NovelToon NovelToon
Hingga Hutan Memisahkan

Hingga Hutan Memisahkan

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Survival / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Adra

Mendaki adalah napas bagi Evan, pria berjiwa bebas yang tak pernah gentar menantang puncak tertinggi. Bersama teman-temannya, ia nekat menjelajah hutan perawan yang dikelilingi sungai berarus deras tempat yang bahkan penjaga hutan pun melarang untuk dimasuki. Satu per satu temannya menyerah pada ganasnya medan, hingga Evan harus melanjutkan perjalanan sendirian, tersesat di tengah belantara yang belum pernah dijamah manusia.
Di dunia yang berbeda, ada Sierra, gadis manja pewaris konglomerat, yang lebih sering membakar uang di pusat perbelanjaan. Liburannya ke pulau eksotis berubah menjadi mimpi buruk ketika pesawatnya dihantam badai. Dengan parasut gagal terbuka, Sierra terhempas ke rimba misterius dan hanya pohon yang menyelamatkannya dari maut.
Dua jiwa yang bertolak belakang kini terperangkap di dunia liar tanpa jalan pulang. Saat mereka bertahan hidup bersama, hutan mulai mengungkap rahasia gelap yang selama ini terkubur..., mampukah mereka menemukan jalan keluar?

Ig deemar38

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HHM 3

Langkah Sierra terseret-seret, menyusuri jalur tanah yang nyaris tak bisa disebut jalan. Kakinya nyilang di antara akar-akar pepohonan tua yang menjalar liar di permukaan seperti ular-ular malas yang enggan berpindah tempat. Setiap kali ia menginjak salah satu, keseimbangannya nyaris hilang. Perjalanan ini sudah lebih mirip siksaan ketimbang eksplorasi. Udah berapa jam dia berjalan? Entah. Semua terasa buram, bercampur antara keringat, debu, dan rasa panik yang makin menumpuk.

Tenaganya nyaris habis. Tubuhnya udah seperti mi instan yang diremas sebelum dimasak kering, kusut, dan nggak berbentuk. Sebelah kakinya telanjang, penuh lecet dan lumpur kering. Sepatu sebelah kanan ketinggalan waktu dia terpeleset di turunan curam tadi yang satunya lagi tertelan lumpur yang tiba-tiba menganga seperti perangkap alam.

“Oke. Keren. Literally stranded. Tanpa sinyal. Tanpa sepatu. Tanpa... dignity,” gerutunya setengah tertawa getir, mencoba menjaga kewarasan. Ia mengibaskan rambutnya yang menempel di dahi, basah oleh keringat dan mulai menggumpal karena debu. Dulu rambut itu pernah jadi mahkota, sekarang lebih mirip helm perang zaman purba.

Langit di atasnya mulai menggelap, tapi belum malam. Hanya naungan pohon-pohon tua yang menjulang tinggi, daun-daunnya saling bertaut hingga cahaya matahari pun kesulitan menembus. Kabut tipis mulai merayap di antara batang-batang pohon, menciptakan nuansa film horror kelas festival—bukan karena efek visual, tapi karena murni menyeramkan. Udara di sekelilingnya lembap, dingin, dan penuh aroma tanah basah serta daun membusuk. Heningnya aneh. Setiap suara burung, ranting patah, atau gerakan kecil di semak-semak terasa seperti pengumuman bahaya.

Sierra berhenti. Lututnya bergetar. Dadanya naik turun cepat karena napas yang terengah-engah. Dia menyandarkan tubuh ke batang pohon terdekat, mencoba mengatur napas, menenangkan denyut jantungnya yang berdebar tak keruan seperti alarm yang lupa dimatikan. Pandangannya menyapu sekeliling, berharap melihat sesuatu apa pun yang bisa menyelamatkannya dari rasa tersesat yang makin menyesakkan.

Dan saat itulah dia melihatnya.

