, ia menangis hingga lelah, sampai akhirnya terlelap. Ponselnya tergeletak di lantai, layarnya retak. Tiba-tiba, ia teringat pesan dari ayahnya tadi malam, yang isinya hanya tiga kata,
“Cepat pulang, nak.”
Rayya menatap tiket pesawat di meja belajarnya. Satu arah. Tanpa tanggal kembali. Ia tahu ini bukan pulang untuk liburan. Ini adalah keputusan yang final, yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya. Ia harus mengakhiri semuanya di sini, di Amsterdam. Ia tidak akan kembali.
Dengan langkah gontai, ia meraih jaket tebal dan kunci sepedanya. Ia ingin melihat Amsterdam untuk yang terakhir kalinya sebagai Rayya yang bebas. Rayya yang bisa memilih.
Jalanan masih sepi, basah oleh sisa hujan semalam. Rayya mengayuh sepedanya tanpa tujuan, melewati kanal-kanal yang tenang, jembatan-jembatan kecil yang indah, dan rumah-rumah tua berarsitektur khas. Kota yang selama ini menjadi rumahnya kini terasa seperti museum. Sebuah tempat yang akan ia kenang, tapi tak bisa ia tinggali lagi.
Rayya berhenti di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Kafe tempat ia dan Adam pernah bertemu. Waktu itu Adam ke Amsterdam untuk menghadiri Konferensi Internasional sebagai mahasiswa berprestasi. Kafe yang menjadi saksi bisu tawa, janji, dan impian mereka. Rayya duduk di bangku yang sama, memesan kopi yang sama seperti yang mereka pesan saat itu. Kenangan tentang Adam menyeruak, begitu jelas dan nyata, seolah Adam masih duduk di depannya.
Ia ingat Adam yang selalu membawakannya bunga tulip setiap kali mereka bertemu. Adam yang selalu membetulkan syal yang melilit di lehernya. Adam yang selalu tersenyum hangat dan berkata, “I'm so lucky to have you, Rayya.” Ia merindukan senyum itu, suara itu. Air matanya kembali menetes.
Rayya memejamkan mata. Ia membayangkan Adam ada di sana. Namun, semua itu perlahan memudar, digantikan oleh bayangan wajah ayahnya. Wajah yang lelah, wajah yang penuh harapan. Wajah yang telah berkorban banyak untuknya. Hati Rayya terbelah. Di satu sisi, ia ingin memperjuangkan cintanya, namun di sisi lain, ia tak sanggup melihat kekecewaan. Ia tak sanggup mengkhianati kepercayaan ayahnya.
Setelah menghabiskan kopinya, Rayya berjalan menuju apartemennya. Ia mengemasi barang-barang dengan hati kosong. Semua kenangan, semua impian yang ia bangun di Amsterdam, kini terasa seperti abu yang tertiup angin.
Sementara itu, di pesantren, Alfarizqi duduk berhadapan dengan Abah Ishak di ruang kerja. Aroma buku-buku kuno dan bukhur khas pesantren memenuhi ruangan. Abah Ishak memandangnya dengan penuh kasih, namun Alfarizqi bisa melihat keseriusan di mata abahnya.
"Alfarizqi," Abah Ishak memulai, suaranya pelan dan penuh wibawa. "Abah tahu kau sudah lelah. Tapi ada satu hal penting yang harus Abah bicarakan."
Alfarizqi menunduk. Ia tahu ini saatnya. "Iya, Abah. Alfarizqi siap mendengarkan."
"Rayya. Gadis yang akan Abah jodohkan denganmu. Ia putri sahabat Abah, Kyai Rahman, pemilik pondok pesantren di Jombang. Kau tahu, Abah sudah lama menginginkanmu untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Abah yakin, ia adalah wanita yang sholehah, cerdas, dan akan menjadi pendamping hidup yang baik untukmu."
Hening. Alfarizqi menarik napas panjang.
"Abah..."
