Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Wasiat nenek Jihan
...****************...
Tina melangkah keluar dari apartemen, langkahnya terhenti saat pandangannya jatuh pada Romeo yang berdiri tegak di depan pintu. Dahi wanita itu sedikit mengerut, matanya menatap pria tersebut dengan tatapan mencurigakan.
“Nenek Lo mana?”
Romeo hanya menggeleng perlahan, kemudian mengangkat satu jari ke bibirnya dengan gerakan cepat. Tanpa berkata apa-apa, dia menarik lengan Tina perlahan tapi pasti, membawanya menuju arah parkiran mobil yang terletak di sudut jalan.
Tina menghela napas dengan suara terdengar, bahunya sedikit menggeliat karena merasa tidak nyaman dengan cara Romeo yang cuek.
“Gaya Lo kayak bocah banget.” Ucapannya tajam, bibirnya sedikit mencekung ke bawah.
Romeo menoleh ke belakang, matanya sedikit menyipit sambil memberikan senyuman sinis.
“Tapi Lo lebih bocah!”
Mereka berhenti di depan sebuah mobil Jeep berwarna gelap. Tina mengangkat alisnya dengan terkejut ketika melihat seorang wanita tua dengan rambut putih yang disusun rapi duduk di kursi kemudi. Wajah nenek itu tampak ceria, matanya bersinar dengan semangat yang tak sesuai dengan usianya.
“Ouh itu nenek Lo? Nenek Jihan?” Tina bertanya sambil mengangkat suara sedikit, tangannya secara tidak sengaja menyentuh pintu mobil.
Romeo mengangguk dengan wajah datar, kemudian membuka pintu kursi penumpang. Dia melihat ke arah Tina dengan tatapan tegas.
“Gini ya, Lo harus duduk anteng aja di dalem. Jangan bawel!”
Tina membuka mulut seolah ingin membantah, tapi kemudian menutupnya lagi. Sebelum dia bisa menginjakkan kaki ke dalam mobil, Romeo mendorongnya dengan lembut namun pasti hingga dia duduk dengan benar.
“Hm, maaf nek. Mungkin biarin Romeo aja yang nyopirnya.” Tina berbicara dengan suara rendah, melihat ke arah Nenek Jihan melalui kaca depan.
Nenek Jihan hanya menggeleng dan memberikan senyuman hangat. Tangannya sudah berada di atas setir, siap untuk memutar kunci kontak.
“Nggak bisa, harus nenek yang nyetir dan mengantarkan kalian sampai tujuan.”
Tina dan Romeo saling melihat satu sama lain sebentar sebelum akhirnya terdiam dan menerima keputusan itu.
Setelah beberapa menit berkendara, mereka tiba di depan sebuah restoran bertingkat dengan dekorasi mewah yang menerpa cahaya hangat. Nenek Jihan memarkirkan mobil dengan hati-hati, kemudian menoleh ke arah keduanya.
“Reo kalian masuk aja dulu. Nenek mau pesenin kalian meja ya.”
Romeo mengangguk dan langsung melangkah masuk, sementara Tina mengikuti di belakangnya dengan langkah yang sedikit ragu. Di dalam restoran, suasana cukup tenang dengan hanya beberapa tamu yang sedang makan dengan tenang.
Tiba-tiba Tina menarik lengan Romeo dengan cepat, membuat pria itu berhenti mendadak.
“Reo tunggu,”
Romeo menoleh dengan ekspresi tidak sabar, alisnya sedikit terangkat.
“Kenapa lagi?”
Tina menggeleng perlahan, tangannya masih menggenggam lengan Romeo dengan lembut. Matanya penuh dengan keraguan.
“Gak apa-apa, emang nenek mau ngapain kita di ajak kesini?”
Romeo menghela napas panjang sebelum menjawab dengan suara yang datar.
“Katanya sih mau nentuin tanggal pernikahan kita.”
Tanpa menunggu tanggapan, dia berjalan menuju sebuah meja yang terletak di sudut yang lebih tenang, sudah disiapkan dengan peralatan makan yang bersih dan rapi. Tina mengikuti dengan langkah yang lebih lambat, tangan kirinya secara tidak sengaja menyentuh dadanya.