Asap. Tipis, nyaris tak terlihat, tapi pasti ada. Mengepul lembut dari kejauhan. Matanya membelalak. Napasnya tercekat. Adrenalinnya langsung bangkit.

“Yasss! Akhirnya!” bisiknya dengan mata berbinar, tak berani bersuara terlalu keras. Dalam kondisi seperti ini, bahkan harapan pun harus dijaga agar tidak kabur. “Either itu pembunuh berantai yang doyan masak... atau manusia normal yang bisa nolongin gue.”

Pilihannya tipis, tapi Sierra tahu dia nggak punya waktu buat ragu. Dia menguatkan diri, menegakkan tubuhnya, dan mulai melangkah atau lebih tepatnya, menyeret diri menuju arah asap itu. Dalam hatinya, dia berdoa. Bukan cuma agar itu benar-benar tempat aman, tapi juga agar dirinya cukup kuat sampai ke sana sebelum malam benar-benar turun dan hutan ini berubah jadi mimpi buruk yang sebenarnya.

Dengan sisa semangat yang nyaris habis tergilas kelelahan dan rasa takut, Sierra mulai melangkah menuju arah asap. Kakinya gemetar, tapi tekadnya justru menguat. Entah kenapa, titik asap itu kini seperti janji samar akan keselamatan atau minimal, peradaban. Medan yang dia lewati semakin nggak bersahabat. Semak berduri mencakar kulit kakinya yang sudah tanpa perlindungan, dan batu-batu basah licin tersebar seperti jebakan tersembunyi. Lumpur menempel di betis dan ujung bajunya, berat dan menjengkelkan. Rasanya seperti menjelajah langsung ke dalam hubungan toxic semakin ditarik, semakin sulit lepas.

Tapi Sierra nggak berhenti. Bahkan saat lututnya terbentur batu dan nyaris jatuh lagi, dia tetap maju. Fokusnya cuma satu cari orang. Cari tanda kehidupan. Siapa pun. Apa pun. Asal bukan binatang buas atau... hal-hal gaib. Beberapa kali dia kepleset dan mendarat dengan gaya nyusruk yang nyaris dramatis. Lalu bangkit lagi sambil mengumpat pelan. Bajunya sempat nyangkut di ranting, robek sedikit di bagian lengan, tapi dia cuek. Semua rasa sakit itu jadi latar belakang. Yang penting sekarang bertahan.

Semakin dekat ke sumber asap, matanya mulai menangkap kilatan cahaya jingga yang hangat dari balik semak. Api. Nyala api. Bukan ilusi. Dan aroma kayu terbakar mulai menembus kabut, membawa rasa yang aneh antara takut dan lega. Sierra memperlambat langkahnya. Degup jantungnya makin kencang. Tubuhnya menegang, naluri siaga sepenuhnya aktif.

Dia bersembunyi sejenak di balik pohon besar yang batangnya sebesar drum. Napasnya ditahan, telinganya tajam mendengar. Tak ada suara selain gemeretak api dari kejauhan dan sesekali nyanyian jangkrik yang seolah menyaksikan semuanya.

Dengan perlahan, dia mengintip dari balik batang pohon.

Dan di sanalah dia melihatnya.

Seseorang. Seorang cowok duduk di dekat api unggun kecil yang dibangun di semak terbuka. Lokasinya terlihat seperti bekas tanah longsor kecil, semacam celah alami yang terlindung angin. Cowok itu membelakangi api, menunduk, sibuk dengan sesuatu yang dia keringkan di dekat bara. Dari tempatnya berdiri, Sierra bisa melihat siluet tubuhnya yang tegap, sedikit membungkuk. Rambutnya berantakan, jaket coklat lusuhnya belepotan lumpur. Penampilannya nggak rapi, tapi jelas bukan makhluk hutan. Itu manusia. Manusia nyata.

“Oke... dia manusia. Bukan monster. Tapi... stranger alert, kan?” Sierra membatin dengan cepat. “Gue cewek. Sendirian. Di hutan. Malem-malem. Ini kayak awal skenario film kriminal.”