"Abah tahu ini mendadak. Tapi Abah sudah berjanji pada Kyai Rahman. Dan kau tahu, janji adalah hutang, nak. Insya Allah penyatuan dua pesantren di tanah Jawa ini akan memperlebar sayap dakwah. Akan mempererat silaturahmi dan tentu memperkuat Islam. Abah berharap, kau bisa menerima ini dengan lapang dada."
Alfarizqi mengangkat wajahnya. Matanya menatap lurus ke arah Abah Ishak. "Abah... Alfarizqi... sudah memiliki calon istri." Ucap Alfarizqi berhati-hati.
Wajah Abah Ishak berubah. Ia menatap putranya, tak percaya. "Apa maksudmu, nak? Siapa dia? Kapan kau mengenalnya?"
"Sarah, Bah. Nama gadis itu Sarah. Ia gadis Maroko”
"Bagaimana mungkin? Kenapa kau tidak pernah menceritakan ini pada Abah dan Ummi?" Suara Abah Ishak terdengar berat.
"Lalu, bagaimana dengan Rayya? Abah sudah terlanjur berjanji, nak. Kau tahu, Abah tidak mungkin mengingkari janji pada Kyai Rahman.
"Abah, maafkan Alfarizqi. Alfarizqi tidak bisa mengabaikan janji yang sudah Alfarizqi ucapkan. Alfarizqi tidak bisa membiarkan Sarah sendirian, ia... ia sedang…" ucap Alfarizqi tidak meneruskan kalimatnya.
Mata Abah Ishak membulat. Ia menatap putra kesayangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Abah Ishak menyandarkan punggungnya di kursi. Hening kembali menyelimuti ruang kerja itu. Aroma buku dan bukhur seolah ikut membeku, digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan. Abah menatap Alfarizqi, tatapannya tidak lagi penuh wibawa, melainkan penuh kebingungan dan kekecewaan.
“Sedang apa, Alfarizqi? Selesaikan kalimatmu,” suara Abah terdengar pelan, namun tegas.
Alfarizqi menunduk, tak sanggup menatap mata ayahnya.
“Sarah… ia sedang hamil, Bah.”
Kata-kata itu bagai petir yang menyambar. Wajah Abah Ishak memucat.
“Hamil? Siapa yang melakukannya? Apakah… apakah itu perbuatanmu, Alfarizqi? Demi Allah, tak pernah terpikirkan oleh Abah kalau kau akan berbuat nista seperti itu.”
“Bukan, Bah!” Alfarizqi mengangkat wajahnya, terkejut.
“Bukan, Bah. Bukan Alfarizqi. Demi Allah, Alfa tidak pernah menyentuh perempuan manapun yang bukan mahram. Sarah adalah korban, Bah. Ia trauma, ia hancur. Alfarizqi bertemu dengannya saat sedang menuntut ilmu di Mesir. Ia dibuang keluarganya, Bah. Orang tuanya malu. Alfarizqi tidak bisa meninggalkannya begitu saja, Bah. Ia tidak punya siapa-siapa lagi.”
Air mata Alfarizqi menetes.
“Alfarizqi berjanji untuk menjaganya, Bah. Untuk menikahinya. Alfarizqi tidak bisa mengkhianati janji itu. Alfarizqi berjanji di hadapan Allah.”
Abah Ishak menekan pelipisnya. Pikirannya kalut. Ia tidak tahu harus merasa apa. Marah, kecewa, sedih, atau justru bangga karena putranya begitu mulia hatinya. Di satu sisi, janji kepada Kyai Rahman adalah harga diri. Sebuah janji yang sudah terucap, yang tidak bisa ditarik kembali. Pernikahan ini bukan hanya tentang Alfarizqi dan Rayya, tetapi juga tentang penyatuan dua pesantren, tentang dakwah yang akan meluas, dan tentang silaturahmi yang akan menguat. Namun di sisi lain, janji Alfarizqi kepada Sarah juga adalah janji yang mulia. Janji yang diucapkan di hadapan Allah untuk melindungi dan menjaga seorang hamba-Nya yang sedang teraniaya.