Setelah mereka duduk, Tina menoleh ke arah Romeo dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
“Hm....Kita beneran mau nikah?”
Romeo menghela napas lagi, jari-jarinya menggaruk bagian belakang kepalanya dengan gerakan cemas. Wajahnya tampak penuh pikiran.
“Lo maunya gimana? Batal?”
Tina menggeleng cepat, bahunya menggeliat. Dia melihat ke bawah ke atas meja, jari-jarinya bermain-main dengan ujung serbet yang ada di sana.
Romeo bisa melihat bahwa tangannya sedikit bergetar.
Nenek Jihan kemudian datang dan duduk di sebelah Tina, matanya memperhatikan keduanya dengan penuh perhatian. Wajahnya tampak hangat tapi juga sedikit serius.
“Kalian sudah saling kenal ya?”
Tina sedikit terkejut, kemudian menyenggol lengan Romeo dengan lembut. Dia melihat ke arah Nenek Jihan dengan wajah yang sedikit memerah.
“Iya... aku temen SMPnya Romeo.”
Ekspresi mereka berdua yang sedikit gugup dan cara mereka saling melihat dengan cepat jelas menunjukkan bahwa mereka memang akrab dulu.
Nenek Jihan tersenyum lebar, tampak puas dengan jawaban itu.
“Baguslah kalau begitu, gampang nanti ya. Ouh ya jadi begini, Tina kamu Taukan nenek kamu yang menitipkan kamu ke saya, dan sekarang saya akan memenuhi permintaan terakhir dari nenek kamu itu.”
Tina mengangguk perlahan, matanya mulai menunjukkan ekspresi paham. Dia menyadari bahwa dirinya pernah dititipkan kepada Nenek Jihan, meskipun tidak pernah tahu bahwa nenek itu memiliki cucu laki-laki.
Romeo duduk dengan tenang, tapi matanya menunjukkan bahwa dia sudah tahu tentang keputusan neneknya. Dia melihat ke arah Tina, kemudian secara perlahan menggenggam tangan wanita itu yang masih sedikit bergetar.
“Sebenarnya ibu tirimu yang meninggalkanmu di panti asuhan itu dan juga nenekmu saat itu masih kuat lalu meneruskan dan menjadi kepala panti asuhan disana.”
Nenek Jihan menjeda sebentar, kemudian mengusap pucuk kepala Tina dengan tangan yang lembut dan penuh kasih sayang. Tina menutup mata sejenak, merasakan sentuhan yang sudah lama tidak dia rasakan.
“Sampai saat aku berkunjung rutin kesana dia menitipkan pesan untukku, dan menjaga kamu. Aku sudah berjanji dengannya untuk menjaga kamu. Karena aku tidak mungkin mengadopsi kamu, jadi aku memutuskan untuk menikahi kalian berdua.”
Nenek Jihan kemudian memeluk Tina dengan erat. Wajah nenek itu tampak sedikit merah, menunjukkan bahwa dia sedang menahan emosi.
“Aku tidak bisa hidup lebih lama lagi sayang, jadi aku meminta Reo untuk menjaga kamu, dan aku harap kalian bisa saling menjaga satu sama lain hingga akhir hayat.”
Dia meraih tangan Romeo dan Tina, kemudian menyatukannya dengan erat di atas meja. Matanya tertutup sementara, seolah sedang berdoa dengan sungguh-sungguh.
“Ouh ya kalian lanjut aja makannya yang banyak ya.”
Dengan cepat, Nenek Jihan beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan keduanya sendirian. Tina menunduk, rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Dia bisa merasakan tangan Romeo yang masih berada di atas punggung tangannya dengan hangat.
“Nenek Lo sibuk banget?” Tina bertanya dengan suara rendah.
“Dia banyak punya temen bisnis,” Jawab Romeo singkat.
Tina mengangkat kepalanya, matanya melihat ke arah pria tersebut dengan rasa ingin tahu.
“Trus Lo gak berbisnis?”
Romeo menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak mampu.
“Gue tidak pandai berbisnis seperti neneknya itu namun neneknya juga tak memaksa Romeo untuk bisa berbisnis juga.”
Tina mengangguk perlahan, kemudian sedikit tersenyum.
“Gue baru tau kalau Lo itu guru?”