Dia menoleh ke sekeliling, matanya mencari benda apa pun yang bisa dijadikan senjata. Pilihannya jatuh pada sebuah ranting panjang, lumayan kokoh. Dia menggenggamnya erat, berusaha terlihat siap. Walaupun di dalam hati, dia sadar ini bukan tombak. Ini lebih mirip tusuk sate ukuran jumbo.

Dengan langkah pelan dan napas ditahan, Sierra mulai mendekat. Tapi hutan bukan tempat yang ramah untuk aksi diam-diam. Satu langkah ceroboh, dan... krek!

Ranting kecil di bawah kakinya patah, mengeluarkan suara nyaring seperti alarm maling.

Cowok itu langsung bereaksi.

Dalam sekejap, dia berdiri dan berbalik. Gerakannya cepat, terlatih. Matanya tajam, awas, menatap ke arah suara. Posturnya berubah, siaga, seolah siap menghadapi apa pun yang muncul dari balik semak.

Sierra membeku. Jantungnya seperti berhenti berdetak sejenak. Seluruh tubuhnya menegang.

Astaga... harusnya gue diem aja tadi.

Mereka saling menatap. Beberapa detik yang terasa seperti menit. Sunyi. Bahkan suara jangkrik yang tadi jadi background alami hutan, mendadak lenyap seolah mereka juga ikut menahan napas, menunggu siapa yang akan bergerak lebih dulu.

Evan berdiri tegap, tubuhnya kaku tapi siap. Pandangannya tajam, penuh curiga, menelisik setiap inci tubuh Sierra dari ujung kepala sampai kaki yang setengah telanjang dan penuh luka. Matanya gelap, seperti hutan di sekeliling mereka. Tapi bukan gelap yang jahat lebih ke gelap waspada. Sierra bisa merasakannya.

Cowok itu mulai melangkah pelan ke arahnya. Gerakannya nggak gegabah, tapi cukup bikin Sierra langsung panik.

Dengan cepat, dia angkat tangan tinggi-tinggi, ranting di satu tangan teracung ke samping. “Whoa! Chill! Gue bukan binatang buas, oke? Gue... gue manusia. Totally lost. Pesawat gue... jatuh? Long story.”

Evan berhenti. Meskipun wajahnya tetap serius, ada sedikit perubahan di sorot matanya lebih bertanya, bukan mengancam.

“Lu dari pesawat itu?” Suaranya dalam. Serak. Tapi bukan serak galak, lebih kayak habis jarang ngomong atau kelamaan diem.

Sierra mengangguk pelan, menelan ludah. “Gue... nyangkut di pohon. Terus jatuh. Terus jalan. Terus... ngeliat asap. You know, kayak dalam film-film. Yang ceweknya biasanya mati duluan.”

Evan masih nggak tertawa. Malah menatapnya kayak Sierra itu teka-teki aneh yang belum sempat dia pecahkan. Dia nunjuk ke tangan Sierra.

“Ranting lu. Turunin. Gua nggak nyakitin orang. Tapi gua juga nggak pengen diserang.”

Sierra buru-buru nurunin ranting itu sambil nyengir kuda. “Sorry. Survival mode. Gue nggak jago banget sih, tapi... gue nonton banyak dokumenter. Alone in the Wild, Bear Grylls, terus satu acara Korea yang orangnya hidup di hutan pake sendok.”

Evan menatapnya kosong. “Lu nonton dokumenter, tapi nyasar ke hutan tanpa sepatu?”

“Hey,” Sierra menyilangkan tangan di dada. “Sepatu gue hilang after gue jatuh dari pohon. Nggak semua orang siap buat jadi Tarzan dadakan, oke?”

Evan akhirnya menurunkan bahunya. Wajahnya sedikit lebih santai. Meskipun garis bibirnya masih tipis, paling tidak dia udah nggak keliatan pengen ngelempar Sierra balik ke hutan.