“Berikan Abah waktu, nak! Abah harus memikirkan ini matang-matang. Keluar dan temui Ummi-mu,” ujar Abah Ishak, suaranya sudah lebih tenang.
Alfarizqi keluar dari ruang kerja Abah Ishak dengan langkah gontai. Ia tak tahu harus berbuat apa. Di ruang tengah, Ummi Maryam, ibunya, duduk menjahit mukena. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum lembut melihat Alfarizqi. Senyum itu seolah memancarkan ketenangan yang menular.
“Ada apa, Nak? Wajahmu tegang sekali, dari tadi ketika kita makan bersama kau juga sudah terlihat gelisah” tanya Ummi Maryam.
Alfarizqi duduk di samping ibunya. Dengan berlutut dan memohon maaf, Ia menceritakan semuanya, tentang Sarah dan janji yang telah ia ucapkan. Ummi Maryam mendengarkan dengan seksama, sesekali mengelus punggung putranya.
Setelah Alfarizqi selesai bercerita, Maryam memeluk putranya erat. “Alfarizqi, Ummi bangga padamu,” bisiknya. “Hati kecilmu sungguh mulia. Janji yang kau ucapkan pada Sarah adalah janji yang lebih besar dari sekedar janji antar manusia. Janji itu disaksikan Allah. Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan janji Abah pada Kyai Rahman.”
Maryam melepaskan pelukannya dan menatap mata Alfarizqi. “Ummi akan bicara pada Abahmu. Kita akan mencari jalan keluar, Nak. Abahmu adalah orang yang bijaksana. Dia akan mengerti. Namun nak, mendengar ceritamu, jujur Ummi tidak rela kau menikah dengan Sarah. Keinginan mu mulia. Namun Ummi menginginkan gadis terbaik untuk menjadi istri mu”
“Sarah insya Allah gadis baik Ummi!”
“Tapi nak… Ummi ingin kau menikah dengan gadis yang jelas asal usulnya, maaf nak, ini hanya perasaan Ummi sebagai ibu” Lanjut Ummi Maryam. Alfarizqi semakin dilema.
Alfarizqi terdiam. Ia menatap wajah ibunya, mencari dukungan. Namun, apa yang ia temukan justru keraguan. Hatinya semakin tertekan. Janjinya pada Sarah, janji Abah pada Kyai Rahman, dan kini keraguan Ummi Maryam. Semuanya seperti benang kusut yang melilit leher. membuatnya sulit bernapas.
Alfarizqi berpamitan pada Ummi Maryam dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Ia ingin shalat dan meminta petunjuk Allah. Udara malam pesantren terasa dingin, namun tak sedingin hatinya saat ini. Alfarizqi terus berjalan ke arah mushala. Para santriwan yang berpas-pasan langsung menyalami punggung tangannya penuh hormat.
Di kejauhan. Para santriwati masih terus memperhatikannya. Memperhatikan gerak gerik Alfarizqi yang bagi mereka sangat mengagumkan.
“Kenapa kalian di sini?!” Tanya Rumanah yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka yang tengah membicarakan Alfarizqi.
“Kami? Tentu saja memperhatikan junjungan kami! Gusss Alfaaa\~”Ucap salah satu dari mereka tanpa mempedulikan Rumanah.
“Astaghfirullah… Bubar kalian, bubarrr!!” Titah Rumanah. Suaranya yang menggelegar berhasil membuat para santriwati berpencar sambil menggerutu. Diam-diam Rumanah sendiri menatap punggung Alfarizqi yang menghilang dibalik tembok mushala. Hatinya berbunga.
“Gus Alfa jodohku…” Gumam Rumanah mendamba.
...****************...
IG: @alana.alisha
Si alfa juga salham, kayaknya doi mkir si Rayya masih suka ma Adam
Kayaknya Sarah n Emak mmg tulus ya… cuma yaaitu, ngeselin beuudddd 💔
Rayya jd mau ceraikan suaminya, klo bgtu…. Yaaa Adam udah siap untuk nampung wkwkwkwk💔🤣