“Yah, guru honorer aja. Gak seberapa juga. Tabungan gue gak cukup buat biaya nikah. Buat diri sendiri aja masih nunggak aja itu keinginan.”
Tina melihat ke arah genggaman tangan mereka, wajahnya penuh dengan keraguan.
“Terus Gue bingung, harus nikah atau enggak.”
Romeo tertawa kecil, suara yang lembut dan sedikit menghibur.
“Calon udah ada, udah di seriusin juga, biaya ya di biayain nenek sebenarnya. Karena itu juga permintaan terakhir beliau,”
“Tapi impian gue mau biaya sendiri.” Ucap Tina dengan suara yang penuh tekad.
“Gue juga mikir gitu,” Jawab Romeo sambil mengangguk.
Tina menghela napas panjang, matanya melihat ke arah jauh.
“Seandainya bunda masih disini, gue gak akan merasakan pilihan sesulit ini.”
Romeo mengeratkan genggamannya pada tangan Tina, wajahnya menjadi lebih serius.
“Lo hidup sampai sekarang aja, udah bagus. Gue juga dulu punya orang tua lengkap, tapi semakin banyak orang yang serakah datang. Sehingga kami sekeluarga bangkrut, tanah di jual hanya satu rumah yang tersisa.”
Dia melihat ke arah Tina dengan tatapan yang mendalam.
“Dan sekarang menikah bukanlah hal yang sepele Tina, Lo pasti tau kan maksudnya?”
Tina mengangguk dengan paham, matanya menunjukkan bahwa dia mengerti beban yang ada di pundak Romeo.
“Tapi Lo mau menikah sama seorang cewek yang bebet bobot nya entah dari mana? Dan satupun keluarganya tidak dia ketahui keberadaannya sama sekali?”
Romeo sedikit kesal, alisnya sedikit terangkat.
“Tina Lo ngomong apa? Jelas tadi nenek bilang kalau dia tau Lo berasal dari keluarga mana sedangkan untuk gue juga sama halnya dengan Lo.”
Dia mengambil napas dalam sebelum melanjutkan.
“Keluarga gue kecelakaan hari itu, dan gue selamat dalam tragedi itu. Lalu nenek yang membawa gue ke rumah kecil itu.”
Wajahnya menunjukkan rasa sakit yang mendalam ketika berbicara tentang masa lalu.
“Gue cuma hidup sama kakek nenek, mereka sayang banget sama gue. Sehingga kakek gue meninggal namun satupun anaknya tak ada yang datang di hari terakhir beliau.”
“Sekarang gue yang punya tanggung jawab buat nenek, lalu gue berhasil mencari pekerjaan yang bisa di bilang layak dan inilah cuma karyawan kantoran yang di dalamnya banyak job desk.”
Tina tersenyum lembut, memberikan pandangan yang menghibur.
“Gak apa-apa, Yang penting kerja.”
Dia terdiam sebentar, berpikir tentang perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku. Tak pernah terpikirkan bahwa dia akan bertemu dengan Romeo lagi, apalagi sampai membicarakan pernikahan.
Romeo melihat wajah Tina dengan seksama. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya saat ini—sebuah rasa tertarik yang belum pernah muncul sebelumnya. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
“Sebenarnya yang sekarang gue harus memenuhi permintaan nenek.”
Dia merogoh kantong celananya dengan hati-hati, kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia membukanya dan menunjukkan sepasang cincin perak yang polos namun elegan.
Tina hanya terdiam, matanya menatap cincin dengan ekspresi bingung dan sedikit terkejut. Romeo merasa jantungnya berdebar kencang, keringat muncul di pelipisnya.
Dia menunggu sebentar, tapi Tina masih belum memberikan respon apapun. Wajahnya mulai menunjukkan rasa khawatir.
“Tina kalau Lo masih gak yakin bilang aja ya, maaf mungkin gue terlalu cepat.”
Dengan rasa kecewa yang sedikit terlihat, dia mulai menutup kotak cincin dan akan memasukkannya kembali ke kantong.
Tiba-tiba Tina mengangkat tangannya, menghalangi gerakan Romeo.
“Tunggu.”
Wajahnya kini menunjukkan tekad yang kuat.
“Tapi selama kita memenuhi permintaan terakhir nenek Jihan kenapa enggak?”