“Nama gua Evan,” katanya pendek.

“Sierra,” jawab Sierra cepat, lalu tersenyum kecil. “Tapi lu bisa panggil gue Si, atau Ra, atau... Queen, kalau lu niat banget.”

Evan mendelik singkat. “Sierra aja cukup.”

Sierra manyun. “Oke, Mr. Serius.”

Diam. Lagi. Tapi kali ini nggak sesuram tadi. Api unggun terus menyala pelan, membentuk bayang-bayang bergoyang di wajah mereka. Sierra melirik ke sekitar. Ada sedikit ruang kosong di dekat api, cukup nyaman buat duduk dan mungkin... rebahan kalau nekat.

“Gue... boleh duduk? Kaki gue literally nangis darah,” katanya sambil mengangkat kaki lecetnya yang hampir menyerah.

Evan mengangguk, masih waspada. “Duduk aja. Tapi jangan terlalu deket. Kita nggak tahu apa aja yang ada di hutan ini.”

“Tenang, gue bukan tipe clingy,” gumam Sierra sambil menjatuhkan diri ke tanah. Nggak peduli celana panjangnya kotor parah, rambutnya kusut kayak habis ditarik elang, dan kuku kakinya... well, cukup untuk jadi senjata darurat.

Evan memperhatikannya sebentar. Lalu berkata pelan, “Gua denger suara dari arah sana tadi.”

Sierra langsung duduk tegak. “Suara kayak... orang? Atau binatang?”

Evan menggeleng. “Nggak tahu pasti. Tapi sejak masuk hutan ini, banyak yang aneh. Suara yang muncul terus hilang. Kayak... ada yang ngawasin.”

Sierra menelan ludah. Perlahan. “Oke. Now you sound like Netflek horror opening scene. Dan biasanya orang kayak gue... jadi korban pertama.”

Evan mengambil sebatang kayu, melemparkannya ke dalam api. Api menyambar kayu itu dengan bunyi retak! pelan.

“Gua nggak yakin sama apapun sekarang. Tapi satu hal kita harus tetap hidup. Itu dulu.”

Sierra menatapnya lama. Cahaya api menyinari wajah Evan dari samping, memantulkan rona jingga di matanya. Walaupun galak dan terlalu serius, ada sesuatu di diri cowok ini yang bikin Sierra sedikit... tenang. Sedikit. Kayak tahu dia bukan sendirian lagi di neraka hijau ini.

Tapi rasa tenang itu nggak bertahan lama.

Angin tiba-tiba berembus pelan, tapi dinginnya menggigit. Kabut turun dari atas, menyelinap di antara pepohonan, pelan tapi pasti. Sekeliling mereka diselimuti putih pucat yang mengaburkan jarak pandang.

Sierra mengeratkan jaket tipis yang robek di bahunya. “Lu... yakin kita nggak ketemu zombie? Werewolf? Kuntilanak internasional? Kayak... ‘Forest Haunting?”

Evan menatap kabut sebentar. “Gua nggak yakin apa-apa sekarang.”

“Lu emang paket hemat jawaban ya,” cibir Sierra pelan. “Bisa jadi lo tuh NPC.”

Evan nggak menanggapi. Dia justru menatap ke arah kabut, matanya menyipit. Ekspresinya kembali waspada.

Sierra ikut diam. Napasnya tertahan. Kali ini bukan karena bingung harus bercanda apa lagi, tapi karena... dia juga merasakan hal yang sama.

Hutan ini, yang tadi terasa menyeramkan, kini terasa lebih dari itu. Terlalu sunyi. Terlalu tenang. Seperti sesuatu sedang menahan napas bersama mereka.

Di balik kabut, bayangan itu bergerak. Cepat. Pelan. Tak jelas. Tapi pasti ada.

Sierra menoleh perlahan. “Evan... lo liat itu juga?”

Evan berdiri perlahan, mengencangkan jaketnya, lalu mengambil kayu bakar yang paling tajam ujungnya.

“Jangan bersuara,” bisiknya.

Sierra langsung patuh. Dan untuk pertama kalinya... Sierra benar-benar nggak bisa bercanda.

Karena hutan belum selesai dengan mereka.

Dan malam baru saja dimulai.

1
Pa Muhsid
huh kesel kalo tak berani ungkapan 'tak bantuin katakan cinta❤😘
Pa Muhsid
lama lama enek juga sama karakter Siera mungkin diawal lucu tapi kalau terus menerus ni orang munafik gak ada syukur syukur nya gak jadi pelajaran itu hidup, kan lu yg mau liburan ditempat terisolasi pas dikabulkan gak Terima,,, itulah sifat alami manusia
Daniah
iya KK pokoknya aku sll ngikutin kayamu. Lop lop 😘😘
Daniah
haha... kena Lo van😂
Sri Wahyuni Abuzar
van undangan buat aku titipin kak dee aja..aku mau blusukan dulu x aja ada yang mau minjemin aku kebaya buat hadir di nikahan kalian 😍😍
Dee: Wkwkwk kak 😭 masalahnya lokasi nikahnya jauh banget. Google Maps aja pas liat alamatnya langsung bilang "aku menyerah" 🤣
total 1 replies
Sri Wahyuni Abuzar
jangan panik van..reaksi wajar dari kondisi sierra selama ini...cuuus rumkit biar dokter tangani sesuai prosedur...kalau sierra udah baikan ajakin nikah yaa van..aku tunggu undangan nya..titipin aja ke kak dee 😍😍
Daniah
kalo aku sih langsung aja bos💍😅
Halimah Limah
semangat kak💪
Sri Wahyuni Abuzar
tetep jadi sierra yg sebelumnya..bukan marah tapi lebih ke ngedumel khas nya sierra yang ujung² nya memeluk erat evan karena takut evan akan pergi ninggalin sierra and than nikah laah tapi tinggal di hutan konservasi sekalian buat nyembuhin sierra..
Sri Wahyuni Abuzar
aku pada mu van ✌🏼
ayoo kita sama² ke rumah sierra van..bikin sierra sadar akan kehadiran dirimu setelahnya langsung akad nikah ..than kita bawa sierra tinggal di hutan konservasi cinta..peduli setan dengan bisnis pak konglo..😛🤣🤣
Halimah Limah
semangat kak ,,lanjut up yg banyak..💪
Sri Wahyuni Abuzar
tuan konglo datang membawa misi agar evan mau ikut bersama beliau melihat kondisi sierra yang menyedihkan..iihhh kalau bukan ayah nya sierra pengen tak santet aja lhoo ..yaa kan van 🤣🤣
Sri Wahyuni Abuzar: aku tuu suka gemesh kak sama orkay sombong sukanya pamer harta seolah semua bisa di tundukan pake uang...bilangin ke evan yaa kak dee jaga cintanya buat sierra 🥰
total 2 replies
Halimah Limah
lanjut kak..
Sri Wahyuni Abuzar
bener² ini si bapak konglo minta di ungsikan ke selat hormuz..
Sri Wahyuni Abuzar: /Facepalm/
total 2 replies
Halimah Limah
semangat kak💪
Sri Wahyuni Abuzar
van aku bantu yaa buat ngirim papa sierra ke laut hormuz 🤣
Halimah Limah
lanjut kak,,aku slalu semangat KLO kka update 💪
Daniah
makin pinisirin nih, si Evan diterima gk ya sm ayah siera🤔
Halimah Limah
lanjut KA..
semangat💪
Halimah Limah
knpa lama kak baru up
Dee: Maaf ya Kak, kalo updatenya lama 🥹
Kadang real life memang nggak bisa diajak kompromi. Ada hal2 yang harus didahulukan dan menyita tenaga jg pikiran. Tapi tenang, ceritanya nggak ditinggal kok. Aku tetap lanjut pelan2 sambil nyari waktu terbaik buat nulis lg😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!